;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Bank Mandiri dan BCA Lampaui Target Penjualan SR017

KT1 17 Sep 2022 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatatkan penjualan produk Surat Berharga Negara (SBN) Ritel seri SR017 melampaui target. Penjualan SR017 dilakukan selama masa penawaran dari 19 Agustus hingga 14 September lalu. Corporate Secretary Bank Mandiri Rudi As Aturridha mengatakan, seiring dengan program pemulihan ekonomi nasional pasca pandemi Covid-19 yang dilakukan pemerintah, pemulihan kepercayaan investor terhadap pertumbuhan ekonomi di masa yang akan merupakan faktor utama yang menyebabkan minat masyarakat terhadap SR017 cukup tinggi dibandingkan dua seri terakhir, SBR011 pada Juni 2022 dan SR016 pada Maret 2022. Menurut dia, selain hal tersebut meningkatnya minat investor terhadap SR017 juga diikuti oleh faktor imbal hasil SR017 yang sangat menarik yaitu sebesar 5,9%, lebih tinggi dibandingkan dengan seri-seri sebelumnya. “Adapun hasil perolehan penjualan di Bank Mandiri untuk SR017 sampai dengan akhir penawaran adalah sebesar Rp 3,34 triliun, lebih tinggi target yang ditetapkan,” ujar Rudi kepada Investor Daily, Jumat (16/9). Rudi sebelumnya menjelaskan Bank Mandiri menargetkan untuk pemasaran SR017 masih dapat mempertahankan market share penjualan pada setiap penerbitan sekitar 10-12%, dengan asumsi ketersediaan kuota yang masih diberikan sampai dengan akhir penawaran. (Yetede)

SURAT BERHARGA NEGARA : BBCA Catatkan Rekor Penjualan SR017

HR1 17 Sep 2022 Bisnis Indonesia

PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mencatatkan rekor penjualan surat berharga negara (SBN) ritel seri SR017 di pasar perdana mencapai Rp5,4 triliun yang dilakukan selama masa penawaran dari 19 Agustus hingga 14 September 2022.Direktur BCA Haryanto T. Budiman mengungkapkan pencapaian penjualan SBN ritel sukuk negara ritel seri SR017 salah satunya ditopang oleh rangkaian acara Wealth Summit BCA 2022.“Pencapaian ini kami harapkan dapat berkontribusi positif bagi pemerintah dalam mendorong pembiayaan pembangunan nasional,” katanya, dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (16/9).

Bank Behati-Hati Menaikkan Bunga KPR

HR1 16 Sep 2022 Kontan

Era bunga kredit rendah segera berakhir. Bagi masyarakat yang ingin segera memiliki rumah, sebaiknya segera merealisasikan, sebelum bank menaikkan bunga kredit pemilikan rumah (KPR). Maklum biasanya kredit konsumer merupakan segmen kredit yang paling cepat mengalami penyesuaian kenaikan begitu suku bunga acuan naik. Salah satunya adalah KPR. Bankir memperkirakan, Bank Indonesia (BI) masih akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 0,5%-1% di sisa tahun ini. Sehingga hingga akhir tahun bunga acuan bakal jadi 4,75%. Ini akan dilakukan bank sentral untuk meredam inflasi yang berpotensi akan semakin tinggi pasca kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN), Haru Koesmahargyo menyebutkan, ke depan pasti akan terjadi kenaikan suku bunga KPR sebagai transmisi dari kenaikan bunga BI. Padahal dengan kenaikan bunga acuan BI dan ditambah dengan normalisasi kebijakan giro wajib minimum (GWM) dari semula 7% menjadi 9% per 1 September 2022, bank seharusnya bisa langsung menaikkan bunga kredit.

Dirut BRI Ungkap Komitmen BRI Berikan Dividen Optimal kepada Pemegang Saham

KT1 15 Sep 2022 Investor Daily ( H)

JAKARTA, ID – PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk optimistis dapat memberikan return yang optimal kepada pemegang saham terutama dari sisi dividen. Hal tersebut disampaikan Direktur Utama BRI Sunarso dalam acara Public Expose Live 2022 pada Rabu (14/09) di Jakarta. Turut hadir dalam acara tersebut Direktur Keuangan BRI Viviana Dyah Ayu dan Direktur Jaringan & Layanan BRI Andrijanto. Sunarso mengungkapkan, BRI telah menyiapkan strategi untuk menjaga pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. “Pertama, BRI memiliki sumber pertumbuhan baru melalui Holding Ultra Mikro. Ekosistem UMi ini tidak hanya akan mendorong penyaluran kredit, namun juga kami dorong pertumbuhannya kearah liabilities, seperti CASA serta penjualan produk cross selling”, ungkapnya. Disamping itu, BRI berhasil menaikkelaskan 1,8 juta nasabah KUR Mikro ke Komersial di tahun 2021 dan di tahun 2022 diprediksikan nasabah yang berhasil dinaikkelaskan mencapai 2,2 juta nasabah. (Yetede)

Akseptasi Semakin Luas, Transaksi QRIS di Tanah Air Bertumbuh

HR1 14 Sep 2022 Kontan

Selain melebarkan akseptasi hingga mancanegara, transaksi non-tunai menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Tanah Air juga terus digenjot. Hal itu terlihat dari peningkatan volume transaksi QRIS di perbankan seiring bertambahnya jumlah merchant yang menerima pembayaran QRIS.Bank Mandiri misalnya, mencatat kenaikan jumlah transaksi QRIS lebih dari 400% year on year (yoy) per Agustus 2022. Adapun nilai transaksinya tumbuh lebih dari 500% yoy.

Era Suku Bunga Tinggi, Perbankan Tekan Biaya Dana

KT1 13 Sep 2022 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID – Sejumlah bank berusaha menekan biaya dana (cost of fund) di tengah era suku bunga tinggi. Hal tersebut dilakukan sebagai strategi agar perbankan tetap bisa memberikan suku bunga kredit yang kompetitif kepada nasabah. Direktur Risk Management PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Setiyo Wibowo mengungkapkan, kenaikan suku bunga akibat inflasi yang meningkat merupakan suatu hal yang wajar. Selain itu harga bahan bakar minyak (BBM) yang turut naik dan komoditas lain juga sejalan dengan kebijakan The Fed, dan perlu diwaspadai oleh perbankan. Pihaknya pun memperkirakan tren suku bunga akan terus meningkat, bahkan Bank Indonesia (BI) dinilai masih memiliki ruang untuk menaikkan BI7DRR sampai 75 basis poin (bps) pada tahun ini. Dengan begitu, BTN tetap bisa memperbaiki penawaran suku bunga kredit kepada nasabahnya. Sebelum akhirnya tren suku bunga semakin tinggi, perseroan juga melakukan penyesuaian pada suku bunga kredit. BTN masih optimistis memandang pertumbuhan ekonomi ke depan, terutama di tengah penanganan pandemi Covid-19 yang semakin terkendali. Kebutuhan terhadap rumah juga masih menunjukkan peningkatan. (Yetede)

Bank Memasang Strategi Menjaga Pasokan Valas

HR1 13 Sep 2022 Kontan

Likuiditas valuta asing (valas) di perbankan mulai mengetat. Kebutuhan pembiayaan dalam valas meningkat di saat ekonomi mulai pulih, sementara dana-dana asing mengalir keluar seiring dengan kenaikan bunga di negara-negara maju. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, loan to deposit ratio (LDR) valas bank umum per Mei 2022 naik hingga 87,79% dari 78,39% per akhir 2021. Sedang dana pihak ketiga (DPK) valas menurut catatan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), per Juli 2022 sebesar Rp 1.022 triliun, atau turun Rp 6 triliun dibanding bulan sebelumnya. Bank Central Asia (BCA) termasuk bank yang mengalami kenaikan LDR valas, meski masih dalam level yang longgar. Per Juni 2022, LDR valas bank ini mencapai 59,4%, naik dari 52,9% pada periode sama di tahun sebelumnya. LDR valas Bank Mandiri juga mengalami peningkatan karena kenaikan kredit valas yang mencapai 35,99% yoy per Juli. Sedang DPK valas hanya tumbuh 7,37%. Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rudi As Aturridha mengatakan, bank akan melakukan langkah strategis menjaga LDR valas. Seperti, menerapkan strategi pricing secara selektif dan terukur, serta kontrol dan monitoring atas pencairan kredit valas.

Agustus, Kredit Konsumer BNI Melesat 12,6%

KT1 12 Sep 2022 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatatkan pertumbuhan kinerja yang membaik di tengah tantangan ketidakpastian ekonomi global. Hal ini tercermin dari kinerja kredit konsumer BNI per Agustus 2022 yang meningkat 12,6% secara year on year (yoy). Per Agustus 2022 kredit konsumer BNI tumbuh sekitar 12,6% (yoy). Kinerja KPR (kredit pemilikan rumah) BNI tumbuh di kisaran 6,9% (yoy),” kata Direktur Bisnis Konsumer BNI Corina Leyla Karnalies kepada Investor Daily, akhir pekan lalu. Corina mengungkapkan bahwa tren permintaan KPR akan terus ada, mengingat backlog yang masih tinggi. Saat ini suku bunga global semakin tinggi yang mulai diikuti oleh Bank Indonesia (BI) dengan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%. Selain itu, inflasi yang merangkak naik juga akan memengaruhi bisnis KPR. “Industri KPR diproyeksikan tetap tumbuh namun cenderung stagnan, dengan kenaikan inflasi yang berdampak  terhadap menurunnya kemampuan beli masyarakat, termasuk di sektor properti,” tutur Corina. (Yetede)

BTN Akan Terbitkan Saham Baru Sebanyak 4,6 Miliar

HR1 12 Sep 2022 Kontan

Bank Tabungan Negara (BBTN) akan menambah modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue dengan menerbitkan saham baru seri B sebanyak-banyaknya 4,6 miliar. Rights issue tersebut memiliki nilai nominal Rp 500 per saham. Penerbitan saham baru ini dilakukan seiring DPR telah memberi restu ke pemerintah melakukan Penambahan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 2,48 triliun ke bank spesialis kredit perumahan ini.

37 Bank Belum Penuhi Modal Minimum

KT3 09 Sep 2022 Kompas

OJK mendorong 37 bank kecil untuk segera memenuhi persyaratan modal inti minimum sebesar Rp 3 triliun paling lambat akhir 2022 sesuai Peraturan OJK. Bank-bank mini tersebut bisa melakukan konsolidasi dengan cara merger, disuntik modal tambahan dari investor baru, menambah modal inti dengan rights issue, atau bergabung dalam kelompok usaha bank. Apabila bank-bank itu tidak bisa memenuhi persyaratan modal inti minimum hingga tenggat yang ditentukan, OJK dapat memberikan sanksi dengan menurunkan status mereka menjadi bank perkreditan rakyat (BPR). Dalam rapat kerja OJK dengan Komisi XI DPR, di Jakarta, Kamis (8/9), Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, sesuai Peraturan OJK (POJK) No 12 Tahun 2020 tentang Konsolidasi Bank Umum, pihaknya terus mendorong bank-bank yang belum memenuhi syarat untuk memenuhi permodalan inti minimum sebesar Rp 3 triliun hingga akhir tahun ini.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae sebelumnya mengatakan, sampai Juli 2022, terdapat 37 bank yang modal intinya masih di bawah Rp 3 triliun. Diamana 24 bank adalah bank umum dan 13 bank pembangunan daerah (BPD). Jumlah tersebut setara 34,5 % atau lebih dari sepertiga dari total bank yang ada di Indonesia, yakni 107 bank. Dian menjelaskan, apabila hingga akhir tahun ini 37 bank itu belum juga memenuhi permodalan inti minimal Rp 3 triliun, pihaknya akan membuka opsi meminta perbankan itu mengubah model usahanya atau turun kasta menjadi BPR. Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menjelaskan, aturan modal inti minimum bagi perbankan ini sejatinya punya semangat untuk mengonsolidasi industri perbankan agar semakin kuat. Terdapat ketimpangan skala bisnis dan kapasitas permodalan antara bank besar dan kecil, bank-bank papan atas memiliki aset dan dana kelolaan hingga ribuan triliun rupiah, sementara bank-bank papan bawah ada yang hanya memiliki modal inti di bawah Rp 1 triliun dengan dana kelolaan di kisaran miliaran rupiah saja. (Yoga)


Pilihan Editor