;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Potensi Penyaluran Kredit Hijau Semakin Besar

HR1 29 Jan 2024 Kontan
Perbankan semakin gencar meningkatkan kontribusi pembiayaan hijau bagi kinerja. Jumlah portofolio hijau bank-bank besar tercatat tumbuh positif sepanjang tahun 2023. Tahun ini, pertumbuhan diperkirakan akan berlanjut, didukung oleh semakin tingginya kepedulian korporasi menjalankan prinsip berkelanjutan. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) misalnya, telah mencatatkan total kredit berkelanjutan sebesar Rp 202,6 triliun per akhir 2023, tumbuh 10,6% secara tahunan. Kredit berkelanjutan menyumbang 24,8% terhadap total kredit BCA. Sementara itu, kredit hijau telah mencapai Rp 87 triliun terhadap kredit berkelanjutan, tumbuh 7,4 %. Presiden Direktur BCA Jahja Setiatmadja mengatakan, kredit berkelanjutan BCA tahun ini diperkirakan akan tumbuh sekitar 8%. Menurut dia, potensi pertumbuhan kredit berkelanjutan, termasuk kredit hijau, masih besar. Salah satu pendorongnya adalah sektor kendaraan listrik. Sementara BNI mencatatkan portofolio pembiayaan hijau mencapai Rp 67,9 triliun per akhir 2023. Realisasi ini tumbuh sebesar 13,6% dari tahun sebelumnya. BNI memiliki perhatian khusus pada risiko transisi yang dihadapi debitur dan telah menerapkan sustainability linked loan (SLL). Hingga akhir 2023, BNI telah menyalurkan SLL Rp 4,6 triliun. Direktur Manajemen Risiko BNI David Pirzada mengatakan, pihaknya telah melakukan berbagai inisiatif dalam implementasi ESG. Per September 2023, kredit hijau Bank Mandiri telah mencapai Rp 122 triliun. "Kami memperkirakan jumlah dan volume pembiayaan keberlanjutan yang mengedepankan prinsip ramah lingkungan akan terus tumbuh secara sindikasi," kata Susana Indah Kris Indriati, Direktur Korporasi Bank Mandiri.

BNI Bukukan Laba Bersih Rp 21 Triliun

KT1 27 Jan 2024 Investor Daily (H)
PT bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI dan perusahaan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 20,9 triliun sepanjang 2023. Raihan tersebut meningkat 14,2% secara year on year (yoy). Direktur keuangan BNI Novita Widya Anggraini mengatakan, perolehan laba bersih tersebut dicapai dari dukungan pendapatan non bunga (non interest invome) yang tumbuh 6,6% (yoy) mencapai Rp21,47 triliun. "Kebutuhan transaksi dari segmen bussines banking dan costumer dapat dijawab oleh berbagai channel digital, sehingga memberikan konstribusi pendapatan yang konsisten bagi BNI," ujar Novita.  Dia menjelaskan, kredit sepanjang 2023 tumbuh sebesar 7,6% (yoy), mencapai Rp695 triliun, yang didorong oleh ekspansi di segmen berisiko rendah, yaitu korporasi blue chip baik swasta dan BUMN, kredit konsumer, dan perusahaan anak. (Yetede)

Perbankan Berpeluang Sesuaikan Bunga Kredit

KT3 26 Jan 2024 Kompas
Perbankan berpeluang menyesuaikan suku bunga pada triwulan I-2024 sebagai konsekuensi dari kenaikan suku bunga acuan yang terjadi periode 2023. Selama 2023, Bank Indonesia (BI) sudah dua kali mengerek suku bunga acuan. Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja, pada konferensi pers secara  daring, Kamis (25/1/2024), mengatakan, pihaknya belum melakukan penyesuaian selama 2023. ”Oleh sebab itu, selama kuartal I-2024, akan ada sedikit adjustment,” katanya. (Yoga)

Kantongi Laba Rp 48,66 Triliun BCA Incar NIM 5,5%

KT1 26 Jan 2024 Investor Daily (H)
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) secara konsolidasi menutup tahun 2023 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp48,66 triliun, meningkat 19,41% dibandingkan periode 2022 sebesar Rp 40,75 triliun. Tahun ini perseroan menyiapkan startegi untuk menjaga profitabilitas yang terlihat dari margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Dari sisi profitabilitas , laba tersebut didorong dari pendapatan bunga bersih (net income interest/NII) yang tumbuh 17,5% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 23,9 triliun, sehingga total pendapatan operasional tercatat sebesar Rp 99,3 triliun atau naik 14,4% (yoy). Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, struktur dari dana pihak ketiga (DPK) setiap bank berbeda, BCA sendiri mengandalkan dana murah (current account saving account/CASA) yang saat ini sebesar 80,3% dari total DPK yang sebesar Rp 1.101,7 triliun sepanjang 2023. (Yetede)

Bank Besar Masih Bakal Panen Laba Jumbo

HR1 26 Jan 2024 Kontan
Musim rilis laporan keuangan kinerja bank 2023 sudah dimulai. Bank besar masih berpotensi mencetak rekor laba, kendati pertumbuhan laba tidak akan setinggi tahun sebelumnya. Bank Central Asia (BCA) mengawali musim rilis kinerja keuangan dengan mengumumkan mencetak laba bersih Rp 48,6 triliun, tumbuh 19,4% secara tahunan. Ini laba tertinggi BCA sepanjang masa. Tapi laju pertumbuhannya melambat dari 2022, yang tumbuh 29,6%. Capaian laba BCA ditopang kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar Rp 75,4 triliun, tumbuh 17,5% secara tahunan. Sedang pendapatan non bunga hanya tumbuh 5,5% menjadi Rp 23,9 triliun. Pertumbuhan pendapatan bunga bersih terjadi seiring ekspansi kredit yang tumbuh 13,9%. Pertumbuhan solid terjadi di semua segmen. Kredit korporasi tumbuh 15%, kredit komersial tumbuh 7,5%, kredit UMKM naik 16% dan kredit konsumer meningkat 14,8%. 

Jahja Setiatmadja, Presiden Direktur BCA, mengatakan, BCA optimistis bisa mendukung pertumbuhan ekonomi melalui penyaluran kredit ke berbagai sektor di 2024, ditopang kondisi likuditas yang memadai. "Kredit tahun ini kami targetkan tumbuh 8%-10," ujarnya, Kamis (25/1). Perolehan laba BCA tersebut masih berada di kisaran proyeksi konsensus analis, yakni Rp 48,95 triliun. Menurut konsensus, Bank Rakyat Indonesia (BRI) bakal jadi jawara pencetak laba, mencapai Rp 58,87 triliun. Sedang Bank Mandiri diprediksi meraih laba Rp 51,25 triliun dan BNI sebesar Rp 21,15 triliun. Jika mengacu laporan bulanan per November 2023, perolehan laba BRI, Mandiri dan BNI sudah mendekati proyeksi konsensus tersebut. 

Direktur Utama BRI Sunarso juga sudah jauh hari buka suara terkait target laba tahun 2023. Ia optimistis laba BRI bisa mencapai Rp 55 triliun. Dalam sebelas bulan di 2023, laba BNGA sudah mencapai Rp 5,58 triliun, naik 24,13% secara tahunan. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan optimistis laba 2023 akan tumbuh tinggi. "Pasti laba kami akan meningkat cukup baik," ujarnya. Head of Investment Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe memproyeksi rata-rata laba bersih bank KBMI 4 di 2023 tumbuh antara 5%-10% secara tahunan. "BRI tetap jadi jawara karena jaringannya paling luas," kata dia.

Perbankan Raup Laba Rp221,63 Triliun

KT1 25 Jan 2024 Investor Daily (H)
Perbankan nasional mengantongi laba bersih sebesar Rp221,63 triliun per November 2023.  Nilai tersebut tumbuh 18,15% dibandingkan diperoleh laba bersih November 2022 senilai Rp187,58 triliun. Jika dibandingkan dengan laba bulan sebelumnya, terjadi pertumbuhan yang lebih lambat, di mana per Oktober 2023 laba bersih perbankan meningkat 18,45% secara tahunan (year on year/yoy). Pencapaian laba bersih November  2023 tersebut utamanya  didorong dari pendapatan bunga bersih (net interest incoma/NII) yang mencapai Rp484,89 triliun, tumbuh 9,42% (yoy). Berdasarkan  data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laba bersih kantor cabang bank luar negeri (KCBLN) mengalami peningkatan  signifikan sebesar 117,59% dari Rp5,06 triliun menjadi Rp11,01 triliun per November 2023. Berikutnya adalah bank persero dengan pertumbuhan laba bersih 17,11% menjadi Rp115,24 triliun, dibandingkan  dengan laba bersih November 2022 sebesar Rp98,4 triliun. (Yetede)

Tantangan BTN Merangkul Bank Muamalat

KT1 24 Jan 2024 Tempo
Bank syariah kembali menjadi buah bibir. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN dikabarkan akan menggabungkan unit usaha syariah (UUS) BTN Syariah dengan Bank Muamalat. Langkah ini, dalam berbagai pemberitaan, disebut sebagai bagian dari proses pemisahan (spin-off) UUS dari induknya. Lo? Padahal sebelumnya BTN Syariah justru dikabarkan akan dimerger dengan PT Bank Syariah Indonesia (BSI). 

Mencuatnya kabar ini juga mendapat komentar dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menolak rencana penggabungan BTN Syariah dengan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Seperti ramai diberitakan di media massa, MUI tak ingin penggabungan ini mengganggu warisan para pendiri Muamalat. Selain itu, MUI berharap, sebagai bank syariah swasta terbesar saat ini, Muamalat tetap eksis di tengah ketatnya persaingan industri perbankan di Tanah Air. Selain adanya penolakan itu, apa saja tantangan rencana merger ini?

Sebelumnya, mari kita amati dulu kinerja bank umum syariah (BUS), di luar unit usaha syariah. Statistik Perbankan Indonesia yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank naik 14,78 persen dari Rp 305,85 triliun per Agustus 2022 menjadi Rp 351,04 triliun per Agustus 2023.  Dana pihak ketiga pun naik 3,95 persen dari Rp 407,27 triliun menjadi Rp 423,37 triliun. Financing to deposit ratio naik dari 75,10 persen menjadi 82,92 persen dalam ambang batas 78-92 persen. Artinya, pembiayaan tumbuh moderat.  

Laba juga tercatat naik 14,57 persen dari Rp 9,47 triliun menjadi Rp 10,85 triliun. Namun kenaikan itu belum sanggup mendorong rasio imbal hasil aset yang justru turun dari 2,04 persen menjadi 2,03 persen, meski masih di atas ambang batas 1,5 persen. Sarinya, kualitas aset turun tipis meski masih cukup tinggi.  Tingkat efisiensi, yang tampak pada rasio biaya operasional/pendapatan operasional, juga membaik, dari 77,34 persen menjadi 76,60 persen dalam ambang batas 70-80 persen yang berarti efisien. Rasio kredit bermasalah membaik dari 2,64 persen menjadi 2,32 persen, jauh di bawah ambang batas aman 5 persen. Ini menggambarkan kualitas kredit bank umum syariah kian baik. (Yetede)

Kucuran Kredit UMKM Bank Masih Melempem

HR1 24 Jan 2024 Kontan
Penyaluran kredit perbankan ke segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) melambat. Bank Indonesia (BI) mencatat, hingga Desember 2023, kucuran kredit bank ke segmen UMKM tumbuh 7,9% secara tahunan jadi Rp 1.364,2 triliun. Pertumbuhan kredit UMKM itu lebih rendah dari tahun 2022 sebesar 10,2% secara tahunan. Secara bulanan, pertumbuhan kredit UMKM per Desember 2023 juga lebih kecil dari November 2023, yang naik 8,5% secara tahunan. 

Data BI menunjukkan, sepanjang 2023, penyaluran kredit UMKM di segmen usaha kecil dan menengah masing-masing anjlok 2,8% dan 3,5% secara tahunan. Hanya kredit ke segmen mikro yang mampu tumbuh 24,5%. Tapi, pertumbuhannya juga lebih rendah dibanding 2022 sebesar 38,4% secara tahunan. Melambatnya pertumbuhan kredit perbankan ke sektor UMKM, juga tercermin dari rendahnya realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga 26 Desember 2023, realisasi penyaluran KUR hanya Rp 255,8 triliun, lebih rendah dari target pemerintah sebesar Rp 297 triliun. 

Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi melihat, melambatnya kredit UMKM disebabkan berbagai faktor. Salah satunya, sikap kehati-hatian bank dalam menyalurkan kredit UMKM. Terlebih, relaksasi restrukturisasi kredit akan berakhir pada tahun ini. Setali tiga uang, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) juga mengandalkan KUR untuk menggenjot kredit UMKM. 

General Manager Divisi Bisnis Usaha Kecil Bank BNI, Sunarna Eka Nugraha bilang, penyaluran kredit UMKM BNI lebih banyak ditopang KUR. Pada 2023, realisasi penyaluran KUR BNI sekitar 99,1% dari jatah alokasi Rp 17,8 triliun. Senada, SEVP Micro & Consumen Finance PT Bank Mandiri Tbk, Saptari mengungkapkan, bank ini akan terus mendukung pengembangan UMKM. Salah satunya lewat KUR. Pada 2023, bank berlogo pita emas ini telah menyalurkan KUR  Rp 34,24 triliun dari alokasi Rp 36,24 triliun.

Bunga Deposito Naik, DPK Masih Tumbuh Melambat

KT1 23 Jan 2024 Investor Daily (H)
Industri perbankan telah menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar  Rp8.234,2 triliun per akhir Desember 2023. Realisasi tersebut tumbuh 3,8% secara tahunan (year on year/yoy) dan cenderung stabil dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini jauh dibandingkan pertumbuhan kredit yang meningkat dua digit. Merujuk analisis Uang Beredar  yang dirilis bank Indonesia (BI), berdasarkan jenis simpanan , tabungan mengalami perlambatan pertumbuhan per Desember 2023 dibandingkan posisi November 2023. Sedangkan giro dan simpanan berjangka tumbuh lebih tinggi pada Desember. Dimana tabungan tumbuh 2% (yoy)  per Desember  menjadi Rp  2.689,9 triliun, lebih lambat dari November  yang tumbuh 2,6% (yoy). Sementara itu, giro tercatat, Rp 2.524,9 triliun atau tumbuh 3,9% (yoy) dibandingkan bulan sebelumnya 3,4% (yoy). Kemudian, simpanan berjangka juga tumbuh lebih dari 5,2% (yoy) menjadi 5,4% (yoy) per Desember menjadi Rp 3.019,4 triliun (Yetede)

PERFORMA PERBANKAN : AMBISI BANK KEREK KREDIT KONSUMSI

HR1 23 Jan 2024 Bisnis Indonesia

Di balik kinerja penyaluran kredit industri perbankan yang moncer pada Desember 2023, kredit konsumsi justru tumbuh lebih landai. Melansir laporan Analisis Uang Beredar yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI), nilai kredit bank pada Desember 2023 tumbuh 10,3% secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 9,7% YoY. Kondisi ini pun berkontribusi mengerek jumlah uang beredar M2 sebesar 3,5% YoY ke Rp8.824,7 triliun. 

“Perkembangan tersebut sejalan dengan pertumbuhan penyaluran kredit pada debitur korporasi 11,6% YoY,” tulis BI, Senin (22/1). Pertumbuhan penyaluran kredit korporasi pada Desember 2023 lebih pesat dibandingkan dengan bulan sebelumnya atau November 2023 sebesar 10 % Yo Y. Kredit konsumsi yang disalurkan perbankan mencapai Rp1.998,3 triliun pada Desember 2023 atau tumbuh sebesar 8,9% YoY pada Desember 2023. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. atau Bank BJB (BJBR) permintaan terhadap kredit konsumsi masih cukup baik, dan tumbuh dengan positif. 

Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi menyebut, sampai dengan November lalu tumbuh 6,5% YoY. Menariknya, perseroan memprediksi permintaan yang akan melambat adalah kredit investasi. Hal ini, kata Yuddy karena sikap wait and see sejalan dengan penyelenggaraan pemilu. Senada dengan BJBR, PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR) mencatatkan sampai dengan akhir 2023 secara persentase consumer loan mengalami peningkatan lebih dari 100% bila dibandingkan dengan akhir 2022. 

Akan tetapi, Direktur Kepatuhan Bank Oke Efdinal Alamsyah mengingatkan, secara volume angka tersebut masih terbilang sangat kecil apabila disandingkan dengan total consumer loan perbankan di Indonesia. Corporate Secretary BTN Ramon Armando mengatakan, kredit konsumer di BTN lebih didominasi oleh KPR. Adapun, untuk pertumbuhan KPR BTN pada 2023 masih dalam perkirakan double digit. Terdapat sejumlah peluang pertumbuhan moncer kredit konsumer, terutama di jenis KPR pada 2024. 

Pilihan Editor