Asuransi
( 339 )Berkelit dari Defisit
Sebagai institusi yang didirikan oleh pemerintah, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memiliki tanggung jawab untuk menjaga neraca keuangan, supaya tidak membawa kerugian kepada negara. Neraca keuangan BPJS Kesehatan memang menjadi hal yang krusial. BPJS Kesehatan harus menanggung beban yang tidak kecil seiring dengan peran vitalnya selaku lembaga yang mengelola program jaminan kesehatan seluruh rakyat Indonesia. Menjaga pemasukan dan pengeluaran yang berimbang bukanlah perkara mudah bagi BPJS Kesehatan. Biaya berobat tak murah. Inflasi kesehatan terus meningkat tiap tahun. Acap kali Dana Jaminan Sosial (DJS) pun tergerus. Posisi surplus memang sempat dibukukan BPJS Kesehatan dalam beberapa tahun terakhir. Mengacu data BPJS Kesehatan yang dipublikasikan pada 5 Juli 2024, posisi aset neto DJS Kesehatan pada 2022 tercatat surplus Rp56,5 triliun. Jumlah itu kemudian naik menjadi Rp56,66 triliun pada 2023. Namun, yang menjadi catatan, beban jaminan kesehatan sepanjang 2023 mencapai Rp158,85 triliun, sedikit di atas pendapatan iuran yang sebesar Rp158,12 triliun. Hal itu berarti beban jaminan telah melampaui penerimaan iuran. Kondisi serupa dikhawatirkan kembali terjadi pada 2024 ini.
Aset neto BPJS Kesehatan memang surplus. Hal ini karena pada 2019—2020 silam, BPJS Kesehatan melakukan penyesuaian iuran yang membuat pendapatan kian tebal.Apalagi kepercayaan masyarakat yang meningkat terhadap layanan BPJS Kesehatan justru turut membuat biaya utilisasi dan klaim tagihan dari rumah sakit membengkak. Hal lain yang harus dihadapi manajemen BPJS Kesehatan ialah besaran iuran. Nominal iuran yang disesuaikan tentu akan menguntungkan bagi neraca keuangan BPJS Kesehatan. Namun, tentu tak semudah itu menaikkan besaran iuran yang membebani masyarakat. Apalagi, masih ada jutaan orang peserta jaminan kesehatan nasional (JKN) yang menunggak. Per 1 Juni 2024, dari total 273 juta peserta JKN, terdapat 58,3 juta peserta yang berstatus non-aktif. Dari data itu, ada 16,9 juta peserta JKN yang non-aktif dan memiliki tunggakan iuran. Memang sejak 2023, BPJS Kesehatan telah mereaktivasi status 7,3 juta peserta non-aktif tersebut. Namun, tagihan iuran atau piutang mereka belum terhapus. Karena itu kita berharap pemerintah dan pihak-pihak terkait merumuskan dan mengeluarkan aturan teknis pemutihan (write off) terkait dengan tunggakan peserta JKN tersebut.
PENDAR PAMOR UNIT-LINKED
Perihal perolehan premi, produk unit-linked memang sedang loyo, tetapi tidak demikian halnya dengan kinerja investasi produk asuransi jiwa ini. Faktanya, performa sejumlah investasi produk asuransi yang dikaitkan dengan asuransi (Paydi) alias unit-linked sepanjang paruh pertama tahun ini, tidaklah buruk. Mengacu pada data Infovesta Utama, kinerja rata-rata Paydi di instrumen pasar uang tumbuh 1,53%, disusul pendapatan tetap tumbuh sebesar 0,13%. Adapun, kinerja rata-rata Paydi di instrumen campuran dan saham memang melemah masing-masing 1,24% dan 1,97%, tetapi capaian itu masih mengungguli kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang tercatat melorot 2,88% sepanjang paruh pertama. Bahkan, jika dibandingkan dengan indeks acuan utama lain seperti LQ45 (-8,54%), Paydi jauh lebih digdaya. Kinerja ini ditopang instrumen yang berkaitan dengan dolar Amerika Serikat (AS) seiring dengan penguatan nilai tukar mata uang Negeri Paman Sam terhadap rupiah. Sebagai contoh, produk asuransi saham PRUlink US Dollar Global Tech Equity Fund menguat 27,71%, disusul Smartwealth Dollar Equity World Opportunities Funds US$ yang naik 23,92%. Tak ayal, para pelaku industri asuransi jiwa pun berharap hal tersebut dapat menjadi momentum untuk kembali mendongkrak kinerja unit-linked, baik dari kinerja investasi maupun perolehan premi.
Maklum saja, sudah beberapa periode ini, premi yang dihimpun melalui produk unit-linked tak lagi mendominasi perolehan premi industri. Data termutakhir dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per kuartal I/2024 menunjukkan premi sebesar Rp19,22 triliun turun 16,36% (year-on-year/YoY), capaian itu kalah jauh dari premi tradisional yang tercatat mencapai Rp26,77 triliun, tumbuh 18,34%.
Arry Herwindo, GM Corsec, Legal, and Corcomm BNI Life mengatakan peningkatan imbal hasil Paydi pasar uang disebabkan oleh meningkatnya suku bunga acuan ke level 6,25%. Adapun, untuk unit-linked jenis saham, masih terdapat beberapa produk yang mencatatkan penurunan lantaran IHSG sedang turun.
Perihal masih seretnya premi unit-linked, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat salah satu pemicunya adalah masih minimnya edukasi. Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu mengungkapkan meski pendapatan premi unit-linked mengalami penurunan, dia optimistis produk ini masih menjadi pilihan bagi sebagian masyarakat. Hal itu mulai terlihat dari catatan premi baru Paydi. Guna mengerek pendapatan premi unit-linked, Togar mengimbau agar pelaku asuransi jiwa harus gencar melakukan edukasi. Para tenaga pemasar juga harus mempelajari tata cara menjual unit-linked yang sesuai dengan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK) tentang Paydi. Sementara itu, Research Analyst Infovesta Capital Advisory Arjun Ajwani menilai prospek kinerja unit-linked saham bakal meningkat pada semester II/2024. Pemicunya adalah sentimen dari potensi pemangkasan suku bunga The Fed pada September yang berpotensi mendongkrak kenaikan harga saham dan juga penurunan yield obligasi sehingga kenaikan harga.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono turut menyoroti masih melemahnya premi asuransi campuran.
KINERJA INDUSTRI PROTEKSI : PRODUKTIVITAS ASET & MODAL ASURANSI UMUM TURUN
Kontraksi laba perusahaan-perusahaan asuransi umum memicu penurunan rasio pengembalian aset dan ekuitas industri asuransi umum pada kuartal I/2024.
Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), rasio tingkat pengembalian aset atau return on asset (ROA) industri asuransi umum pada Januari—Maret tercatat 0,97% pada kuartal I/2024, lebih rendah dari 1,17% pada kuartal I/2023. Hal yang sama juga terjadi pada rasio tingkat pengembalian modal atau return on equity (ROE) yang melandai dari 3,15% pada kuartal I/2023 menjadi 2,54% pada kuartal I/2024. Penurunan kedua rasio ini menggambarkan aset dan modal industri asuransi umum tak seproduktif sebelumnya. Padahal, aset industri asuransi pada kuartal lalu naik 17,4% year-on-year menjadi Rp234,6 triliun. Demikian juga dengan ekuitasnya yang naik 21,3% YoY menjadi Rp90,2 triliun. Direktur Eksekutif AAUI Bern Dwyanto mengatakan laba perusahaan-perusahaan asuransi umum yang menjadi anggota AAUI turun 2,3% YoY menjadi Rp2,3 triliun sepanjang kuartal I/2024. Tidak hanya itu, Bern menyebut penurunan laba juga memengaruhi rasio hasil underwriting, terlihat dari rasio komponen itu pada kuartal I/2024 yang tercatat 14,9%, lebih rendah dibandingkan dengan 16,55% pada kuartal I/2023.
Praktisi Manajemen Risiko dan Ketua Umum Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (Kupasi) Wahyudin Rahman mengatakan penurunan laba asuransi umum pada kuartal I/2024 merupakan rentetan dari lonjakan klaim asuransi kredit dan kendaraan bermotor. Dia menjelaskan penurunan laba dipengaruhi oleh penurunan rasio hasil underwriting dan kenaikan biaya operasional, termasuk beban pajak.
Industri asuransi umum membayarkan klaim Rp11,5 triliun pada kuartal I/2024, naik 16,9% YoY. Asuransi kredit dan kendaraan bermotor menjadi dua penyumbang klaim terbesar, masing-masing Rp1,04 triliun dan Rp302 miliar. Klaim dua lini ini naik 35,5% YoY dan 17,5% YoY. Secara keseluruhan, kinerja premi asuransi umum meningkat 26,1% YoY menjadi Rp32,71 triliun pada kuartal I/2024. Pertumbuhan itu salah satunya didukung oleh pertumbuhan premi asuransi kendaraan bermotor di tengah penjualan otomotif yang lesu pada awal 20024. Anggota Departemen Statistik AAUI Sri Purwaningsih mengatakan asosiasi belum melihat penurunan premi asuransi pada lini bisnis kendaraan di tengah penurunan penjualan kendaraan.
Untung-Rugi ”Unitlink” dan Keragamannya
Selama dua tahun terakhir, industri asuransi jiwa mulai menyesuaikan diri terhadap aturan mengenai penjualan produk andalan mereka, yakni asuransi yang dikaitkan dengan investasi atau unitlink. Meski berakibat pada penurunan pendapatan premi unitlink, masih ada masyarakat yang berminat membeli produk tersebut. Produk asuransi unitlink menawarkan dua manfaat sekaligus, yakni investasi dalam jangka panjang dan untuk berinvestasi dengan berbagai tingkatan risiko, rendah, sedang, hingga tinggi atau agresif. Produk unitlink dengan tingkat risiko paling rendah ialah unitlink pasar uang (cash fund unitlink), dimana perusahaan asuransi menempatkan portofolio investasi nasabahnya pada instrumen pasar uang, seperti deposito berjangka, sertifikat BI dan surat utang berjangka waktu pendek.
Selanjutnya, unitlink pendapatan tetap (fixed income) yang direkomendasikan kepada nasabah dengan profil risiko rendah atau moderat. Dana nasabah ditempatkan 80 % dalam instrumen surat utang atau obligasi dan selebihnya ditempatkan di pasar uang selama 1-3 tahun. Tingkat risiko yang lebih tinggi ada pada unitlink pendapatan campuran (managed fund unitlink). Portofolio nasabah terdiri dari investasi pada pasar saham dan obligasi dengan komposisi tertentu. Fluktuasi di pasar saham membuat jenis ini berisiko tinggi sekaligus berpeluang mendapatkan imbal hasil yang lebih optimal.
Dengan demikian, dana yang disetor para pemegang polis produk asuransi unitlink berpotensi meningkat atau bahkan berkurang. Selama kalender berjalan, produk asuransi unitlink dengan profil risiko rendah hingga sedang masih mencatatkan kinerja positif. Berdasarkan data Infovesta per Mei 2024, rerata kinerja produk asuransi unitlink berjenis pendapatan tetap dan yang dialokasikan ke pasar uang tumbuh, 1,25 % dan 0,31 %. Sementara, kinerja produk asuransi unitlink saham terkontraksi paling dalam sebesar 2,28 %, diikuti dengan produk asuransi unitlink berjenis campuran yang terkontraksi 0,55 %. Dengan demikian, kinerja produk asuransi unitlink dengan risiko lebih tinggi justru turun dibanding yang berisiko rendah. (Yoga)
April, Premi Asuransi Komersial Tumbuh 11,25%
Potensi Besar, IFG Life Garap Segmen Korporasi
PT Asuransi Jiwa IFG (IFG Life) pada tahun ini akan fokus memperkuat bisnis korporasi sebagai anchor business, sekaligus mengembangkan bisnis banc assurance. Pendapatan premi IFG Life per April 2024 mencapai Rp 453,7 miliar atau melonjak hampir tiga kali lipat dibandingkan April 2023. Produk asuransi tradisional, termasuk yang dipasarkan kepada segmen korporasi, menjadi penopang utama pendapatan premi. Produk tersebut berkontribusi sebanyak 95% dari keseluruhan perolehan premi, sedangkan unit-linked atau produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) hanya sebesar 5%.
IFG Life juga mencatat total tertanggung hingga April 2024 skitar 1,1 juta orang, dimana tertanggung kumpulan mendominasi dibandingkan tertanggung perseorangan. Angka tersebut juga naik hampir dua kali lipat dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Peningkatan yang tinggi tersebut merupakan hasil dari pengalihan polis Jiwasraya. Direktur Bisnis Individu IFG Life Fabiola Noralita mengungkapkan bahwa segmen korporasi memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi jangkar utama penopang bisnis atau anchor business, Hingga saat ini, segmen korporasi di IFG Life menunjukkan pertumbuhan yang optimal. (Yetede)
Lapang Jalan Asuransi Swasta
Sependapat dengan BPJS Watch, pakar kesehatan dan peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ahmad Fuady, menilai skema CoB hanya menguntungkan asuransi swasta karena membuka ceruk pasar pasien yang mencari kenyamanan pelayanan. Karena itu, dia meminta pemerintah membuat regulasi yang memastikan bahwa CoB terstandar dan bisa memberikan keuntungan bagi asuransi ataupun kliennya. Di sisi lain, pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Lisman Manurung, berpendapat skema CoB menguntungkan semua pihak. Menurut dia, keterlibatan pihak swasta dalam pelayanan publik sudah jamak. CoB bisa melayani pasien yang butuh fasilitas rawat inap di luar standar BPJS Kesehatan. (Yetede)
30 Perusahaan Asuransi Siap Spin off UUS
AJB Bumiputera Telah Bayar Klaim Senilai Rp 211 Miliar
Bisnis Bancassurance Masih Potensial
Perbankan optimistis bisnis bancasurance bakal cerah tahun ini. Hal itu sejalan perluasan kolaborasi yang dilakukan dengan perusahaan asuransi dan munculnya beragam inovasi baru untuk produk-produk proteksi. BCA misalnya, melihat potensi bisnis bancassurance masih sangat besar karena jumlah masyarakat yang belum memiliki asuransi masih banyak. Oleh karena itu, bank swasta ini optimistis pendapatan komisi dari bancassurance tahun ini akan tumbuh positif. “Lewat kerja sama itu, akan semakin banyak solusi proteksi baru yang bisa ditawarkan BCA ke nasabah,” kata Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn kepada KONTAN, Senin (3/6). Hera menyebut, pendapatan bisnis bancassurance menjadi salah satu pendorong pertumbuhaan pendapatan komisi BCA sepanjang kuartal I-2024 sebesar 8,6% secara tahunanmenjadi Rp 4,5 triliun.
Ia berharap pendapatan non bunga BCA akan terus berlanjut solid hingga akhir tahun dan bisa menopang pertumbuhan laba. Optimisme yang sama juga ditunjukkan Bank BJB. Yuddy Renaldi Direktur Utama bank ini mengatakan, optimisme itu didorong dengan melihat tren kenaikan pendapatan komisi dari bisnis bancassurance sepanjang awal tahun. “Fee based income produk bancassurance dan reksadana naik 8,7% secara tahunan,” ujar Yuddy. Sementara itu, Direktur Utama Danamon Daisuke Ejima mengatakan, pihaknya juga akan terus memperluas kerja sama dengan perusahaan asuransi untuk mendorong pertumbuhan bisnis bancasurance. Pada kuartal I-2024, bank ini meraup pendapatan sebesar Rp 166,40 miliar dari bisnis bancassurance, tumbuh 3,4% secara tahunan.
Pilihan Editor
-
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
24 Jan 2023 -
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut Sepekan Lagi
10 Oct 2022









