;
Tags

Perbankan

( 2293 )

74 Tahun Peran BTN Membangun Peradaban dan Masa Depan Bangsa

HR1 12 Feb 2024 Bisnis Indonesia (H)

Di usianya yang ke-74 tahun pada 9 Februari 2024, PT Bank Tabungan Negara (Persero) TBK (BTN) memasuki kematangan sebagai bank fokus pem biayaan perumahan yang mengemban amanah untuk mewujudkan mimpi rakyat Indonesia memiliki rumah impian. Sektor pembiayaan perumahan makin strategis dalam membuka akses penyediaan hunian yang layak dan aman bagi berbagai lapisan masyarakat termasuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Bank BTN, selama 74 tahun berhasil mengemban ama nah dan peran strategis tersebut dengan mem biayai pembangunan dan kepemilikan 4,05 juta rumah bagi MBR melalui fasilitas KPR Subsidi dari total 5,2 juta unit rumah yang telah dibiayai BTN. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, sebagai mitra pemerintah, BTN telah membuktikan posisinya sebagai bank yang paling banyak menyalurkan pembiayaan rumah untuk MBR. Peran pembiayaan perumahaan BTN juga meningkat dalam 2 tahun terakhir, dari pembiayaan rumah pertama ke peran yang lebih besar melalui strategi Beyond KPR. Melalui peran ini, BTN menangkap potensi pembiayaan melalui cross selling kepada nasabah yang terbatas atau captive, seperti Kredit Ringan Tanpa Agunan (KRING), Kredit Agunan Rumah (KAR), dan Kredit Usaha Rakyat (KUR). BTN juga berhasil menerapkan sejumlah transformasi. Pada 2023, selaras dengan era disrupsi digital, BTN berhasil menguasai ekosistem perumahan yang fokus pada penghimpunan DPK Low Cost melalui pening katan CASA di segmen Ritel dan Institusi serta membangun kapabilitas meningkatkan CASA pada wholesale banking. Adapun pada 2024, BTN melakukan transformasi perluasan area bisnis dan penyediaan solusi keuangan terintegrasi dengan memacu digital banking dan digitalisasi proses untuk mendukung ekspansi bisnis berbasis ekosistem perumahan sebagai sumber pertumbuhan baru. Pada fase ini, BTN akan meng optimalkan sumber fee based income berbasis layanan dan transaksional pada bisnis wealth management, digital banking, dan corporate.

Inilah Bank Pemberi Cuan Paling Tinggi ke Investor

HR1 12 Feb 2024 Kontan
Bank-bank besar kompak mencetak performa keuangan gemilang pada 2023. Empat bank di kelompok ini mencetak rekor laba tertinggi sepanjang sejarah mereka. Pertumbuhan didorong peningkatan pendapatan dan penurunan biaya provisi. Kemampuan mereka mengelola aset dan modalnya guna mencetak laba meningkat, tercermin dari rasio return on asset (ROA) dan return on equity (ROE). Hal ini menandakan cuan investor yang berinvestasi di bank tersebut juga ikut bermekaran. Dilihat dari rasio profitabilitasnya, Bank Central Asia (BBCA) tampil sebagai bank paling menguntungkan bagi pemegang saham. ROE bank ini mencapai 23,5% dan ROA ada di level 3,6%. Bank Mandiri (BMRI) menyusul dengan ROE 23,2%. Meski di urutan kedua, rasio ROE bank ini naik  paling tinggi sebesar 3,5% dari tahun sebelumnya. Tahun 2023, laba BMRI tumbuh sebesar 33,7%, laju tertinggi di kelasnya. ROE Bank Rakyat Indonesia (BBRI) ada di level 19,9%  atau naik 2,32% dari tahun lalu dan Bank Negara Indonesia (BBNI) naik 0,3% ke level 15,2%. Tak hanya dari rasio profitabilitas, cuan investor di perbankan juga bisa dari imbal hasil sahamnya. Sejalan dengan kinerjanya, performa saham bank besar juga moncer sepanjang 2023. BMRI tercatat jadi jawara dengan kenaikan sebesar 28,8%, disusul BBRI dengan kenaikan 28,4%, BBNI 22,9% dan BBCA hanya naik 13,3%. EVP Corporate Communication  BCA, Hera F. Haryn mengatakan, pertumbuhan ROE didukung oleh pertumbuhan kredit, peningkatan volume transaksi dan pendanaan, serta perluasan basis nasabah. Sementara itu, Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Sigit Prastowo mengatakan, profitabilitas itu didorong peningkatan market share kredit Bank Mandiri melalui pertumbuhan kredit di atas industri, yakni 16,4% secara year on year (YoY), lalu terjaganya margin bunga bersih (NIM) di level 5,25%, peningkatan transaksi digital, kenaikan efektivitas dalam mengelola biaya operasional, serta perbaikan kualitas aset. Adapun Direktur Utama BNI Royke Tumilaar menyebut, peningkatan profitabilitas BNI terjadi karena adanya perbaikan fundamental, termasuk kontribusi fee-based income, efisiensi operasional, serta kualitas aset. Nafan Aji Gusta, Analis yang juga Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas memperkirakan tingkat profitabilitas bank-bank besar masih akan tampil baik tahun ini.

Pembiayaan Berkelanjutan BRI Capai Rp 777 Triliun

KT1 09 Feb 2024 Investor Daily (H)
Implementasi prinsip environmental (lingkungan), social (sosial), dan governance (tata kelola yang baik) atau ESG sudah menjadi komitmen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI). tercermin dari portfolio pembiayaan berkelanjutan BRI pada akhir Desember 2023 mencapai Rp777,3 triliun. Komitmen pembiayaan berkelanjutan tersebut setara 67,1% dari total kredit  yang disalurkan serta investasi surat berharga korporasi berbasis EGS. Selayaknya tahun-tahun sebelumnya, penyaluran kredit  berkelanjutan mayoritas  tetap disalurkan kepada sektor UMKM senilai Rp690,43 triliun. Kemudian disusul pembiayaan kepada sektor hijau senilai Rp82,32 triliun. Jika dirinci, pembiayaan hijau terdiri atas penyaluran kredit  kepala sektor pengelolaan sumber daya alam hayati dan penggunaan lahan yang berwawasan lingkungan senilai Rp52,8 triliun, transportasi hijau Rp 11,2 trilun, energi terbarukan Rp 6 triliun, dan sektor Kegiatan Usaha Berwawasan Lingkungan (KUBL) lainnya sebesar Rp 12,2 triliun. (Yetede)

Kredit Mikro Non Subsidi Bank Terus Mengembang

HR1 09 Feb 2024 Kontan
Penyaluran kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) perbankan di sepanjang 2023 masih melaju kencang. Contoh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Di 2023, portofolio kredit UMKM BRI mencapai Rp 1.068,7 triliun, tumbuh 10,7% secara tahunan.Secara porsi, BRI mencatat kredit UMKM sebesar 84,4% dari total kredit. Outstanding kredit UMKM BRI di segmen mikro sebesar Rp 496,6 triliun di 2023, naik dari Rp 449,6 triliun pada 2022. Pertumbuhan kredit mikro BRI ditopang kredit non subsidi. Asal tahu saja, kredit mikro subsidi BRI adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR). Sedang kredit mikro non subsidi BRI terdiri dari kredit Kupedes dan Briguna. Nah, pada 2023, total kredit mikro non subsidi BRI mencapai Rp 276,6 triliun, lebih tinggi dari kredit subsidi Rp 219,9 triliun. Jika ditelisik, outstanding KUR BRI di 2023 terkoreksi 12,6% secara tahunan.Sementara kredit mikro non subsidi, semisal Kupedes, penyalurannya naik 64,3% jadi Rp 212,3 triliun. Corporate Secretary BRI Agustya Hendy bilang, kredit mikro masih jadi penopang utama kredit UMKM bank ini pada 2024. "Kami optimistis penyaluran kredit tahun ini bisa lebih baik dibandingkan 2023," ujar Hendy, Rabu (7/2). Pertumbuhan kredit mikro juga dibukukan PT Bank Mandiri Tbk. Tahun lalu, kredit mikro Bank Mandiri mencapai Rp 168 triliun. Dari jumlah ini, kredit mikro Bank Mandiri dari non subsidi naik 32,9% secara tahunan jadi Rp 20,5 triliun di 2023. Sedikit berbeda, kredit mikro PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) turun 12,6% menjadi Rp 84,9 triliun pada tahun lalu. Kredit mikro BNI non subsidi terkoreksi lebih kecil dibanding KUR. Outstanding KUR BNI di 2023 tercatat Rp 44,1 triliun, turun 16,3% secara tahunan Adapun, kredit mikro non subsidi BNI hanya turun 8,3% jadi Rp 40,8 triliun. General Manager Divisi Bisnis Usaha Kecil BNI Sunarna Eka bilang, kredit mikro non subsidi memiliki keunggulan fleksibilitas. Nilai kredit yang disalurkan juga bisa melebihi plafon KUR. "Kalau KUR terbatas plafonnya hanya sampai Rp 500 juta," terang dia. Ekonom senior dan Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah menilai, KUR sejatinya lebih menguntungkan bagi bank.

BSI Bidik Pembiayaan Wholesale Tumbuh 18%

KT1 07 Feb 2024 Investor Daily (H)
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) optimistis tahun ini masih bisa mencetak pertumbuhan kinerja yang positif, tak terkecuali pada segmen wholesale yang diharapkan bisa tumbuh sekitar 16-18%. Perseroan akan menggarap value chain dari nasabah wholesale untuk mendukung kinerja, juga difokuskan pada bisnis yang berkelanjutan. "Kami berharap bisa tumbuh wholesale seperti 2022 itu 16% dan di 2023 tumbuh 18%. Kami harap tumbuh dua digit dan kami juga berkoordinasi  dengan induk kami supaya tidak  kelebihan perhitungan masuk ke grup company," urai Direktur Wholesale Transaction banking BSI Zaidan Novari. Dia menyebutkan, pihaknya akan fokus pada bisnis yang sustain dan stabil. Oleh karena itu, BSI mengincar nasabah turunan dari wholesale dengan menawarkan harga yang kompetitif dengan bank lain. (Yetede)

Tetap Tumbuh Cantik di Tengah Tahun Politik

HR1 07 Feb 2024 Kontan
Penyaluran kredit korporasi bank-bank besar sepanjang tahun 2023 cukup ekspansif. Pertumbuhan outstanding kredit korporasi bahkan mampu melampaui pertumbuhan total kredit. Tahun ini, perbankan optimistis penyaluran kredit korporasi tetap tumbuh positif meski ada perhelatan politik. Namun, lajunya diproyeksi lebih landai, karena para pebisnis akan cenderung menunggu dan melihat dulu hasil pemilihan presiden. Optimisme salah satunya datang dari Bank Mandiri. Bank pelat merah ini mengakui konstelasi politik bisa mempengaruhi prilaku pebisnis dalam melakukan investasi. Namun, perseroan ini meyakini akan selalu ada peluang pertumbuhan pada beberapa sektor industri. "Peluang pertumbuhan kredit korporasi akan ada di beberapa sektor, seperti industri makanan minuman dan manufaktur, seiring dengan naiknya permintaan," papar Susana Indah Kris Indriati, Direktur Korporasi Bank Mandiri, Selasa (6/2). Sementara itu, Bank Mandiri menargetkan total kredit bisa tumbuh sekitar 13%-15% tahun ini. Tahun lalu, kredit bank ini tumbuh 16,3% secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang oleh segmen korporasi, yang berhasil meningkat agresif sebesar 18,3%. BCA juga optimistis permintaan kredit korporasi tahun ini tetap besar meski ada Pilpres. Ini ditandai oleh total pertumbuhan kredit BCA di kuartal IV yang naik 5,8% dari kuartal sebelumnya. Kenaikan ditopang kredit investasi. Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, menyebut, capaian di kuartal IV ini menjadi penanda bahwa peluang bisnis di tahun politik tetap ada. "Kami melihat peluang bisnis masih besar,"ujarnya. Hera F Haryn, EVP Corporate Communication BCA, menyebut, kontributor terbesar pertumbuhan berasal dari sektor jasa keuangan, transportasi dan logistik. NPL kredit korporasi masih terjaga baik sehingga NPL BCA secara keseluruhan ada di 1,9%.

Bertumpu pada Pinjaman Mikro

HR1 07 Feb 2024 Kontan

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencetak kinerja solid di tahun 2023. Strategi yang berfokus pada penyaluran kredit dengan imbal hasil tinggi mendorong laba bersih BBRI. Emiten bank pelat merah itu mencetak pertumbuhan laba bersih 17,5% year on year (yoy) di tahun lalu menjadi Rp 60,1 triliun. Meskipun terdapat dampak kenaikan biaya dana atau cost of fund (CoF), net interest margin (NIM) BBRI meningkat 10 basis poin yoy menjadi 7,95%. Raihan ini didorong oleh perluasan basis aset produktif dan pergeseran komposisi portofolio mikro yang didukung oleh pertumbuhan laa operasional pra-pencadangan (PPOP) sebesar 16,7%. Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya mengatakan, digitalisasi turut mengurangi biaya operasional. Pada 2023 lalu, inisiatif digitalisasi BBRI telah mendorong rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) konsolidasi sebesar 298 bps menjadi 41,9% dari 44,9% pada tahun 2022. Hal ini disebabkan oleh peningkatan infrastruktur digital dan kapasitas agen perbankan. Karena itu, Andrey menilai wajar saja return on equity (ROE) Bank BRI meningkat. Dia menilai, metrik profitabilitas BBRI berada pada posisi yang baik karena ROE meningkat 232 bps yoy menjadi 19,9% pada tahun 2023. Analis Ciptadana Sekuritas Erni Marsella Siahaan juga bilang, kinerja BBRI tahun 2023 masih mengesankan.

Hal itu terlihat dari capaian laba bersih persis dengan estimasi Ciptadana Sekuritas untuk BBRI dan melampui perkiraan konsensus sebesar 102,5%. Pada tahun 2024 ini, Andrey menilai bahwa BBRI memiliki prospek yang masih menjanjikan. Meskipun ada ketidakpastian mengenai tahun pemilihan umum (pemilu), BBRI optimistis pebisnis UKM akan mendapat manfaat dari peningkatan pengeluaran pemerintah pada saat periode pesta demokrasi tersebut. Analis OCBC Sekuritas Budi Rustanto juga meyakini, NIM BBRI masih bisa berada di kisaran 8% tahun 2024, didorong oleh perbaikan bauran aset produktif dan CoF. Tapi, Budi mengantisipasi, BBRI kemungkinan akan berhati-hati terhadap biaya pendanaan di semester pertama 2024. Kepala Riset Aldiracita Sekuritas Agus Pramono menilai, tahun politik semestinya menjadi berkah untuk penyaluran kredit BBRI. Oleh karena itu, wajar jika BBRI menargetkan penyaluran dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 165 triliun di tahun 2024. "Belanja pemilu yang diharapkan dan insentif pemerintah untuk UMKM, yang diluncurkan selama masa kampanye, harusnya menguntungkan BBRI, kata Agus.

Persaingan Ketat, Biaya Dana Perbankan Masih Menanjak

KT1 06 Feb 2024 Investor Daily (H)
Tahun ini perbankan nasional masih dihadapkan oleh perebutan dana di pasar, meskipun tidak berlangsung lama. Persaingan ini bakal berdampak pada biaya dana (cost of fund/CoF) perbankan yang akan merangkak naik. Fenomena ini disampaikan oleh Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Sunarso. Menurut dia, tahun lalu dihantui oleh istilah higher for longer lantaran Fed Fund Rate (FFR) yang terus meningkat dan juga diikuti suku bunga acuan Bank Indonesia (BI 7 Days reserve repo rate/BI7DRR). Dia menilai kenaikan suku bunga pada tahun lalu masih ditransmisikan pada suku bunga simpanan oleh perbankan tahun ini. Meskipun tahun ini diprediksikan ada ruang penurunan FFR pada kuartal II yang juga akan diimbangi oleh BI dalam menurunkan BI7DRR. Sehingga, pada semester I-2024 ini dipihaknya masih menilai bawa likuiditas cukup menantang dengan suku  bunga tinggi. Namun harapannya setelah lewat satu semester mulai memasuki era suku bunga rendah. (Yetede)

Laba Mekar Bonus Bankir Kakap Makin Besar

HR1 06 Feb 2024 Kontan (H)
Sektor perbankan terus menjadi sorotan. Saat kredit ke sektor usaha dinilai belum maksimal, bank-bank tetap mampu mencetak kinerja mekar. Imbasnya, para bankir petinggi bank akan menangguk bonus nan besar. Dari kelompok bank modal inti (KBMI) IV, Bank Mandiri mengalokasikan bonus dan tantiem terbesar di 2023, dibanding bank lain. Berdasarkan laporan keuangan 2023, Bank Mandiri mengalokasikan Rp 766,59 miliar sebagai bonus dan tantiem kepada direksi dan komisaris. Angka ini meningkat sekitar 18,8% dari tahun 2022. Secara rinci, untuk direksi dialokasikan Rp 557,62 miliar. Bank Mandiri punya 12 direksi, sehingga rata-rata direktur akan mengantongi bonus sekitar Rp 38,77 miliar. Angkanya jumbo, bukan?. Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan, besaran bonus Bank Mandiri sejatinya urusan pemegang saham. Meski begitu, ia tetap berharap agar bonus setiap tahunnya bisa mendaki. "Sesuai tren kinerja, harapannya begitu," ujar Darmawan kepada KONTAN, Senin (5/2). Sementara bila melihat rasio pertumbuhan, maka pertumbuhan gaji dan tantiem bankir Bank Central Asia (BCA) tercatat naik paling tinggi. BCA mengalokasikan bonus dan tantiem kepada direksi dan komisaris sebesar Rp 660 miliar. Angka ini naik 33,8% dari tahun sebelumnya. Sayangnya, bank ini tak merinci besaran bonus untuk dewan direksi maupun komisaris mereka. Sementara Bank Rakyat Indonesia tampil berbeda. Bank spesialis kredit UMKM ini menurunkan alokasi bonus dan tantiem kepada pejabat tingginya. Angkanya menyusut 2,04% dari tahun 2022 menjadi Rp 563,6 miliar. Terakhir, alokasi bonus PT Bank Negara Indonesia (BNI) terkecil di kalangan bank KBMI 4, hanya sebesar Rp 315 miliar. Maklum, laba bank berlogo 46 ini memang paling kecil, yakni Rp 21 miliar. Direktur Utama BNI Royke Tumiliaar tak banyak berkomentar terkait bonus yang diterimanya. Ia menegaskan urusan bonus bagi para manajemen merupakan ranah pemegang saham. Menurut Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah, para bankir ini memang selayaknya mendapatkan bonus untuk kinerjanya. Meski begitu, ia mengingatkan keuntungan yang besar bukan ukuran utamanya. Ekonom Universitas Bina Nusantara Doddy Ariefianto menyebut, bonus para bankir sejatinya hasil negosiasi antar pemilik dan manajemen. Artinya, sudah ada kesepakatan antar keduanya.

Perbankan Semakin Sukses Menekan Beban

HR1 06 Feb 2024 Kontan
Perbankan di Tanah Air, terutama bank-bank besar, semakin efisien dalam mengelola operasionalnya. Ini tercermin dari penurunan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) pada 2023. Beban operasional tetap bisa dijaga meski mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya. Sedangkan pendapatan tercatat meningkat melampaui kenaikan beban operasional tersebut. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) tercatat menjadi bank paling efisien di jajaran bank-bank kakap. Berdasarkan laporan kinerja keuangan 2023, BCA mencatat rasio BOPO di level 43,76%. Realisasi ini jauh dibawah bank lain di kelasnya, bahkan menyusut signifikan dari level 46,54% pada 2022. EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn menyebut, penurunan ini sejalan dengan biaya pencadangan penurunan nilai aset yang lebih rendah. Hera juga memaparkan, untuk melihat efisiensi lebih baik melihat rasio beban operasional terhadap pendapatan bunga bersih (CIR). "Rasio ini tidak dipengaruhi tinggi rendahnya biaya pencadangan. CIR BCA relatif stabil di level 33,8% dan membaik dari level 42% sebelum pandemi," jelas Hera, Senin (5/2). Hera menyebut, penurunan CIR sejalan dengan optimalisasi layanan transaksi perbankan digital dan transaksi non tunai serta berbagai upaya lain. BCA berupaya menjaga CIR tidak terlalu berbeda dengan rasio tahun sebelumnya, dengan menjaga keseimbangan antara income, biaya operasional dan kebutuhan investasi yang berkelanjutan. Bank Mandiri tercatat sebagai bank paling efisien kedua dengan rasio BOPO mencapai 51,88% pada 2023, turun dari 57,35% di tahun sebelumnya.Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Teuku Ali Usman mengatakan, pihaknya membangun fundamental yang solid dengan strategi tepat dalam tiga tahun terakhir. Sementara itu, Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi menyebut, digitalisasi berdampak positif terhadap efisiensi BRI, baik dari sisi bisnis dan operasional. Tahun ini, BRI menargetkan CIR berada di level 41%-42%.

Pilihan Editor