;

Tantangan BTN Merangkul Bank Muamalat

Tantangan BTN Merangkul Bank Muamalat
Bank syariah kembali menjadi buah bibir. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN dikabarkan akan menggabungkan unit usaha syariah (UUS) BTN Syariah dengan Bank Muamalat. Langkah ini, dalam berbagai pemberitaan, disebut sebagai bagian dari proses pemisahan (spin-off) UUS dari induknya. Lo? Padahal sebelumnya BTN Syariah justru dikabarkan akan dimerger dengan PT Bank Syariah Indonesia (BSI). 

Mencuatnya kabar ini juga mendapat komentar dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menolak rencana penggabungan BTN Syariah dengan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Seperti ramai diberitakan di media massa, MUI tak ingin penggabungan ini mengganggu warisan para pendiri Muamalat. Selain itu, MUI berharap, sebagai bank syariah swasta terbesar saat ini, Muamalat tetap eksis di tengah ketatnya persaingan industri perbankan di Tanah Air. Selain adanya penolakan itu, apa saja tantangan rencana merger ini?

Sebelumnya, mari kita amati dulu kinerja bank umum syariah (BUS), di luar unit usaha syariah. Statistik Perbankan Indonesia yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank naik 14,78 persen dari Rp 305,85 triliun per Agustus 2022 menjadi Rp 351,04 triliun per Agustus 2023.  Dana pihak ketiga pun naik 3,95 persen dari Rp 407,27 triliun menjadi Rp 423,37 triliun. Financing to deposit ratio naik dari 75,10 persen menjadi 82,92 persen dalam ambang batas 78-92 persen. Artinya, pembiayaan tumbuh moderat.  

Laba juga tercatat naik 14,57 persen dari Rp 9,47 triliun menjadi Rp 10,85 triliun. Namun kenaikan itu belum sanggup mendorong rasio imbal hasil aset yang justru turun dari 2,04 persen menjadi 2,03 persen, meski masih di atas ambang batas 1,5 persen. Sarinya, kualitas aset turun tipis meski masih cukup tinggi.  Tingkat efisiensi, yang tampak pada rasio biaya operasional/pendapatan operasional, juga membaik, dari 77,34 persen menjadi 76,60 persen dalam ambang batas 70-80 persen yang berarti efisien. Rasio kredit bermasalah membaik dari 2,64 persen menjadi 2,32 persen, jauh di bawah ambang batas aman 5 persen. Ini menggambarkan kualitas kredit bank umum syariah kian baik. (Yetede)
Download Aplikasi Labirin :