;
Tags

Nikel

( 208 )

Moratorium Smelter Nikel Kelas 2

HR1 10 Jun 2023 Kontan (H)

Setelah menyetop ekspor bijih nikel tahun 2020 lalu, smelter yang menghasilkan nickel pig iron (NPI) dan feronikel, menjamur di Indonesia. Namun, pemerintah kini melihat keberadaan smelter nikel kelas dua ini tak memberi nilai tambah besar. Itu sebabnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan melakukan kebijakan moratorium pembangunan smelter nikel khusus kelas dua. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Muhammad Wafid mengungkap, Kementerian ESDM perlu melihat kembali rencana pembangunan smelter NPI dan feronikel yang ada saat ini. Komisi VII DPR juga mendesak pemerintah untuk segera mengevaluasi proyek smelter dengan produk akhir NPI dan feronikel. "Kami minta pemerintah mendorong pemilik fasilitas ini melakukan upgrading teknologi agar menghasilkan produk nikel kelas satu," sebut Ketua Komisi VII DPR Sugeng Suparwoto di depan 20 perusahaan smelter Nikel saat rapat dengar pendapat dengan Kementerian ESDM dan Kementerian Perindustrian, Kamis (8/6) lalu. Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batubara Irwandy Arif mengatakan, saat ini produksi NPI mengalami oversupply. Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan (PUSHEP) Bisman Bachtiar bilang, tujuan utama hilirisasi nikel adalah untuk peningkatan nilai tambah. Hanya, smelter nikel yang ada saat ini tidak optimal dalam memberi nilai tambah. "Rugi pertama, royalti PNBP minerba tidak dapat. Kedua, rugi peningkatan nilai tambah smelter tidak maksimal," ujarnya kepada KONTAN, Jumat (9/6).

PERTAMBANGAN NIKEL, Warga Belum Nikmati Hasil, Cadangan di Sultra Menipis

KT3 09 Jun 2023 Kompas

Cadangan nikel terbukti di Indonesia saat ini tersisa 9,5 tahun dengan jumlah kebutuhan pasokan nikel mencapai 114 juta ton per tahun. Saat semua smelter nikel selesai konstruksi dan berdiri, cadangan nikel terbukti hanya tersisa 5,5 tahun. Di satu sisi, masifnya pertambangan dan pengolahan nikel belum berdampak banyak ke daerah penghasil nikel, seperti Sultra. ”Cadangan nikelterbukti saat ini mencapai 1,085 miliar ton. Sementara jumlah kebutuhan nikel per tahun 114 juta ton untuk menyuplai 37 smelter nikel. Dengan kondisi saat ini, nikel akan habis 9,5 tahun mendatang,” kata Direktur Industri Logam Ditjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin Liliek Widodo di Kendari, Sultra, Kamis (8/6). Ia mengatakan hal itu selepas Rapat Koordinasi Pertambangan bersama Komisi Pemberantasan Korupsi, Pemerintah Provinsi Sultra, pemerintah kabupaten/kota, instansi terkait, serta sejumlah asosiasi pertambangan dan perdagangan.

Kepala Satgas Koordinasi Supervisi dan Bidang Pencegahan KPK Dian Patria menjabarkan, masifnya pertambangan nikel dan pembangunan smelter belum berdampak banyak ke daerah. Menurut Dian, pendapatan hingga angka kemiskinan di daerah tambang masih tinggi, daerah kaya nikel dan lokasi smelter justru memiliki angka kemiskinan yang tinggi selama bertahun-tahun terakhir. Di Konawe, jumlah penduduk miskin mencapai 32 % dari total penduduk, sementara di Kolaka sebanyak 31 %. Sejumlah kepala daerah juga mengeluhkan pengelolaan sektor pertambangan yang belum berdampak signifikan. Sementara dampak pertambangan terus dirasakan masyarakat, baik dalam pelaksanaan maupun dampak bencana yang terjadi. (Yoga)


PENGHILIRAN MINERAL : INVESTOR ASING SIGAP TANGKAP PELUANG

HR1 25 May 2023 Bisnis Indonesia

Masyarakat mesti legawa dengan maraknya kehadiran perusahaan asing yang mengembangkan potensi nikel di dalam negeri. Keterbatasan pembiayaan untuk mengembangkan nikel sebagai salah satu bahan baku baterai kendaraan listrik menjadi tantangan yang baru bisa dijawab oleh investor asing. Minimnya peran perbankan di dalam negeri terkait dengan pembiayaan proyek penghiliran, termasuk untuk nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik, membuat pelaku usaha nasional tidak bisa berbuat banyak. Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia pun mengakui kondisi banyaknya investor asing yang mengelola potensi nikel nasional tidak bisa dihindarkan. “Kita enggak bisa menyalahkan investor , siapa suruh perbankan nasional kita belum mau membiayai industri smelter secara masif. Masalahnya di situ,” katanya, Rabu (24/5). Investor asing sendiri, katanya, lebih banyak bermain di industri pengolahan nikel yang sedang naik daun seiring dengan tenarnya pamor kendaraan listrik. Keengganan perbankan untuk membiayai proyek penghiliran mineral, termasuk nikel sebenarnya dapat dipahami, karena industri tersebut tergolong baru dan penuh risiko. Terlebih, perbankan umumnya terikat dengan komitmen pembiayaan berkelanjutan yang mengesampingkan proyek berbasis energi fosil maupun pertambangan. Persoalan pendanaan memang kerap ‘menyandera’ pelaku industri yang ingin melakukan penghiliran. Tingginya investasi yang dibarengi dengan besarnya risiko pembangunan smelter membuat banyak lembaga pembiayaan menghindari proyek tersebut. Pelaku usaha yang ingin melaksanakan penghiliran sumber daya mineral di Tanah Air harus siap-siap ‘memutar otak’ agar bisa mendapatkan pendanaan, sehingga proyek yang direncanakan berjalan lancar. 

Tekanan lebih berat dialami oleh perusahaan yang ingin mengembangkan smelter nikel yang menerapkan teknologi high pressure acid leach (HPAL).   Roy Arman Arfandy, President Director PT Trimegah Bangun Persada Tbk., dalam kesempatan terpisah sempat menyampaikan bahwa kebutuhan investasi untuk membangun smelter HPAL mencapai US$1,2 miliar. “Waktu awal membangun, terpaksa kami menggunakan dana sendiri. Setelah pabriknya setengah jadi, baru perbankan berani untuk masuk. Memang pasti akan susah , tetapi ketika sudah berjalan akan ada yang masuk,” katanya beberapa waktu lalu. Sementara itu, Irwandy Arif, Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batu Bara, mengatakan peluang untuk mendapatkan pendanaan untuk smelter selalu terbuka. Dia mencontohkan pembiayaan untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara yang juga dihindari oleh mayoritas lembaga pendanaan, tetapi tetap bisa dibangun.

Insentif Akan Dipangkas, Saham Nikel Amblas

HR1 06 May 2023 Kontan

Sentimen negatif membayangi emiten saham produsen nikel di Tanah Air. Pemerintah akan memangkas insentif pajak untuk membatasi investasi produk olahan bijih nikel kelas dua, seperti nickel pig iron (NPI). Artinya, pemerintah tidak akan lagi memberikan pembebasan pajak untuk investasi NPI. Kabar tak sedap ini diembuskan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia. Menurut Reuters, kemarin (5/5), Bahlil menyatakan pemerintah tidak akan lagi memberi tax holiday untuk investasi NPI. Tujuannya untuk membatasi investasi pada produk nikel berkualitas rendah. Sontak, rencana pemerintah tersebut berpotensi menjadi sentimen negatif bagi emiten nikel. Apalagi, sehari pasca Bahlil menyatakan rencananya tersebut, saham-saham emiten nikel kompak longsor pada perdagangan kemarin. Contohnya saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL). Kemarin, saham emiten pertambangan nikel yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia pada 12 April 2023 ini, tergerus 6,96% ke posisi Rp 1.270. Nasib serupa dialami saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), yang anjlok 6,96% ke level Rp 3.610. Tak berbeda dengan sang induk, saham anak usaha MDKA, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) turun 1,86% ke Rp 790. Equity Research Analyst Panin Sekuritas, Felix Darmawan melihat, rencana kebijakan pemerintah kerap menjadi katalis penting bagi pergerakan harga saham emiten komoditas. Tak terkecuali emiten nikel. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani sepakat, penurunan harga komoditas nikel global lebih dominan menjadi sentimen negatif emiten nikel. Selain itu, ada gejolak yang membayangi pasar.

Kisah Sepetak Sawah dalam Kepungan Nikel

KT3 27 Apr 2023 Kompas

Padi berumur dua bulan menghijau di hamparan persawahan di Desa Paku Jaya, Kecamatan Bondoala, Konawe, Sultra. Karmin (54) pada Kamis (30/3) dengan cekatan membuka pintu air lebar-lebar. ”Semoga panen bagus,” kata kakek satu cucu ini. Berjarak 5 km ke arah timur, asap membubung dari puluhan cerobong pabrik pengolahan nikel di kawasan Virtue Dragon Nickel Industrial Park. Di kawasan ini berdiri dua perusahaan pengolahan nikel skala besar, yaitu Virtue Dragon Nickel Industry dan Obsidian Stainless Steel. Perusahaan yang investasinya asal China itu berdiri sejak 2014, disusul pembangunan smelter yang beroperasi pada 2019. Didukung penuh pemerintah, kawasan lokasi pabrik di Kecamatan Morosi itu menjadi proyek strategis nasional. Karmin bercerita, sejak awal perusahaan dibuka, sejumlah lahan warga bersalin rupa menjadi area pabrik, jalanan, dan lainnya.

Lahan tersebut sebelumnya berupa tanah kosong, tambak, dan persawahan. ”Dulu, bersawah lebih bagus ketimbang saat ini. Kami di sini, agak jauh dari pabrik, jadi tidak terlalu berdampak.” jelasnya. Kondisi itu berbeda dengan sawah warga yang berdekatan dengan pabrik. Karmin mengolah sawah seluas 5 hektar. Sesekali, ia juga dibantu tetangga. Sekali menggarap sawah, ia membutuhkan modal Rp 15 juta untuk membeli bibit, pupuk, pestisida, dan keperluan panen. Sekali panen, ia bisa mendapatkan hasil bersih Rp 50 juta. Setiap tahun, ia menanam dua kali. Hasil itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga investasi. Persawahan adalah ”harta” Karmin bersama puluhan petani lain. Ia mengatakan tidak akan menjual sawah ini. Beberapa tahun lalu, ia terpaksa menjual 2 hektar sawahnya untuk menikahkan anaknya.

Berjarak 100 meter dari kediaman Karmin, Edimanto (31), warga Paku Jaya lainnya, sibuk mencacah daging kambing yang awalnya disiapkan untuk Idul Adha mendatang, tapi terpaksa dipotong, lantaran terlihat sakit. Edimanto saat ini hanya mengandalkan ternak dan pekerjaan serabutan. Hampir dua tahun ini Edimanto tidak me- miliki pekerjaan tetap setelah keluar dari perusahaan smelter di dekat kampungnya. Keluarganya dulu mempunyai banyak sawah, tetapi, lambat laun, lahan dijual sedikit demi sedikit hingga tak  tersisa lagi. Seharusnya, kata Edimanto, warga di sekitar tambang dan perusahaan nikel bisa berdaya dan sejahtera, baik dengan bekerja langsung di perusahaan maupun untuk penyediaan logistik. Nyatanya, ia kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup harian. ”Hanya dapat debunya,” ujarnya singkat. (Yoga)


Saham Nikel Terseret Pelemahan Harga di Pasar Global

KT1 27 Apr 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID – Harga saham dua raksasa perusahaan nikel Indonesia PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) tumbang, Rabu (26/04/2023), terseret pelemahan harga nikel di pasar global. Namun, kalangan analis menilai, penurunan harga saham ini hanya bersifat sementara. Pada perdagangan Rabu (26/04/2023), kedua saham itu terkena auto rejection bawah (ARB). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham MBMA turun 6,78% menjadi Rp 825, sehingga kena ARB. Saham anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) ini bergerak dalam rentang Rp 825-900, namun harga tersebut masih di atas harga IPO Rp 795. Perusahaan mencatatkan saham di BEI pada 18 Ap Rp 4.010, turun 0,25% dari hari sebelumnya. Merdeka Copper memiliki 49% saham Merdeka Battery. Sementara itu, saham NCKL terkoreksi Rp 100 (6,92%) dan ditutup di level Rp 1.345. Saham Grup Harita ini bergerak dalam rentang Rp 1.345-1.470. Meski sahamnya anjlok, harga saham perusahaan nikel terintegrasi tersebut masih berada di atas harga IPO Rp 1.250. Market cap perusahaan mencapai Rp 84,8 triliun. Kalangan analis menilai, penurunan saham emiten nikel hanya bersifat sementara. (Yetede)

Pengembangan Kota Wisata Manfaatkan Lahan 160 Ha

KT1 27 Apr 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID- Pengembangan lanjutan Kota Wisata Cibubur, Jawa Barat memanfaatkan lahan seluas 160 hektare (ha). Di sisi lain, proyek properti berskala kota (township) seluas 700 ha itu telah dilengkapi gerbang tol. Menurut Direktur Sinar Mas Land, Herry Hendarta, pihaknya berinovasi untuk menjadikan Kota Wisata sebagai satu-satunya township di Cibubur yang memiliki gerbang tol di dalam kawasan. Gerbang Tol Nagrak di Kota Wisata Cibubur sudah mulai beroperasi sejak Minggu (16/4/2023). Akses tol ini dibuka setelah rampungnya pembangunan Tol Cimanggis – Cibitung (Tol Cimaci) seksi 2A ruas jalan\ Jatikarya – Nagrak. Ruas tol ini terintegrasi dengan Tol Jagorawi, Tol Jakarta – Cikampek dan Tol Depok – Antasari (Tol Andara) yang juga tersambung ke berbagai jalan tol di Pulau Jawa. “Keberadaan tol ini memudahkan masyarakat luas untuk menikmati fasilitas lengkap di Kota Wisata, mulai dari Eka Hospital, Fresh Market, berbagai sekolah ternama, sentra niaga, kawasan CBD, hingga Living World Mall Kota Wisata yang akan segera beroperasi tahun 2023,” ujarnya dalam siaran pers, baru-baru ini. Dia menambahkan, akses tol baru ini juga menjadi alternatif jalan baru bagi para pemudik serta memudahkan distribusi pasokan komoditas bagi warga di Kabupaten Bogor. Kota Wisata Cibubur dikembangkan sejak 1997 dan hingga saat ini telah membangun 48 cluster perumahan dengan desain yang terinspirasi dari eksotika kota-kota besar di dunia di atas lahan seluas 700 ha. (Yetede)

Market Cap MBM Rp 95 Triliun Tertinggi di Sektor Nikel

KT1 26 Apr 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) atau MBM resmi mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (18/4/2023), setelah sukses menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dengan harga pelaksanaan Rp 795 per saham. Analis menilai, valuasi saham MBMA premium dan melampaui rata-rata industri. Dalam debutnya, harga saham MBMA ditutup pada level Rp 885 atau naik 11,32%. Market cap perusahaan ini mencapai Rp 95,58 triliun, tertinggi di sektor nikel lantaran melampaui duapemain lama, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) masing-masing Rp 50,4 triliun dan Rp 65,5 triliun. Jumlah itu juga melewati sang pendatang baru PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel Rp 91 triliun. Berdasarkan riset Samuel Sekuritas, belum lama ini, dengan harga pelaksanaan IPO Rp 795, PER saham MBMA premium, yakni 186,8 kali. Ini dengan asumsi laba bersih per September 2022 sebesar US$ 23 juta disetahunkan. Sementara itu, PER saham ANTM, INCO, dan NCKL mencapai 13,2 kali, 21 kali, dan16,5 kali, merujuk data RTI. “Namun, menurut kami, valuasi tersebut cukup beralasan, mengingat perusahaan ini masih dalam tahap awal dan sebagian besar proyeknya belum mulai beroperasi,” tulis broker itu, dikutip Selasa (25/4/2023). (Yetede)

Menambang Cuan di Tambang Nikel

HR1 15 Apr 2023 Kontan

Pulau Obi tak lain sebuah pulau seluas 2.542 km di Provinsi Maluku Utara. Namun di pulau kecil ini, terdapat komoditas logam yang banyak dibutuhkan berbagai sektor industri, yaitu nikel. Di pulau inilah PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) beroperasi dan menambang peruntungan. Sebagai catatan, perusahaan ini mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (12/4). NCKL menawarkan saham perdana melalui initial public offering (IPO) sebanyak 7,99 miliar saham baru atau 12,67% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Dengan harga penawaran Rp 1.250 per saham, NCKL mengantongi dana segar senilai Rp 9,99 triliun. Mayoritas dana hasil IPO akan dipakai untuk keperluan ekspansi entitas anak dan entitas asosiasi. Saat ini emiten tambang yang terafiliasi dengan Grup Harita itu memiliki dan mengoperasikan dua proyek tambang nikel laterit aktif seluas 5.523,99 hektare (ha) yang berlokasi di Kawai dan Loji, di Pulau Obi. Proyek ini dioperasikan melalui dua konsesi pertambangan. Rinciannya, seluas 4.247 ha di Kawasi, dioperasikan oleh NCKL. Seluas 1.277 ha di Loji yang dioperasikan oleh entitas anak NCKL, yaitu PT Gane Permai Sentosa. Emiten ini memiliki sejumlah proyek yang berkaitan dengan baterai listrik. Salah satunya adalah produksi smelter mixed hydroxide precipitate (MHP). Menurut Presiden Direktur NCKL Roy A Arfandy, per akhir Maret 2023, total kapasitas produksi MHP mencapai 55.000 ton per tahun.

OLAH SISA SLAG NIKEL : NCKL Berpotensi RaupRp5 Miliar Per Bulan

HR1 10 Apr 2023 Bisnis Indonesia

PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) atau Harita Nickel berpotensi mendapat tambahan pendapatan dari produksi sisa hasil pengolahan (SHP) nikel mencapai Rp4,8 miliar per bulan. Tonny Hasudungan Gultom, Direktur Trimegah Bangun Persada, mengatakan bahwa perusahaan yang segera melantai di Bursa Efek Indonesia itu memproduksi batako sebagai salah satu bahan konstruksi, box culvert saluran air, tetrapod untuk pemecah ombak, dan artificial reef yang digunakan sebagai rumah ikan dengan slag nikel. Menurutnya, Harita Nickel sudah mampu memproduksi 40.000 batako per hari dari slag nikel yang dihasilkan smelter perusahaan. Selain itu, produk yang dihasilkan perusahaan dari SHP nikel itu memiliki kualitas premium untuk produk serupa yang kini beredar di pasaran.