Perbankan
( 2293 )Bank Milik Korsel Bakal Gencar Ekspansi Pasar
Investor Korea Selatan semakin gencar berekspansi di sektor perbankan Tanah Air. Memang, bank-bank yang kini dikuasai investor asal negeri ginseng ini memiliki aset yang terbilang kecil dibanding dengan bank lokal. Bahkan, ada yang masih perlu memperbaiki kualitas kredit.
Sebut saja, Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) yang saat ini masih harus memperbaiki kualitas kreditnya. Per Maret 2023, non performing loan (NPL) gross Bank KB Bukopin masih di level 6,98%, walaupun membaik dari tahun sebelumnya di 11,76%.
Wakil Komisaris Utama KB Bukopin Nam Hoon Cho mengungkapkan, saat ini pihaknya fokus menyelesaikan masalah NPL dengan bantuan dana hasil rights issue. BBKP menargetkan dana sekitar Rp 12 triliun dari aksi korporasi tersebut.
Nam menargetkan perbaikan NPL ini bisa selesai setidaknya tahun depan. Kookmin Bank, sebagai pemegang saham mayoritas, akan membantu menyelesaikan masalah NPL ini melalui suntikan modal pada rights issue nanti.
Sebagai informasi, total penyaluran kredit Bank KB Bukopin saat ini Rp 45,81 triliun, turun 13,2% year on year (yoy). Namun, rugi bersih tahun berjalan secara konsolidasi mampu turun cukup signifikan dari Rp 917 miliar pada Maret 2022 menjadi Rp 226 miliar pada Maret 2023.
Bank milik Korea lainnya, Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA), juga berupaya mendorong peningkatan kredit yang berorientasi produktif di tahun ini.
Dalam tiga bulan pertama tahun ini, Bank Woori mencatat kredit yang diberikan mencapai Rp 40,87 triliun. Angka tersebut tumbuh jika dibandingkan periode sama tahun lalu yang senilai Rp 35,5 triliun. "Pada 2023, target pertumbuhan kredit Bank Woori berkisar antara 7%-9%," ujar Corporate Secretary Bank Woori, Wuryanto.
Sementara Wakil Direktur Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) Hendra Lie mengungkapkan, pihaknya bakal lebih fokus ke komersial, korporasi, dan ritel di tahun ini.
Saham Perbankan Dibayangi Teror Siber
Gangguan sistem perbankan di Bank Syariah Indonesia Tbk (BBSI) membuat heboh. Tak hanya bagi nasabah BSI, tapi juga nasabah perbankan di Tanah Air.
Keandalan sistem keamanan digital perbankan Tanah Air jadi dipertanyakan seiring dengan dugaan serangan siber yang kian marak. Namun, hingga Minggu (14/5), masalah utama yang membuat sistem di BSI lumpuh belum diketahui penyebabnya secara resmi.
Sejauh ini, efeknya ke harga saham bank ini relatif minim. Bila dihitung dalam sepekan hingga Jumat (12/5), harga saham bank syariah pelat merah ini justru naik 3,13% menjadi Rp 1.810 per saham. Bila dihitung sejak awal tahun, saham BRIS naik 40,31%.
Saham BRIS sepekan terakhir juga lebih apik dibanding saham bank big four yang terkoreksi tipis. Saham Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 0,28% Jumat lalu jadi Rp 8.800 per saham. Dalam sepekan, BBCA melemah 2,22%.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji mengungkapkan, dampak ke saham BRIS minim lantaran secara teknikal BRIS sedang dalam kondisi uptrend. Ini didorong realisasi kinerja keuangan BRIS yang positif.
BRIS berhasil mencatat laba bersih Rp 1,45 triliun pada kuartal I-2023 atau tumbuh 47,6% secara tahunan. Penetrasi ke pasar payroll yang jadi kunci pertumbuhan BSI meningkat 8,91% di kuartal I.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus melihat saham BSI juga masih terapresiasi karena investor melihat ada aksi mitigasi BSI untuk menyelesaikan masalah pada layanannya.
SVP Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menambahkan, efek kasus BSI ini baru akan signifikan jika ditemukan ada kerugian langsung pada fundamental bank atau nasabah. Misalnya nasabahnya kehilangan dana secara masif atau ada kebocoran data finansial.
Perbankan Diminta Naikkan Sistem Elektronik
JAKARTA, ID - Industri perbankan sudah seharusnya belajar banyak dari kasus serangan siber di masa lalu dan terus meningkatkan ketahanan sistem elektroniknya. Lebih dari itu, setiap bank mesti lebih antisipatif memperkuat organisasi tanggap darurat, meramu metode analisis bersama, hingga mengentaskan persoalan minimnya sumber daya manusia (SDM) di bidang teknologi informasi (TI). Kejahatan siber (cyber crime) semakin variatif dan frekuensinya semakin tinggi. Technopreneur Bidang Keamanan Informasi Budi Rahardjo menyampaikan, data pada 2020 menerangkan bahwa 175,4 juta orang atau mencakup 64% dari total populasi Indonesia telah mengadopsi internet. Jumlah ini punya skala potensi yang besar, sekaligus risiko yang besar pula. Pandemi pun mengakselerasi adopsi masyarakat terhadap penggunaan dan pemanfaatan perkembangan TI. Mulai dari kebutuhan belanja di e-commerce, membeli tiket secara online, berkomunikasi melalui sosial media, tak terkecuali pemanfaatan layanan jasa keuangan. “Kita sudah sangat bergantung kepada TI. Artinya, ini tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sehingga kalau terjadi masalah keamanan, maka ini dampaknya besar,” ungkap Budi dalam suatu seminar, dikutip Minggu (14/5/202). (Yetede)
Bank Besar di AS Ikut Kena Tulah Bank Kolaps
Dampak ikutan dari kolapsnya sejumlah bank di Amerika Serikat (AS) akhirnya dirasakan secara langsung oleh banyak bank lainnya di negara ini. Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC), yang merupakan Lembaga Penjamin Simpanan di AS, mengatakan, bank-bank lain akan ikut mengisi kembali dana FDIC yang tergerus.
FDIC menuturkan, untuk menyelamatkan Silicon Valley Bank dan dua bank lainnya dari kebangkrutan, FDIC mengeluarkan dana dari dana jaminan simpanan hingga US$ 16 miliar. Nah, keranjang dana yang terkuras tersebut harus diisi kembali.
FDIC mengusulkan penerapan biaya penilaian khusus sebesar 0,125% untuk simpanan yang tidak dijamin di bank dengan aset lebih dari US$ 5 miliar. Dalam hitungan lembaga tersebut, bank dengan aset lebih dari US$ 50 miliar akan menanggung sekitar 95% dari kebutuhan dana.
Di sisi lain, bank dengan aset di bawah US$ 5 miliar tidak perlu membayar biaya apapun. Berdasarkan proyeksi FDIC, nanti akan ada 113 bank yang ikut menanggung biaya penjaminan.
Para pengamat mengkhawatirkan perkembangan ini akan menekan kinerja keuangan bank. Analis Credit Suisse Susan Roth Katzke menulis dalam risetnya, 14 bank terbesar di AS akan harus mengeluarkan sekitar US$ 5,8 miliar setahun. Ini akan mengikis laba per saham mereka rata-rata sekitar 3%.
Perbankan Memacu Kredit Konsumer
Segmen konsumer masih menjadi salah satu andalan perbankan untuk mengejar pertumbuhan kredit di tahun ini. Meski di kuartal I, laju pertumbuhan kredit konsumer masih lebih rendah dibandingkan segmen lain.
Bankir menargetkan kredit segmen ritel bisa tumbuh dua digit di tahun ini sejalan dengan pertumbuhan kredit secara keseluruhan. Masa pemulihan ekonomi, terutama momen Lebaran, dimanfaatkan bankir untuk memacu penyaluran kredit konsumer di kuartal II. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit konsumer hingga Maret tumbuh 9,2% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan ini lebih rendah daripada segmen lain. Kredit investasi sudah tumbuh 11,4% dan kredit modal kerja naik 9,52%.
PT Bank CIMB Niaga Tbk, salah satu yang optimistis kredit konsumer tumbuh dua digit tahun ini. Meski di kuartal pertama kredit konsumer baru tumbuh 9,4% secara tahunan, CIMB Niaga optimistis kredit konsumer akan tumbuh lebih tinggi di kuartal II.
Direktur Consumer Banking CIMB Niaga Noviady Wahyudi menyebutkan kredit konsumer kuartal kedua ditopang oleh penyaluran melalui kartu kredit dan personal loan karena adanya momen lebaran.
Senada, PT Bank Mandiri Tbk juga meyakini permintaan kredit konsumer akan terus meningkat hingga akhir tahun. Kuartal pertama 2023, kredit konsumer bank ini tumbuh 10,8% yoy, kredit pemilikan rumah (KPR) yang naik 8,78%.
Perbankan Memacu Kredit Konsumer
Segmen konsumer masih menjadi salah satu andalan perbankan untuk mengejar pertumbuhan kredit di tahun ini. Meski di kuartal I, laju pertumbuhan kredit konsumer masih lebih rendah dibandingkan segmen lain.
Bankir menargetkan kredit segmen ritel bisa tumbuh dua digit di tahun ini sejalan dengan pertumbuhan kredit secara keseluruhan. Masa pemulihan ekonomi, terutama momen Lebaran, dimanfaatkan bankir untuk memacu penyaluran kredit konsumer di kuartal II. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit konsumer hingga Maret tumbuh 9,2% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan ini lebih rendah daripada segmen lain. Kredit investasi sudah tumbuh 11,4% dan kredit modal kerja naik 9,52%.
PT Bank CIMB Niaga Tbk, salah satu yang optimistis kredit konsumer tumbuh dua digit tahun ini. Meski di kuartal pertama kredit konsumer baru tumbuh 9,4% secara tahunan, CIMB Niaga optimistis kredit konsumer akan tumbuh lebih tinggi di kuartal II.
Direktur Consumer Banking CIMB Niaga Noviady Wahyudi menyebutkan kredit konsumer kuartal kedua ditopang oleh penyaluran melalui kartu kredit dan personal loan karena adanya momen lebaran.
Senada, PT Bank Mandiri Tbk juga meyakini permintaan kredit konsumer akan terus meningkat hingga akhir tahun. Kuartal pertama 2023, kredit konsumer bank ini tumbuh 10,8% yoy, kredit pemilikan rumah (KPR) yang naik 8,78%.
Dugaan Serangan Siber Ransomware ke BSI
JAKARTA – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) berupaya memulihkan layanannya yang mengalami gangguan dalam beberapa hari terakhir. Serangan siber diduga menjadi pangkal masalah yang, antara lain, melumpuhkan mobile banking serta ATM BSI secara bersamaan sejak 8 Mei lalu. Direktur Utama BSI, Hery Gunardi, menuturkan manajemen masih terus berkoordinasi dengan regulator, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pemegang saham, dan stakeholder terkait untuk memastikan penyebab masalah tersebut. “Pada dasarnya perlu pembuktian lebih lanjut melalui audit dan digital forensik,” ujar dia, kemarin, 11 Mei 2023. Meski demikian, BSI memastikan seluruh data dan dana nasabah berada dalam kondisi aman serta menjadi fokus prioritas perusahaan. Ihwal aktivitas serangan siber, Hery merujuk pada data Google dalam 90 hari terakhir, yakni ada 807 ribu serangan dengan rata-rata 9.000-10 ribu serangan per hari ke berbagai lembaga, tak hanya lembaga keuangan. Mengingat besarnya risiko yang mengintai, perseroan terus meningkatkan standar keamanan seiring dengan perkembangan pesat teknologi dan kebutuhan nasabah untuk produk keuangan digital. (Yetede)
Waspada, Serangan Siber Intai Industri Perbankan
Serangan siber terus mengintai industri keuangan di Indonesia. Teranyar, Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk (BRIS). Layanan bank syariah terbesar di Indonesia ini mengalami gangguan baik online maupun offline, sejak Senin (8/5).
Belum pulih 100% pada Kamis malam (11/05). Gangguan layanan ini menimbulkan banyak kerugian, termasuk nasabah. Warga Aceh yang hanya mengandalkan perbankan syariah terkena efek. Pasalnya, BSI menguasai pangsa pasar simpanan atau dana pihak ketiga di provisi barat Indonesia ini sebesar 40,7% di akhir 2022.
Salah satu yang terdampak negatif atas gangguan layanan BSI adalah petani kopi di Aceh. Sujud, Ketua Kelompok Tani Kopi Maju Makmur Mandiri di Kabupaten Bener Meriah menyebut, gara-gara gangguan ini, toke atau pengepul kopi tak bisa melakukan transaksi ke petani.
Gangguan juga dirasakan nasabah BSI lain di luar Aceh. Rektor Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB-AD) Mukhaer Pakkana, menyebut, perguruan tingginya juga terkena efek luar biasa.
Selain itu, sekitar 500 dosen dan karyawan kampus ini menaruh payroll di BSI dan tidak bisa menarik dana. ITB-AD juga punya sekitar 5.000 orang mahasiswa yang pembayaran uang kuliahnya bisa tersendat. "Aktivitas pembelajaran berhenti. Honor tak tertransfer, rekanan bisnis kampus tak berjalan. Ini bisa mengurangi kepercayaan kampus di mata publik," keluh Mukhaer. Ia minta manajemen BSI bertanggung jawab. Dia menilai, manajemen BSI tak memiliki
early warning system
dalam memitigasi serangan siber.
Pakar Forensik Digital dari Vaksincom Alfons Tanujaya juga mengaku mendengar rumor serangan ransomware. Menurut dia, manajemen BSI harus menjelaskan ini secara detail. "Layanan terhenti lebih dari satu hari adalah disrupsi sangat serius," kata dia.
Herry Gunadi, Direktur Utama BSI mengamini adanya dugaan serangan siber. Menurut dia, serangan siber suatu yang biasa terjadi di dunia digital.
Bisnis Kartu Kredit Kembali Ngegas
Bisnis kartu kredit perbankan kembali menggeliat, setelah turun signifikan ketika diberlakukan pembatasan aktivitas selama pandemi. Data Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai transaksi kartu kredit perbankan di Februari 2023 mencapai Rp 63,23 triliun. Nilai tersebut tumbuh 40,54% year on year (YoY) dari Rp 44,99 triliun.
Gesekan kartu kredit naik 18,42% YoY dari 51,79 juta kali transaksi menjadi 61,33 juta transaksi. Padahal jumlah kartu yang beredar turun 28,47% YoY menjadi 17,29 juta keping kartu.
Salah satunya, rebound terjadi dari transaksi di sektor terkait pariwisata. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) misalnya, mencatatkan penyaluran kartu kredit senilai Rp 14,2 triliun di Maret 2023. Nilai tersebut naik 14,52% YoY dari Rp 12,4 triliun. Sedangkan pada 2019 hanya Rp 13,8 triliun.
“Adapun rasio kredit bermasalah kartu kredit Bank Mandiri saat ini ada di bawah 1%,” papar Noorman Andrianto, VP Credit Card Group Bank Mandiri, kemarin.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga mencatat outstanding kartu kredit tumbuh 8,9% YoY menjadi Rp 12,9 triliun per Maret 2023. General Manager Divisi Bisnis Kartu BNI Grace Situmeang menyatakan, volume transaksi kartu kredit tumbuh di atas 20% YoY. “Pertumbuhan transaksi terutama di sektor wisata, resto dan hiburan,” papar Grace, Selasa (9/5).
Sementara NPL kartu kredit BNI masih terjaga di bawah 2%. “BNI berharap nilai volume kartu kredit dapat tumbuh sebesar 20%, dengan kualitas NPL yang tetap terjaga dibawah 2%,” jelas Grace.
Wika Dikabarkan Minta Restrukturisasi Ulang
JAKARTA, ID – PT Wijaya Karya (WIKA) dikabarkan meminta restrukturisasi utang kepada sejumlah kreditur. Dari penelusuran CGS-CIMB Sekuritas, sebanyak tiga bank besar, yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI/BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI/BBRI), akan terimbas hal tersebut. Sebab, Bank Mandiri menyalurkan utang Rp 3,8 triliun ke Wika, dengan provisi 3%, sedangkan BNI sebesar Rp 1,2 triliun dengan provisi 6,7%. BNI berencana menaikkan provisi kredit ke Wika 10%. BRI menyalurkan kredit Rp 500 miliar ke Wika, dengan provisi 100%. Terakhir, ada PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang mengucurkan utang Rp 273,5 miliar ke Wika dengan provisi 10%. “Dari kalkulasi kami, setiap kenaikan coverage utang 5%, laba bersih Mandiri turun 0,4%, BNI 0,28%, dan BRI 0,26%,” tulis broker itu dikutip Senin (8/5/2023). Wika belum bisa memberikan komentar soal ini. “Kalau sudah ada informasi detail nanti akan disampaikan,” tulis tim komunikasi perusahaan Wika ketika dikonfirmasi Investor Daily. Berdasarkan laporan keuangan Wika kuartal I-2023, totaliabilitas Wika mencapai Rp 55,7 triliun, turun dibandingkan Desember sebesar Rp 57,5 triliun. Perseroan memiliki pinjaman jangka pendek Rp 9,6 triliun, lalu obligasi Rp 8,6 triliun, dan sukuk mudharabah Rp 2,7 triliun. Pada periode itu, perseroan meraup pendapatan Rp 4,3 triliun, naik dari Rp 3,1 triliun. Wika membukukan rugi bersih Rp 521 miliar, dibandingkan untung Rp 1,3 miliar. (Yetede)








