Perbankan
( 2293 )Baru Stabil, Bunga Kredit Bank Belum Akan Turun
Tren kenaikan suku bunga di Indonesia sebentar lagi mungkin bakal berakhir. Banyak pengamat menilai ada peluang Bank Indonesia (BI) mulai menurunkan suku bunga acuan, mengingat kondisi ekonomi yang terus membaik.
Kepala Ekonom Citi Indonesia Helmi Arman melihat, BI memiliki ruang menurunkan suku bunga acuan di semester kedua tahun ini. “Kami melihat suku bunga acuan di semester II tahun ini turun ke arah 5% dari sekarang di posisi 5,75%,” ujar dia, Rabu (17/5).
Ada beberapa faktor yang melandasi proyeksi ini. Salah satunya, tingkat suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) yang sudah hampir mencapai puncak. Tambah lagi, inflasi di Indonesia sudah mereda dan defisit APBN sudah kembali ke level sebelum pandemi Covid-19.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae sependapat, kondisi ekonomi Indonesia saat ini terjaga baik. Salah satu indikatornya, neraca dagang surplus hingga April 2023.
Kendati begitu, jangan berharap suku bunga kredit akan ikut turun bila BI benar menurunkan suku bunga di semester II. Sebab, era suku bunga acuan tinggi di AS tampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat, karena meski inflasi AS mulai turun, posisinya masih tinggi. "Oleh karenanya, suku bunga acuan BI masih sulit turun," kata Dian.
Apalagi, tidak semua bank langsung merespons kenaikan suku bunga BI dengan ikut menaikkan bunga kredit. Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Jahja Setiaatmadja mengungkapkan, sejak tahun lalu BCA belum menaikkan suku bunga. Justru, bunga Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) dan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) ada yang turun.
Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) Lani Darmawan juga mengungkapkan, saat ini ia masih akan memonitor stabilitas terkait biaya dana di bank. “Diharapkan biaya dana akan menurun dalam kuartal ke depan, sehingga diusahakan suku bunga kredit tidak perlu dinaikkan lagi,” ujar Lani.
Bank Berbenah Sistem Keamanan Digital
JAKARTA - Industri perbankan berupaya meningkatkan sistem keamanan digital sesuai dengan arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) setelah kebocoran data dan serangan siber yang menimpa PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) pada 8 Mei 2023. Bank swasta nasional PT Bank Central Asia Tbk (BCA) berkomitmen menerapkan pengamanan dengan standar berlapis, manajemen risiko, serta akuntabilitas. Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menuturkan pengamanan ekstra memang dibutuhkan di tengah pesatnya inovasi layanan yang diberikan untuk memastikan transaksi nasabah berjalan aman dan andal. "Fokus kami adalah menjaga data dan transaksi digital nasabah tetap aman serta terhindar dari kebocoran data," ujarnya kepada Tempo, kemarin
Dia menjelaskan, sumber daya manusia kerap menjadi rantai yang paling lemah dalam keamanan digital. Karena itu, selain memastikan sumber daya manusia yang profesional dan berintegritas, BCA melakukan edukasi berkelanjutan kepada nasabah sebagai prioritas. Edukasi dan sosialisasi ditempuh melalui berbagai platform dan media, salah satunya mengenai modus penipuan social engineering serta langkah antisipatif agar nasabah tidak terkena serangan siber.
Hera menjelaskan, BCA menerapkan pengamanan tersertifikasi ISO 27001 untuk menerapkan standardisasi sistem manajemen keamanan informasi, serta standar keamanan data industri kartu pembayaran untuk keamanan transaksi kartu kredit. "Kami juga menggunakan pengamanan berlapis dari perangkat keamanan terbaru dan andal, baik di sistem komputer, jaringan, aplikasi, maupun data," ucapnya. Adapun salah satu sistem yang diterapkan untuk mengamankan data nasabah adalah data loss prevention. (Yetede)
BSI: Data dan Dana Nasabah dalam Kondisi Aman
Manajemen PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI kembali memastikan data dan dana nasabah dalam kondisi aman sehingga nasabah dapat bertransaksi secara normal dan aman. ”Kami berharap nasabah tetap tenang karena kami memastikan data dan dana nasabah aman serta aman dalam bertransaksi. Kami juga akan bekerja sama dengan otoritas terkait dengan isu kebocoran data,” kata Sekretaris Perusahaan BSI Gunawan A Hartoyo, Selasa (16/5) terkait isu adanya kebocoran data yang diakibatkan serangan siber.
Gunawan mengajak masyarakat dan para pemangku kepentingan semakin sadar akan potensi serangan siber yang dapat menimpa siapa saja. BSI pun terus meningkatkan upaya pengamanan untuk memperkuat digitalisasi dan keamanan sistem perbankan dengan prioritas utama menjaga data dan dana nasabah. Ia menambahkan, serangan siber merupakan ancaman di era digital seiring dengan meningkatnya penggunaan teknologi informasi pada proses bisnis. Serangan siber dapat terjadi di mana-mana dan bisa menyasar ke berbagai pihak. ”Ini merupakan keniscayaan dengan semakin banyaknya penggunaan teknologi informasi pada bisnis. Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai pelaku bisnis untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperbanyak kolaborasi dengan pemerintah, regulator, dan masyarakat umum untuk mencegah kejahatan siber semakin berkembang,” ujarnya. (Yoga)
Bank Perkuat SDM Digital dan Kerjasama Siber
Dugaan serangan siber ke sistem PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) masih berlanjut. Kemarin, kelompok LockBit 3.0, yang mengklaim melakukan serangan siber ke BSI, membocorkan data yang diduga dicuri.
Kendati begitu, BSI menegaskan data dan dana nasabah dalam kondisi aman. "Kami juga akan bekerjasama dengan otoritas terkait dengan isu kebocoran data," kata Gunawan A. Hartoyo, Sekretaris Perusahaan BSI dalam keterangan resmi, kemarin.
Direktur Utama BSI Hery Gunardi, Selasa (16/5), juga melakukan pertemuan dengan Kepala Badan Sandi dan Siber Negara (BSSN) Hinsa Siburian. Pertemuan di kantor pusat BSI di The Tower, Jakarta itu, juga dihadiri Juru Bicara BSSN Ariandi Putra.
BSI dan BSSN tidak mengungkap detail isi pertemuan. "BSSN telah melakukan komunikasi dan koordinasi kepada BSI terkait upaya pemulihan sistem berkenaan dengan gangguan yang dialami. Kami siap untuk terus berkolaborasi," kata Ariandi. Senior Vice President
LPPI Trioksa Siahaan mengatakan, perbankan sangat membutuhkan talenta digital untuk mendukung operasional bisnis yang sudah didigitalisasikan. "Bank dapat mengembangkan talenta dengan membentuk
management trainee
di bidang TI dan digital," kata dia.
Sejumlah bank memang meningkatkan investasi di bidang tenaga kerja digital ini. Joni Raini, Direktur
Human Resources
PT Bank CIMB Niaga Tbk, mengatakan, pengembangan talenta di bidang TI atau digital jadi salah satu prioritas mereka di saat ini.
Bahaya Eksploitasi Data Bocor BSI
JAKARTA — Grup peretas asal Rusia, LockBit, akhirnya mengunggah seluruh data yang diklaim sebagai data pribadi nasabah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) di situs gelap atau dark web. Data itu diunggah kemarin, 16 Mei 2023, sekitar pukul 07.00 WIB, berisikan 24 link item unggahan, yang diduga diretas dari akun internal milik pegawai bank pada Senin, 8 Mei 2023, yang kemudian menjadi pangkal lumpuhnya sistem dan layanan BSI pada pekan lalu. Pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, memastikan kebocoran data terjadi setelah LockBit menguasai data yang diklaim berisi informasi pribadi milik lebih dari 15 juta nasabah, dokumen finansial, dokumen legal, perjanjian kerahasiaan atau non-disclosure agreement (NDA), hingga password untuk mengakses Internet dan layanan yang digunakan. Adapun data nasabah yang bocor itu antara lain nama, nomor ponsel, alamat, profesi, saldo rekening rata-rata, riwayat transaksi, tanggal pembukaan rekening, informasi pekerjaan, dan sejumlah data lainnya.Tak lama setelah diunggah, situs LockBit di dark web pun banjir kunjungan. Akibatnya, situs itu sempat mengalami kendala dan sulit diakses. “Bandwith-nya menjadi lambat, banyak yang sedang mengunduh data dari situs LockBit ini,” ujar Alfons kepada Tempo, kemarin. (Yetede)
Laba Bersih Citibank Indonesia Rp 569 Miliar
Citibank Indonesia mencatat laba bersih triwulan I-2023 sebesar Rp 569 miliar, bertumbuh 52 persen secara tahunan. Penyaluran kredit menurun 5,36 persen secara tahunan menjadi Rp 39,87 triliun. Namun, pendapatan bunga bersih meningkat 60,93 persen secara tahunan menjadi Rp 1,22 triliun sehingga laba tetap tumbuh. Demikian disampaikan Chief Executive Officer Citi Indonesia Batara Sianturi, Senin (15/5/2023), di Jakarta. (Yoga)
Wapres: Minta Keamanan Sistem Tekhnologi Perbankan Ditingkatkan
JAKARTA, ID - Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin meminta keamanan sistem teknologi perbankan nasional diperkuat, menyusul adanya kasus peretasan terhadap sistem teknologi perbankan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) yang menyebabkan layanannya sempat mengalami gangguan. “Saya minta BSI membenahi sistem teknologinya supaya tidak terjadi lagi, dan sekarang juga cepat untuk mengembalikan, sehingga tidak mengganggu (layanan) dan merusak kepercayaan (nasabah),” kata Wapres usai meresmikan Kampung Bahari Nusantara TNI AL Tahun 2022 secara serentak di 68 Satuan Komando Kewilayahan, di Kepulauan Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Senin (15/05/2023). Meskipun kondisi layanan BSI telah pulih, Wapres mengingatkan bahwa pengamanan sistem teknologi harus diperkuat, termasuk menyiapkan berbagai langkah antisipatif untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang. “Bukan hanya BSI saya kira, bank-bank syariah yang lain juga harus anti sipatif,” tegas dia. Bank-bank konvensional pun, kata Ma’ruf Amin, harus menguatkan sistem keamanannya, terutama untuk mengantisipasi berbagai serangan siber yang kerap terjadi. “Karena itu, kepada seluruh bank, baik yang syariah maupun konvensional, supaya lebih siap dengan situasi terjadinya pembajakan-pembajakan,” ujar dia. (Yetede)
Penyaluran Kredit Bank Diprediksi Lebih Kondusif
JAKARTA, ID - Penyaluran kredit perbankan diprediksi lebih kondusif seiring angin segar perkembangan ekonomi dan berlanjutnya reformasi struktural. Hal tersebut diyakini mendorong bank sentral menurunkan suku bunga acuannya mulai September 2023, yang pada gilirannya memberi ruang lebih bagi perbankan untuk semakin percaya diri menyalurkan kredit. CEO Citi Indonesia Batara Sianturi memperkirakan, Bank Indonesia akan secara teratur dan terukur menurunkan suku bunga acuan mencapai 75 basis points (bps) di semester II-2023. Kebijakan ini tentu akan memberi dampak signifikan bagi sektor keuangan, khususnya perbankan. “Impact-nya bagus lah, kita melihat nanti dengan kebijakan ini bisa lebih kondusif lagi untuk penyaluran kredit. Likuiditas yang sudah ample ini juga membuat cost of fund (biaya dana) tidak terlalu mahal,” beber Batara kapada Investor Daily, di Jakarta, Senin (15/5/2023). Menurut dia, kondisi perekonomian yang semakin baik ke depan juga akan memberi kepercayaan diri bagi Citi Indonesia dalam menjalankan fungsi intermediasinya. “Kita memang komitmen tumbuh menuju double digit untuk full year. Tinggal lihat nanti BI kapan akan turunkan rate-nya dari 5,75%,” imbuh Batara. (Yetede)
Bocor Data di Situs Gelap
JAKARTA — Ancaman kebocoran data nasabah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) di situs gelap alias dark web kian nyata setelah bank itu diduga kuat terkena serangan ransomware pada Senin hingga Jumat pekan lalu. Hal itu merujuk pada data yang dirilis grup peretas asal Rusia, LockBit, yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan ransomware terhadap bank syariah terbesar di Indonesia tersebut.
Dalam situs webnya, LockBit menyebutkan telah menguasai data yang berisi informasi pribadi lebih dari 15 juta nasabah, dokumen finansial, dokumen legal, perjanjian kerahasiaan atau non-disclosure agreement, serta kata kunci untuk mengakses Internet dan layanan perbankan yang digunakan. Adapun data nasabah yang bocor itu, antara lain, adalah nama, nomor telepon seluler, alamat, profesi, saldo rekening rata-rata, riwayat transaksi, tanggal pembukaan rekening, serta informasi pekerjaan.
Dalam rilisnya, LockBit turut mengunggah 27 gambar tangkapan layar atau screen capture yang menampilkan jendela atau tab berisikan sejumlah sampel data yang diklaim sebagai data nasabah BSI. Tangkapan layar tersebut lengkap beserta direktori nama komputer hingga file lokasi data itu berada. (Yetede)
Layanan BSI Tak Kunjung Normal, Nasabah Berpindah ke Bank Syariah Lain
Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk mengklaim layanan perbankan yang sempat lumpuh selama sepekan ini telah kembali normal. Direktur Utama BSI Hery Gunadi memastikan, layanan bank yang sahamnya diperdagangkan dengan kode BRIS ini telah kembali normal, termasuk layanan yang berkaitan dengan Kementerian Keuangan.
Ini menyusul beredarnya surat yang menyebutkan pemberhentian sementara interkoneksi sistem antara BSI dengan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara sebagai platform pembayaran APBN. "Meskipun surat tersebut sempat dibuat, namun pemberhentian sementara tidak jadi dilakukan, menyusul sistem yang sudah kembali normal.Jadi tidak ada realisasi pemindahan operasional," beber Hery kepada KONTAN, Minggu (14/5).
Salah satu nasabah BSI yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Mukhaer Pakkana menyebut, pada faktanya layanan belum normal. Pada beberapa lokasi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan nasabah warga Persyarikan di berbagai tempat, masih melaporkan gangguan pada layanan BSI.
Oleh karena itu, kata Mukhaer, dirinya telah mengusulkan ke Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP) agar segera mengamankan dana AUM dan warga Persyarikan, terutama dana staf, karyawan, guru, dosen, dokter, paramedis dan perawat, untuk segera dipindahkan ke bank-bank syariah lain yang lebih aman. "Dana AUM yang ada di BSI jumlahnya cukup besar, kisaran Rp 2,7 triliun," katanya.
Salah satu petani di Aceh, yang juga merupakan Ketua Kelompok Tani Kopi Maju Makmur Mandiri di Kabupaten Bener Meriah, Sujud, mengatakan, layanan perbankan BSI di Aceh sudah normal. "Tapi karena masalah kemarin lumayan banyak nasabah BSI Aceh yang kecewa akhirnya yang berpindah ke Bank Aceh," ujar Sujud.









