;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Empat Bank Jumbo Raup Laba Rp190,24 Triliun

KT1 01 Feb 2024 Investor Daily (H)
Empat bank papan atas atau kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 4 sepanjang 2023 mengantongi total laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp 190,24 triliun. Keuntungan tersebut meningkat 22,27% dibandingkan dengan periode 2022 yang  sebesar Rp 155,59 triliun. Apabila dilihat dari laporan keuangan yang dipublikasi, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) membukukan total laba bersih sebesar Rp 60,42 triliun pda akhir Desember 2023, meningkat 17,52%  secara tahunan (year on year/yoy). BRI masih menjadi bank dengan pencapaian laba terbesar di Indonesia. "Kunci yang menjadikan BRI labanya tumbuh atraktif dan nominalnya impresif tidak lain karena BRI dikelola oleh tim profesional yang menerapkan GCG yang baik, risk management memadai sehingga kami menikmati hasilnya laba Rp 60,4 triliun," ujar Sunarso. Bank bersandi saham BBRI masih menjadi jawara dengan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik sebilai Rp 60,1 triliun, meningkat  17,45% (yoy) sepanjang tahun lalu. (Yetede)

KREDIT EKSPANSIF BANK JUMBO

HR1 01 Feb 2024 Bisnis Indonesia (H)

Tantangan penyaluran kredit yang muncul seiring transisi iklim suku bunga mahal tak membuat optimisme kalangan perbankan surut. Bank-bank jumbo bahkan tetap memancangkan target pertumbuhan hingga dua digit pada tahun ini. Jika ditelusuri, target itu sejatinya selaras dengan proyeksi Bank Indonesia (BI), yakni di kisaran 10%—12% pada tahun ini, dan 11%—13% pada tahun depan. Sasaran itu bakal dicapai melalui penerapan kebijakan makroprudensial yang longgar. Faktanya, empat bank terbesar di Tanah Air, yakni PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) percaya diri dapat menyalurkan kredit secara agresif. BBCA menyebut pertumbuhan penyaluran kredit industri pada 2024 sebesar 8%—10% secara tahunan (year-on-year/YoY). Adapun, tiga bank jumbo lain, yakni BBNI memproyeksi pertumbuhan kredit 9%—11%, BBRI 11%—12%, dan BMRI 13%—15%. Bila dibandingkan dengan kinerja tahun ini, proyeksi BBCA, BBRI, dan BMRI lebih moderat sedangkan BBNI lebih ekspansif. Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan proyeksi kinerja kredit bertolak pada prospek pertumbuhan ekonomi RI pada 2024 sebesar 5% yang memberikan ruang pertumbuhan intermediasi perbankan. Industri seperti makanan minuman, kesehatan, pertanian dan perkebunan serta segmen terkait environmental, social, and governance (ESG) turut menjadi incaran perusahaan.

Sementara itu, Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Sigit Prastowo mengatakan bahwa industri perbankan menghadapi tantangan likuiditas yang ketat pada 2023. Di sisi lain, BBRI membuka ruang penyesuaian suku bunga kredit dan deposito seiring dengan adanya ekspektasi penurunan suku bunga acuan pada tahun ini. Direktur Utama BBRI Sunarso memprediksi suku bunga global turun pada akhir kuartal II/2024. Dengan demikian, ada peluang suku bunga acuan BI ikut turun. Menurutnya, penyesuaian itu berlaku setidaknya pada paruh kedua sehingga perusahaan harus bertahan di era likuiditas ketat dan suku bunga mahal. Dengan demikian, dia berharap bisa mencapai pertumbuhan kredit melalui sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Fokus di sektor ini juga melibatkan optimalisasi Holding Ultramikro (UMi). Optimisme serupa sebelumnya disampaikan Direktur Keuangan BBNI Novita Widya Anggraini. Dia memproyeksikan penyaluran kredit tahun ini tumbuh hingga dobel digit berkat kinerja ekonomi yang mendorong permintaan kredit. Lalu, Presiden Direktur BBCA Jahja Setiaatmadja mengatakan ekspansi industri perbankan masih ada. Perusahaan turut membuka ruang untuk melakukan penyesuaian suku bunga ke depan. “Kami akan terus memperkuat bauran kebijakan, moneter tetap pro stability sambil melihat celah-celah pada semester II/2024 apakah ada ruang untuk penurunan suku bunga, menstabilkan kurs,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2023, Rabu (31/1). Dihubungi terpisah, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin menyebut transisi kebijakan moneter bakal berdampak pada kinerja kredit dan NIM, terutama pada kuartal IV/2024.

Semakin Kuat dan Hebat, BRI Cetak Laba Rp60,4 Triliun

HR1 01 Feb 2024 Bisnis Indonesia (H)

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. berhasil menutup tahun 2023 dengan kinerja cemerlang dan tumbuh secara berkelanjutan. Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan bahwa secara konsolidasian aset perseroan tumbuh 5,3% secara year-on-year (YoY) menjadi Rp1.965,0 triliun, dan membukukan laba Rp60,4 triliun atau tumbuh 17,5% (YoY). Menurut Sunarso, laba BRI men jadi hak pemegang saham melalui pembayaran pajak dan dividen. Mayoritas dari laba senilai Rp60,4 triliun pada akhirnya akan kembali ke negara sebagai pemegang saham mayoritas, selanjutnya dipergunakan untuk kepentingan rakyat Indonesia melalui ber bagai program Pemerintah.  Adapun, penopang utama kinerja impresif BRI 2023 di antaranya penyaluran kredit yang tumbuh double digit dan di atas industri perbankan nasional, kualitas kredit yang terjaga, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang memadai dengan fokus pada dana murah (CASA), serta eisiensi yang terus meningkat, hasil dari transformasi digital yang dilakukan BRI. Dari sisi fungsi intermediasi, penyaluran kredit BRI tumbuh 11,2% YoY menjadi Rp1.266,4 triliun atau lebih tinggi dibandingkan dengan penyaluran kredit industri perbankan nasional sebesar 10,4% YoY di sepanjang 2023. Di sisi lain, BRI juga mampu menjaga kualitas kredit yang disalurkan. Tercatat NPL BRI hingga akhir Desember 2023 terkendali di level 2,95% dengan NPL Coverage sebesar 229,09%. Sementara itu Loan at Risk (LAR) BRI tercatat 13,8% pada akhir Desember 2023, di mana angka ini sudah menurun signiikan dibandingkan dengan LAR BRI pada posisi tertinggi saat puncak Covid-19 di September 2020 sebesar 29,8%.

Kinerja Perbankan Besar Masih Terus Berkibar

HR1 01 Feb 2024 Kontan (H)

Kabar baik bagi investor perbankan, kinerja keuangan bank-bank besar sepanjang 2023 tetap tampil ciamik. Mereka masih mencetak rekor laba dengan pertumbuhan mengesankan. Menurut sejumlah analis, kinerja impressif tersebut bakal mendongkrak performa sahamnya ke depan. Para bankir dari bank kakap optimistis prospek bisnis tahun 2024 akan tetap cerah meski ada perhelatan tahun politik. Mereka tetap percaya diri melakukan ekspansi dengan memasang target pertumbuhan kredit tetap tinggi. Walau tren suku bunga masih naik, bank-bank besar menargetkan margin bunga bersih (NIM) tetap berada dikisaran realisasi tahun lalu. Mereka yakin karena struktur pendanaan mereka didominasi oleh dana murah dan likuiditasnya masih di level aman. Bank Mandiri misalnya, menargetkan kredit tumbuh di kisaran 10%-15% tahun ini. NIM dibidik ada di kisaran 5,3%-5,5%, sedangkan tahun lalu realisasinya 5,48%. “Kami akan terus melanjutkan strategi pertumbuhan kredit tahun 2024. Salah satu sumber pertumbuhannya berasal dari industru makanan dan minuman, industri kesehatan, serta pertanian dan perkebunan.” kata Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi, Rabu (31/1). Senada, Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA juga optimistis menghadapi 2024. Ia menyebut peluang bisnis tahun ini tetap bagus. Hal itu terefleksi dari realisasi kredit BCA pada kuartal IV 2023 yang tumbuh 5,8% secara kuartalan.

Hampir separuh pertumbuhan kredit  BCA tahun lalu terjadi di triwulan terakhir yang notabene sudah mendekati tahun pemilu. Capaian di kuartal IV itu menjadi penanda bagi BCA bahwa prospek kredit tahun ini tetap bagus. Ia bilang, permintaan kredit di BCA masih sangat besar, terutama untuk kredit investasi. Sepanjang 2023, BRI masih bertahan sebagai pencetak laba tertinggi, yakni Rp 60,1 triliun atau tumbuh 17,5% secara tahunan. Namun, dari sisi laju pertumbuhan, Bank Mandiri tampil menjadi jawara dengan pertumbuhan sebesar 33,7% menjadi Rp 55 triliun. Disusul, BCA yang tumbuh 19,4% menjadi Rp 48,6 triliun. Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto memperkirakan kinerja fundamental bank-bank besar akan mempengaruhi kinerja sahamnya. Itu lantaran kapitalisasi pasar dan jumlah saham mereka yang bereda di publik sangat besar. Sementara itu, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta mengapresiasi perolehan laba bank-bank besar itu meski  suku bunga acuan sudah naik tinggi. Prediksinya, kinerja saham bank besar bakal mengalami tren positif karena biasanya dividen yang mereka bagikan besar. Head of Investment PT Reswara Gina Investa Kiswoyo Adi Joe  memperkirakan kinerja bank-bank besar akan berlanjut tumbuh positif seiring adanya ruang penurunan suku bunga acuan tahun ini.

Kinerja Anak Usaha Topang Laba Bank

HR1 01 Feb 2024 Kontan
Tak bisa dipungkiri, melejitnya laba sejumlah bank besar di sepanjang tahun 2023 ikut ditopang oleh kinerja anak usahanya. Ini tecermin dari kontribusi laba para entitas anak bank terhadap kinerja sang induk. Contoh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Sepanjang 2023, BRI memposisikan diri sebagai bank dengan laba terbesar, yakni Rp 60,43 triliun, naik 17,55% secara tahunan. Laba ini, salah satunya disumbang laba bisnis ekosistem BRI Group sebesar Rp 7,3 triliun, naik 39,7%. Anak usaha BRI Group yang memberikan kontribusi terbesar adalah PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Dua anggota holding ultra mikro ini menyumbang hingga 83% dari total laba anak BRI. Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, ekosistem ultra mikro telah menjadi sumber pertumbuhan baru bagi BRI. Per Desember 2023, jumlah nasabah holding ultra mikro tembus 37,3 juta. Entitas anak yang paling berkontribusi pada kinerja Bank Mandiri adalah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). Sumbangan laba dari BSI mencapai Rp 2,9 triliun di 2023. Maklum, BSI saat ini merupakan bank syariah terbesar di tanah air. Direktur Keuangan Bank Mandiri Sigit Prastowo mengungkapkan, BSI telah menjadi bagian penting Mandiri Group. Kontribusi anak usaha ini konsisten tumbuh. Dus, Bank Mandiri selalu memiliki rencana untuk menambah modal anak usaha setiap tahunnya. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menikmati kontribusi anak usaha yang tumbuh 14,6% secara tahunan di 2023. Meskipun secara nilai, kontribusinya masih kecil, sekitar Rp 2,2 triliun dari total laba BNI Rp 20,9 triliun. Direktur Keuangan BNI Novita Widya bilang, kontribusi anak usaha ini ditopang penguatan kinerja berkelanjutan Ini seiring transformasi yang dilakukan BNI Finance dan Hibank. Tahun lalu BNI Finance menyalurkan pembiayaan konsumer Rp 2,4 triliun, naik 1.211% secara tahunan.

LPS Pertahankan Tingkat Bunga Penjaminan

KT3 31 Jan 2024 Kompas
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mempertahankan tingkat bunga penjaminan simpanan untuk periode 1 Februari-31 Mei 2024. Adapun nilai tingkat bunga penjaminan itu sebesar 4,25 persen untuk simpanan rupiah di bank umum, 2,25 persen untuk simpanan valas di bank umum, dan 6,75 persen untuk simpanan rupiah di bank perekonomian rakyat (BPR). Demikian disampaikan Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa, pada Selasa (30/1/2024). (Yoga)

Paruh Kedua, DPK Perbankan Tak lagi Tersendat

KT1 31 Jan 2024 Investor Daily (H)
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun perbankan per Desember 2023 tumbuh 3,73% secara tahunan (year on year/yoy). Namun, pada paruh kedua tahun ini diproyeksi pertumbuhan  DPK sudah kembali normal, di kisaran 6-7% (yoy). Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, kinerja perbankan hingga akhir Desember 2023 masih terjaga dengan kecukupan likuiditas yang juga memadai, meskipun pertumbuhan DPK cenderung tertekan di kisaran 3,73%. Dia menilai, seretnya pertumbuhan DPK ini juga sejalan dengan korporasi yang ekspansi usahanya, namun enggan meminjam kredit  kepada perbankan lantaran bunga kredit yang disebut naik. Hal ini terlihat dari data simpanan jumbo dengan tiering di atas Rp 5 miliar yang anjlok. "Simpanan di atas Rp 5 miliar turun terus, dari akhir tahun lalu (2022) 14-15%, sekarang tumbuh 3,51% (2023), dugaan kami ini korporasi trennya mereka beralih ekspansi pakai uang sendiri dari pada pinjam bank. (Yetede)

Pemilik Lakukan Fraud, Prospek BPR Kian Suram

HR1 31 Jan 2024 Kontan
Sejumlah bank perekonomian rakyat (BPR) menutup usahanya sepanjang tahun 2023. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, selama tahun 2023 ada empat BPR gulung tikar. Dari catatan LPS, dalam 18 tahun terakhir, setiap tahun rata-rata BPR yang tutup jumlahnya sebanyak 6-7 bank. Pada 2024, fenomena BPR bangkrut diproyeksi akan berlanjut. "Tahun ini masih ada BPR tutup. Kami terus berkoordinasi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar tidak ada kegaduhan di masyarakat," tegas Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Dewan Komisioner LPS, Selasa (30/1). Catatan LPS, per Januari 2024, sudah ada dua BPR yang bangkrut, yakni PT BPR Syariah Mojo Artho Kota Mojokerto (Perseroda) dan BPR Wijaya Kusuma di Madiun, Jawa Timur. Dari data OJK, lima tahun terakhir jumlah BPR terus menyusut. Per November 2023, jumlah BPR hanya 1.405 bank. Padahal, di akhir 2022, jumlahnya masih 1.441 bank. Jadi, kurang dari setahun, jumlah BPR berkurang 36 bank. Seiring tutupnya BPR, pada 2023 LPS telah membayar klaim Rp 329,2 miliar atau 92,6% dari total simpanan nasabah sebesar Rp 355,4 miliar. Untuk tahun ini, LPS telah menyiapkan dana cadangan penjaminan yang memadai, untuk memitigasi risiko BPR yang berpotensi bangkrut. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, proses merger BPR dan BPRS hingga saat ini masih terus berlangsung. Terutama, untuk BPR dan BPRS dengan kepemilikan yang sama.

Laba Kuat Meski Tumbuh Melambat

HR1 30 Jan 2024 Kontan

Bank Central Asia Tbk (BBCA) berhasil menuai laba jumbo sepanjang tahun lalu. Tapi tak dipungkiri, perlambatan laju pertumbuhan kinerja BBCA masih akan terjadi pada tahun ini. Tahun lalu, emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia itu mencetak pertumbuhan laba bersih 19,4% menjadi Rp 48,6 triliun. Tapi, pertumbuhan laba BBCA melambat jika dibandingkan tahun 2022 yang naik hingga 29,6% secara tahunan. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, melambatnya pertumbuhan BBCA disebabkan beban operasional naik hingga Rp 5 triliun atau 5,45% dari 2022. Sehingga tetap ada potensi perlambatan pertumbuhan BBCA pada tahun ini. Oleh karena itu, Nico memperkirakan, tahun ini BBCA tetap melanjutkan kinerja apiknya. Potensi penurunan tingkat suku bunga Federal Reserve berpeluang mendorong peningkatan kredit. Aktivitas transaksi juga bakal naik akibat pertumbuhan daya beli dan konsumsi dari pemilu. Analis Senior Sucor Sekuritas, Edward Lowis juga memperkirakan, kinerja laba bersih BBCA hanya akan tumbuh 12% pada 2024 menjadi Rp 54,39 triliun.

"Kami mengantisipasi peningkatan pendapatan bunga dengan peningkatan imbal hasil aset," katanya. BBCA juga akan menyesuaikan suku bunga kredit sebesar 25-50 basis poin tahun ini setelah mempertahankannya selama kenaikan suku bunga baru-baru ini. Net interest margin (NIM) secara konservatif diproyeksikan stabil di level 5,5%-5,6%. Di sisi lain, kualitas aset secara keseluruhan diproyeksikan akan membaik lebih lanjut dengan rasio kredit berisiko (LAR) kemungkinan menurun menjadi 4%-6% dibanding tahun 2023 sebesar 6,9%. Edward mengatakan, perbaikan ini memungkinkan BBCA mempertahankan biaya kredit rendah pada 30-40 bps karena cakupan LAR tetap pada 70% di tahun 2023. Analis BRI Danareksa, Victor Stefano mengatakan, proyeksi kinerja BBCA masih sejalan dengan perkiraannya. "Namun, kami memangkas estimasi laba BBCA tahun 2024 sebesar 3% karena biaya yang lebih rendah dari perkiraan di tahun 2023," katanya dalam riset Senin (29/1). Kendati begitu, Victor memperkirakan kinerja BBCA akan tetap tumbuh. Laba bersih BBCA diperkirakan menyentuh angka Rp 58,09 triliun atau naik 9,64% yoy tahun ini.Pertumbuhan kinerja BBCA didorong dari penyaluran kredit. Tahun 2023, pertumbuhan kredit BBCA mencapai 13,9%, lebih tinggi dari rata-rata industri sebesar 10%.

Jelang Akhir Restrukturisasi, Perbankan Tekan LAR

KT1 29 Jan 2024 Investor Daily (H)
Mendekati berakhirnya stimulus restrukturisasi kredit akibat Covid-19, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) terus mencatatkan loan at risk (LAR) dan kredit macet (non performing loan/NPL) yanag membaik. Hal ini didukung dari pencadangan yang telah dipupuk jauh-jauh hari. Seperti pada BCA, total LAR per Desember 2023 sebesar Rp52,2 triliun, turun 24,8% dibandingkan posisi Desember 2022 yang senilai Rp69,4 triliun. Menurutnya kredit yang berisiko tersebut juga turut memperbaiki rasio LAR menjadi 6,9% pada 2023, turun 3,5% dari LAR 2022 di level 10,4%. Di sisi NPL, bank swasta terbesar di Indonesia ini mencatat Rp 14,1 triliun kredit macet sepanjang 2023 atau dengan rasio NPL gross 1,9%. Apabila dibandingkan dengan 2022, ada sedikit kenaikan NPL BCA dari 1,7%. Perseroan juga membentuk NPL coverage sebesar 234,1%, lebih rendah dari 286,9% pada 2022. (Yetede)

Pilihan Editor