;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Kinerja Membaik, Namun Prospek Saham Masih Berat

HR1 08 May 2023 Kontan

Di tengah musim pengunduran diri sejumlah pimpinan bank digital, kinerja keuangan sektor ini tercatat mulai menunjukkan geliat. Memang, sebagian bank yang sudah untung mulai mengalami penurunan laba. Namun beberapa bank lain sudah berhasil mencatatkan penurunan kerugian secara signifikan. Ada juga bank yang baru mulai mencetak laba. Tercatat ada lima bank digital yang profit di tiga bulan pertama tahun ini. Jika dirinci, Allo Bank Indonesia (BBHI) jadi bank penghasil laba terbesar yakni Rp 90,49 miliar. Disusul Bank Jago (ARTO) Rp 17,5 miliar, Seabank Rp 12,9 miliar, Bank Raya (AGRO) Rp 4,3 miliar, dan BCA Digital Rp 816 juta. Meskipun secara umum kinerja bank digital membaik, pengamat melihat prospek sahamnya masih berat tahun ini. Pengamat ekonomi dan pasar modal Budi Frensidy mengatakan, para investor masih menunggu pembuktian para bank digital tersebut bisa membukukan profitabilitas yang berkelanjutan. Selain itu, perubahan direksi bank digital, menurut Budi, akan memberikan harapan baru untuk lebih menaikkan laba bersih bank tersebut. Seperti diketahui, Bank Jago dan Bank Neo Commerce (BNC) akan mengganti pucuk pimpinannya. Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memprediksi, saham bank digital masih butuh waktu untuk kembali dalam tren naik . Menurut dia, momentum bank kelompok ini sudah lewat beberapa tahun lalu, di tengah ancaman inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga. Secara jangka menengah hingga panjang, Nico memandang saham bank digital akan menarik. Namun, untuk jangka pendek, valuasi dan rencana bisnis bank perlu dicermati. Pasalnya, bank masih harus kerja keras membentuk ekosistem digital.

Fitur QRIS Tunda, Bank Bakal Peroleh Tambahan FBI

KT1 08 May 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID – Bank Indonesia (BI) terus mengembangkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), terbaru adalah fitur Tarik Tunai, Transfer, dan Setor Tunai (Tuntas). Dengan adanya update fitur ini, semakin efisien dan memudahkan masyarakat untuk bertransaksi nontunai, di sisi lain penyedia jasa pembayaran berpeluang memperoleh tambahan pendapatan berbasis komisi (fee based income/FBI) dari transaksi QRIS Tuntas tersebut. Wakil Direktur Utama PT Bank Mega Tbk Diza Larentie mengatakan, terdapat peluang dan tantangan industri mengimplementasikan QRIS Tuntas. “Peluangnya, pertama bagi PJP bisa menambah fee based income lewat biaya yang nantinya dikenakan,” jelas Diza dalam Talkshow Mengenal Lebih Dekat Fitur Baru QRIS Tuntas, pada Festifal Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI), Minggu (7/5/2023). Kedua, diharapkan jumlah pengguna mobile banking bertambah, karena banyak yang bisa dilakukan dengan QRIS Tuntas, sebab lebih efisien, murah, sehingga bisa menambah pengguna. Ketiga, peluang dari QRIS Tuntas adalah mengembangkan merchant untuk bergabung.Diza menambahkan, di sisi tantangan, menurut dia perlu melakukan sosialisasi fitur baru pada QRIS ini. Kemudian, tantangan untuk mengedukasi masyarakat akan bedanya QRIS payment dengan QRIS Tuntas. Tantangan lainnya adalah meningkatkan pengguna QRIS, terutama dari uang elektronik. (Yetede)

190 Bank di AS Berpotensi Bangkrut

KT3 06 May 2023 Kompas

Sedikitnya 190 bank di Amerika Serikat berpotensi bangkrut. Dari jumlah itu, kini 12 bank dipersepsikan terancam bangkrut, ditandai dengan kejatuhan tajam harga-harga sahamnya. Perdagangan saham dua bank di AS, PacWest dan Western Alliance, terpaksa  dihentikan karena kejatuhan saham 50 % lebih dalam sehari, Rabu (3/5/2023). Sebanyak 4.844 bank di AS menghadapi persoalan penurunan nilai aset mereka akibat kenaikan suku bunga bank sentral AS. (Yoga)

Dibayangi Krisis, Kinerja Perbankan Dalam Negeri Tetap Positif

KT3 06 May 2023 Kompas

Ditengah ancaman krisis perbankan global yang meningkat pasca kolapsnya sejumlah bank besar di AS dan Eropa, kinerja perbankan dalam negeri masih optimal. Hal ini tercermin dari fungsi intermediasi bank yang tetap bertumbuh dan berbagai indikator lain yang menunjukkan perbankan dalam kondisi sehat. Mengutip data OJK, sampai triwulan I-2023, penyaluran kredit bank mencapai Rp 6.446 triliun atau tumbuh 9,93 % secara tahunan. Pertumbuhan penyaluran kredit ditopang kredit investasi yang tumbuh 11,4 % secara tahunan. Adapun kredit modal kerja dan konsumsi masing-masing tumbuh 9,52 % dan 9,20 % secara tahunan. Risiko kredit juga melanjutkan tren penurunan dengan rasio kredit berperforma buruk (nonperforming loan/NPL) net perbankan Maret 2023 sebesar 0,72 % setelah pada Februari 2023 pada level 0,75 %. Begitu pula dengan NPL gross Maret 2023 pada level 2,49 %, menurun dari Februari yang sebesar 2,58 %.

Pada saat yang sama, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga bertumbuh. Pada triwulan pertama tahun ini, penghimpunan DPK mencapai Rp 8.005 triliun atau tumbuh 7 % secara tahunan. Likuiditas perbankan pada Maret 2023 juga dalam level memadai yang tecermin dari rasio alat likuid/non core deposit (AL/NCD) sebesar 128,87 %, lebih tinggi dari ambang batas ketentuan yang sebesar 50 %. Begitu pula dengan alat likuid/DPK (AL/DPK) pada level 28,91 %, di atas ambang batas 10 %. Adapun permodalan perbankan masih di level yang solid engan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) 24,69 %. Dalam jumpa pers hasil rapat Dewan Komisioner OJK secara daring, Jumat (5/5) Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, industri perbankan dalam negeri sedang dalam kondisi sehat. Fungsi intermediasi pun berjalan optimal yang ditandai dengan pertumbuhan penyaluran kredit dan penghimpunan DPK. Sampai akhir tahun ini, pertumbuhan kredit bank diperkirakan 10-12 %, Ini sesuai dengan rencana bisnis perbankan yang disampaikan ke OJK.  (Yoga)


BANK PEMBANGUNAN ASIA : Arah Operasional ADB 2023

HR1 06 May 2023 Bisnis Indonesia

Presiden Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) Masatsugu Asakawa menekankan tiga arah operasional 2023, setelah besaran komitmen tahun lalu menurun.Pertama, ADB akan meningkatkan sumber pinjaman dan mobilisasi modal swasta untuk mendukung negara berkembang anggota ADB (DMCs) menghadapi berbagai krisis. Peninjauan berkelanjutan terhadap Kerangka Kerja Kecukupan Modal ADB akan mempersiapkan bank itu mengoptimalkan neraca dan berpotensi meningkatkan kapasitas pinjaman. Kedua, sebagai bank iklim untuk Asia dan Pasifik, ADB akan memberikan pendanaan, pengetahuan, dan kemitraan yang inovatif. ADB meluncurkan Innovative Finance Facility for Climate in Asia and the Pacific (IF-CAP) pada pertemuan tahunan ini. Ketiga, ADB akan terus memprioritaskan anggota dan populasi yang sedang berkembang dan paling membutuhkan. ADB berkomitmen untuk tidak meninggalkan perlindungan sosial bagi kelompok miskin dan rentan.

Right Issue Perbankan Semarak Lagi

HR1 05 May 2023 Kontan

Aksi penambahan modal pelaku industri perbankan di Tanah Air berlanjut di tahun 2023. Bedanya, jika tahun lalu aksi korporasi itu merupakan cara memenuhi ketentuan modal inti minimum, kali ini tujuannya adalah untuk memperkuat permodalan agar lebih lincah melancarkan ekspansi. Sebut saja misalnya KB Bukopin Tbk (BBKP) yang akan menggelar aksi rights issue dengan target perolehan dana hingga Rp 12 triliun. BBKP akan merilis maksimal 120 miliar saham baru dengan nominal Rp 100 per saham. Investor Relation BBKP I Putu Adi Saputra menyatakan, Kookmin Bank selaku pemegang saham pengendali akan bertindak sebagai pembeli siaga dan berkomitmen memborong 100% saham baru BBKP. BBKP akan mengalokasikan dana rights issue untuk memperkuat permodalan anak usaha, dan mendukung ekspansi kredit di semua segmen. Selain BBKP, Bank QNB Indonesia Tbk (BKSW) akan merilis 14,72 miliar saham baru dengan nominal Rp 250 per saham, setara 41,87% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh. Dana yang dibidik sekitar Rp 3,68 triliun. Bank IBK Indonesia Tbk (AGRS) membidik dana rights issue Rp 1,38 triliun pada pertengahan tahun ini. Namun, IBK selaku pengendali  hanya akan mengeksekusi sebagian haknya dan sisanya dialihkan ke PT Bumi Indawa Niaga (BIN). Selepas rights issue , modal inti AGRS akan naik menjadi Rp 5,3 triliun.

BERKELIT DARI MANUVER THE FED

HR1 05 May 2023 Bisnis Indonesia (H)

Federal Reserve alias The Fed seolah tak pernah berhenti menghentak pasar keuangan dunia. Termutakhir, pada Kamis (4/5), Bank Sentral Amerika Serikat (AS) itu kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 5%—5,25% untuk mengamankan inflasi. Kendati sinyal kenaikan suku bunga acuan telah muncul jauh-jauh hari, pengetatan moneter tersebut tetap bikin negara lain ketar-ketir. Sebab, makin tinggi suku bunga acuan di Negeri Paman Sam, akan mendorong keluar­nya modal asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Impaknya, nilai tukar pun kian rentan. Untungnya, Indonesia diproyeksikan memiliki imunitas yang tinggi, baik dari sisi pasar keuangan maupun ekonomi secara keseluruhan. Alasannya, baik otoritas fiskal dan bank sentral telah melakukan respons dini. Bank Indonesia (BI) misalnya, telah mengerek suku bunga acuan dengan agresif sejak Agustus 2022. Pun Kementerian Keuangan yang mengutak-atik postur fiskal untuk menebalkan bantalan sosial. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, saat ditemui Bisnis di sela-sela Pertemuan Tahunan Ke-56 ADB di Incheon, Korea Selatan, Kamis (4/5), mengatakan aksi The Fed tak memberikan hentakan keras bagi ekonomi nasional. Meski begitu, pemerintah terus memantau kesenjangan antara imbal hasil US Treasury dengan Surat Berharga Negara (SBN). “Kami akan terus menjaga sehingga keseimbangan antara cost of fund yang mengalami tekanan luar biasa besar gara-gara kenaikan suku bunga The Fed dengan belanja yang harus baik dan membuat ekonomi kita tumbuh,” ujarnya. Selain itu juga melakukan Operation Twist, yakni menjual SBN bertenor pendek dan membeli di tenor panjang sebagai bagian dari langkah untuk mendukung kebijakan dan memperkuat stabilitas.   Ditemui di lokasi sama, Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan kode bank sentral tak akan mengekor The Fed. Menurutnya, suku bunga pada posisi menjadi 5,75% sudah cukup untuk memastikan inflasi dalam negeri terkendali. Terlebih, secara total bank sentral telah mengatrol suku bunga acuan hingga 225 basis poin sejak Agustus tahun lalu. Dia bahkan optimistis inflasi indeks harga konsumen (IHK) juga akan turun cepat, yakni di bawah 4% mulai Agustus tahun ini. "Kami sampaikan dulu core inflation di bawah 4%, sekarang malah 2,83% ,” katanya.

Kebijakan Baru KUR BRI Siapkan Strategi Soft Landing

KT1 05 May 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID – Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI membuat kebijakan baru mengenai kredit usaha rakyat (KUR). Sebagai bank penyalur KUR terbesar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) telah menyiapkan strategi soft landing. Mengacu pada Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Permenko) RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang Pedoman Pelaksanaan KUR, pada Pasal 22 berisikan bahwa bagi peminjam KUR pertama kali akan dikenakan bunga sebesar 6% efektif per tahun, yakni untuk pinjaman KUR mikro dengan plafon Rp 10-100 juta, serta KUR kecil untuk plafon Rp 100-500 juta.
Namun, jika sudah pernah meminjam KUR lebih dari satu kali, maka suku bunga yang dibebankan ke nasabah akan lebih tinggi. Bunga akan naik menjadi 7% per tahun saat mengambil pinjaman KUR yang kedua kalinya. Kemudian naik menjadi 8% per tahun untuk pinjaman yang ketiga, dan pinjaman keempat kali menjadi 9% per tahun. Sedangkan, untuk KUR super mikro dengan plafon maksimal dengan Rp 10 juta, suku bunga yang diberikan masih sebesar 3% efektif per tahun. Direktur Bisnis Mikro BRI Supari dalam keterangannya menjelaskan, sejak awal diluncurkan, pelaksanaan program KUR terus menunjukkan peningkatan alokasi (kuota)
maupun realisasinya. (Yetede)

INDEKS BISNIS UMKM BRI : Ekspansi Bisnis UMKM Berlanjut dengan Optimisme yang Meningkat

HR1 03 May 2023 Bisnis Indonesia

Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia terus bergeliat memasuki kuartal II 2023. Hal tersebut tercermin dari hasil Indeks Bisnis UMKM Q1-2023 dan Ekspektasi Q2-2023 yang dilakukan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui BRI Research Institute, di mana Indeks Bisnis UMKM Q1-2023 tercatat pada level 105,1 yang berarti ekspansi bisnis UMKM terus berlanjut.Adapun faktor-faktor yang mendorong ekspansi tersebut di antaranya yakni kehidupan yang semakin normal pasca pandemi dan daya beli masyarakat semakin menguat yang berdampak pada permintaan terhadap barang dan jasa yang juga semakin meningkat. Faktor lainnya, yakni panen raya tanaman bahan makanan di beberapa sentra produksi mulai berlangsung, dengan harga jual hasil panen yang tetap menarik serta selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yaitu Idul Fitri yang mendorong harga jual barang dan jasa meningkat.Sementara itu, menyambut Q2-2023 pelaku UMKM tetap optimis aktivitas usahanya akan terus meningkat, hal tersebut digambarkan dari peningkatan ekspektasi indeks bisnis UMKM 3 bulan mendatang yang meningkat menjadi 131,9 dari ekspektasi indeks pada periode sebelumnya sebesar 130,1. Peningkatan ekspektasi tersebut ditopang oleh perayaan Idul Fitri, mendorong permintaan dan harga barang dan jasa meningkat, puncak panen raya tanaman bahan makanan yang akan terjadi pada Q2-2023 dan kondisi cuaca yang semakin kondusif bagi sektor pertambangan, konstruksi, pertanian, dan perikanan laut. Dengan usaha yang masih ekspansif, pelaku UMKM tetap memberikan penilaian yang tinggi terhadap kemampuan pemerintah dalam menjalankan tugas-tugas utamanya, dengan indeks 137,4, tapi turun tipis dari kuartal sebelumnya 138,3. Pelaku UMKM memberikan penilaian tertinggi terhadap kemampuan pemerintah menciptakan rasa aman dan tenteram serta menyediakan dan merawat infrastruktur.

Menanti Aksi Korporasi BRIS

HR1 03 May 2023 Kontan

Kinerja PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dalam tiga bulan pertama di tahun 2023 cukup solid. Laba bersih BRIS meningkat 47,6% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 1,5 triliun. Kenaikan ini berasal dari pertumbuhan pembiayaan dan kemampuan bank dalam mempertahankan margin. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Eka Savitri dalam riset 28 April 2023 menjelaskan, selama kuartal I-2023, pertumbuhan kredit BRIS mencapai 20,2% secara tahunan dengan net interest margin (NIM) di 6%. Sementara biaya pembiayaan menurun 50 vos menjadi 143 bps. "Pertumbuhan pembiayaan berasal dari segmen konsumer yang memiliki risiko lebih rendah ketimbang segmen korporasi," jelas dia. Bank Syariah Indonesia diuntungkan karena memiliki 1.000 outlet dengan 1.031 cabang per Maret 2023 di seluruh Indonesia. Dalam waktu dekat, BSI juga akan sepenuhnya beroperasi digital dari saat ini hanya 47%. "Melalui digitalisasi, BSI berharap rasio kepemilikan produk menjadi meningkat," tutur Eka. Analis MNC Sekuritas Tirta Citradi dalam riset 15 Februari 2023 menambahkan, BRIS semakin unggul pasca merger. "Dengan menetapkan strategi empat pilar utama yakni pertumbuhan, efisiensi biaya, transformasi digital dan ekosistem Islam membuat BRIS makin unggul," ujar dia. Sejak mergerBRIS berhasil mengerek pembiayaan segmen konsumer meningkat lebih dari 50%. Sementara porsi dana murah (CASA) menjadi berkisar 62% dari sebelum merger 59%. Biaya dana juga lebih rendah. Tirta percaya, target laba bersih manajemen BRIS Rp 5 triliun hingga Rp 5,5 triliun di 2023 bisa tercapai. "Hitungan kami laba bersih BRIS bisa mencapai Rp 5,46 triliun di tahun ini," kata dia. Ini dengan pertimbangan efisiensi biaya dan pendekatan BRIS ke segmen konsumer.

Pilihan Editor