Perbankan
( 2293 )Segmen Korporasi Dongkrak Kredit Perbankan Akhir 2023
Bank Tawarkan Paylater Berbunga Lebih Murah
Paylater merupakan bisnis gurih bagi industri keuangan saat ini karena penggunaannya semakin diminati masyarakat. Perbankan sudah beramai-ramai merangsek untuk bisa menikmati gurihnya bisnis ini. Bank masuk menawarkan bunga lebih bersaing dibanding tawaran paylater milik fintech. Setidaknya, bakal ada dua lagi bank yang akan ikut masuk ke bisnis paylater, yakni Bank CIMB Niaga dan Bank BTN. Keduanya akan bersaing dengan bank besar lain yang sudah lebih dulu masuk, yakni Bank Mandiri dan Bank Central Asia (BCA). Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu mengatakan, bank yang bermain di paylater saat ini mampu memberikan bunga yang lebih murah dibanding fintech. “Kalau saya lihat sih bank bisa menawarkan bunga sekitar 12% per tahun,” ujarnya saat ditemui KONTAN, belum lama ini. Direktur Konsumer CIMB Niaga Noviady Wahyudi juga menyebutkan, bunga lebih rendah akan jadi salah satu keunggulan produk paylater perbankan.
Di mana, bank memposisikan paylater sebagai salah satu produk dari solusi yang lebih menyeluruh. Dede belum mau menyebut bunga paylater yang kini ditawarkan CIMB Niaga, mengingat saat ini produk tersebut masih dalam penawaran terbatas. Namun, ia mengatakan transaksinya tahun lalu sudah tumbuh 1,5 kali lipat. Produk paylater yang ada dari bank memang terlihat menawarkan bunga lebih rendah. BCA misalnya, masih menawarkan bunga promo sampai 31 Maret 2024. Dimulai dari bunga 0% per bulan untuk cicilan satu dan tiga bulan. Lalu bunga 1,25% untuk cicilan 6 dan 12 bulan. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, animo nasabah dalam menggunakan paylater BCA sangat tinggi. Ia berharap transaksi paylater tahun ini bisa tumbuh lebih kencang lagi, sejalan dengan prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih positif. Sementara beberapa paylater fintech mematok suku bunga pinjaman lebih tinggi. Spaylater milik Shopee menawarkan bunga 2,95% dan Kredivo 2,6% untuk cicilan tenor di atas 3 bulan.
RESTRUKTURISASI KREDIT COVID-19 : Bank Atur Strategi Cegah Risiko
Berakhirnya relaksasi restrukturisasi kredit Covid-19 yang diberikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Maret 2024 diyakini tidak akan berdampak signifikan terhadap sektor perbankan. Kendati demikian, kalangan perbankan mengungkapkan sejumlah strategi untuk mengantisipasi risiko kredit pascaberakhirnya kebijakan relaksasi tersebut. Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk., Lani Darmawan mengungkapkan, CIMB Niaga telah mengantisipasi dampak berakhirnya restrukturisasi kredit Covid-19 jauh-jauh hari. Sejalan dengan itu, CIMB Niaga telah meningkatkan kemampuan pencadangannya. Tercatat, non-performing loan (NPL) coverage BNGA naik dari 208,8% pada kuartal III/2022 menjadi 267,1% pada kuartal III/2023. Sementara itu, loan at risk (LaR) coverage BNGA naik dari 42,6% pada kuartal III/2022 menjadi 50,4% pada kuartal III/2023.Senada, Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. atau Bank BJB, Yuddy Renaldi menilai, bank memang perlu melakukan langkah antisipasi. Tidak jauh berbeda, bank-bank kecil pun telah berancang-ancang. Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR), Efdinal Alamsyah mengatakan, Bank Oke melakukan klasifikasi terhadap nasabah yang direstruktur ke dalam kategori, mulai dari high, medium, dan low risk. Adapun, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, meyakini dengan berakhirnya restrukturisasi kredit Covid-19 tidak akan berdampak signifikan ke sektor perbankan.
BRI Targetkan Salurkan KUR RP 165 Triliun
Spin Off Ramaikan Persaingan Bisnis Bank Syariah
Kredit Perbankan Meningkat 10,38%
KELOMPOK USAHA BERSAMA : Kolaborasi Syariah Bank Daerah
Kolaborasi apik dua bank pembangan daerah diharapkan mampu mendongkrak bisnis syariah yang memiliki potensi besar bagi perbankan Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat (NTB).Bahkan, proses pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) antara Bank NTB Syariah dengan Bank Jawa Timur (Bank Jatim) sudah masuk tahap fi nalisasi dan ditargetkan rampung pada 2024.Pembentukan KUB ini bertujuan untuk membantu Bank NTB Syariah guna memenuhi modal inti Rp3 triliun sesuai dengan ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 12/2020, yang menuntut semua bank pembangunan daerah (BPD) memenuhi modal inti Rp3 triliun pada 2024. Bank NTB sendiri masih kekurangan modal inti di atas Rp1 triliun, tetapi opsi penambahan modal dari pemegang saham di daerah belum memungkinkan lantaran keterbatasan anggaran.
Opsi ini diambil bukan tanpa alasan. Apabila Bank NTB gagal memenuhi modal inti hingga akhir 2024, maka akan terancam turun dari bank umum atau syariah menjadi Bank Perekonomian Rakyat (BPR). Penjabat (Pj.) NTB Lalu Gita Ariadi menjelaskan bahwa KUB ini ditargetkan segera rampung.
Sebelumnya, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB Rico Rinaldy menyebut terus mendorong KUB tersebut segera terealisasi agar modal inti Bank NTB Syariah bisa segera terpenuhi. “Kami terus mendorong agar dipercepat, karena ada deadline hingga 2024.”
Rencananya, Bank Jatim akan mengakuisisi 100 mili-ar lembar saham Bank NTB Syariah. Nilai ini setara dengan 15% saham Bank NTB Syariah.
CARI CELAH BUNGA MAHAL
Industri perbankan rupanya harus bermanuver lebih tajam guna mendongkrak penyaluran kredit tahun ini. Maklum saja, suku bunga yang masih sulit dipangkas, dapat menjadi batu sandungan dalam mengakselerasi fungsi intermediasi.Jika ditengok, di tengah iklim suku bunga mahal yang menekan pertumbuhan dana simpanan, industri perbankan melewati tahun lalu dengan pertumbuhan kredit 10,38% secara tahunan. Capaian tersebut memang sesuai dengan koridor proyeksi Bank Indonesia (BI) yakni 9% hingga 11%. Namun demikian, jika suku bunga terus di level tinggi, amat mungkin kinerja kredit tergerus, dan berdampak negatif pada kinerja keuangan perusahaan. Terlebih, BI masih menahan diri untuk melonggarkan kebijakan moneter. Buktinya kemarin, Rabu (17/1), Rapat Dewan Gubernur BI, memutuskan untuk menahan BI-Rate pada level 6%, alias tak berubah sejak Oktober 2023. Dus, kalangan perbankan pun berharap bank sentral mulai memangkas suku bunga acuan pada tahun ini, sembari terus menyiapkan strategi agar ruang margin keuntungan tetap lapang. Pasalnya, belakangan ini potret margin keuntungan tercatat melandai. Berdasarkan data BI, hingga November 2023, margin keuntungan bank umum swasta nasional tercatat turun paling dalam yakni dari 2,89% pada November 2022 menjadi 2,39% pada November 2023. Kemudian, diikuti oleh kantor cabang bank asing dan bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Merespons kebijakan suku bunga acuan, sejumlah bank ancang-ancang menyesuaikan suku bunga kredit dan simpanannya. Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. atau Bank BJB (BJBR) Yuddy Renaldi menantikan suku bunga acuan yang lebih longgar. Dengan demikian, bank bisa melakukan penyesuaian suku bunga acuan terhadap bunga kredit dan simpanan. Yuddy juga memperkirakan tren longgar suku bunga acuan pada tahun ini akan berdampak positif bagi kinerja bank.
Sementara itu, dari kalangan bank cilik, Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR) Efdinal Alamsyah mengatakan penyesuaian bunga simpanan lebih responsif terhadap perubahan suku bunga, sedangkan penyesuaian bunga kredit lebih selektif karena terkait dengan risiko pinjaman. Oleh karena itu, di masa suku bunga tinggi, perusahaan menyeimbangkan dana pihak ketiga (DPK) dengan ekspansi kredit sehingga ada ruang margin bunga bersih (net interest margin/NIM) lebih tinggi.
Hal serupa ditempuh PT KB Bukopin Tbk. (BBKP). Corporate Relation Department Head KB Bukopin Adi Pribadi mencatat rasio likuiditas perseroan masih sangat sehat, yang tecermin pada AL/NCD dan AL/DPK masing-masing stabil di atas 250% dan 35%. Dengan demikian, perusahaan bisa meraih margin dan pendapatan bunga lebih tebal. Dengan prospek penurunan suku bunga, pada 2024, perseroan optimistis mencetak laba operasional sebelum pencadangan dan biaya akuisisi (Pre-Provision Operating Profi t/PPOP) positif.
Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) Lani Darmawan. Dia memperkirakan penurunan suku bunga acuan paling cepat terealisasi pada medio 2024.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa ruang penurunan suku bunga acuan ke depan tetap terbuka sejalan dengan arah kebijakan moneter yang pro stabilitas.
Di sisi lain, Perry mengatakan sinyal positif terlihat dari kinerja dolar AS yang tak lagi menguat dan cenderung melemah pada awal tahun. Dengan kondisi ini, tekanan penguatan dolar AS terhadap mata uang negara berkembang pun redup, sejalan dengan kembali mengalirnya modal asing, termasuk ke Tanah Air.
Adapun, Chief India and Indonesia Economist HSBC Pranjul Bhandari memprediksi pertumbuhan kredit Tanah Air berada pada 9% secara tahunan pada 2024. Hal ini seiring perkiraan bahwa BI bakal menurunkan suku bunga sebesar 100 basis poin (bps).
Luncurkan RDN Syariah, BSI Dorong Perkembangan Pasar Modal Syariah
PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) menggelar grand launching Pembukaan Rekening Dana Nasabah (RDN) Online Bank Syariah Pertama di Indonesia di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Launching ini menandakan BSI berkomitmen kuat untuk mendorong percepatan bisnis Pasar Modal Syariah dalam negeri.Menurut Direktur Utama BSI Hery Gunardi, kolaborasi dengan Perusahaan Sekuritas Anggota Bursa Sharia Online Trading System (AB SOTS) ini merupakan salah satu upaya BSI untuk meningkatkan literasi, inklusi, dan peneterasi keuangan syariah. Menyadari perlunya percepatan pertumbuhan bisnis di Pasar Modal Syariah dan dengan dukungan penuh dari OJK, Bursa Efek Indonesia, KSEI, KPEI dan AB SOTS per 1 Desember 2023 lalu BSI telah mendapatkan persetujuan dari OJK untuk melakukan pembukaan RDN secara online.
Peluncuran RDN Online merupakan komitmen BSI untuk mempermudah pembukaan RDN Syariah yang mudah dan cepat bagi para investor pasar modal sehingga dapat membuka peluang untuk ekspansi produk investasi bagi nasabah investor lebih lanjut.
BSI juga telah berfokus pada penyusunan peta jalan khusus untuk Ekosistem Investasi Pasar Modal Syariah di mana ke depan nya BSI akan menjadi bank yang memiliki izin MPPPE (Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek) yang diharapkan dapat berkontribusi meningkatkan market sharePasar Modal Syariah secara progressif. Dengan digitalisasi dan integrasi sistem dengan Peru sahaan Sekuritas, BSI menargetkan dapat mengakuisisi dua kali lipat dari jumlah investor Syariah yang telah menjadi nasabah RDN BSI saat ini di tahun 2024.









