Perbankan
( 2293 )Risiko Pasar Ikut Pengaruhi Modal Bank
Langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat perbankan tanah air sejalan pelajaran dari krisis perbankan di Amerika Serikat. Regulator merilis SE OJK nomor 23/SEOJK.03/2022 mengenai perhitungan risiko aset tertimbang menurut risiko (ATMR) risiko pasar guna menerapkan standar Basel III Reform.
Lewat beleid itu, perbankan harus menghitung ATMR risiko pasar. Hitungan itu akan berpengaruh terhadap Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) alias capital adequacy ratio (CAR) mulai Januari 2024 mendatang.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae menyatakan, ketentuan perbankan termasuk permodalan dapat disesuaikan, mempertimbangkan dinamika dan perkembangan domestik dan global.
Direktur Utama Bank BJB, Yuddy Renaldi mengakui perhitungan baru menggunakan standar Basel III untuk ATMR untuk risiko pasar diimplementasikan mulai 2024. Sedangkan sejak 2023 ini, dimulai untuk risiko operasional dan kredit.
Sedangkan Sekretaris Perusahaan Bank Rakyat Indonesia (BRI), Aestika Oryza Gunarto menyatakan, beleid terbaru ini tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap perhitungan CAR BRI. Ia mengklaim, eksposur risiko pasar relatif kecil untuk BRI.
BSI Bidik Transaksi Perdagangan di Timur Tengah
Kantor perwakilan (representative office) PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) di Dubai akan menjadi kantor cabang penuh (full branch). Dengan naik kelasnya kantor di Dubai, BSI mengincar potensi volume transaksi perdagangan ekspor-impor di Timur Tengah 10-20%. “Volume transaksi ekspor-impor perdagangan Indonesia-Uni Emirate Arab (UEA) US$ 4-5 miliar. Belum ada bank Indonesia yang garap di sana, ini potensi besar, kami paling tidak bisa 10-20% itu sudah bagus,” ungkap Direk tur Treasury and International BSI Mohammad Adib ditemui di Jakarta, Selasa (4/4) malam.
Dengan naik kelasnya status kantor cabang tersebut, BSI dapat lebih luas memberikan layanan dan produk ke nasabah di Dubai, UEA. Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta menambahkan, dengan adanya kantor cabang penuh di Dubai dapat memperluas pangsa pasar keuangan syariah. “Instrumen bisa jadi untuk fund raising, funding. Kita lirik UEA juga, perdagangan Timur Tengah itu defisit kalau dimasukkan minyak, tapi di luar minyak, perdagangan sudah positif. Kita ingin hadir ke sana untuk masuk peluang selain ke dalam instrumen syariah tapi flow trade juga,” jelas Bob. (Yetede)
Bank-Bank Digital Baru Siapkan Ekosistem Mapan
Euforia bank digital sudah berakhir. Tapi pendatang anyar terus berdatangan. Terbaru, ada SuperBank, transformasi dari Bank Fama bakal menyasar para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Tak tanggung-tanggung, bank ini mendapat dukungan dari dua korporasi besar: PT Elang Media Visitama (EMTK) dan Grab.
Lalu ada, Bank Mayora diakuisisi oleh BNI juga mengoptimalkan pasar UMKM. Kemudian Bank Jasa Jakarta milik Astra Group bersama WeLab, adalah jagoan pasar kredit kendaraan bermotor di Jakarta.
Senior Faculty
Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Amin Nurdin mengatakan, kunci bank digital hanya satu, yakni ekosistem. Selama memiliki ekosistem kuat, akan mengantarkan bank digital bertahan dan meningkatkan nilai valuasi.
Andya Daniswara,
SVP Business Development
Emtek Group menyatakan, SuperBank bisa mendapat eksposur ke 180 juta jangkauan konsumen EMTK terutama dari lini media yang dimiliki. Lalu juga ada potensi 14 juta pelaku UMKM Bukalapak sebagai salah satu lini bisnis milik EMTK.
Bank Digital Harus Benahi Kinerja & Garap Ekosistem
Bank digital di Tanah Air masih terus berupaya menjaring nasabah. Di sisi lain, mereka harus meningkatkan fitur layanan dan memperluas ekosistem untuk semakin memudahkan nasabah bertransaksi.
Sejalan dengan perkembangan jumlah pengguna, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) bank digital semakin mekar dan penyaluran kredit meningkat. Di sini bank digital harus pandai menggenjot kinerja dan mengandalkan ekosistem.
Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) tercatat menjadi bank dengan nasabah terbanyak, yakni mencapai 20 juta per November 2022. Namun, penghimpunan DPK bank ini dengan perbandingan nasabah sebanyak itu tergolong kurang efisien. Indikatornya, DPK baru mencapai Rp 14,4 triliun akhir tahun 2022.
Sementara BCA Digital memiliki 1,1 juta nasabah. Anak usaha Bank Central Asia (BCA) ini menghimpun DPK Rp 6,85 triliun. BCA Digital dari awal tak ingin jorjoran menjaring nasabah. Lanny Budiati, Direktur Utama BCA Digital menyampaikan, pihaknya fokus pada kualitas nasabah dibandingkan kuantitas.
Ekosistem Gojek dan Tokopedia (GOTO) menjadi andalan. Tapi GOTO menyebut diri sebagai ekosistem terbuka. Artinya, bank lain juga bisa menggarap ekosistem GOTO.
Industri Perbankan Tetap Kuat dan Bertumbuh
Di tengah gejolak sistem perbankan di AS dan Eropa setelah kolapsnya sejumlah bank, OJK menilai industri perbankan dan keuangan dalam negeri tetap kuat dan bertumbuh. Permodalan perbankan Tanah Air yang sehat mampu menjaga sistem keuangan tetap aman. Ketua Dewan Komisioner (DK) OJK Mahendra Siregar mengatakan, rapat bulanan DK OJK menilai sektor jasa keuangan tetap terjaga dengan kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan (LJK) meningkat serta permodalan dan likuiditas berada di level yang memadai. Kondisi tersebut menjadi modal penting dalam menghadapi dinamika global. ”Dampak permasalahan perbankan di AS dan Eropa relative terbatas terhadap industri perbankan Indonesia, mengingat tidak terdapat eksposur langsung terhadap bank-bank yang ditutup di negara-negara itu,” ujar Mahendra dalam jumpa pers hasil rapat DK bulanan OJK, Senin (3/4).
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menambahkan, Industri perbankan Tanah Air dalam kondisi stabil. Sampai dengan Februari 2023, penyaluran kredit bertumbuh 10,64 % secara tahunan menjadi Rp 6.375 triliun. Adapun Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan bertumbuh 8,18 % secara tahunan. Antre Menukarkan Uang Baru menjadi Rp 7.989 triliun. Selain itu, permodalan perbankan juga relatif kuat. Hal ini tecermin dari indikator rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) industri perbankan di level yang cukup tinggi, sebesar 26,1 %. Rasio alat likuid/non core deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/DPK (AL/DPK) pada Februari 2023 masing-masing tercatat sebesar 129,58 % dan 29,09 %. Posisi ini jauh di atas ambang batas ketentuan masing-masing sebesar 50 % dan 10 %. Adapun risiko kredit di Februari 2023 relatif rendah dengan rasioNPL net perbankan sebesar 0,75 %. (Yoga)
Kurva Phillips dan Pelajaran SVB
Kurva Phillips adalah visualisasi hubungan terbalik antara pengangguran dan inflasi yang ditemukan Phillips (1958) dan disempurnakan oleh Samuelson dan Solow (1960). Konsep ini menjadi pegangan kebijakan moneter bank sentral AS atau The Fed. Jika perekonomian mengalami resesi, dilakukan kebijakan ekspansif. Sebaliknya, jika inflasi terlalu tinggi (overheating), perekonomian perlu diresesikan dengan menaikkan suku bunga acuan. Friedman (1967) dan Phelps (1968) kemudian berpendapat, otoritas moneter tidak dapat menggunakan begitu saja trade-off dalam kurva Phillips untuk mengelola perekonomian. Ide ini berkembang menjadi NAIRU (non-accelerating inflation rate of unemployment). Kerancuan terjadi ketika laju inflasi 2 % dijadikan dogma. Karena pandemi Covid-19, pasar tenaga kerja berubah hibrida antara di rumah dan di kantor. Konflik Ukraina-Rusia juga diiringi perang sanksi, blok sekutu Barat dan Rusia saling mengisolasi diri dari globalisasi. Selama ini skala ekonomi dari kolaborasi berperan menurunkan ongkos produksi dan inflasi dunia. Tren deglobalisasi kian menjadi ketika hubungan AS dan China memburuk, berdampak pada rantai pasokan dunia.
Efeknya di AS adalah akselerasi inflasi dari 1,7 % pada Maret 2021 mencapai puncaknya 9,1 % pada Juni 2022. Kemudian perlahan turun ke 6 % pada Februari 2023 setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan beberapa kali sejak Juni 2022. Kenaikan suku bunga acuan The Fed yang terlalu agresif mengandung risiko tinggi. Harga aset properti anjlok 20 %. Kombinasi biaya hidup yang makin tinggi akibat pandemi dan ketegangan geopolitik membuat daya beli masyarakat turun. Kemampuan mencicil rumah juga turun drastis. Ini berdampak pada surat berharga MBS yang menjadi bagian signifikan dari portofolio bank-bank regional di AS. Gelembung pecah ketika Silicon Valley Bank (SVB) mengalami rush. Kepanikan ini menjalar ke tiga bank regional lain,yaitu First Republic, Signature Bank, dan Silvergate. SVB selama ini menjadi system integrator antara investor dan inovator yang didominasi oleh perusahaan rintisan (start up). Tanda-tandanya sudah terlihat dengan PHK puluhan ribu karyawan di sektor teknologi sejak akhir 2022, termasuk perusahaan teknologi yang sudah mapan. Situasi ini mendorong terjadinya masalah likuiditas di SVB. (Yoga)
Performa Terangkat Ekonomi Daerah
Kinerja keuangan sejumlah bank pembangunan daerah (BPD) terangkat seiring perekonomian daerah yang mulai pulih. Hanya saja, PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) masih merugi Rp 239 miliar di tahun 2022. Meski begitu angkanya sudah menciut dari rugi Rp 263 miliar di 2021.
Kerugian didorong oleh beban operasional yang masih membengkak sekitar 41% secara tahunan atau year on year (yoy), menjadi Rp 538,46 miliar.
Modal inti bank ini juga menyusut menjadi Rp 1,23 triliun per Desember 2022 dari Rp 1,5 triliun di tahun sebelumnya.
Sementara PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) mencatatkan laba terbesar Rp 2,24 triliun, tumbuh 11% yoy.
Direktur Utama bank BJB, Yuddy Renaldi mengatakan, pencapaian didorong semakin luasnya sektor industri yang pulih dari dampak pandemi Covid-19.
Tantangan Berat Bank Besar China
Lima bank besar di China mencatatkan pertumbuhan secara tahunan. Meski banyak analis yang menyebutkan industri bank di China masih akan tertekan dengan efek dari dalam dan luar negeri.
Misalnya Bank of Communications Co Ltd (BoCom) dan Bank of China (BoC) membukukan pertumbuhan laba bersih tahunan lebih dari 5%. Lalu ada Agricultural Bank of China Ltd (AgBank) dan China Construction Bank Corp yang sama-sama membukukan pertumbuhan laba bersih tahunan lebih dari 7%.
Ada juga Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) yang memiliki aset terbesar di dunia, juga mencatatkan pertumbuhan laba bersih tahunan sebesar 3,5%.
Tekanan dalam negeri juga datang dari industri properti.
Chief Risk Officer
BoCom, Lin Hua menyebutkan hambatan yang terus berlanjut bisa berefek pada kualitas aset hipotek.
Direktur S&P Global Ratings, Ming Tan menyebutkan, pembukuan kredit dari lima bank besar di China itu masih terdiversifikasi dengan baik dan memiliki pencadangan yang memadai.
Meski kelima bank tersebut membukukan rasio kredit macet yang stabil atau menurun, bank besar itu juga mencatat penurunan
net interest margin
(NIM) atau margin bunga bersih yang merupakan tolak ukur utama profitabilitas bank. "Tekanan margin bunga bersih dan resiko di sektor properti serta beberapa perusahaan milik negara yang lemah masih menjadi tantangan utama," ujar Ming.
Pakar Strategi Pasar China di Saxo Markets, Redmond Wong menyebutkan, tantangan terbesar bagi bank-bank China tahun ini adalah tekanan dari pemerintah pusat dan daerah mendukung perekonomian dengan memberikan pinjaman pada proyek yang mungkin tidak dapat mengembalikan modal atau tidak memberikan keuntungan apapun.
Kuartal 1 Pembiayaan BSI Melesat 20%
JAKARTA, ID-PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatatkan pertumbuhan pembiayan 20% hingga akhir Maret 2023. Pertumbuhan tersebut diyakini masih akan berlanjut hingga paruh pertama tahun ini. Direktur Keuangan dan Strategi BSI Ade Cahyo Nugroho menyampaikan, Pembiayaan BSI ditahun 2022 melesat 21% atau tertinggi diantara sepuluh bank terbesar. Pihaknya bersyukur, pertumbuhan tersebut masih berlanjut di awal tahun ini. "Kita belum closing, tapi loan growth kita sekitar dua digit, sekitar 200% itu BSI masih tercapai (diakhir Maret). Memang sepanjang tahun lalu kita tumbuh 21%, tahun ini kita perkirakan dibawah itu atau sekitar 15-17%, tapi kalau situasinya bisa terus kondusif, kita bisa diangka tahun lalu," beber Cahyo, disela acara Ramadan Insight Ekonomi Syariah 2023 di The Westin Hotel, Kamis (30/3/2023). Cahyo mengatakan, pembiayaan di sektor konsumer juga masih jadi pendorong pencapaian sampai saat ini. Hal ini tidak terlepas dari mulai pulihnya perekonomian Indonesia dari pandemi, hingga permintaan pembiayaan konsumer mulai menggeliat. (Yetede)
KSSK Antisipasi Krisis Perbankan AS dan Eropa
BALI, ID-Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati menegaskan, Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) dan pemangku kepentingan lainnya tetap memantau dampak krisis perbankan di AS dan Eropa terhadap sektor keuangan di Tanah Air. Menurut Menkeu, KSSK yang terdiri atas Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin SImpanan (LPS) menjadi lebih waspada, menyusul penutupan sejumlah bank di AS, diantaranya Silicon Valley Bank (SVB), Silvergate Bank, dan Signature Bank. Begitu pula terhadap yang terjadi di Eropa setelah Credit Cruisse didera krisis likuiditas. "Kami selalu berdiskusi dan melanjutkan pengujian secara bertahap sektor keuangan domestik, khususnya di industri perbankan," kata Sri Mulyani dalam High Level Meeting bertajuk Enhancing Policy Calibration for Macro Financial Reciliensi di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Rabu (29/3/2023). Menkeu menjelaskan, KSSK juga mendorong para pemangku kepentingan lain terus memantau dan menyiapkan langkah antisipasi berbagai potensi resiko yang mungkin datang dari berbagai dinamika. (Yetede)









