Perbankan
( 2293 )INDUSTRI KEUANGAN Restrukturisasi Kredit Melandai, Perbankan Siapkan Pencadangan
Mulai 31 Maret 2023, restrukturisasi kredit perbankan terdampak Covid-19 untuk sebagian besar sektor berakhir dan diperpanjang hanya untuk sektor dan wilayah tertentu yang masih terdampak. Kendati nilai restrukturisasi kredit kian melandai, perbankan tetap berhati-hati dan mempersiapkan pencadangan yang diperlukan. Direktur Manajemen Risiko PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Ahmad Siddik Badruddin menjelaskan, sampai Maret 2023, nilai restrukturisasi kredit Bank Mandiri Rp 31,2 triliun. Nilai ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang senilai Rp 67,7 triliun. Dari jumlah tersebut, hanya 1,7 % yang termasuk kategori gagal.
”Dari portofolio itu, lebih dari 91 % sudah mampu membayar kembali angsuran kreditnya, baik secara bertahap maupun pembayaran penuh, bahkan juga pelunasan,” kata Siddik, Senin (1/5). Pada saat yang sama, nilai kredit yang berisiko (loan at risk/LAR) Bank Mandiri terus turun. Pada triwulan pertama tahun ini, LAR Bank Mandiri 11,7 persen, turun dibandingkan tahun lalu di 17,2 %. Bank Mandiri juga sudah menyiapkan pencadangan atau LAR coverage sebesar 48,6 %. Dirut BRI Sunarso menjelaskan, dari akumulasi restrukturisasi kredit BRI yang mencapai Rp 263,3 triliun, hanya 2 % yang tidak bisa diselamatkan. Selebihnya masih bisa diselamatkan dan melanjutkan pembayaran. Direktur Manajemen Risiko BRI Agus Sudiarto menambahkan, tingkat LAR coverage BRI mencapai 49 % dan pencadangan antisipasi kredit berperforma buruk (NPL coverage) mencapai 282,49 %. (Yoga)
Bank Mandiri Torehkan Kinerja Impresif di Kuartal I 2023
JAKARTA,ID- Bank Mandiri berhasil membukukan kinerja keuangan yang positif pada awal tahun 2023. Hal ini tercermin dari perolehan laba bersih konsolidasi pada kuartal 1-2023 yang mencapai Rp 12,6 triliun, tumbuh menembus 25,2% bila dibandingkan dengan periode tahun sebelumya. Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi menyampaikan, pertumbuhan laba tersebut merupakan hasil dari strategi Bank Mandiri yang berfokus pada pendekatan ekonomi bisnis, baik dari sisi pembiayaan atau pendanaan. Hasilnya, total aset Bank Mandiri secara konsolidasi tercatat sampai dengan akhir Maret 2023 berhasil tumbuh 10,04% secara year on year (YoY) mencapai Rp 1.908 triliun. Hal tersebut ditopang oleh pertumbuhan kredit Bank Mandiri mencapai 12,36% YoY secara konsolidasi menjadi Rp 1.205 triliun. Darmawan menilai, peningkatan kredit Bank Mandiri tentunya tidak terlepas dari semakin membaiknya fundamental ekonomi Indonesia yang solid. (Yetede)
Transaksi Digital Banking Melesat Setelah Lebaran
Transaksi digital perbankan meningkat pesat selama momentum Lebaran tahun ini. Peningkatan terutama terjadi pada layanan transfer
online
untuk keperluan zakat hingga pengiriman Tunjangan Hari Raya (THR).
Bank Mandiri memperkirakan, transaksi nasabah melalui Livin' tumbuh 20% selama periode Lebaran tahun ini dibandingkan dengan bulan normal sebelum menjelang lebaran.
Menurut
SVP Transaction Banking Retail Sales
Bank Mandiri, Thomas Wahyudi, peningkatan itu tak lepas dari aktivitas ekonomi yang semakin normal, mudik Lebaran sudah semarak dan ada pembayaran THR.
Dia mengungkapkan, transaksi yang paling banyak dilakukan lewat Livin' adalah transfer, top up dan pembayaran untuk belanja online. Peningkatan transfer juga didorong adanya layanan BI-Fast dengan biaya lebih murah saat transfer antar bank.
Bank Central Asia (BCA) juga memperkirakan, transaksi nasabah secara digital saat Lebaran akan tumbuh pesat.
EVP Corporate Communication
BCA, Hera F. Haryn menyebut, peningkatan sejalan dengan ekspektasi kenaikan permintaan barang dan jasa pada masyarakat.
Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, volume transaksi digital BCA, baik mobile banking dan internet banking sudah mencapai 5,8 miliar atau meningkat 29,5% yoy.
Andi Nirwoto, Direktur TI dan Digital Bank BTN meyakini, transaksi digital pada periode lebaran tahun ini lebih ramai dari tahun lalu, lantaran pemerintah tak memberlakukan pembatasan mobilitas.
Sementara transaksi digital Bank BJB selama masa Lebaran naik 30% dibanding rata-rata transaksi harian pada kondisi normal. Transaksi terbanyak adalah transfer, top up e-money, dan transaksi penggunaan QRIS. Direktur Utama Bank BJB, Yuddy Renaldi mengatakan, transaksi QRIS meningkat 26,5% dari bulan normal. Didorong belanja merchant dan donasi.
Kinerja BSI Semakin Solid
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) terus menunjukkan kinerja keuangan yang solid. Pertumbuhan pembiayaan yang impresif, mencapai lebih dari 20% menjadi salah satu pendorong kinerja positif perseroan. Direktur Utama BSI Hery Gunardi menyampaikan perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja positif dan sehat sepanjang Januari-Maret 2023 didukung oleh kesinambungan yang solid antara pendanaan dan pembiayaan. Pada kuartal I/2023, perseroan berhasil mencatatkan perolehan laba bersih mencapai Rp1,46 triliun, tumbuh 47,65% secara year on year (YoY). “Alhamdullilah, BSI meraih kinerja yang menggembirakan sepanjang kuartal I tahun ini, dan secara berkesinambungan kami memperkuat fungsi intermediasi guna mendukung momentum pertumbuhan positif ekonomi. Kami dapat menjaga keberlanjutan pertumbuhan ini dengan fokus pada aspek likuiditas terutama pertumbuhan dana murah, serta menjaga kualitas aset,” ujar Hery dalam media press conference Paparan Kinerja BSI Kuartal I/2023. Dari sisi pendanaan, BSI mampu mengoptimalisasi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dengan pencapaian sebesar Rp269,26 triliun, tumbuh 12,88% secara year on year. Angka ini didominasi oleh tabungan Wadiah yang mencapai Rp43,53 triliun. Saat ini total tabungan mencapai Rp 115,12 triliun dan menjadikan BSI berada di peringkat ke-5 tabungan secara nasional. Pencapaian ini memberikan pengaruh positif terhadap rasio Cost of Fund (CoF) BSI menjadi 1,97%, karena tabungan wadiah yang memberikan impact effisiensi pengurangan biaya bagi hasil.
Adapun pembiayaan, BSI mencatat pertumbuhan impresif dua digit yakni 20,15% secara yoy menjadi Rp213, 28 triliun. Pada periode tersebut, kualitas pembiayaan BSI terjaga dengan baik, tercermin dari NPF Gross di level 2,36%. Perseroan fokus pada pembiayaan jangka panjang, prudent dan mendiversifikasi alternatif pembiayaan yang sesuai segmen nasabah. Dengan demikian risiko pembiayaan dapat dimitigasi dengan baik sesuai dengan jenis pembiayaannya. Lebih lanjut Hery menambahkan, pertumbuhan laba perseroan diiringi dengan meningkatnya aset BSI yang saat ini mencapai Rp313,25 triliun, tumbuh 15,47% secara yoy. Selain itu, juga ditopang oleh pertumbuhan bisnis yang sehat dari segmen retail dan wholesale serta didukung oleh peningkatan dana murah, kualitas pembiayaan yang baik, efisiensi dan efektivitas biaya dan fee based income (FBI). Hingga Maret 2023, total pembiayaan BSI mencapai Rp213,28 triliun, dengan porsi pembiayaan yang didominasi oleh pembiayaan konsumer sebesar Rp110,62 triliun, tumbuh 24,04% secara yoy. Lalu disusul pembiayaan wholesale sebesar Rp58,16 triliun, tumbuh 17,29% secara yoy, dan pembiayaan mikro sebesar Rp19,32 triliun, tumbuh 24,32% secara yoy. Dengan aset yang tumbuh 15,47% secara yoy menjadi Rp313,25 triliun, BSI juga mencatat rasio keuangan yang solid, tumbuh dan terintermediasi dengan baik. Rasio ROE (Return of Equity) BSI sebesar 18,16%. Sementara itu, rasio ROA (Return of Asset) sebesar 2,48% dan rasio BOPO (Biaya Operasional) menjadi 69,65%. Artinya, dari sisi biaya BSI mencatat efektifitas dan efisiensi.
Dalam 3 Bulan BRI Cetak Laba Rp 15,56 Triliun
Ditengah kondisi perekonomian global yang mengalami perlambatan karena gejolak keuangan, terutama setelah kegagalan beberapa bank di Amerika Serikat, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI berhasil mengawali tahun 2023 dengan melanjutkan kinerja cemerlang. Di tengah gejolak perekonomian global, hingga akhir kuartal I tahun 2023 BRI mampu mencatatkan laba secara konsolidasian (BRI Group) sebesar Rp 15,56 triliun atau tumbu 27,37% year on year (yoy). Adapun asset BRI Group tumbuh 10,46% yoy menjadi Rp 1.822,97 triliun. Terkait dengan pencapaian tersebut, Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan bahwa di tengah gejolak perekonomian global tersebut, pada 3 bulan pertama di tahun 2023, BRI dapat melanjutkan kinerja positifnya. Hal tersebut tak lepas dari komitmen BRI untuk tetap tumbuh secara berkelanjutan dengan fokus di segmen UMKM yang telah menjadi pondasi pertumbuhan bisnis perusahaan selama lebih dari 127 Tahun.
Impresif, Bank Mandiri Torehkan Kinerja Positif di Kuartal I/2023
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. mencatatkan kinerja positif pada kuartal I/2023 dengan membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp12,6 triliun atau tumbuh 25,2% secara year on year (YoY).Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi menjelaskan pertumbuhan laba bersih merupakan hasil dari strategi Bank Mandiri yang berfokus pada pendekatan ekosistem bisnis baik dari sisi pembiayaan maupun pendanaan.Total aset Bank Mandiri secara konsolidasi tercatat sebesar Rp1.908 triliun atau tumbuh 10,04% YoY hingga 31 Maret 2023, didorong oleh pertumbuhan kredit yang mencapai sebesar 12,36% YoY secara konsolidasi menjadi Rp1.205 triliun.Darmawan mengatakan peningkatan kredit Bank Mandiri tentunya tidak terlepas dari semakin membaiknya fundamental ekonomi Indonesia.
Fungsi intermediasi yang impresif tersebut, lanjut Darmawan, merata di seluruh segmen. Kredit wholesale Bank Mandiri berhasil meningkat 9,09% YoY pada kuartal I/2023 menjadi Rp599 triliun serta kredit ritel yang meningkat 11,92% YoY dengan realisasi mencapai Rp327 triliun. Adapun, nilai transaksi Livin’ by Mandiri pada kuartal I/2023 sebesar Rp725 triliun yang juga tumbuh sebesar 45% bila dibandingkan dengan periode yang sama dengan tahun lalu.Sementara itu, layanan Wholesale Digital Super Platform Kopra by Mandiri telah berhasil mengelola dana lebih dari Rp4.834 triliun transaksi hingga kuartal I/2023 atau tumbuh 19% YoY.
PROFIT LEBAR BANK BESAR
Mayoritas bank papan atas kompak menutup kuartal I/2023 dengan membukukan profit tebal, kendati dibayangi kebijakan moneter moderat Bank Indonesia melalui penetapan suku bunga acuan 5,75%. Pada periode ini pula, bank besar turut mencatatkan pertumbuhan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) secara tahunan. Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) kompak membukukan kenaikan NIM secara tahunan. Sementara itu, dari sisi laba bersih, sektor perbankan saling membukukan pertumbuhan pada kuartal I/2023 (year on year/YoY). Laba bersih konsolidasi Bank Mandiri mekar 25% dari Rp10 triliun menjadi Rp12,6 triliun. Laba BNI merekah 31,8% menjadi Rp5,2 triliun. BRI, bank yang memiliki jaringan terluas senusantara, mencatatkan pertumbuhan laba bersih konsolidasi pada periode tersebut 27,37%, dari Rp12,2 triliun menjadi Rp15,56 triliun.
Kinerja ciamik pada kuartal I/2023 menunjukkan sektor perbankan masih solid di tengah perubahan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI7DRR).Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin mengatakan kebijakan pengetetan moneter BI pada tahun ini tak seagresif tahun lalu. Hal itu tecermin pada langkah bank sentral menahan suku bunga pada 5,75% setelah membuka tahun dengan kenaikan 25 basis poin (bps).
Untuk berikutnya, dia menilai bahwa suku bunga stagnan bakal membatasi gerak NIM bank. Namun, cerita bakal berbeda bila bank melakukan jurus efisiensi. Tak heran bila tren kenaikan NIM di kalangan bank masih bisa terealisasi pada sisa tahun ini. “Ini yang banyak dilakukan bank sekarang. Mereka bisa jaga cost of fund,” katanya.
Penyaluran Kredit dan Obligasi Dorong Laba Bersih Perbankan
Perbankan besar mencatat pertumbuhan laba bersih hingga dua digit pada triwulan I-2023. Kinerja perbankan yang positif ini ditopang pertumbuhan kinerja penyaluran kredit, imbal hasil dari penempatan dana di obligasi, serta pendapatan biaya atau fee dan komisi. Bank swasta terbesar di Tanah Air, PT Bank Central Asia Tbk, pada triwulan I-2023 mencatat laba bersih Rp 11,5 triliun, bertumbuh 43 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menjelaskan, pertumbuhan ini didorong ekspansi volume kredit, perbaikan kualitas pinjaman, imbal hasil yang lebih tinggi dari penempatan dana pada obligasi negara, serta kenaikan pendapatan fee dan komisi yang selaras dengan peningkatan jumlah transaksi.
”Secara umum, kami belum menaikkan suku bunga kredit untuk senantiasa menyediakan suku bunga yang kompetitif di pasar dan mendorong pemulihan perekonomian. Di sisi lain kebutuhan kredit konsumsi juga meningkat seiring periode Lebaran pada triwulan pertama,” ujar Jahja pada paparan kinerja keuangan triwulan I-2023 BCA secara daring, Kamis (27/4). Pada triwulan I-2023, penyaluran kredit BCA mencapai Rp 713,8 triliun, bertumbuh 12,0 % secara tahunan, ditopang berbagai segmen, seperti kredit korporasi yang naik 11,7 % secara tahunan, kredit komersial dan UKM bertumbuh 11,8 % secara tahunan, dan kredit konsumer bertumbuh 12,7 % secara tahunan menjadi Rp 174,5 triliun. (Yoga)
Dalam 3 Bulan BRI Cetak Laba Rp 15,56 Triliun
JAKARTA — Ditengah kondisi perekonomian global yang mengalami perlambatan karena gejolak keuangan, terutama setelah kegagalan beberapa bank di Amerika Serikat, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI berhasil mengawali tahun 2023 dengan melanjutkan kinerja cemerlang. Di tengah gejolak perekonomian global, hingga akhir kuartal I tahun 2023 BRI mampu mencatatkan laba secara konsolidasian (BRI Group) sebesar Rp15,56 triliun atau tumbuh 27,37% year on year (yoy). Adapun asset BRI Group tumbuh 10,46% yoy menjadi Rp1.822,97 triliun. Terkait dengan pencapaian tersebut, Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan bahwa di tengah gejolak perekonomian global tersebut, pada 3 bulan pertama di tahun 2023, BRI dapat melanjutkan kinerja positifnya. Hal tersebut tak lepas dari komitmen BRI untuk tetap tumbuh secara berkelanjutan dengan fokus di segmen UMKM yang telah menjadi pondasi pertumbuhan bisnis perusahaan selama lebih dari 127 tahun. Dari sisi penyaluran kredit, seluruh segmen kredit BRI tercatat tumbuh positif, dengan kontributor utama di segmen mikro yang tumbuh 11,18%, sehingga total kredit dan pembiayaan BRI Group menjadi sebesar Rp1.180,12 triliun. (Yetede)
Pembiayaan Tumbuh di Atas 20%, Kinerja BSI Impresif
JAKARTA, ID -- PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) membukukan kinerja impresif sepanjang kuartal I-2023 dengan perolehan laba bersih mencapai Rp 1,46 triliun, tumbuh dua digit 47,65% secara year on year (yoy). Kemampuan BSI memperkuat fungsi intermediasi melalui penghimpunan dana masyarakat dan penyaluran pembiayaan telah mendorong pertumbuhan positif kinerja perseroan. Direktur Utama BSI Hery Gunardi menyatakan, perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja positif dan sehat sepanjang Januari-Maret 2023, didukung oleh kesinambungan yang solid antara. pendanaan dan pembiayaan. Pada kuartal I-2023, perseroan berhasil mencatatkan perolehan laba bersih sebesar Rp 1,46 triliun, tumbuh 47,65% secara year on year (yoy). “Alhamdulillah , BSI meraih kinerja yang menggembirakan sepanjang kuartal I tahun ini, dan secara berkesinambungan kami memperkuat fungsi intermediasi guna mendukung momentum pertumbuhan positif ekonomi. Kami dapat menjaga keberlanjutan pertumbuhan ini dengan fokus pada aspek likuiditas terutama pertumbuhan dana murah, serta menjaga kualitas aset,” ujar Hery dalam konferensi pers Paparan Kinerja BSI Kuartal 3 di Jakarta, Kamis (27/4/20). (Yetede)









