Perbankan
( 2293 )Bank-Bank AS Akan Mengetatkan Penyaluran Kredit
Menkeu AS Janet Yellen mengatakan bank-bank di AS akan cenderung menjadi lebih berhati-hati dan dapat memperketat penyaluran kredit, menyusul kebangkrutan dua bank daerah baru-baru ini. Kondisi itu, kata dia, mungkin meniadakan kebutuhan bagi The Federal Reserve (The Fed) untuk terus menaikkan suku bunga. Dalam transkrip wawancara dengan CNN yang dirilis Sabtu (15/04) dan dilansir CNBC, Yellen menjelaskan bahwa tindakan kebijakan untuk membendung ancaman sistemik yang disebabkan kebangkrutan Silicon Valley Bank (SVB) dan Signature Bank bulan lalu telah menyebabkan arus keluar simpanan menjadi stabil dan kondisi pasar telah menjadi tenang.
“Bank cenderung menjadi lebih berhati-hati dalam kondisi ini. Kami telah melihat beberapa pengetatan standar pinjaman dalam sistem perbankan sebelum episode itu dan mungkin akan ada lagi yang akan datang,” kata Yellen, dalam wawancara yang dijadwalkan tayang pada Minggu (16/04) waktu setempat. Dia mengatakan kondisi tersebut akan mengarah pada pembatasan kredit dalam ekonomi. (Yetede)
Emiten Mulai Incar Pendanaan Bank
Sejumlah emiten mulai mencari alternatif pendanaan lain di tengah fluktuasi pasar obligasi global. Dinamika pergerakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) dan tingkat inflasi global membuat emiten memitigasi risiko dengan diversifikasi pendanaan.
Sejumlah emiten properti, misalnya, mulai mengurangi porsi obligasi global (
global bond
) dan menukarnya dengan menggunakan pinjaman perbankan. Dari riset Fitch Ratings 4 April 2023 lalu, pinjaman perbankan digunakan untuk mengurangi risiko nilai tukar yang bisa timbul dari dari utang
global bond.
Dalam enam bulan terakhir ini, Fitch mencatat beberapa emiten telah melakukan penawaran tender (
tender offer
) untuk membeli kembali
global bond. Misalnya, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) yang merampungkan pembelian kembali pokok
Senior Notes
2025 dan 2026 yang diterbitkan anak usahanya Theta Capital Pte Ltd. Nilainya sebesar US$ 582,7 juta.
"Juga memperpanjang jatuh tempo pembayaran utang perusahaan," ujar Sekretaris Perusahaan LPKR Ratih Safitri dalam keterbukaan di BEI beberapa waktu lalu. Tak cuma LPKR, Fitch juga memperkirakan PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) punya posisi yang baik untuk melunasi
Notes
dollar AS yang jatuh tempo Mei 2024 mendatang. ASRI juga menggunakan dana kas dan pinjaman perbankan.
Bank Diminta Siapkan Langkah Antisipasi
OJK meminta industri perbankan Tanah Air menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk meredam risiko penularan dampak krisis perbankan di AS dan kawasan Eropa. Walau sejauh ini industri perbankan nasional dalam kondisi sehat dan bertumbuh, langkah antisipasi tetap diperlukan. Dalam diskusi Kompas Collaboration Forum (KCF) bertema ”Di Balik Robohnya Silicon Valley Bank”, di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta, Jumat (14/4) Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menjelaskan, belajar dari kejatuhan Silicon Valley Bank dan sejumlah bank lain di AS dan kawasan Eropa, salah satu penyebabnya ialah struktur deposan terlalu terkonsentrasi di sektor ekonomi tertentu, yakni perusahaan rintisan teknologi. Ketika banyak perusahaan rintisan teknologi berguguran, bank bersangkutan ikut bermasalah.
Mayoritas deposannya juga didominasi segmen korporasi dan tak terdiversifikasi pada segmen ritel. Dengan kondisi terlalu terfokus pada segmen tertentu ini, kondisi bank lebih rentan tatkala terjadi gelombang penarikan dana. Mahendra mengatakan, terjadi pula ketidaksesuaianantara aset dan liabilitas. Banyak asset Silicon Valley Bank (SVB) bertumpu pada obligasi Pemerintah AS yang merupakan instrumen jangka panjang. Namun, mayoritas liabilitas atau dana pihak ketiga berjangka pendek. Belajar dari hal itu, Mahendra meminta perbankan memantau portofolio aset dan liabilitas bank, termasuk risiko konsentrasi pada pinjaman serta pendanaan. Terkait hal ini, OJK memonitor erat komposisi sektor ekonomi yang menjadi sumber dana pihak ketiga (DPK) dan sasaran sektor kredit agar tetap terdiversifikasi dengan baik. (Yoga)
Berkah Ramadan, BRI Bagikan Dividen Rp 34,89 Triliun Hari Ini
PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk membayarkan dividen tunai senilai Rp34,89 triliun pada Rabu, 12 April 2023. Hal tersebut sesuai dengan putusan RUPS Tahunan, tahun 2023, yang memutuskan BRI mebayarkan dividen payout ratio 85% dari laba bersih konsolidasian pada tahun 2022. Sepanjang Januari hingga Desember 2022, BRI group mencatatkan laba bersih senilai Rp 51,4 triliun atau tumbuh 67,15% secara year on year (yoy).
Dengan demikian, dividen payout ratio yang dibagikan perseroan kepada pemilik entitas induk adakah Rp 43,94 triliun, sedangkan sisanya sebesar 15% senilai Rp 7,67 triliun digunakan sebagai laba ditahan. Dirut BRI Sunarso mengunkapkan bahwa penetapan dividen payout ratio 85% oleh BRI mempertimbangkan bahwa saat ini perseron memiliki struktur modal yang kuat dan likuiditas yang optimal dalam rangka ekspansi bisnis dan antisipasi resiko yang mungkin terjadi. (Yetede)
OCBC NISP Bagikan Dividen Rp 1,3 Triliun
Laba PT OCBC NISP Tbk tumbuh 32 % dari Rp 2,5 triliun di tahun 2021 menjadi Rp 3,3 triliun di tahun 2022. Selain laba bersih, kinerja positif juga tercatat lewat tingkat dana murah yang naik dan pengelolaan kredit bermasalah yang masih terjaga. Inovasi layanan dan pemulihan ekonomi menjadi faktor pendukung peningkatan kinerja tahun lalu. Presdir Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja menjelaskan, sebanyak 40 % laba atau Rp 1,3 triliun akan dibagikan kepada para pemegang saham dalam bentuk dividen tunai.
”Sebanyak Rp 100 juta disisihkan untuk cadangan umum dan sisa laba bersih ditetapkan sebagai laba ditahan,” ucapnya dalam paparan publik Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Bank OCBC NISP, di Jakarta, Selasa (11/4). Peningkatan laba bersih tahun lalu didorong kenaikan pendapatan bunga bersih 14 % dan penurunan beban cadangan kerugian 25 %. Selain membagikan dividen, hasil RUPST juga menyetujui pembelian kembali saham publik (buyback) sebesar 402.000 saham atau 0,002 % dari total modal yang dikeluarkan. (Yoga)
ANTISIPASI BANK SAAT LEBARAN : SIAGA PENUH DI KANAL DIGITAL
Transaksi keuangan dengan menggunakan kanal digital perbankan makin dipilih masyarakat terutama jelang Lebaran pada tahun ini. Nilai transaksi diperkirakan meningkat melampaui capaian pada 2022.
Indikasi kenaikan nilai transaksi seiring dengan aktivitas ekonomi masyarakat yang menuju titik normal. Dibandingkan dengan periode pandemi Covid-19, praktis pembatasan kegiat an masyarakat termasuk mudik tidak seketat pada 2 tahun lalu.Lonjakan nilai transaksi melalui kanal digital tecermin di periode Ramadan dan Lebaran pada 2022. Tahun lalu, Lebaran jatuh pada Mei, sedangkan tahun ini Hari Raya Idulfi tri berlangsung pada pekan terakhir April.Dengan menghitung lalu lintas transaksi selama Ramadan dan Lebaran, secara nilai pada 2022 mencapai Rp10.500,55 triliun. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan dengan periode Ramadan dan Lebaran 2021 yang tercatat senilai Rp7.601,3 triliun.Lalu lintas nilai transaksi itu diukur dari penggunaan kanal digital seperti internet banking, mobile banking, mesin anjungan tunai mandiri (ATM), dan kartu kredit.
Direktur Digital & Teknologi Informasi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Arga M. Nugraha mengatakan bahwa pertumbuhan jumlah transaksi pada kanal digital, khususnya mobile banking BRImo cukup fluktuatif sesuai dengan ritme finansial dari nasabah terlebih menjelang momentum Idul fitri 2023.“Sistem kami membukukan lebih dari 100 juta transaksi. BRImo misalnya, sudah makin terbiasa menangani mendekati 15.000 transaksi per detik. Angka-angka seperti inilah yang membuat BRI tidak bisa tidak, mempersiapkan kapasitas yang memadai untuk kelancaran transaksi para nasabah setia kami,” ujarnya melalui keterangan resmi, Senin (10/4).
Dari sisi volume transaksi, BRImo juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 144,66% dengan total pengguna meningkat hingga tembus 26,3 juta pengguna.Dihubungi secara terpisah, SVP Transaction Banking Retail Sales PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Thomas Wahyudi menuturkan estimasi pertumbuhan transaksi melalui platform Livin by Mandiri selama Lebaran akan meningkat 25%—30% dibandingkan dengan periode normal. Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Okki Rushartomo memastikan kesiapan kanal digital jelang Lebaran. “Kami harap ini akan menjadi alat digital untuk semakin kuat mendorong konsumsi dan pertumbuhan ekonomi di periode Lebaran tahun ini,” katanya.
Kredit Menganggur di Bank Meningkat
Kredit menganggur di perbankan meningkat. Yang dimaksud kredit menganggur ini adalah fasilitas kredit yang sudah disetujui, namun belum ditarik nasabah. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total kredit menganggur alias undisbursed loan per Januari 2023 tercatat Rp 1.924,2 triliun. Angka ini meningkat 12,8% dari periode yang sama tahun sebelumnya atau year on year (yoy) yakni Rp 1.705,1 triliun pada Januari 2022.Peningkatan undisburse loan sejalan dengan penyaluran kredit baru yang terus meningkat. Secara total, portofolio kredit perbankan per Januari tercatat tumbuh 10,53% secara yoy. Lalu, pada Februari melaju lagi dengan pertumbuhan 10,64% yoy. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat Tbk (Bank BJB) menjadi salah satu bank mencatat kenaikan undirbursed loan sebesar Rp 776 miliar dari akhir tahun 2022 hingga Februari.Yuddy Renaldi, Direktur Utama Bank BJB mengatakan, kenaikan kredit menganggur tersebut disebabkan penyaluran kredit baru juga mengalami peningkatan di saat yang sama. Hingga Februari 2023, portofolio kredit bank daerah ini tercatat sudah tumbuh 12,5% yoy.Dia bilang, penarikan fasilitas kredit akan dilakukan nasabah secara berangsur sesuai dengan kebutuhan untuk kegiatan bisnisnya.
Fed Pasok Dana ke Perbankan AS, Penurunan Inflasi Tertunda
Bank sentral AS memasok dana ke perbankan AS untuk meredakan krisis perbankan. Hal itu dilakukan sejak kebangkrutan Silicon Valley Bank (SVB) pada 10 Maret 2023. Sebanyak 300 miliar USD dana dari bank sentral AS telah masuk ke sistem perbankan AS. Ini kurang lebih setara jumlah dana yang ditarik para deposan dari perbankan AS. Gubernur Bank Sentral AS (The Federal Reserve) Jerome Powell mengatakan, pengucuran dana yang dinamai Bank Term Funding Program (BTFP) itu bersifat temporer. Hal ini perlu untuk mendorong likuiditas perbankan agar tidak terjadi ketegangan dalam industri perbankan.
”Kami yakin hal itu bermanfaat. Fasilitas tersebut bertujuan menciptakan kepercayaan terhadap sistem perbankan. Jika langkah tersebut tidak dilakukan, kemungkinan akan ada gangguan dan akan memperketat situasi keuangan,” kata Powell, Rabu (22/3) Fasilitas BTFP itu dimulai pada 12 April 2023 setelah kebangkrutan SVB dan Signature Bank. Jangka waktu pinjaman The Fed ke perbankan tersebut berlaku selama 90 hari dan bisa diperpanjang. Dana The Fed ke perbankan ini disalurkan lewat Federal Deposit Insurance Corp (FDIC). Lembaga keuangan AS telah menerima BTFP 148,7 miliar USD dalam sepekan hingga 5 April. Selama sepekan sebelum itu, The Fed telah mengucurkan BTFP 152,6 miliar USD. Total BTFP yang dikucurkan sepanjang Maret saja sebesar 157,9 miliar USD (Bloomberg, 7 April 2023). (Yoga)
Bersiap Menghadapi Lonjakan Transaksi
Perbankan nasional memastikan kesiapan infrastruktur pembayaran digital agar prima selama masa libur Ramadan dan Idul Fitri tahun ini. Investasi khusus pun disisihkan untuk memperbarui sistem, meningkatkan kapasitas, serta melakukan perawatan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) dan peranti transaksi EDC (electronic data capture) yang tersebar di mitra mereka. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, misalnya, menjadikan kanal pembayaran daring sebagai tumpuan pelayanan transaksi nasabah, termasuk melalui aplikasi mobile Livin’ by Mandiri. Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, Rudi As Aturridha, menuturkan bahwa antisipasi dilakukan karena transaksi pada periode Ramadan dan Idul Fitri kali ini diprediksi melonjak dibanding pada tahun lalu, seiring dengan keputusan pemerintah mencabut kebijakan pembatasan kegiatan sosial dan ekonomi.
“Kami telah melakukan perawatan preventif untuk sekitar 3.300 mesin ATM dan 37.200 alat EDC yang berlokasi di tempat istirahat jalan tol, bandara, stasiun, terminal, pelabuhan, pusat belanja, hotel, SPBU, dan tempat wisata,” ujarnya, kemarin. Berbagai layanan pendukung aktivitas nasabah, seperti pembayaran tagihan bulanan, pengisian dompet elektronik, tarik tunai tanpa kartu, serta pembayaran dengan kode quick response (QR), dipastikan dapat berfungsi dengan prima. Bank Mandiri juga menyiapkan stok Rp 49,6 triliun untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan uang tunai masyarakat, khususnya pada 29 Maret hingga 26 April 2023. Alokasi ini naik 7,9 persen dari periode yang sama tahun lalu, dan sebagian besar akan digunakan untuk kebutuhan pengisian mesin ATM yang diprediksi sekitar Rp 16,5 triliun per hari selama periode tersebut. “Kami mengoptimalkan pengisian 13.068 mesin ATM di seluruh Indonesia sejak akhir bulan lalu hingga saat libur Lebaran nanti,” ucapnya. (Yetede)
Posisi Unrealized Loss Perbankan AS Sekitar US$ 620 Miliar
Runtuhnya Silicon Valley Bank (SVB) menimbulkan kewaspadaan industri perbankan nasional untuk menjaga kepercayaan para investor dan nasabahnya. Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) menyebutkan bahwa bank-bank di AS mengalami kerugian yang belum direalisasi (unrealized loss) sebesar US$ 620 miliar atau aset yang harganya turun tetapi belum dijual pada akhir 2022. Dirut PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Royke Tumilaar mengatakan, dinamika pasar keuangan ekstrim telah terjadi sejak 2008 yakni subprime mortgage dan terus berlanjut krisis pada 2011, 2013, 2015, 2018, 2020, dan saat ini di mana suku bunga naik secara agresif. Hal itu disebabkan negara-negara mengalami inflasi cukup tinggi, sehingga bank sentral menaikkan suku bunganya.
Seperti The Fed yang menaikkan bunga 475 basis poin (bps) ke level 5%. Hal tersebut untuk menekan inflasi yang pada Juni tahun lalu berada di level 9%. Langkah The Fed pun diikuti BI yang juga mengerek suku bunga acuan menjadi 5,75% saat ini. “Kenaikan bunga ini juga berdampak sangat negatif bagi para investor surat berharga jangka panjang. Berdasarkan data FDIC, saat ini unrealized loss perbankan di AS kurang lebih US$ 620 miliar. Sebagian besar perbankan menilai ini masih manageable karena punya modal kuat, namun bagi beberapa bank bisa menggerus modal, salah satunya SVB,” urai Royke secara virtual, Kamis (6/4). (Yetede)









