Kredit
( 575 )Kredit Wong Cilik Semakin Menanjak
JAKARTA,ID-Laju pertumbuhan pinjaman terus mengalami perbaikan. Tercermin dari kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang digulirkan sebesar Rp 1.308,9 triliun, tumbuh 7,3 secara tahunan (year on year/yoy) per Juli 2023. Pertumbuhan pinjaman segmen UMKM pada Juli lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang menjadi motor penggerak segmen UMKM. Data Uang Beredar yang dirilis Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa dari skala usahanya, kredit mikro yang dialirkan perbankan mencapai Rp595,3 triliun, melesat 41,5% (yoy) per Juli 2023 yang sebesar 39,8% (yoy). Sementara itu, kredit skala kecil terkoreksi 9,8% (yoy) menjadi 419,3 triliun pada Juli 2023 yang terkoreksi 9,8 (yoy) menjadi 8,6% (yoy) menjadi Rp 294,3 triliun, tapi cenderung membaik dari bulan sebelumnya yang terkontraksi 12,4% (yoy). Sebagai bank yang fokus pada segmen wong cilik, riset PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga mencatatkan bahwa pelaku UMKM semakin optimis dan melanjutkan ekspansinya di kuartal III-2023. Hal tersebut tercermin dari hasil Indeks Bisnis UMKM yang dikeluarkan BRI Reserach Institute. (Yetede)
Industri Asuransi Terbebani Kredit Macet Perbankan
JAKARTA — Industri asuransi umum mengeluhkan lonjakan nilai klaim asuransi kredit oleh perbankan hingga Juni 2023. Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyebutkan klaim kredit macet yang dibayarkan kepada perbankan mencapai Rp 6,13 triliun atau meningkat 31,2 persen dibanding nilai klaim pada Juni 2022, yang sebesar Rp 4,67 triliun. Adapun porsi klaim asuransi kredit mencapai 30,5 persen dari total klaim.
Direktur Eksekutif AAUI, Bern Dwyanto, mengatakan, berdasarkan evaluasi yang dilakukan, salah satu faktor penyebab tingginya klaim tersebut adalah perbankan yang cenderung kurang selektif dalam menyalurkan kredit, hingga berujung pada gagal bayar atau kredit macet yang kemudian membebani perusahaan asuransi. “Ini sebagai dampak dari penilaian risiko dari perbankan di masa lalu yang kurang baik, sehingga kenaikan klaim ini berpotensi masih akan berlangsung,” ujarnya kepada Tempo, kemarin.
Terlebih, pertumbuhan kredit terus ekspansif dan terjadi hampir di seluruh jenis kredit, dari kredit modal kerja, kredit investasi, hingga kredit konsumsi. Pertumbuhan tertinggi utamanya terjadi pada kredit konsumsi, didorong oleh perkembangan kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor (KKB), dan kredit multiguna. (Yetede)
PROSPEK PEMBIAYAAN SEMESTER II/2023 : EKSPANSI UNGKIT LAJU KREDIT
Amunisi kuat dari industri perbankan untuk menyalurkan kredit terlihat belum sepenuhnya diimbangi dari sisi permintaan. Kendati laju pembiayaan pada Juli 2023 meningkat, angka pertumbuhannya masih relatif terbatas.
Berdasarkan data Bank Indonesia, outstanding kredit pada bulan perta-ma semester II/2023 senilai Rp6.663,6 triliun atau tumbuh 8,5% year-on-year (YoY). Jika dilihat secara bulanan, pertumbuhan kredit pada Juli 2023 naik 0,4% dibandingkan de ngan Juni 2023.Pertumbuhan kredit secara bu-lanan sepanjang tahun ini paling kuat terjadi pada Mei 2023 dengan laju hingga 1,76% month-to-month(MtM). Pertumbuhan kredit rata-rata secara bulanan pada tahun ini berada di kisaran 1%.Dengan kata lain, laju per-mintaan kredit memasuki bulan pertama semester II/2023 yang hanya naik 0,4% mencerminkan masih terbatasnya ekspansi oleh korporasi dan daya beli di kelompok perorangan yang belum kembali menguat.Jika dilihat golongan debitur, permintaan kredit korporasi dengan outstanding Rp3.403,4 triliun, naik 7,4% YoY. Sementara itu, kredit perorangan tumbuh 9,5% YoY.Managing Director Head of Insitutional Bank PT Bank DBS Indonesia Kunardy Lie mengatakan bahwa permintaan kredit sangat tergantung dari ekspansi yang dilakukan oleh perusahaan, terutama di tahun politik.
Sebagai bank yang fokus di segmen korporasi, DBS mencermati sektor yang masih menjadi penopang dari pertumbuhan kredit perbankan adalah metal mining, nikel, hingga consumer goods.
Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Jawa Barat dan Banten Tbk. Yuddy Renaldi menuturkan permintaan kredit dari korporasi dan perorangan terlihat meningkat pada awal semester II/2023.“Kami merasakan pertumbuhan kredit sudah terasa dari periode Juni 2023, yang sebelumnya tumbuh 9% pada Mei 2023, naik menjadi tumbuh 9,7% pada Juni. Demikian juga pada segmen korporasi yang tumbuh 14,5% YoY,” kata Yuddy.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menyatakan pertumbuhan kredit yang masih positif sampai dengan Juli 2023 memberi harapan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terjaga baik ditengah ketidakpastian ekonomi global dan tren kenaikan suku bunga global.
Efek Bersih-Bersih KPR Bermasalah
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencetak kinerja datar di semester I-2023. Sejumlah langkah dan strategi akan mendongkrak kinerja emiten ini di separuh kedua 2023.
Analis Sinarmas Sekuritas, Arief Machrus menilai, bank yang fokus di kredit properti ini tidak mau ketinggalan dari bank besar lain. Meskipun menghadapi tantangan, BBTN berupaya membalikkan keadaan di semester II 2023.
BBTN juga bakal meningkatkan kemampuan pada layanan digital perbankan
(e-channel),
meningkatkan kualitas aset, mengupayakan profitabilitas, serta memanfaatkan pendanaan dari perusahaan yang kuat.
Kepala Riset Aldiracita Sekuritas, Agus Pramono menyoroti, BBTN telah melakukan beberapa perbaikan. Biaya dana atau
cost of fund
stabil dan pertumbuhan pendapatan non bunga solid.
Pada semester I-2023, laba bersih BBTN sebesar Rp 1.47 triliun baru mencapai 42.6% dari ekspektasi laba setahun penuh karena
cost of fund
lebih tinggi dan pertumbuhan pinjaman yang lebih rendah.
Secara rinci, pertumbuhan pinjaman dengan KPR bersubsidi meningkat 10,9% secara tahunan. Sedangkan pinjaman perumahan non subsidi tumbuh sebesar 6,5% yoy.
Analis UOB Kay Hian Sekuritas, Posmarito Pakpahan menambahkan BBTN tengah berupaya menyelesaikan penjualan aset bermasalah secara massal sebesar Rp 2,8 triliun di semester kedua 2023.
Ekonomi Tumbuh Mini, Bunga Bank Tetap Seksi
Tren melandainya laju inflasi, tampaknya tak cukup bagi perbankan di Tanah Air untuk mengerek turun suku bunganya. Lihat saja, rata-rata suku bunga perbankan, baik simpanan maupun kredit masih tinggi.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), tren suku bunga kredit masih tinggi. Misalnya, Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) terhadap BI7DRR pada Mei 2023, tercatat berada di 8,79% sama dengan posisi bulan sebelumnya.
Sementara suku bunga simpanan perbankan masih bergerak naik, dengan rata-rata tingkat bunga deposito Rupiah seluruh bank di level 3,83% pada Juni 2023. Data BI sejalan dengan data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Wakil
Direktur Institute for Development of Economics and Finance
(Indef) Eko Listiyanto menilai, secara umum suku bunga DPK bank cenderung naik secara tahunan.
Ada beberapa faktor penyebab suku bunga acuan BI tidak kunjung turun meski inflasi melandai. "Ini karena bunga acuan di negara lain masih cenderung naik, terutama suku bunga Amerika Serikat Fed fund rate," papar Eko, Selasa (22/8).
Ekonom sekaligus Ahli Keuangan dan Pasar Modal Budi Frensidy menimpali, suku bunga domestik masih akan bertahan hingga beberapa bulan ke depan. "Jika bunga The Fed mulai diturunkan, BI juga akan menurunkan bunga acuan. Bunga deposito, simpanan, dan kredit akan mengikuti bunga BI," katanya.
Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rudi AS Atturidha menyebut, kebijakan suku bunga Bank Mandiri dilakukan dengan mempertimbangkan likuiditas pasar, struktur biaya dana, penyaluran kredit, dan tren suku bunga di pasar.
Saat ini, SBDK Bank Mandiri bervariasi mulai dari 7,30% hingga 11,30%. Segmen kredit mikro memiliki SBDK yang paling tinggi, di level 11,30%. Bunga KPR menjadi yang terendah, di level 7,30%.
Terangkat Produk Mikro Pedesaan
Kinerja positif Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dinilai masih berlanjut hingga akhir tahun ini. Salah satu pendorongnya adalah pertumbuhan penyaluran kredit yang dicatatkan oleh bank ini.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, terbentuknya holding ultra mikro memang telah memberikan dampak yang positif bagi BBRI. Ini dilihat dari akses keuangan yang telah diberikan kepada lebih dari 36 juta nasabah sejak berdiri tahun 2021.
Nico melihat, jumlah tersebut meningkat 19,6% secara tahunan atau year on year (yoy). UMi mempunyai target 45 juta nasabah hingga tahun 2024. "Ini akan mendorong pertumbuhan kredit mikro BBRI," ujarnya, Selasa (22/8).
Di sisi lain, pemerintah mengurangi alokasi kredit usaha rakyat (KUR) tahun ini dari Rp 450 triliun menjadi Rp 297 triliun. Ini berkaitan dengan penyaluran dana KUR di semester I-2023 sebesar Rp 10,5 triliun atau hanya 23% dari target awal.
Pemerintah juga telah melakukan beberapa perubahan mendasar pada sistem KUR di tahun ini, termasuk penerapan suku bunga dan margin berjenjang bagi debitur KUR. Kriteria peminjam KUR juga diubah menjadi hanya mereka yang belum pernah mengambil pinjaman komersial.
Kepada Riset Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi melihat, hal tersebut berpotensi membuat BBRI alami penurunan alokasi KUR. Namun, ini dinilai tidak akan berdampak besar. "Karena BBRI telah meningkatkan penyaluran Kredit Umum Pedesaan (Kupedes) yakni produk pinjaman modal kerja dan investasi di tahun ini dengan target pertumbuhan tahunan sebesar 14%-16%," kata Prasetya, kemarin (22/8).
Analis Reliance Sekuritas Lukman Hakim berpendapat bahwa saat ini suku bunga acuan masih tertahan di 5,75%. Alhasil, adanya penuruan suku bunga di akhir tahun membuat likuiditas semakin tinggi. Ini juga berpotensi menjadi katalis positif untuk BBRI dalam menurunkan biaya dana atau cost of fund.
Agustus, Penyaluran Kredit Baru Akan Menggeliat
JAKARTA,ID-Perlambatan kredit yang terjadi pada paruh pertama 2023 tampaknya akan berakhir. Pasalnya, penyaluran kredit baru pada Agustus 2023 diperkirakan kembali menggeliat di seluruh katagori bank dan seluruh jenis kredit. Hal ini tercermin dari Survei Permintaan dan Penawaran Pembiayaan Perbankan yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI). Memasuki paruh kedua tahun ini, utamanya pada Juli, memang masih terlihat perlambatan yang disebabkan korporasi akibat melakukan pelunasan kredit lebih awal. namun, memasuki Agustus 2023, permintaan kredit mulai meningkat. Adapun penyaluran kredit baru pada Juli 2023 terindikasi melambat dibanding Juni, dengan Saldo Bersih Tertimbang (STB) sebesar 45,1% lebih rendah dari Juni sebesar 81,7%. Dari katagori bank, perlambatan penyaluran kredit baru pada Juli diperkirakan terjadi pada seluruh katagori bank. Berdasarkan jenis penggunaan, penyaluran kredit baru pada Juli terindikasi melambat pada seluruh jenis kredit. Faktor utamanya yaitu permintaan pembiayaan dari nasabah, prospek kondisi moneter dan ekonomi kedepan, serta tingkat persaingan usaha dari bank lain. (Yetede)
Kredit Bank ke Sektor Batubara Naik
Pemerintah semakin fokus menggenjot proyek hilirisasi di industri tambang. Bank-bank lokal pun ikut mendukung proyek-proyek pembangkit listrik tenaga uap batubara (PLTU) yang ditujukan untuk menopang industri hilirisasi.
Maklum saja, pembangunan smelter yang tengah digalakkan pemerintah saat ini belum bisa mengandalkan listrik dari PLN. Alhasil, pembangunan PLTU tak bisa dielakkan.
Sementara bank-bank asing tidak bersedia mendanai proyek-proyek hilirisasi di Indonesia jika masih berbau batubara. Oleh karena itu, pembiayaan smelter di Tanah Air akan mengandalkan dukungan bank lokal.
Proyek smelter aluminium di Kalimantan milik PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADRO) misalnya, dikabarkan hanya akan mengandalkan dukungan bank lokal. Menurut laporan
Financial Times
Maret lalu, sejumlah bank asing yang sebelumnya memberikan komitmen mendanai proyek tersebut memutuskan keluar lantaran disebut pasokan listriknya masih akan bersumber dari batubara.
Bank Negara Indonesia (BNI) misalnya mencatat kredit ke sektor batubara setara 3,1% dari total kredit bank only sebesar Rp 644,9 triliun per Juni 2023, dikutip dari materi paparan kinerja semester I-2023. Angka ini naik dari Juni 2022 yang baru mencapai 2% dari total kredit bank only.
Serupa, kredit Bank Mandiri di sektor batubara juga meningkat jadi 2,9% dari Rp 984,7 triliun total kredit bank only per Juni 2023. Pada Juni tahun lalu porsinya baru Rp 17,8 triliun, 2% dari kredit bank only.
Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, sebelumnya mengatakan, BCA pada prinsipnya mendukung penerapan ESG. Bank ini mendukung pembiayaaan pembangunan smelter berbasis PLTU. Cuma, investasi yang dibutuhkan sangat besar.
EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn menyebut pembiayaan BCA ke sektor pertambangan masih kecil. Per Juni 2023, kredit ke sektor batubara hanya 0,4% dari Rp 736 triliun total kredit.
Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Alexandra Askandar mengatakan, pihaknya telah melakukan upaya untuk menurunkan pembiayaan di sektor tak ramah lingkungan. Namun, langkah ini tidak bisa dilakukan begitu saja karena Bank Mandiri juga harus mendukung program pemerintah dalam penyediaan listrik.
Kredit Bank ke Sektor Batubara Naik
Pemerintah semakin fokus menggenjot proyek hilirisasi di industri tambang. Bank-bank lokal pun ikut mendukung proyek-proyek pembangkit listrik tenaga uap batubara (PLTU) yang ditujukan untuk menopang industri hilirisasi.
Maklum saja, pembangunan smelter yang tengah digalakkan pemerintah saat ini belum bisa mengandalkan listrik dari PLN. Alhasil, pembangunan PLTU tak bisa dielakkan.
Sementara bank-bank asing tidak bersedia mendanai proyek-proyek hilirisasi di Indonesia jika masih berbau batubara. Oleh karena itu, pembiayaan smelter di Tanah Air akan mengandalkan dukungan bank lokal.
Proyek smelter aluminium di Kalimantan milik PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADRO) misalnya, dikabarkan hanya akan mengandalkan dukungan bank lokal. Menurut laporan
Financial Times
Maret lalu, sejumlah bank asing yang sebelumnya memberikan komitmen mendanai proyek tersebut memutuskan keluar lantaran disebut pasokan listriknya masih akan bersumber dari batubara.
Bank Negara Indonesia (BNI) misalnya mencatat kredit ke sektor batubara setara 3,1% dari total kredit bank only sebesar Rp 644,9 triliun per Juni 2023, dikutip dari materi paparan kinerja semester I-2023. Angka ini naik dari Juni 2022 yang baru mencapai 2% dari total kredit bank only.
Serupa, kredit Bank Mandiri di sektor batubara juga meningkat jadi 2,9% dari Rp 984,7 triliun total kredit bank only per Juni 2023. Pada Juni tahun lalu porsinya baru Rp 17,8 triliun, 2% dari kredit bank only.
Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, sebelumnya mengatakan, BCA pada prinsipnya mendukung penerapan ESG. Bank ini mendukung pembiayaaan pembangunan smelter berbasis PLTU. Cuma, investasi yang dibutuhkan sangat besar.
EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn menyebut pembiayaan BCA ke sektor pertambangan masih kecil. Per Juni 2023, kredit ke sektor batubara hanya 0,4% dari Rp 736 triliun total kredit.
Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Alexandra Askandar mengatakan, pihaknya telah melakukan upaya untuk menurunkan pembiayaan di sektor tak ramah lingkungan. Namun, langkah ini tidak bisa dilakukan begitu saja karena Bank Mandiri juga harus mendukung program pemerintah dalam penyediaan listrik.
PERUMAHAN, Pendanaan Kreatif untuk Sektor Informal Digulirkan
Pengembangan ekosistem pembiayaan perumahan di Indonesia terus didorong melalui upaya pendanaan kreatif. Pembiayaan kredit pemilikan rumah atau KPR melalui kepesertaan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) dan skema sewa beli digulirkan untuk menjangkau masyarakat berpenghasilan tidak tetap yang kesulitan mengakses kredit. Deputi Komisioner Badan Pengelola Tapera (BP Tapera), Ariev Baginda Siregar, saat dihubungi, Senin (14/8) mengemukakan, saat ini sebagian besar masyarakat berpenghasilan tidak tetap atau pekerja informal tidak memenuhi persyaratan kredit perbankan (unbankable). Skema pembiayaan perumahan untuk sektor informal kini didorong melalui kepesertaan Tapera agar dapat mengakses rumah bersubsidi melalui fasilitas likuiditas pembiayaan
perumahan (FLPP). Kemampuan dan kapabilitas membayar pekerja mandiri atau sektor informal wajib dibuktikan dengan besaran angsuran. Kapabilitas mengangsur pekerja berpenghasilan tidak tetap itu dijembatani dengan menabung di bank. Setelah tiga bulan menabung dan lolos seleksi bank, pekerja informal dapat langsung masuk menjadi peserta Tapera dan mendapat akses pembiayaan rumah bersubsidi. Percontohan pembiayaan di sektor informal kini diterapkan melalui kerja sama BP Tapera dengan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Terobosan pembiayaan lain yang sedang digarap untuk masyarakat berpenghasilan rendah adalah skema sewa beli. Skema sewa beli hunian (rent to own/RTO) merupakan konsep kepemilikan rumah yang menggunakan sistem sewa dalam jangka waktu tertentu dan pada masa akhir sewa, penyewa dapat memiliki rumah dengan cara KPR. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Agenda Kebijakan Biden Akan Tersusun di 2022
29 Dec 2021 -
Tujuh Kantor Pajak Besar Penuhi Target Setoran
14 Dec 2021 -
Rencana Riset dan Inovasi 2022 Disiapkan
14 Dec 2021 -
Yuk, Menggali Utang di Negeri Sendiri
14 Dec 2021








