Kredit
( 575 )Kredit Usaha Ultramikro untuk Menurunkan Kemiskinan
Pembiayaan kredit untuk usaha ultramikro ditargetkan mencapai 2,2 juta debitor pada 2023. Dengan demikian, pemberian kredit dapat berkontribusi positif terhadap penurunan angka kemiskinan. Pendampingan dan jaminan dalam merintis bisnis dibutuhkan para debitor. Pengusaha ultramikro (UMi) berbeda dengan UMKM. UMi merupakan bisnis yang dikelola perseorangan, belum memiliki legalitas usaha, laporan keuangan, dan akses perbankan. Bisnis yang tergolong UMi contohnya warung kecil, penjual gorengan, dan pedagang asongan.
Direktur Utama Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Kemenkeu Ismed Saputra mengatakan, pembiayaan UMi diarahkan untuk menjangkau pelaku usaha yang berada di bawah garis kemiskinan. Persyaratan hanya memiliki KTP elektronik dan tidak sedang menerima program pemerintah lainnya seperti KUR. ”Perbaikan ekonomi pengusaha UMi terlihat melalui nilai keekonomian debitor (NKD) yang rata-rata naik 3,5 poin setiap tahun,” ujarnya dalam jumpa pers di Kemenkeu, Jakarta, Jumat (16/6). (Yoga)
Pertumbuhan Kredit Ikut Melambat
OJK mencatat penyaluran kredit perbankan sepanjang April 2023 tumbuh 8,08 % menjadi Rp 6.464 triliun, melambat dari pertumbuhan pada Maret 2023 di 9,93 %. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menuturkan perlambatan itu disebabkan oleh kontraksi pertumbuhan kredit modal kerja menjadi 6,55 %. Pada bulan sebelumnya, pengucuran kredit modal kerja masih naik 10 %. “Melandainya pertumbuhan kredit ini dipengaruhi oleh permintaan kredit yang masih terbatas serta pencabutan stimulus Covid-19 yang secara tidak langsung menimbulkan ketidakpastian risiko kredit,” ujar Dian, kemarin, 6 Juni 2023. Stimulus yang dimaksudkan antara lain keringanan restrukturisasi kredit selama tiga tahun terakhir.
Faktor lainnya, secara musiman, tren pertumbuhan kredit pada April memang cenderung melambat. Sektor industri manufaktur atau pengolahan menjadi salah satu sektor usaha yang mengalami pelemahan permintaan kredit. Hal itu ditandai dengan menurunnya posisi penyaluran kredit pada periode Maret 2023 menjadi Rp 1.034,1 triliun, turun tipis dari Januari 2023 sebesar Rp 1.036,06 triliun. Di sisi lain, tingkat suku bunga rata-rata kredit bank kepada industri manufaktur juga naik dari 8,06 % pada Januari 2023 menjadi 8,21 % pada Maret 2023. Adapun tingkat risiko kredit macet (non performing loan) industri manufaktur pada Maret 2023 sebesar 3,99 %, yang berarti lebih tinggi daripada NPL gross pada bulan yang sama sebesar 2,49 %. (Yetede)
Kredit Menganggur Tinggi Bukan Sinyal Pelemahan Ekonomi
JAKARTA, ID – Tingginya fasilitas kredit bank yang belum ditarik (undisbursed loan) bukan merupakan indikasi dari kondisi perekonomian nasional yang melemah atau menghangatnya situasi politik sehingga membuat debitur wait and see. Para bankir optimistis kredit menganggur tersebut akan digelontorkan pada semester kedua tahun ini. Sesuai historikal dan 2022, kredit menganggur mensiklus penyaluran ingkat 25,67% (yoy). Sesuai historikal dan siklus penyaluran kredit, akselerasi biasanya terjadi mulai kuartal III. Selain itu, tingkat kepercayaan debitur terhadap perekonomian kini kian meningkat sehingga mereka tidak ragu untuk ekspansi bisnis pada kuartal II atau III tahun ini. Demikian rangkuman wawan cara Investor Daily dengan Direktur BCA John Kosasih, Corporate Secretary PT Bank Mandiri (Persero) Tbk RRudi As Atturidha, corporate secretary PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Aestika Oryza Gunarto, Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi, serta ekonom dan Associate Faculty Lemabaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto, Jumat (26/05/2023). Mereka menanggapi tingginya undisbursed Loan perbankan. (Yetede)
PROSPEK KREDIT KORPORASI : TIGA SEKTOR MASIH SOLID
Permintaan kredit korporasi di tiga lapangan usaha masih cukup kuat dalam kurun 3 bulan ke depan. Namun, geliat penyaluran pembiayaan ke kelompok usaha besar itu diperkirakan bergerak terbatas. Prospek permintaan kredit yang masih cukup kuat di tiga lapangan usaha mencakup pertanian, konstruksi, dan industri pengolahan. Ketiga sektor ini memiliki kontribusi terhadap total pembiayaan yang cukup besar sampai dengan kuartal I/2023. Secara keseluruhan, penyaluran kredit ke tiga lapangan usaha itu mencapai Rp1.892,7 triliun atau 30% dari total kredit yang disalurkan oleh industri perbankan senilai Rp6.424,4 triliun hingga kuartal pertama tahun ini. Berdasarkan Survei Permintaan dan Penawaran Pembiayaan Perbankan yang dirilis oleh Bank Indonesia pada Senin (22/5), prospek permintaan kredit korporasi di lapangan usaha pertanian paling kuat tecermin dari saldo bersih tertimbang sebesar 8,1% pada April 2023. Permintaan kredit skala jumbo juga diperkirakan kuat di lapangan usaha konstruksi. Besaran angka SBT untuk kredit korporasi sektor konstruksi pada 3 bulan ke depan sebesar 6,1%, lebih tinggi dari posisi awal tahun yang tercatat sebesar 4%.
Adapun sektor lain yang diperkirakan kuat yakni industri pengolahan. Kendati secara tren SBT pada April turun, industri pengolahan memiliki kontribusi besar terhadap penyaluran kredit perbankan. Sampai dengan kuartal III/2023, outstanding kredit di industri pengolahan, baik kredit investasi dan kredit modal kerja mencapai Rp994,1 triliun. Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. Lani Darmawan mengatakan bahwa melihat kondisi April 2023 yang prospeknya cenderung turun. Hal itu tak lepas dari banyaknya hari libur, terutama saat Ramadan dan Lebaran. Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Aestika Oryza Gunarto menyatakan pinjaman segmen korporasi BRI tercatat tumbuh positif sampai dengan April 2023, kendati pertumbuhannya tidak setinggi pinjaman di segmen usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk. Hera F. Haryn menyatakan permintaan kredit modal kerja cukup kuat, terutama jelang Lebaran tahun ini. Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah berpandangan permintaan kredit korporasi masih dalam tren pertumbuhan ditopang pulihnya aktivitas ekonomi pascapandemi.
Penyaluran Kredit Bank Diprediksi Lebih Kondusif
JAKARTA, ID - Penyaluran kredit perbankan diprediksi lebih kondusif seiring angin segar perkembangan ekonomi dan berlanjutnya reformasi struktural. Hal tersebut diyakini mendorong bank sentral menurunkan suku bunga acuannya mulai September 2023, yang pada gilirannya memberi ruang lebih bagi perbankan untuk semakin percaya diri menyalurkan kredit. CEO Citi Indonesia Batara Sianturi memperkirakan, Bank Indonesia akan secara teratur dan terukur menurunkan suku bunga acuan mencapai 75 basis points (bps) di semester II-2023. Kebijakan ini tentu akan memberi dampak signifikan bagi sektor keuangan, khususnya perbankan. “Impact-nya bagus lah, kita melihat nanti dengan kebijakan ini bisa lebih kondusif lagi untuk penyaluran kredit. Likuiditas yang sudah ample ini juga membuat cost of fund (biaya dana) tidak terlalu mahal,” beber Batara kapada Investor Daily, di Jakarta, Senin (15/5/2023). Menurut dia, kondisi perekonomian yang semakin baik ke depan juga akan memberi kepercayaan diri bagi Citi Indonesia dalam menjalankan fungsi intermediasinya. “Kita memang komitmen tumbuh menuju double digit untuk full year. Tinggal lihat nanti BI kapan akan turunkan rate-nya dari 5,75%,” imbuh Batara. (Yetede)
Perbankan Memacu Kredit Konsumer
Segmen konsumer masih menjadi salah satu andalan perbankan untuk mengejar pertumbuhan kredit di tahun ini. Meski di kuartal I, laju pertumbuhan kredit konsumer masih lebih rendah dibandingkan segmen lain.
Bankir menargetkan kredit segmen ritel bisa tumbuh dua digit di tahun ini sejalan dengan pertumbuhan kredit secara keseluruhan. Masa pemulihan ekonomi, terutama momen Lebaran, dimanfaatkan bankir untuk memacu penyaluran kredit konsumer di kuartal II. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit konsumer hingga Maret tumbuh 9,2% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan ini lebih rendah daripada segmen lain. Kredit investasi sudah tumbuh 11,4% dan kredit modal kerja naik 9,52%.
PT Bank CIMB Niaga Tbk, salah satu yang optimistis kredit konsumer tumbuh dua digit tahun ini. Meski di kuartal pertama kredit konsumer baru tumbuh 9,4% secara tahunan, CIMB Niaga optimistis kredit konsumer akan tumbuh lebih tinggi di kuartal II.
Direktur Consumer Banking CIMB Niaga Noviady Wahyudi menyebutkan kredit konsumer kuartal kedua ditopang oleh penyaluran melalui kartu kredit dan personal loan karena adanya momen lebaran.
Senada, PT Bank Mandiri Tbk juga meyakini permintaan kredit konsumer akan terus meningkat hingga akhir tahun. Kuartal pertama 2023, kredit konsumer bank ini tumbuh 10,8% yoy, kredit pemilikan rumah (KPR) yang naik 8,78%.
Bisnis Kartu Kredit Kembali Ngegas
Bisnis kartu kredit perbankan kembali menggeliat, setelah turun signifikan ketika diberlakukan pembatasan aktivitas selama pandemi. Data Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai transaksi kartu kredit perbankan di Februari 2023 mencapai Rp 63,23 triliun. Nilai tersebut tumbuh 40,54% year on year (YoY) dari Rp 44,99 triliun.
Gesekan kartu kredit naik 18,42% YoY dari 51,79 juta kali transaksi menjadi 61,33 juta transaksi. Padahal jumlah kartu yang beredar turun 28,47% YoY menjadi 17,29 juta keping kartu.
Salah satunya, rebound terjadi dari transaksi di sektor terkait pariwisata. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) misalnya, mencatatkan penyaluran kartu kredit senilai Rp 14,2 triliun di Maret 2023. Nilai tersebut naik 14,52% YoY dari Rp 12,4 triliun. Sedangkan pada 2019 hanya Rp 13,8 triliun.
“Adapun rasio kredit bermasalah kartu kredit Bank Mandiri saat ini ada di bawah 1%,” papar Noorman Andrianto, VP Credit Card Group Bank Mandiri, kemarin.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga mencatat outstanding kartu kredit tumbuh 8,9% YoY menjadi Rp 12,9 triliun per Maret 2023. General Manager Divisi Bisnis Kartu BNI Grace Situmeang menyatakan, volume transaksi kartu kredit tumbuh di atas 20% YoY. “Pertumbuhan transaksi terutama di sektor wisata, resto dan hiburan,” papar Grace, Selasa (9/5).
Sementara NPL kartu kredit BNI masih terjaga di bawah 2%. “BNI berharap nilai volume kartu kredit dapat tumbuh sebesar 20%, dengan kualitas NPL yang tetap terjaga dibawah 2%,” jelas Grace.
Wika Dikabarkan Minta Restrukturisasi Ulang
JAKARTA, ID – PT Wijaya Karya (WIKA) dikabarkan meminta restrukturisasi utang kepada sejumlah kreditur. Dari penelusuran CGS-CIMB Sekuritas, sebanyak tiga bank besar, yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI/BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI/BBRI), akan terimbas hal tersebut. Sebab, Bank Mandiri menyalurkan utang Rp 3,8 triliun ke Wika, dengan provisi 3%, sedangkan BNI sebesar Rp 1,2 triliun dengan provisi 6,7%. BNI berencana menaikkan provisi kredit ke Wika 10%. BRI menyalurkan kredit Rp 500 miliar ke Wika, dengan provisi 100%. Terakhir, ada PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang mengucurkan utang Rp 273,5 miliar ke Wika dengan provisi 10%. “Dari kalkulasi kami, setiap kenaikan coverage utang 5%, laba bersih Mandiri turun 0,4%, BNI 0,28%, dan BRI 0,26%,” tulis broker itu dikutip Senin (8/5/2023). Wika belum bisa memberikan komentar soal ini. “Kalau sudah ada informasi detail nanti akan disampaikan,” tulis tim komunikasi perusahaan Wika ketika dikonfirmasi Investor Daily. Berdasarkan laporan keuangan Wika kuartal I-2023, totaliabilitas Wika mencapai Rp 55,7 triliun, turun dibandingkan Desember sebesar Rp 57,5 triliun. Perseroan memiliki pinjaman jangka pendek Rp 9,6 triliun, lalu obligasi Rp 8,6 triliun, dan sukuk mudharabah Rp 2,7 triliun. Pada periode itu, perseroan meraup pendapatan Rp 4,3 triliun, naik dari Rp 3,1 triliun. Wika membukukan rugi bersih Rp 521 miliar, dibandingkan untung Rp 1,3 miliar. (Yetede)
INDUSTRI KEUANGAN Restrukturisasi Kredit Melandai, Perbankan Siapkan Pencadangan
Mulai 31 Maret 2023, restrukturisasi kredit perbankan terdampak Covid-19 untuk sebagian besar sektor berakhir dan diperpanjang hanya untuk sektor dan wilayah tertentu yang masih terdampak. Kendati nilai restrukturisasi kredit kian melandai, perbankan tetap berhati-hati dan mempersiapkan pencadangan yang diperlukan. Direktur Manajemen Risiko PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Ahmad Siddik Badruddin menjelaskan, sampai Maret 2023, nilai restrukturisasi kredit Bank Mandiri Rp 31,2 triliun. Nilai ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang senilai Rp 67,7 triliun. Dari jumlah tersebut, hanya 1,7 % yang termasuk kategori gagal.
”Dari portofolio itu, lebih dari 91 % sudah mampu membayar kembali angsuran kreditnya, baik secara bertahap maupun pembayaran penuh, bahkan juga pelunasan,” kata Siddik, Senin (1/5). Pada saat yang sama, nilai kredit yang berisiko (loan at risk/LAR) Bank Mandiri terus turun. Pada triwulan pertama tahun ini, LAR Bank Mandiri 11,7 persen, turun dibandingkan tahun lalu di 17,2 %. Bank Mandiri juga sudah menyiapkan pencadangan atau LAR coverage sebesar 48,6 %. Dirut BRI Sunarso menjelaskan, dari akumulasi restrukturisasi kredit BRI yang mencapai Rp 263,3 triliun, hanya 2 % yang tidak bisa diselamatkan. Selebihnya masih bisa diselamatkan dan melanjutkan pembayaran. Direktur Manajemen Risiko BRI Agus Sudiarto menambahkan, tingkat LAR coverage BRI mencapai 49 % dan pencadangan antisipasi kredit berperforma buruk (NPL coverage) mencapai 282,49 %. (Yoga)
Penyaluran Kredit dan Obligasi Dorong Laba Bersih Perbankan
Perbankan besar mencatat pertumbuhan laba bersih hingga dua digit pada triwulan I-2023. Kinerja perbankan yang positif ini ditopang pertumbuhan kinerja penyaluran kredit, imbal hasil dari penempatan dana di obligasi, serta pendapatan biaya atau fee dan komisi. Bank swasta terbesar di Tanah Air, PT Bank Central Asia Tbk, pada triwulan I-2023 mencatat laba bersih Rp 11,5 triliun, bertumbuh 43 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menjelaskan, pertumbuhan ini didorong ekspansi volume kredit, perbaikan kualitas pinjaman, imbal hasil yang lebih tinggi dari penempatan dana pada obligasi negara, serta kenaikan pendapatan fee dan komisi yang selaras dengan peningkatan jumlah transaksi.
”Secara umum, kami belum menaikkan suku bunga kredit untuk senantiasa menyediakan suku bunga yang kompetitif di pasar dan mendorong pemulihan perekonomian. Di sisi lain kebutuhan kredit konsumsi juga meningkat seiring periode Lebaran pada triwulan pertama,” ujar Jahja pada paparan kinerja keuangan triwulan I-2023 BCA secara daring, Kamis (27/4). Pada triwulan I-2023, penyaluran kredit BCA mencapai Rp 713,8 triliun, bertumbuh 12,0 % secara tahunan, ditopang berbagai segmen, seperti kredit korporasi yang naik 11,7 % secara tahunan, kredit komersial dan UKM bertumbuh 11,8 % secara tahunan, dan kredit konsumer bertumbuh 12,7 % secara tahunan menjadi Rp 174,5 triliun. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Harga Batu Bara Acuan, Rekor Emas Hitam Terhenti
09 Dec 2021 -
Visa Luncurkan Layanan Konsultasi Kripto
09 Dec 2021 -
UE Ingin Bentuk Kekuatan Dagang Baru
09 Dec 2021 -
Mati Hidup Garuda
13 Dec 2021









