Kisah Sepetak Sawah dalam Kepungan Nikel
Padi berumur dua bulan menghijau di hamparan persawahan di Desa Paku Jaya, Kecamatan Bondoala, Konawe, Sultra. Karmin (54) pada Kamis (30/3) dengan cekatan membuka pintu air lebar-lebar. ”Semoga panen bagus,” kata kakek satu cucu ini. Berjarak 5 km ke arah timur, asap membubung dari puluhan cerobong pabrik pengolahan nikel di kawasan Virtue Dragon Nickel Industrial Park. Di kawasan ini berdiri dua perusahaan pengolahan nikel skala besar, yaitu Virtue Dragon Nickel Industry dan Obsidian Stainless Steel. Perusahaan yang investasinya asal China itu berdiri sejak 2014, disusul pembangunan smelter yang beroperasi pada 2019. Didukung penuh pemerintah, kawasan lokasi pabrik di Kecamatan Morosi itu menjadi proyek strategis nasional. Karmin bercerita, sejak awal perusahaan dibuka, sejumlah lahan warga bersalin rupa menjadi area pabrik, jalanan, dan lainnya.
Lahan tersebut sebelumnya berupa tanah kosong, tambak, dan persawahan. ”Dulu, bersawah lebih bagus ketimbang saat ini. Kami di sini, agak jauh dari pabrik, jadi tidak terlalu berdampak.” jelasnya. Kondisi itu berbeda dengan sawah warga yang berdekatan dengan pabrik. Karmin mengolah sawah seluas 5 hektar. Sesekali, ia juga dibantu tetangga. Sekali menggarap sawah, ia membutuhkan modal Rp 15 juta untuk membeli bibit, pupuk, pestisida, dan keperluan panen. Sekali panen, ia bisa mendapatkan hasil bersih Rp 50 juta. Setiap tahun, ia menanam dua kali. Hasil itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga investasi. Persawahan adalah ”harta” Karmin bersama puluhan petani lain. Ia mengatakan tidak akan menjual sawah ini. Beberapa tahun lalu, ia terpaksa menjual 2 hektar sawahnya untuk menikahkan anaknya.
Berjarak 100 meter dari kediaman Karmin, Edimanto (31), warga Paku Jaya lainnya, sibuk mencacah daging kambing yang awalnya disiapkan untuk Idul Adha mendatang, tapi terpaksa dipotong, lantaran terlihat sakit. Edimanto saat ini hanya mengandalkan ternak dan pekerjaan serabutan. Hampir dua tahun ini Edimanto tidak me- miliki pekerjaan tetap setelah keluar dari perusahaan smelter di dekat kampungnya. Keluarganya dulu mempunyai banyak sawah, tetapi, lambat laun, lahan dijual sedikit demi sedikit hingga tak tersisa lagi. Seharusnya, kata Edimanto, warga di sekitar tambang dan perusahaan nikel bisa berdaya dan sejahtera, baik dengan bekerja langsung di perusahaan maupun untuk penyediaan logistik. Nyatanya, ia kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup harian. ”Hanya dapat debunya,” ujarnya singkat. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023