Perbankan
( 2293 )RBB 2024, Laba Perbankan Tumbuh 10%
Siasat Perbankan Himpun Dana Non-DPK
PERMINTAAN KREDIT : LEMAH KALA LIKUIDITAS BERLIMPAH
Industri perbankan menjadi motor utama bagi dunia usaha dalam melakukan ekspansi. Perlahan, penyaluran kredit oleh bank meningkat sekaligus menjadi sinyal pemulihan ekonomi di Tanah Air. BI rate berpeluang besar akan mengalami penurunan pada 2024 seiring dengan penurunan FFR [Fed Fund Rate]. Kemungkinan besar penurunan akan terjadi pada kuartal II/2024,” ujar Chief Economist PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Anton Hendranata saat berbicara dalam diskusi Tantangan Pelik Ekonomi di Tahun Pemilu pada 13 Desember 2023.Dalam kajian yang disusunnya, penurunan BI 7 Days Repo Rate (BI7DRR) sebesar 1% akan mendorong pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan sebesar 0,36%, lalu pertumbuhan kredit rumah tangga sebesar 0,07%, dan pertumbuhan kredit produktif sebesar 0,11%.Alurnya, ketika suku bunga acuan turun akan diikuti dengan menipisnya biaya investasi. Biaya investasi yang turun berpotensi mendorong permintaan terhadap kredit produktif yang akan mengungkit output baik dari sisi penyerapan tenaga kerja maupun kenaikan pendapatan. Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20—21 Desember 2023, Bank Indonesia masih mempertahankan BI7DRRdi level 6%.Bank sentral juga melaporkan permintaan kredit sampai dengan November 2023 masih kuat dengan pertumbuhan sebesar 9,7% year-on-year (YoY). Angka itu masih sejalan dengan sasaran proyeksi pertumbuhan kredit pada 2023 di kisaran 9%—11%.
Dari sisi permintaan kredit modal kerja (KMK) tumbuh paling kuat 10,2% YoY, diikuti kredit investasi 9,4%, dan kredit konsumsi sebesar 9,1%.Terdapat empat sektor ekonomi yang kreditnya tumbuh digit ganda yakni jasa sosial/masyarakat, pertambangan, pengangkutan, dan jasa dunia usaha.
Sementara itu, pergerakan suku bunga kredit pada 2023 cenderung naik. Sampai dengan November 2023, suku bunga rata-rata kredit berada di level 9,29% atau lebih tinggi dari posisi pada akhir 2022 sebesar 9,15%.
Menurut Ketua Bidang Pengembangan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas Aviliani, daya serap kredit sedang tidak banyak, terlebih di tengah ketidakpastian jelang tahun politik.
ermintaan kredit, katanya akan turut dipengaruhi oleh suku bunga yang cenderung naik bertahap dan diperkirakan melandai pada semester II/2024.“Perbankan sebenarnya sedang tidak mudah. Bank yang tidak efi sien akan susah bertahan di masa yang datang. Karena demi menjaga tetap kompetitif di pasaran, mereka membutuhkan modal yang besar, sementara margin makin tipis karena suku bunga kredit hanya bisa naik terbatas,” katanya.Industri bank memilih target penyaluran kredit yang tak agresif.“Kami masih tetap menargetkan pertumbuhan kredit korporasi sekitar 7% pada tahun ini,” ujar Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. Lani Darmawan.Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Royke Tumilaar menyatakan perseroan optimistis dengan pertumbuhan kredit 9%—10% pada tahun ini.
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Teuku Riefky berpandangan saat ini perbankan masih sulit menyalurkan kredit karena sektor riil yang cenderung turun.
Efek Pemilu, Simpanan Kelas Kakap Surut
Aliran Kredit Perbankan ke BUMN Masih Deras
Tutup Tahun Dengan Sederet Capaian Gemilang, BRI Sambut 2024 Dengan Optimisme
Adu Siasat Bank Berbasis Layanan Digital
Dalam lima tahun terakhir, sejumlah perbankan yang
mengukuhkan diri sebagai bank dengan 100 % berbasis layanan digital atau ’bank
digital’ mulai bermunculan. ’Bank digital’ juga masuk kategori bank umum, seperti
bank-bank lain. Bedanya, bank konvensional memiliki layanan fisik dan digital
atau hibrida, maka ’bank digital’ semata-mata bertumpu pada kanal distribusi
digital atau berbasis layanan digital secara penuh. Dengan demikian, bank
berbasis layanan digital penuh hanya butuh satu kantor utama saja untuk
memberikan layanan 1 x 24 kepada seluruh nasabah yang tersebar di berbagai daerah.
Artinya, biaya operasional bank berbasis layanan digital akan jauh lebih rendah
ketimbang bank berbasis layanan fisik. Beberapa bank berbasis layanan digital
penuh, antara lain PT Bank JagoTbk, PT Allo Bank Indonesia Tbk, PT Bank Sea Bank
Indonesia, dan PT Bank Neo Commerce Tbk. Terdapat pula bank berbasis layanan
kanal digital penuh di bawah korporasi pelat merah, yakni PT Bank Hibank Indonesia
milik PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Raya Indonesia Tbk,
anak perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Hingga kuartal III-2023, rata-rata bank berbasis layanan digital
penuh tersebut mampu membukukan pertumbuhan laba bersih yang menyentuh persentase
dua digit, bahkan ada pula yang sampai tiga digit. Hal itu sekaligus membuat
saham beberapa di antara mereka meroket di papan bursa efek Indonesia. Dirut Bank
Jago Arief Harris Tandjung menyampaikan, kolaborasi dengan ekosistem digital
menjadi sesuatu yang tidak terelakkan bagi bank dengan basis layanan 100 %
digital. Siasat ini dinilai paling mumpuni mengingat sebagian pangsa pasar telah
dikuasai oleh bank-bank hibrida yang sudah lama terjun di lini bisnis
perbankan. ”Upaya untuk mengakuisisi nasabah tidaklah mudah bagi bank berbasis
layanan digital karena rata-rata calon nasabah sudah punya rekening bank dan mahal
sekali jika harus buka cabang dulu. Maka, konsep digital harus diimbangi kolaborasi
ekosistem sebagai upaya untuk akuisisi nasabah,” katanya saat ditemui di Kantor
Bank Jago, pertengahan bulan ini. Berkolaborasi dengan ekosistem PT GoTo Gojek
Tokopedia Tbk melalui platform GoPay, Bank Jago mampu menjangkau nasabah yang
telah masuk dalam ekosistem Gojek dan Tokopedia. (Yoga)
Pemerintah Anggarkan Subsidi KUR Rp 47,78 Triliun
MEMANTIK KREDIT DI TAHUN POLITIK
Kinerja moncer penyaluran kredit pada tahun ini diperkirakan berlanjut pada 2024 kendati iklim ekonomi masih dibayangi oleh sejumlah tantangan mulai dari ketidakpastian global hingga penyelenggaraan Pemilu. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae mengatakan industri perbankan memiliki bantalan tebal untuk melewati tahun 2024. Dari sisi eksternal, dia menilai konflik geopolitik telah diperhitungkan pasar sehingga diyakini tak akan menggoyah perkembangan industri. Situasi kondusif juga dipicu oleh rencana Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat (AS) yang akan mengakhiri era suku bunga tinggi. Dari sisi internal, penurunan suku bunga acuan The Fed akan diikuti oleh penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia. Penurunan suku bunga ini bisa menjadi mesin bagi penyaluran kredit.
Dia pun menyinggung soal antisipasi dampak berakhirnya restrukturisasi kredit Covid-19 pada pengujung Maret 2024. Hal itu tecermin pada penebalan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) untuk menangkal risiko kenaikan kredit bermasalah. Di sisi lain, dia meyakini kondisi makroekonomi di Tanah Air akan menguat sejalan dengan penyelenggaraan Pemilu yang berjalan lancar. Penyelenggaraan Pemilu akan memperkuat sendi-sendi konsumsi sehingga mendorong kebutuhan kredit. Mengacu pada Analisis Uang Beredar yang dirilis Bank Indonesia hingga November 2023, pertumbuhan periode kali ini melampaui realisasi pada Oktober 2023. Realisasi penyaluran kredit pada November 2023 tumbuh 9,7% secara tahunan dari 8,7% Year-on-Year (YoY) pada bulan sebelumnya. Berbeda dengan OJK dan BI, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Trioksa Siahaan justru memberikan perkiraan awal terkait kredit perbankan dengan angka yang lebih rendah, tumbuh berkisar 5%—7%. Sejumlah bank di Tanah Air membidik target penyaluran kredit double digit pada 2024. Melansir data yang dihimpun dari Bloomberg Selasa (26/12), PT Bank Mandiri Persero Tbk. (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang memproyeksikan pertumbuhan kredit sebesar 10%—12% pada 2024. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) kompak menetapkan target 10% untuk tahun depan.
Kepala Riset PT RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya menyebut meskipun permintaan pinjaman cenderung melambat selama Pemilu, penurunan suku bunga utama bank sentral dapat memacu permintaan dan mempertahankan margin perbankan. Di sisi lain, BCA akan fokus pada industri pertambangan untuk mengompensasi sektor lain yang berisiko menurun. BCA juga akan meningkatkan pembiayaan properti dan otomotif yang dapat memanfaatkan insentif dari bank sentral. Sementara itu, BRI menilai Pemilu memberikan manfaat bagi kelompok masyarakat ‘akar rumput’ yang menjadi pangsa pasar utama perusahaan. Adapun, BNI menggarap sektor konsumer, transportasi laut, dan proyek penghiliran yang sedang berjalan untuk menjaga pertumbuhan kredit pada 2024. Bank lainnya seperti PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) menargetkan pertumbuhan positif kredit 8%—10% pada 2024. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan pertumbuhan kredit tersebut bakal dimotori oleh ritel dan UMKM. Dia menyebut tantangan utama yang saat ini dihadapi perusahaan adalah terkait rasio margin bunga bersih. Pada bagian lain, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. (BJBR) meyakini segmen konsumsi rumah tangga dan perdagangan bakal tetap melaju.
Bank BUMN Penting dalam Pembiayaan
Bank BUMN punya peran sebagai katalis positif pendorong
perbankan nasional lain untuk mendukung pembiayaan transisi energi. Pemerintah
tengah mematangkan kebijakan penyaluran kredit bunga rendah lewat bank pelat
merah sebagai stimulus ekosistem energi terbarukan dari sisi penawaran. Direktur
Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai, perbankan
punya peran vital dalam mendanai proyek transisi energi. Pasalnya, porsi pendanaan
untuk mencapai target transisi energi terlalu jumbo jika hanya dibebankan pada APBN
dan APBD. Berdasarkan hitungan Laporan Pembaruan Dua Tahunan (Biennial Update
Report/BUR), Indonesia memerlukan pendanaan lebih dari Rp 4.000 triliun untuk mencapai
target penurunan emisi gas rumah kaca,termasuk untuk agenda transisi energi, sesuai
dengan dokumen kontribusi nasional (NDC) pada 2030.
”Potensi pendanaan transisi energi lewat perbankan masih sangat
besar. Jika bank BUMN dapat digerakkan, risiko kredit proyek hijau menjadi
lebih baik. Ini juga menjadi katalis bagi bank non-BUMN dan bank lebih kecil
untuk proyek transisi energi,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Senin (25/12).
Peran perbankan saat ini dalam mendanai proyek energy hijau di Indonesia sudah
jauh lebih baik dengan adanya sistem klasifikasi dari OJK bernama taksonomi
hijau. Klasifikasi ini berisi daftar kegiatan ekonomi ramah lingkungan yang
dapat menjadi pedoman bagi sektor perbankan dalam menambah portofolio hijau
mereka. Meski begitu, lanjut Fabby, pemerintah tetap perlu mendorong bank BUMN
sebagai motor penggerak pendanaan transisi energi. Ia melihat skala bank pelat
merah, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Bank Mandiri (Persero)
Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, sangat besar untuk memberikan
pinjaman bagi proyek berkelanjutan. (Yoga)









