;
Tags

Perbankan

( 2293 )

RBB 2024, Laba Perbankan Tumbuh 10%

KT1 10 Jan 2024 Investor Daily
Otoritas Jasa Keuangan (OKJ) telah menerima rencana bisnis bank (RBB)  yang disampaikan oleh industri perbankan untuk 2024-2026. Di tanam ini, dari sisi profitabilitas, laba bersih diperkirakan  bisa tumbuh hingga dua digit dibandingkan dengan 2023. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, posisi margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan per November 2023 berada di posisi 4,83%. Namun, cenderung meningkat dari posisi November 2022 yang di level 4,7%. Sementara itu, untuk return of asset (ROA) bank pada November 2023 cenderung stabil di posisi November 2022 yang di level 4,7%. "Adapun, laba (2024) melanjutkan pertumbuhan positif  dengan laba bersih meningkat 9-10% year on year, juga capaian NIM 4-5%," tutur Dian. (Yetede)

Siasat Perbankan Himpun Dana Non-DPK

KT1 08 Jan 2024 Investor Daily
Dana pihak ketiga (DPK) di bank umum menunjukkan pertumbuhan melambat menjelang akhir 2023. Sebaliknya, sumber dana non-DPK tumbuh 0,20% secara tahunan (year on year/yoy) pada Oktober 2023. Apabila dilihat secara bulanan, sumber dana non-DPK meningkat lebih tinggi sebesar 6,01% (month to month/mtm). Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, pertumbuhan sumber dana non-DPK secara tahunan terutama  dikontribusi oleh kenaikan  kewajiban bank lain sebesar Rp 41,06 triliun. "Perkembangan ini menunjukkan perbankan mengoptimalkan sumber pendanaan jangka menengah dan panjang di tengah kenaikan suku bunga pinjaman," tulis LPS. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengungkapkan bahwa tren pertumbuhan sumber non-DPK masih berlanjut di 2023. Salah satu faktornya adalah gencarnya penerbitan surat utang pemerintah yang diperkirakan lebih dari Rp 600 triliun. (Yetede)

PERMINTAAN KREDIT : LEMAH KALA LIKUIDITAS BERLIMPAH

HR1 08 Jan 2024 Bisnis Indonesia

Industri perbankan menjadi motor utama bagi dunia usaha dalam melakukan ekspansi. Perlahan, penyaluran kredit oleh bank meningkat sekaligus menjadi sinyal pemulihan ekonomi di Tanah Air. BI rate berpeluang besar akan mengalami penurunan pada 2024 seiring dengan penurunan FFR [Fed Fund Rate]. Kemungkinan besar penurunan akan terjadi pada kuartal II/2024,” ujar Chief Economist PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Anton Hendranata saat berbicara dalam diskusi Tantangan Pelik Ekonomi di Tahun Pemilu pada 13 Desember 2023.Dalam kajian yang disusunnya, penurunan BI 7 Days Repo Rate (BI7DRR) sebesar 1% akan mendorong pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan sebesar 0,36%, lalu pertumbuhan kredit rumah tangga sebesar 0,07%, dan pertumbuhan kredit produktif sebesar 0,11%.Alurnya, ketika suku bunga acuan turun akan diikuti dengan menipisnya biaya investasi. Biaya investasi yang turun berpotensi mendorong permintaan terhadap kredit produktif yang akan mengungkit output baik dari sisi penyerapan tenaga kerja maupun kenaikan pendapatan. Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20—21 Desember 2023, Bank Indonesia masih mempertahankan BI7DRRdi level 6%.Bank sentral juga melaporkan permintaan kredit sampai dengan November 2023 masih kuat dengan pertumbuhan sebesar 9,7% year-on-year (YoY). Angka itu masih sejalan dengan sasaran proyeksi pertumbuhan kredit pada 2023 di kisaran 9%—11%.

Dari sisi permintaan kredit modal kerja (KMK) tumbuh paling kuat 10,2% YoY, diikuti kredit investasi 9,4%, dan kredit konsumsi sebesar 9,1%.Terdapat empat sektor ekonomi yang kreditnya tumbuh digit ganda yakni jasa sosial/masyarakat, pertambangan, pengangkutan, dan jasa dunia usaha. Sementara itu, pergerakan suku bunga kredit pada 2023 cenderung naik. Sampai dengan November 2023, suku bunga rata-rata kredit berada di level 9,29% atau lebih tinggi dari posisi pada akhir 2022 sebesar 9,15%. Menurut Ketua Bidang Pengembangan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas Aviliani, daya serap kredit sedang tidak banyak, terlebih di tengah ketidakpastian jelang tahun politik. ermintaan kredit, katanya akan turut dipengaruhi oleh suku bunga yang cenderung naik bertahap dan diperkirakan melandai pada semester II/2024.“Perbankan sebenarnya sedang tidak mudah. Bank yang tidak efi sien akan susah bertahan di masa yang datang. Karena demi menjaga tetap kompetitif di pasaran, mereka membutuhkan modal yang besar, sementara margin makin tipis karena suku bunga kredit hanya bisa naik terbatas,” katanya.Industri bank memilih target penyaluran kredit yang tak agresif.“Kami masih tetap menargetkan pertumbuhan kredit korporasi sekitar 7% pada tahun ini,” ujar Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. Lani Darmawan.Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Royke Tumilaar menyatakan perseroan optimistis dengan pertumbuhan kredit 9%—10% pada tahun ini. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Teuku Riefky berpandangan saat ini perbankan masih sulit menyalurkan kredit karena sektor riil yang cenderung turun.

Efek Pemilu, Simpanan Kelas Kakap Surut

KT1 08 Jan 2024 Investor Daily (H)
Simpanan dengan tiering nominal di atas Rp 5 miliar atau simpanan jumbo diperbankan pada November 2023 tercatat terus menyusut menjadi Rp4.369 triliun, tumbuh 1,6% secara year on year (yoy). Pertumbuhan tersebut menjadi yang paling lambat sejak awal tahun 2023, salah satunya karena ada penarikan dana untuk kebutuhan kampanye pemilihan umum (Pemilu). Berdasarkan data distribusi simpanan bank umum yang dirilis Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), perlambatan pertumbuhan simpanan kelas kakap sejalan dengan simpanan giro yang  juga tumbuh melambat dibandingkan posisi awal 2023. Per November 2023, giro tumbuh 3% menjadi Rp2.564 triliun, sedangkan pada Januari 2023 tumbuh 15,9% (yoy). Dari data yang dihimpun Investor Daily, simpanan dengan tiering di atas Rp 5 miliar memang terjun bebas dari posisi januari 2023 yang meningkat 11,7% (yoy) menjadi hanya naik 1,6% (yoy) per November 2023. (Yetede)

Aliran Kredit Perbankan ke BUMN Masih Deras

HR1 05 Jan 2024 Kontan
Kepercayaan perbankan dalam menyalurkan kreditnya ke Badan Usaha Milik Negara (BUMN) belum pudar. Hal itu terjadi kendati dalam beberapa tahun terakhir, penyaluran kredit perbankan ke sejumlah perusahaan pelat merah menjadi sorotan publik akibat kredit macet. Direktur Corporate Banking PT Bank Mandiri Tbk Susana Indah Kris bilang, saat ini bank berlogo pita emas itu masih menyalurkan kredit ke perusahaan BUMN. Hingga 30 September 2023, portofolio kredit Bank Mandiri ke BUMN mencapai 41% dari total pembiayaan yang disalurkan BMRI yang sebesar Rp 1.316 triliun. Menurut Kris, saat ini fasilitas kredit yang disalurkan ke BUMN lebih difokuskan untuk pembiayaan proyek-proyek pembangkit listrik, jalan tol, pelabuhan dan bandara. Alasannya, sektor itu memiliki multiplier effect untuk dorong akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Proses pemberian fasilitas kredit tetap mempertimbangkan sektor yang tepat agar  kualitas kredit terjaga baik. Terbukti, per September 2023, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) Bank Mandiri ke BUMN 0,21%, lebih rendah dibanding NPL kredit korporasi 0,96%. Bank BUMN yang juga gencar menyalurkan kreditnya ke perusahaan negara adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Per September 2023, kucuran kredit BNI ke BUMN mencapai Rp 97,9 triliun, naik dari Rp 91,6 triliun pada Desember 2022. Direktur Utama BNI Royke Tumilaar menyebut, penyaluran kredit ke perusahaan BUMN bertujuan mendorong kinerja perusahaan pelat merah. Debitur BUMN yang mendapat kucuran kredit dari BNI antara lain: PLN, Pertamina, Bulog, Pegadaian dan Jasa Marga. Tak hanya bank BUMN, sejumlah bank swasta juga  mengalirkan kredit ke BUMN. Salah satunya PT Bank Central Asia Tbk (BCA). EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn bilang, pihaknya mengalirkan kredit ke BUMN dengan prinsip kehati-hatian. Saat ini kontribusi kredit BCA yang disalurkan ke sektor BUMN tergolong kecil, yaitu 10% di periode September 2023. Padahal, total kredit korporasi BCA di periode tersebut mencapai Rp 343,5 triliun. 

Tutup Tahun Dengan Sederet Capaian Gemilang, BRI Sambut 2024 Dengan Optimisme

KT1 02 Jan 2024 Investor Daily (H)
PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero)  Tbk berhasil menutup tahun 2023 dengan gemilang. BRI berhasil mencatatkan berbagai capaian positif disepanjang tahun 2023, baik dari sisi kinerja yang positif,  pengakuan dari nasional hingga internasional, serta terus menjalankan perannya sebagai agent of development. Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan keberhasilan  BRI menutup tahun 2023 dengan manis tak lepas dari komitmen BRI dalam menciptakan value, baik economic value maupun social value. "Keberhasilan yang telah kita raih tidak hanya mencerminkan ketahanan  kita dalam merespon berbagai tantangan, tetapi juga menegaskan tekad kita untuk terus berkembang dan memberikan yang terbaik bagi negara dan masyarakat Indonesia," ujar Sunarso. (Yetede)

Adu Siasat Bank Berbasis Layanan Digital

KT3 29 Dec 2023 Kompas

Dalam lima tahun terakhir, sejumlah perbankan yang mengukuhkan diri sebagai bank dengan 100 % berbasis layanan digital atau ’bank digital’ mulai bermunculan. ’Bank digital’ juga masuk kategori bank umum, seperti bank-bank lain. Bedanya, bank konvensional memiliki layanan fisik dan digital atau hibrida, maka ’bank digital’ semata-mata bertumpu pada kanal distribusi digital atau berbasis layanan digital secara penuh. Dengan demikian, bank berbasis layanan digital penuh hanya butuh satu kantor utama saja untuk memberikan layanan 1 x 24 kepada seluruh nasabah yang tersebar di berbagai daerah. Artinya, biaya operasional bank berbasis layanan digital akan jauh lebih rendah ketimbang bank berbasis layanan fisik. Beberapa bank berbasis layanan digital penuh, antara lain PT Bank JagoTbk, PT Allo Bank Indonesia Tbk, PT Bank Sea Bank Indonesia, dan PT Bank Neo Commerce Tbk. Terdapat pula bank berbasis layanan kanal digital penuh di bawah korporasi pelat merah, yakni PT Bank Hibank Indonesia milik PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Raya Indonesia Tbk, anak perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Hingga kuartal III-2023, rata-rata bank berbasis layanan digital penuh tersebut mampu membukukan pertumbuhan laba bersih yang menyentuh persentase dua digit, bahkan ada pula yang sampai tiga digit. Hal itu sekaligus membuat saham beberapa di antara mereka meroket di papan bursa efek Indonesia. Dirut Bank Jago Arief Harris Tandjung menyampaikan, kolaborasi dengan ekosistem digital menjadi sesuatu yang tidak terelakkan bagi bank dengan basis layanan 100 % digital. Siasat ini dinilai paling mumpuni mengingat sebagian pangsa pasar telah dikuasai oleh bank-bank hibrida yang sudah lama terjun di lini bisnis perbankan. ”Upaya untuk mengakuisisi nasabah tidaklah mudah bagi bank berbasis layanan digital karena rata-rata calon nasabah sudah punya rekening bank dan mahal sekali jika harus buka cabang dulu. Maka, konsep digital harus diimbangi kolaborasi ekosistem sebagai upaya untuk akuisisi nasabah,” katanya saat ditemui di Kantor Bank Jago, pertengahan bulan ini. Berkolaborasi dengan ekosistem PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk melalui platform GoPay, Bank Jago mampu menjangkau nasabah yang telah masuk dalam ekosistem Gojek dan Tokopedia. (Yoga)

Pemerintah Anggarkan Subsidi KUR Rp 47,78 Triliun

KT3 28 Dec 2023 Kompas
Pemerintah telah menyiapkan anggaran subsidi penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) sebesar Rp 47,78 triliun untuk pembayaran subsidi bunga/subsidi margin KUR tahun berjalan dan pembayaran subsidi bunga KUR periode sebelumnya. Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan di Bali, Rabu (27/12/2023), mengatakan, pemerintah tidak hanya berfokus pada kuantitas penyaluran KUR, tetapi juga kualitasnya. (Yoga)

MEMANTIK KREDIT DI TAHUN POLITIK

HR1 27 Dec 2023 Bisnis Indonesia (H)

Kinerja moncer penyaluran kredit pada tahun ini diperkirakan berlanjut pada 2024 kendati iklim ekonomi masih dibayangi oleh sejumlah tantangan mulai dari ketidakpastian global hingga penyelenggaraan Pemilu. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae mengatakan industri perbankan memiliki bantalan tebal untuk melewati tahun 2024. Dari sisi eksternal, dia menilai konflik geopolitik telah diperhitungkan pasar sehingga diyakini tak akan menggoyah perkembangan industri. Situasi kondusif juga dipicu oleh rencana Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat (AS) yang akan mengakhiri era suku bunga tinggi. Dari sisi internal, penurunan suku bunga acuan The Fed akan diikuti oleh penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia. Penurunan suku bunga ini bisa menjadi mesin bagi penyaluran kredit.

Dia pun menyinggung soal antisipasi dampak berakhirnya restrukturisasi kredit Covid-19 pada pengujung Maret 2024. Hal itu tecermin pada penebalan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) untuk menangkal risiko kenaikan kredit bermasalah. Di sisi lain, dia meyakini kondisi makroekonomi di Tanah Air akan menguat sejalan dengan penyelenggaraan Pemilu yang berjalan lancar. Penyelenggaraan Pemilu akan memperkuat sendi-sendi konsumsi sehingga mendorong kebutuhan kredit. Mengacu pada Analisis Uang Beredar yang dirilis Bank Indonesia hingga November 2023, pertumbuhan periode kali ini melampaui realisasi pada Oktober 2023. Realisasi penyaluran kredit pada November 2023 tumbuh 9,7% secara tahunan dari 8,7% Year-on-Year (YoY) pada bulan sebelumnya. Berbeda dengan OJK dan BI, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Trioksa Siahaan justru memberikan perkiraan awal terkait kredit perbankan dengan angka yang lebih rendah, tumbuh berkisar 5%—7%. Sejumlah bank di Tanah Air membidik target penyaluran kredit double digit pada 2024. Melansir data yang dihimpun dari Bloomberg Selasa (26/12), PT Bank Mandiri Persero Tbk. (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang memproyeksikan pertumbuhan kredit sebesar 10%—12% pada 2024. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) kompak menetapkan target 10% untuk tahun depan.

Kepala Riset PT RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya menyebut meskipun permintaan pinjaman cenderung melambat selama Pemilu, penurunan suku bunga utama bank sentral dapat memacu permintaan dan mempertahankan margin perbankan.   Di sisi lain, BCA akan fokus pada industri pertambangan untuk mengompensasi sektor lain yang berisiko menurun. BCA juga akan meningkatkan pembiayaan properti dan otomotif yang dapat memanfaatkan insentif dari bank sentral. Sementara itu, BRI menilai Pemilu memberikan manfaat bagi kelompok masyarakat ‘akar rumput’ yang menjadi pangsa pasar utama perusahaan. Adapun, BNI menggarap sektor konsumer, transportasi laut, dan proyek penghiliran yang sedang berjalan untuk menjaga pertumbuhan kredit pada 2024. Bank lainnya seperti PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) menargetkan pertumbuhan positif kredit 8%—10% pada 2024. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan pertumbuhan kredit tersebut bakal dimotori oleh ritel dan UMKM. Dia menyebut tantangan utama yang saat ini dihadapi perusahaan adalah terkait rasio margin bunga bersih. Pada bagian lain, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. (BJBR) meyakini segmen konsumsi rumah tangga dan perdagangan bakal tetap melaju.

Bank BUMN Penting dalam Pembiayaan

KT3 26 Dec 2023 Kompas

Bank BUMN punya peran sebagai katalis positif pendorong perbankan nasional lain untuk mendukung pembiayaan transisi energi. Pemerintah tengah mematangkan kebijakan penyaluran kredit bunga rendah lewat bank pelat merah sebagai stimulus ekosistem energi terbarukan dari sisi penawaran. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai, perbankan punya peran vital dalam mendanai proyek transisi energi. Pasalnya, porsi pendanaan untuk mencapai target transisi energi terlalu jumbo jika hanya dibebankan pada APBN dan APBD. Berdasarkan hitungan Laporan Pembaruan Dua Tahunan (Biennial Update Report/BUR), Indonesia memerlukan pendanaan lebih dari Rp 4.000 triliun untuk mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca,termasuk untuk agenda transisi energi, sesuai dengan dokumen kontribusi nasional (NDC) pada 2030.

”Potensi pendanaan transisi energi lewat perbankan masih sangat besar. Jika bank BUMN dapat digerakkan, risiko kredit proyek hijau menjadi lebih baik. Ini juga menjadi katalis bagi bank non-BUMN dan bank lebih kecil untuk proyek transisi energi,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Senin (25/12). Peran perbankan saat ini dalam mendanai proyek energy hijau di Indonesia sudah jauh lebih baik dengan adanya sistem klasifikasi dari OJK bernama taksonomi hijau. Klasifikasi ini berisi daftar kegiatan ekonomi ramah lingkungan yang dapat menjadi pedoman bagi sektor perbankan dalam menambah portofolio hijau mereka. Meski begitu, lanjut Fabby, pemerintah tetap perlu mendorong bank BUMN sebagai motor penggerak pendanaan transisi energi. Ia melihat skala bank pelat merah, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, sangat besar untuk memberikan pinjaman bagi proyek berkelanjutan. (Yoga)

Pilihan Editor