Perbankan
( 2293 )BCA Bidik Pertumbuhan Kredit Dua Digit
Sejumlah Bank Gelar Pameran Dorong Kredit Konsumer
Tiga Bank Bakal Rilis Green Bond dan Sukuk
Kredit Perbankan Melaju Kencang di Awal Tahun
Penyaluran kredit perbankan di Tanah Air melaju kencang di awal 2024. Data Bank Indonesia (BI) mencatat, kredit perbankan pada Januari 2024 tumbuh 11,5% secara tahunan, mencapai Rp 7.009,9 triliun. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan periode Desember 2023, sebesar 10,38%.
Secara tahunan, pertumbuhan kredit perbankan pada Januari 2024 juga lebih tinggi dibanding periode yang sama di 2023. Saat itu, penyaluran kredit tumbuh 10,2% mencapai Rp 6.284,6 triliun.
Pertumbuhan kredit di Januari tahun lalu juga melampaui pencapaian selama empat tahun terakhir sejak Januari 2018.
Data BI selaras dengan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam beberapa tahun terakhir, penyaluran kredit bank umum di awal tahun naik. Dalam catatan OJK, hanya pada Januari 2021 penyaluran kredit bank umum turun secara tahunan akibat efek pandemi.
Lani Darmawan, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), mengamini penyaluran kredit tumbuh signifikan di awal tahun ini. Bahkan, pertumbuhan kredit terjadi hampir di semua segmen. Dia mencontohkan kredit segmen usaha mikro, kecil dan menengah CIMB Niaga tumbuh hampir 10% secara tahunan per Januari 2024.
Sementara itu di segmen ritel konsumer, khususnya kredit kendaraan bermotor, tumbuh 25% secara tahunan. "Namun, kredit korporasi CIMB Niaga pada awal tahun ini agak melambat di bawah 5%, meskipun masih tetap tumbuh," papar Lani kepada KONTAN, Senin (26/2).
Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), sepakat, penyaluran kredit bank di awal tahun ini masih tumbuh positif. "Kalau kami lihat, kredit BCA di awal tahun ini cukup bagus, tidak seperti season sebelumnya," kata Jahja.
Jahja juga yakin, pertumbuhan kredit akan terus berlanjut. Terlebih, pada Maret mendatang, ada momentum Ramadan dan lebaran di bulan April. Ini bakal mendorong aktivitas bisnis korporasi, terutama di segmen konsumsi dan jasa.
2023, Perbankan Kantongi Laba Rp 243 Triliun
Gelar MIF, Bank Mandiri Tangkap Peluang Investasi
KINERJA BANK : Kredit Bermasalah BPR Turun
Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) di industri Bank Perekonomian Rakyat (BPR) mengalami tren menurun. Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio NPL BPR pada Desember 2023 berada di level 9,87%, susut 65 basis poin (bps) dari bulan sebelumnya sebesar 10,52% pada November 2023. Per Desember 2023, total nilai kredit bermasalah di BPR mencapai Rp13,89 triliun dengan total penyaluran pinjaman mencapai Rp140,79 triliun. Capaian kinerja BPR ini nyatanya makin mendekati posisi Juli 2023, di mana NPL BPR sebesar 9,79% dengan total nilai kredit bermasalah Rp13,35 triliun.
Secara tahunan, rasio kredit bermasalah membengkak dari 7,89% di tahun 2022 menjadi 9,87% pada 2023. Ketua Umum Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo) Tedy Alamsyah mengatakan secara industri terjadi perbaikan rasio kredit bermasalah. Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin menuturkan terdapat sejumlah faktor yang membuat penurunan NPL BPR di tengah fenomena bank bangkrut. Faktor tersebut yakni penambahan jumlah outstanding kredit yang berkualitas dan lancar. Selain itu, adanya restrukturisasi membuat akun-akun bermasalah tersebut dikondisikan menjadi lancar.
Untuk diketahui, dari tahun 2005 hingga kini terdapat 127 bank bangkrut di Tanah Air. Hingga pertengahan Februari 2024, telah terdapat lima bank bangkrut yang dicabut izinnya. Kelima bank tersebut BPR Bank Purworejo, BPR Bank Pasar Bhakti, BPR Usaha Madani Karya Mulia, BPRS Mojo Artho Kota Mojokerto, dan Koperasi BPR Wijaya Kusuma. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan pencabutan izin usaha bank karena persoalan mendasar seperti penipuan dan fraud.









