Perbankan
( 2327 )Bonanza Saham Para Bankir Tajir
Musim pembagian dividen akan semakin menambah pundi-pundi para bankir yang selama ini banyak mengempit saham perusahaan yang mereka pimpin. Belum lagi, bonus dan tantiem mereka juga naik seiring pertumbuhan kinerja tahun 2023. Berdasarkan riset KONTAN, dari 10 bankir yang mendulang cuan paling besar dari kepemilikan saham bank yang mereka pimpin, kebanyakan berasal dari Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan Bank Mandiri Tbk (BMRI). Hanya, ada satu bankir bank lain yang nyempil di daftar tersebut, yakni Arief Harris Tanjung, Direktur Utama Bank Jago Tbk (ARTO). Bankir BBCA menempati posisi tiga teratas daftar tersebut. Bankir paling tajir adalah Presiden Komisaris BBCA Djohan Emir Setijoso. Berdasarkan harga penutupan BCA, kemarin, total nilai kekayaaan Djohan dari kepemilikan saham BBCA mencapai sekitar Rp 1,08 triliun.Dari dividen, ia meraup pendapatan Rp 28,78 miliar. Sedangkan rata-rata bonus dan tantiem yang dikantongi direksi dan komisaris BBCA di 2023 sekitar Rp 38,8 miliar. Presiden Direktur BBCA Jahja Setiaatmadja berada di urutan kedua. Nilai kekayaan Jahja pada saham mencapai sekitar Rp 333,1 miliar.
Nilai itu berasal dari kepemilikan 32,81 juta saham BBCA. Dari dividen BBCA, ia memperoleh cuan sebesar Rp 8,86 miliar. Jahja belum memiliki rencana untuk melakukan profit taking atas kepemilikan sahamnya. Info saja, harga saham BBCA sudah naik 7,98% sepanjang tahun berjalan. Kemarin, harganya bertengger di level Rp 10.150 per saham. Di urutan ketiga ada Subur Tan selaku Direktur BBCA. Ia memiliki kekayaan Rp 105 miliar dengan mengempit 10,35 juta saham BBCA. Kekayaannya dari setoran dividen Rp 2,79 miliar sera bonus dan tantiem sekitar Rp 38,8 miliar. Sementara itu, Alexandra Askandar jadi bankir bank pelat merah paling kaya dari kepemilikan saham bank tempat ia bekerja. Ia tercatat paling banyak menggenggam saham BMRI dibanding dengan pengurus BMRI lainnya, mencapai 9,24 juta unit saham. Pengamat Pasar Modal Budi Frensidy menilai, sejatinya para bankir tidak wajib mempunyai saham dari perusahaan tempat mereka bekerja. Kalau punya, mereka punya hak sama seperti pemegang saham lainnya, yaitu menerima dividen, menikmati capital gain, serta profit taking. Senior Faculty LPPI Moch Amin Nurdin menilai, hal wajar jika jajaran direksi maupun komisaris bank memiliki kekayaan dari kepemilikan saham pada bank yang mereka pimpin.
Bank Sampoerna Targetkan Kredit Meningkat 15%
Bank BUMN Jadi Tumpuan Setoran Dividen
Setoran dividen badan usaha milik negara (BUMN) ke kas negara masih lancar. Namun, kontribusi BUMN tidak sama rata. Sebab, perusahaan pelat merah di sektor perbankan masih menjadi tumpuan. Misalnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang akan membagikan dividen senilai Rp 48,1 triliun dari laba bersih tahun buku 2023. Angka itu setara 79,63% dari total laba 2023 yang senilai Rp 60,4 triliun. Adapun dividen senilai Rp 25,71 triliun akan disetorkan ke kas negara setara 53% dari kepemilikan saham pemerintah di Bank BRI. Per 18 Januari 2024, BBRI telah menyetorkan dividen Rp 6,77 triliun ke negara. Adapun selebihnya Rp 18,94 triliun dibayarkan pada 28 Maret 2024. Ada pula PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang akan menyetorkan dividen ke kas negara senilai Rp 17,18 triliun, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) senilai Rp 6,27 triliun dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) sebesar Rp 420,11 miliar. Berdasarkan catatan Kementerian Keuangan (Kemkeu), setoran dividen yang masuk ke kas negara dari BBRI pada pertengahan Januari tersebut setara 7,89% dari target penerimaan kekayaan negara yang dipisahkan (KND) pada tahun ini. Dalam APBN 2024, target penerimaan KND yang terdiri dari dividen BUMN dan pendapatan dari KND lainnya ditetapkan sebesar Rp 85,84 triliun.
Menurut Kemkeu dalam dokumen berjudul APBN Kita Edisi Februari 2024, perekonomian nasional yang pulih pada 2023 mendatangkan laba signifikan bagi BUMN. Khususnya sektor perbankan. Menilik data Kemkeu pula, setoran dividen BUMN perbankan (Himbara) di 2023 mencapai Rp 40,84 triliun dan menjadi penyumbang utama dividen BUMN ke negara. Sementara setoran dividen BUMN non perbankan tercatat Rp 41,22 triliun. Peneliti Senior Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Etikah Karyani Suwondo menjelaskan, pencapaian kinerja dividen BUMN masih didominasi sumbangan dari kelompok blue chips BUMN, seperti Himbara dan PT Pertamina (Persero). Oleh sebab itu, menurut dia, setoran dividen BUMN yang dipatok pemerintah pada APBN 2024 masih bisa tercapai. "Setoran BUMN ke negara pada 2024 dari tahun buku 2023 diperkirakan naik menjadi Rp 85 triliun," ujar Etikah kepada KONTAN, Kamis (14/4). Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita memperkirakan setoran dividen pada tahun ini tidak akan terlalu jauh berbeda dengan realisasi pada tahun lalu. Dia menduga bahwa setoran dividen BUMN ke kas negara pada tahun ini bisa mencapai Rp 80 triliun-Rp 90 triliun.
Perkuat Ekonomi Umat, BSI Serahkan Zakat Lebih dari Rp 222 Miliar
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) semakin mengukuhkan komitmen untuk memperkuat ekonomi umat dengan mendorong peningkatan penyaluran zakat perusahaan. Pada Ramadhan tahun ini, BSI menyerahkan Rp 222,7 miliar zakat perusahaan melalui Baznas, melesat 29 % dibanding periode yang sama tahun lalu.
Dirut BSI Hery Gunardi mengatakan, pihaknya dapat mendorong kenaikan zakat seiring pertumbuhan laba bersih perseroan sepanjang 2023. Dari total zakat yang disalurkan, Rp 189,7 miliar merupakan zakat dari laba perusahaan dan Rp 33 miliar merupakan zakat pegawai. Dengan angka tersebut BSI kembali menjadi perusahaan dengan volume zakat terbesar di Indonesia. (Yetede)
Januari, Transaksi BSI Mobile Rp 47 Triliun
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) hingga Januari 2024
mencatatkan jumlah transaksi di BSI Mobile sebanyak 38 juta transaksi dengan
volume Rp 47 triliun, sementara transaksi menggunakan QRIS BSI berada di angka
5 juta transaksi dengan volume Rp 697 miliar. Memasuki bulan Suci Ramadan, BSI
mendorong masjid sebagai pusat keuangan syariah dengan bertransaksi digital
selama bulan Ramadan, melalui baitul mal sebagai pemberdayaan ekonomi umat.
BSI terus memperkuat kemitraan dengan pengelola masjid dengan
memperluas layanan keuangan seperti ATM dan QRIS di masjid-masjid. Dari 300.000
masjid yang terdaftar di Sistem Informasi Masjid (Simas) Kemenag RI, jumlah masjid
yang telah terdaftar bekerja sama dengan BSI sebanyak lebih dari 53.000 masjid
di seluruh Indonesia. Total dana pihak ketiga (DPK) di ekosistem masjid BSI
tercatat Rp 4,6 Triliun. (Yetede)
Penuhi Modal Inti Minimum, Konsolidasi BPD Berlanjut
Bank Pembangunan Daerah (BPD) terus berusaha meningkatkan modal inti minimum Rp 3 triliun paling lambat akhir Desember 2024. Untuk itu, strategi konsolidasi BPD kian ramai di tahun ini melalui skema kelompok usaha bank (KUB). Berdasarkan data OJK per 31 Desember 2023 terdapat 12 BPD yang belum memenuhi ketentun modal inti minimum melalui setoran modal mandiri dan 10 BPD akan melakukan konsolidasi dalam bentuk KUB. Salah satu BPD yang gencar menambah KUB adalah BPD Jabar dan Banten (Bank BJB).
Tahun ini BJB memiliki empat BPD yang masuk dalam KUB dan perseroan terus melakukan diskusi dengan BPD lain yang terbuka untuk menjadi KUB. Dirut BJB Yuddi Renaldi mengungkapkan, pihaknya telah mendapat perizinan dari OJK terkait proses KUB Bank Bengkulu. “Bank Bengkulu sudah, ada dua lagi yang kami proses, Bank Jambi dan Maluku Malut sudah memasuki tahapan penilaian, mudah-mudahan berjalan baik karena ke duanya intensitasnya signifikan,” ujar Yuddi, Selasa (12/3). (Yetede)









