Perbankan
( 2293 )Arab Saudi Minati Akuisisi 20% Saham Bank Syariah Indonesia
Redupnya Bisnis Konsumer Bank Asing akibat Kalah Bersaing
Sederet kantor cabang bank luar negeri melakukan aksi
korporasi berupa pengalihan portofolio bisnis konsumer karena dinilai tidak
lagi mampu bersaing dengan bank nasional di Tanah Air. Meredupnya bisnis konsumer
bank asing tersebut salah satunya disebabkan oleh pertumbuhan lini bisnis
konsumen bank asing yang dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir terus
terkontraksi. Aksi korporasi beberapa kantor cabang bank luar negeri (KCBLN)
tersebut dilakukan oleh Citibank Indonesia (Citi) dan Standard Chartered Bank
Indonesia (SCBI) terkait pengalihan portofolio bisnis consumer banking,
masing-masing kepada Bank PT UOB Indonesia (UOBI) dan PT Bank Danamon Tbk.
Selain itu, ada pula penjualan kepemilikan Commonwealth Bank of Australia (CBA)
di Indonesia atau PT Bank Commonwealth (PTBC) kepada PT Bank OCBC NISP Tbk
(OCBC).
Pengamat perbankan dan dosen Binus University, Doddy Aroefianto,
mengatakan, terdapat dua penyebab yang mendorong aksi korporasi KCBLN tersebut,
yakni perubahan strategi global bank terkait dan akibat persaingan yang semakin
ketat dengan bank lainnya. Kedua alasan tersebut tidak lepas dari berkembangnya
produk perbankan yang ditawarkan, baik oleh bank umum nasional maupun bank
asing lainnya. ”Ada indikasi bank-bank asing itu kalah bersaing. Mereka sudah
berada di Indonesia selama puluhan tahun sehingga strategi yang diambil hanya
untuk kantor cabangnya saja, sepertiCiti yang berpusat di AS dan Standard
Chartered di Inggris. Mereka memilih untuk mengurangi produk retail banking dan
lebih berfokus pada institusional atau commercial banking,” katanya, Senin
(18/12). Bank-bank asing yang membuka kantor cabang di Indonesia, pernah
mengalami masa kejayaan pada produk consumer banking hingga tahun 2010. Setelah
itu, pertumbuhan bank-bank asing tersebut tampak meredup seiring bertumbuhnya
bank-bank umum nasional. (Yoga)
ATURAN FREE FLOAT : RACIK TAKTIK TAMBAH SAHAM PUBLIK
Emiten perbankan yang belum memenuhi kewajiban pemenuhan porsi saham publik atau free float sebesar 7,5% ancang-ancang untuk menyesuaikan dengan regulasi tersebut. Berbagai strategi disiapkan agar porsi saham yang beredar makin besar dan likuid.
Ketentuan mengenai kewajiban perusahaan tercatat dapat memiliki saham free float paling sedikit 50 juta saham dan porsi 7,5% paling lambat 2 tahun sejak aturan diberlakukan pada 21 Desember 2021.Kendati demikian, otoritas bursa memberi kesempatan bagi emiten untuk mengajukan permohonan agar pemegang saham tertentu dapat dikategorikan sebagai pemegang saham free float, tetapi dengan ketentuan kepemilikan berupa portofolio investasi dengan penerima manfaat investor publik.Dari sisi pergerakan harga saham sepanjang tahun berjalan, emiten perbankan yang bakal memenuhi ketentuan pemenuhan saham publik sebesar 7,5% mencatatkan performa yang kurang apik.Hanya saham PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) yang harga sahamnya sepanjang tahun berjalan bergerak naik lebih dari 40%.
Menurut Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan, pihaknya sedang menjalankan tahapan pemenuhan ketentuan free float sesuai dengan arah dari regulator.
Dalam kesempatan sebelumnya, Direktur Compliance Corporate Affairs & Legal CIMB Niaga Fransiska Oei menuturkan bank sedang dalam proses memenuhi ketentuan tersebut dengan menggelar private placement. Aksi private placement tersebut direncanakan sebanyak-banyaknya 10,59 juta saham dengan nilai nominal sebesar Rp50 per saham. Sementara itu, PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) yang tengah berupaya untuk memenuhi ketentuan free float, bakal mengalami perubahan komposisi pemegang saham.Direktur Kepatuhan Bank Oke Efdinal Alamsyah menyatakan pemegang saham pengendali yakni APRO Financial Co. Ltd. sudah berbicara dengan beberapa investor potensial, yang tertarik untuk membeli sebagian saham dari pengendali.
Menurutnya, transaksi jual-beli saham DNAR itu akan dilaksanakan pada akhir tahun ini.
Sementara itu, PT Bank BTPN Tbk. (BTPN) melaporkan telah memenuhi ketentuan free float 7,5% saham publik menyusul Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) melepas kepemilikan sahamnya di BTPN sebanyak 200 juta lembar.Berdasarkan keterbukaan informasi pada Selasa (12/12), SMBC menjalankan transaksi pelepasan jumlah saham BTPN yang digenggamnya sebanyak 200 juta lembar dengan harga penjualan Rp2.600 per saham.
Alhasil, sebanyak 2,45% porsi saham SMBC di BTPN ini merosot seiring dengan upaya BTPN memenuhi ketentuan free float dari otoritas bursa.Demikain halnya dengan PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) yang melaporkan telah memenuhi porsi saham publik.Manajemen BNII melaporkan adanya transaksi penjualan kepemilikan saham UBS AG London sebanyak 13,95 miliar lembar saham dengan harga Rp252 per lembar kepada Multi Dynamic Fund, Global Agility Fund, dan Vital Solution Fund.
Tingkatkan Efisiensi, Konsolidasi Perbankan Berlanjut
Sukuk Mudharabah Subordinasi BSI Oversubscribed
OJK Perintahkan Blokir Rekening Judi Daring
Simpanan Nasabah Tajir Melesat
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat simpanan nasabah di
tier
kisaran Rp 2 miliar-Rp 5 miliar meningkat. Peningkatan di
tier
ini paling tinggi dibanding
tier
lain. Kenaikan ini menunjukkan nasabah perusahaan dan nasabah perorangan tajir memilih memperbesar simpanan di bank. Kondisi ini juga berdampak bagi bisnis
wealth management
perbankan.
Perbankan mencatat tren positif pada dana kelolaan
wealth management
per November 2023. Bank Mandiri Tbk (BMRI) misalnya, mencatat pertumbuhan total
asset under management
(AUM)
wealth management
mencapai hampir 20% secara, menjadi sekitar Rp 130 triliun per November 2023.
SVP
Wealth Management
Bank Mandiri Sista Pravesthi mengatakan, era suku bunga tinggi memberi imbal hasil menarik di kelas aset pendapatan tetap. Ini membuat banyak investor tertarik berinvestasi di kelas aset ini.
Sista merinci, nasabah
wealth management
Bank Mandiri cenderung menaruh dana di obligasi dan reksadana pasar uang. "Terlebih, menjelang tahun politik, nasabah cenderung memilih produk investasi yang aman dan tidak terlalu fluktuatif," terangnya.
Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat, jelang akhir tahun, aliran dana di segmen
wealth management
lebih banyak masuk ke produk
funding. Alhasil ini membuat komposisi dana pihak ketiga (DPK) BNI meningkat.
"Pemilu yang akan berlangsung di Februari 2024 juga berdampak pada penambahan porsi dana likuid nasabah di perbankan," kata Henny Eugenia,
General Manager
Divisi
Wealth Management
BNI.
Direktur Bisnis Konsumer Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBR) Handayani juga mengatakan, bisnis
wealth management
BRI menunjukkan pertumbuhan yang positif, baik dari sisi DPK maupun investasi dan
bancassurance.









