;
Tags

Investasi lainnya

( 1334 )

IHSG Menguat, Tapi Masih Rentan Koreksi

HR1 27 Mar 2025 Kontan (H)
Menjelang libur Lebaran 2025, IHSG mencatatkan penguatan signifikan selama dua hari berturut-turut. Pada Selasa (25/3) IHSG naik 1,21% ke 6.235,62, lalu melonjak 3,8% ke 6.472,36 pada Rabu (26/3). Kenaikan ini didorong oleh arus masuk dana asing (net buy) sebesar Rp 2,58 triliun, terutama pada saham perbankan besar seperti BMRI, BBCA, dan BBRI. Saham-saham ini menarik minat karena pembagian dividen dengan yield tinggi, seperti dijelaskan oleh Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas.

Meski tren positif ini menggembirakan, analis seperti Ekky Topan dari Infovesta Kapital Advisory dan Indy Naila dari Edvisor Provina Visindo mengingatkan bahwa secara historis IHSG cenderung melemah usai libur panjang. Valdy Kurniawan dari Phintraco Sekuritas juga mewanti-wanti potensi profit-taking di hari perdagangan terakhir sebelum libur.

Sementara itu, Budi Frensidy dari Universitas Indonesia menyoroti perlunya peran institusi besar seperti BPJS Ketenagakerjaan dan Taspen dalam menopang pasar saham saat kondisi bearish. Namun, aturan investasi yang kaku menjadi kendala utama yang perlu direvisi.

Meski IHSG menunjukkan penguatan, investor tetap perlu waspada terhadap potensi tekanan pasca-libur dan ketidakpastian kebijakan fiskal pemerintah.

Ancaman Stagflasi dan Dampaknya bagi Ekonomi RI

HR1 27 Mar 2025 Kontan
Ancaman stagflasi global dalam 12 bulan ke depan kian nyata, berdasarkan survei Bank of America yang menunjukkan 71% fund manager memperkirakan terjadinya kombinasi inflasi tinggi dan perlambatan ekonomi. Tokoh seperti Joe Brusuelas dari RSM menyoroti bahwa kebijakan tarif Trump dan potensi pemangkasan suku bunga The Fed justru bisa memicu inflasi lebih lanjut, yang akan berdampak ke banyak negara, termasuk Indonesia.

Meski Indonesia masih mencatat deflasi dalam dua bulan terakhir, pertumbuhan ekonominya stagnan, dan nilai tukar rupiah terus melemah. Ekonom Budi Frensidy menilai keluarnya dana asing dari pasar saham dan obligasi Indonesia memperkuat tekanan terhadap rupiah. Sementara itu, Yanuar Rizky dari Bright Institute menandai gejala stagflasi dari tren kenaikan harga emas dan tembaga, serta menyarankan pemerintah agar serius menegakkan hukum dan memperkuat kepercayaan investor.

Menanggapi hal tersebut, Noor Faisal Achmad dari Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga daya beli masyarakat agar tidak terpengaruh dampak stagflasi global, karena jika tidak, risiko terhadap ekspor, impor, dan pengangguran akan meningkat tajam.

Mencermati Peluang Investasi dari Dividen Bank

HR1 27 Mar 2025 Kontan
Bank-bank BUMN kompak menaikkan rasio pembayaran dividen dari laba tahun 2024, yang memicu penguatan harga saham mereka setelah sebelumnya tertekan. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) tercatat paling besar membagikan dividen, yakni 85% dari laba bersih, senilai Rp 51,74 triliun. Agustya Hendy Bernadi, Sekretaris Perusahaan BRI, menyatakan keputusan ini sudah memperhitungkan aspek permodalan dan likuiditas yang tetap kuat.

Bank Mandiri (BMRI) juga menaikkan rasio dividen menjadi 78%, dan Darmawan Junaidi, Direktur Utama BMRI, menegaskan bahwa kebijakan ini mencerminkan dukungan pemegang saham dalam mempercepat ekspansi bisnis dan kontribusi terhadap pembangunan nasional. Bank Negara Indonesia (BBNI) dan Bank Tabungan Negara (BBTN) juga mengikuti langkah serupa dengan menaikkan rasio pembayaran dividen.

Menurut Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas, langkah ini tak lepas dari peran Badan Pengelola Investasi Danantara dan proyek strategis pemerintah, serta berdampak positif terhadap minat investor. Namun, Ekky Topan dari Infovesta mengingatkan bahwa penguatan saham bersifat jangka pendek dan bisa bertahan hingga mendekati tanggal cum date dividen.

Kebijakan dividen jumbo ini menjadi angin segar bagi investor sekaligus menunjukkan optimisme perbankan BUMN terhadap keberlanjutan pertumbuhan dan stabilitas keuangan.

Respons Negatif Pasar terhadap Danantara

KT3 26 Mar 2025 Kompas

Pengumuman struktur lengkap pengurus Danantara yang diisi banyak nama besar, sangat dikenal, kapabel, dan kredibel belum sepenuhnya bisa meyakinkan pasar, terbukti dari respons pasar yang cenderung negatif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia yang jeblok jelang pengumuman, bahkan menyentuh titik terendah, memang sempat rebound setelah pengumuman, tetapi akhirnya tetap ditutup melemah. Rupiah dan harga surat utang juga cenderung tertekan. Saham beberapa emiten BUMN yang diintegrasikan ke Danantara juga mengalami penurunan ketimbang hari sebelumnya. Di atas kertas, tim terlihat sangat solid, melibatkan nama-nama tokoh terkemuka nasional dan internasional, atau profesional yang sudah dikenal di pasar finansial. Termasuk para mantan presiden negara ini, sebagai dewan penasihat.

Namun, aksi jual saham tetap terjadi setelah pengumuman struktur manajemen Danantara. Masuknya mantan PM Thailand Thaksin Shinawatra yang pernah terlibat kasus korupsi dan penghindaran pajak, di dewan penasihat Danantara, ikut menyumbang sentiment negatif. Kekhawatiran terkait tata kelola, pengawasan, dan potensi intervensi politik, yang ikut memicu kejatuhan IHSG pada awal peluncuran Danantara, juga masih mengemuka. Kekhawatiran ini ditepis dengan pembentukan struktur pengawasan berlapis untuk menjamin transparansi tata kelola Danantara. Ada dewan pengawas, dewan penasihat, oversight committee, pemantau, komite audit, komite investasi, komite etik, yang seluruhnya diisi tokoh terkemuka yang kredibel. Pada satu sisi, struktur ini dilihat pasar sebagai sinyal kuat  pemerintah terhadap arah masa depan ekonomi nasional.

Para pengamat, masih melihat perangkapan peran dan jabatan operator dengan regulator bisa menjadi celah kelemahan dalam pengawasan. Investor juga masih akan melihat arah kebijakan dan strategi investasi Danantara. Gebrakan pertama Danantara akan menjadi barometer penting kredibilitas lembaga ini. Dalam jangka panjang, keberadaan Danantara sebagai superholding BUMN dan sovereign wealth fund keenam terbesar dunia dengan aset kelolaan 900 miliar USD seharusnya bisa menjadi katalis positif bagi pasar dan mampu menarik investasi dalam jumlah besar ke dalam negeri untuk mendukung program-program ekonomi pemerintah. Semua masih menunggu efektivitas strategi dan aksi korporasi Danantara. (Yoga)


Pekerja IMP Tewas dalam Kecelakaan Kerja akibat Tertimbun Longsoran

KT3 25 Mar 2025 Kompas

Hingga Senin (24/3) pencarian dua korban kecelakaan kerja yang tertimbun longsoran di kawasan industri PT Indonesia Morowali IndustrialPark atau IMIP masih terus dilakukan. Sebelumnya, satu orang ditemukan selamat dan seorang lainnya tewas. Head of Media Relations Department PT IMIP, Dedy Kurniawan mengatakan, tim masih berupaya mencari korban. Ratusan alat berat dan tim SAR gabungan dikerahkan. Peristiwa longsor terjadi di dalam kawasan PT IMIP, Morowali, Sulteng, Sabtu (22/3) pukul 00.10 Wita, yang menyebabkan empat karyawan tertimbun. Namun, malam itu satu orang ditemukan selamat. ”Para korban adalah karyawan perusahaan kontraktor lokal PT Morowali Investasi Konstruksi Indonesia,” kata Dedy Kurniawan, Senin (24/3) petang.

Yayasan Tanah Merdeka, LSM yang berfokus pada isu pengelolaan sumber daya alam, menyebut peristiwa ini terkait pengelolaan tailing. Longsor terjadi di area fasilitas penyimpanan tailing PT QMB New Energy Materials di Kilometer 8. Pengelolaan tailing menggunakan metode fasilitas penyimpanan tailing di tanah mengandung risiko sangat besar dan berbahaya di daerah dengan tingkat curah hujan tinggi seperti di Morowali. ”Tailing berbentuk bubur tanah dengan kandungan air 30 % yang disimpan di fasilitas penyimpanan tailing akan berubah menjadi lumpur ketika ditimpa hujan dengan intensitas lebat. Curah hujan tinggi juga menyebabkan area penyimpanan yang menampung belasan juta ton tailing rentan longsor,” kata Richard Labiro, Direktur Pelaksana Yayasan Tanah Merdeka, Minggu (23/3) malam.

Dia mengingatkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Morowali (2019-2039) yang menyebut Kecamatan Bahodopi, lokasi PT IMIP beroperasi, adalah kawasan rawan bencana gempa bumi, tanah longsor, dan banjir. ”Pemerintah harus meninjau kembali perizinan fasilitas penyimpanan tailing di IMIP. Sebab, peristiwa longsor dan banjir menunjukkan standar keamanan dan keselamatan fasilitas penyimpanan tailing sangat rendah sehingga mengancam keselamatan warga, buruh, dan lingkungan alam,” kata Richard. (Yoga)

Harapan Baru: Danantara dan Pemulihan Ekonomi

HR1 25 Mar 2025 Kontan (H)
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) resmi melengkapi jajaran pengelolanya dan siap menjalankan mandat besar untuk mengelola aset BUMN hingga US$ 900 miliar. Dipimpin oleh Rosal Perkasa Roeslani sebagai CEO dan Pandu Sjahrir sebagai CIO, Danantara dirancang untuk menjadi katalis pertumbuhan ekonomi jangka panjang, dengan fokus investasi pada sektor strategis seperti ketahanan pangan, energi, hilirisasi, dan infrastruktur digital.

Rosal menegaskan bahwa Danantara akan menyalurkan investasi dengan prinsip daya saing, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan ekspor. Sementara Pandu menekankan pentingnya investasi jangka panjang yang berkelanjutan dengan imbal hasil di atas biaya modal.

Sejumlah ekonom menyambut positif langkah Danantara, meski memberikan catatan penting. Haryo Kuncoro memperkirakan dampak nyata Danantara baru terasa dalam 3–4 tahun ke depan. Andry Satrio Nugroho melihat Danantara berfungsi ganda sebagai super holding dan sovereign wealth fund (SWF), namun menyoroti pentingnya kejelasan peran keduanya.

Wijayanto Samirin menyarankan agar Danantara memprioritaskan investasi di Bursa Efek Indonesia, dan menghindari investasi di SBN karena dinilai tidak produktif, terutama di tengah defisit fiskal. Sementara itu, Dradjad Wibowo memberikan tiga catatan: pentingnya tata kelola dan jaminan bagi bank Himbara, optimalisasi sinergi BUMN, serta penerapan prinsip kehati-hatian dalam investasi.

Dengan personel kuat dan mandat ambisius, keberhasilan Danantara akan sangat bergantung pada implementasi strategi yang disiplin dan transparan, serta kemampuannya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan tata kelola investasi yang sehat.

Profesionalisme Danantara

KT3 25 Mar 2025 Kompas (H)

Pada 24 Februari 2025, BPI Danantara resmi menjadi dana investasi kelolaan negara atau sovereign wealth fund (SWF) dengan dana kelolaan hingga Rp 15.000 triliun. Peresmian BPI Danantara mengukuhkan Rosan Roeslani sebagai Chief Executive Officer (CEO), Pandu Patria Sjahrir sebagai Chief Investment Officer (CIO), serta Dony Oskaria sebagai Chief Operating Officer (COO). Sebulan kemudian, BPI Danantara mengumumkan susunan kepengurusannya. berdasarkan rekam jejak profesionalitas di bidang yang bersangkutan dan bebas muatan politis. Ke depan, BPI Danantara berkomitmen untuk mengedepankan prinsip tata kelola yang baik secara profesional, manajemen risiko, akuntabilitas, serta transparansi dalam menjalankan bisnisnya.

Di tengah dinamika pasar yang bergejolak, pengumuman tersebut diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan publik dan pelaku pasar. ”Untuk membentuk tim berdasarkan meritokrasi, yang berdasarkan nama yang baik, itu membutuhkan waktu. Diharapkan, adanya nama-nama ini memberikan confidence, keyakinan, bahwa ini adalah yang terbaik,” kata Rosan dalam konferensi pers. Penunjukan Dewan Penasihat, misalnya, BPI Danantara memilih orang-orang yang memiliki pengalaman di kancah internasional, antara lain konglomerat AS sekaligus Hedge Fund Manager ternama Ray Dalio, dan mantan CEO Asia Pasifik Credit Suisse Helman Sitohang.

Terdapat pula ekonom dan akademisi global dari Colombia University, Jeffrey Sachs; Equity Portfolio Manager Capital Group. F Chapman Taylor; serta mantan PM Thailand, Thaksin Shinawatra. Dalam proses merekrut kandidat, BPI Danantara memanfaatkan jasa perusahaan rekrutmen atau headhunter, baik domestik maupun global, seperti Eghon Zehnder. Kemudian, BPI Danantara memilih satu nama terbaik dari tiga kandidat yang diajukan oleh perusahaan rekrutmen itu. Ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menambahkan, pemilihan sederet nama kepengurusan BPI Danantara terbilang cukup kredibel sehingga dapat menjadi awal yang baik dan cukup menjanjikan bagi Danantara ke depan. ”Unsur profesionalisme dan kredibilitas sangat menonjol,” ujarnya. (Yoga)

Respons dan siasat para Investor Ritel menghadapi Anjloknya IHSG

KT3 24 Mar 2025 Kompas

IHSG anjlok hingga 6,12 % pada 18 Maret 2025, memicu ”trading halt”. Meski sempat pulih, pasar saham masih melemah. Berikut respons dan siasat para investor ritel menghadapi kondisi tersebut : “Penurunan IHSG belakangan ini berdampak besar pada portofolio saya. Sebulan lalu, saat Danantara dibentuk, saya menjual rugi saham bank-bank BUMN dan mengalihkan investasi ke sektor swasta. Jika tren ini berlanjut, saya akan mengamankan dana dalam bentuk tunai sambil menunggu stabilitas pasar. Setelah investor asing kembali masuk, baru saya mempertimbangkan membeli saham lagi,” ujar Nico Himawan (28), pekerja swasta di Pekalongan, Jateng.

“Saya berinvestasi saham jangka panjang, jadi saat IHSG anjlok, saya tidak cut loss dan justru menambah sedikit demi sedikit dengan strategi dollar cost averaging. Meski tren penurunan IHSG memengaruhi portofolio, saya tetap mempertahankan saham, termasuk yang fundamentalnya kurang baik, sambil diversifikasi ke aset lain, ujar Yuliana Jemie, pebisnis UMKM asal Pontianak, Kalbar. Menurut Sem (28) karyawan swasta di Jakarta, “Untuk mengantisipasi penyusutan nilai saham, saya mulai mengalihkan dana ke emas dan deposito, yang dinilai lebih aman dan menguntungkan. Ketidakpastian kebijakan setiap pergantian presiden membuat investor ragu. Pemerintah perlu menciptakan kebijakan yang stabil dan berkelanjutan agar investor percaya, termasuk menunjukkan komitmen dengan menindak tegas koruptor.”  (Yoga)

Risiko Independensi Akibat Dorongan Pemerintah agar BI Mendukung Ekonomi

KT3 24 Mar 2025 Kompas

DPR tengah memproses revisi UU No 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan atau UU P2SK. Komisi XI DPR berencana mengajukannya sebagai RUU inisiatif pada masa sidang berikutnya. Proses revisi UU P2SK semula sebatas untuk menindaklanjuti hasil putusan uji materi (judicial review) MK atas UU P2SK alias omnibus law Keuangan. Sejumlah pasal itu terkait Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan OJK. Namun, pembahasan berpotensi melebar. Belakangan, DPR ingin sekaligus merevisi sejumlah pasal lain yang berkaitan dengan peran BI, terutama seputar tugas bank sentral tersebut dalam mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menjelaskan, DPR ingin memanfaatkan momentum revisi UU P2SK untuk turut mengubah fungsi BI melalui pembahasan politik yang mendalam.

Dalam hal ini, peran BI menjaga stabilitas sistem keuangan akan diperkuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan. ”Kami sedang membicarakan (penambahan peran BI), tetapi belum memutuskan, dan sedang diformulasikan. Untuk itu, saya minta tidak dijadikan bahan spekulasi baru,” ujarnya dalam Capital Market Forum 2025 di Jakarta, Jumat (21/3). Pengajar di Departemen Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai, pemerintah perlu instrument kuat untuk mendorong pertumbuhan, tetapi bukan dengan menjadikan BI sebagai sumber pendanaan fiskal. Fokus sebaiknya pada reformasi pajak dan efisiensi belanja, sementara BI tetap menjaga stabilitas inflasi, nilai tukar, dan sistem keuangan demi menjaga independesinya dari campur tangan pemerintah yang berkuasa. (Yoga)

Pasar Modal Tak Bisa Dipoles, Investor Tak Bisa Dibeli

KT3 24 Mar 2025 Kompas

Presiden Prabowo, dalam Sidang Paripurna Kabinet Merah Putih di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (21/3) berseloroh tentang volatilitas harga saham di bursa Indonesia. Menurut dia, harga saham boleh saja naik turun, yang terpenting, pangan dan negara tetap aman. Pernyataan ini menanggapi penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih dari 5 % ke level 6.073 dalam waktu kurang dari sehari pada 18 Maret 2025. Media nasional hingga media sosial memviralkan kabar ”IHSG Anjlok”, yang mengingatkan publik pada situasi serupa di awal masa pandemi Covid-19. Aksi jual oleh investor asing yang membuat pasar melemah sejak Oktober 2024 pada hari itu memuncak.

Justru di tengah tren positif pasar saham di banyak negara. Tak heran jika publik kemudian menuding faktor internal sebagai penyebab utama. Pasar yang dibangun atas dasar kepercayaan itu belakangan terusik oleh sejumlah kebijakan ekonomi dan politik pemerintahan baru. Mulai dari penambahan kementerian dan lembaga, efisiensi anggaran ASN demi program Makan Bergizi Gratis, konsolidasi aset BUMN untuk Danantara, rumor pergantian Menkeu Sri Mulyani, hingga pengesahan revisi UU TNI yang menghidupkan kembali nostalgia dwifungsi ABRI. Di sisi lain, masyarakat menengah ke bawah tengah dilanda kekhawatiran akibat penurunan pendapatan dan ancaman PHK yang semakin meluas.

Kondisi ini tecermin dalam survei Indeks Kepercayaan Konsumen oleh BI yang terus menurun sejak November dan mencapai angka 126,4 pada Februari 2025. Gejala pemburukan ekonomi juga tampak dari sisi fiskal. Hingga Februari 2025, penerimaan negara dilaporkan turun 20,85 % disbanding periode yang sama tahun sebelumnya, disebabkan merosotnya penerimaan perpajakan sebesar 30,19 % dibanding capaian dua bulan pertama tahun 2024. Ketika kondisi tersebut memperburuk kinerja IHSG, pemerintah mengklaim bahwa kondisi fiskal negara masih kuat. Pasar tidak bisa diminta untuk berpura-pura bahwa ekonomi sedang baik-baik saja ketika kenyataannya tidak demikian.

Menurut ekonom Agustinus Prasetyantoko, pasar memiliki inteligensinya sendiri. Karena itu, investor tidak bisa ”dibeli” hanya dengan narasi atau optimisme sepihak. Pelaku pasar, khususnya investor, cenderung lebih cepat dan cerdas dalam membentuk ekspektasi terhadap prospek ekonomi, membaik maupun memburuk. Tak heran jika respons pelaku sektor keuangan hampir selalu mendahului kenyataan di sektor riil. Ketika ekspektasi telah dijawab oleh realitas di lapangan, strategi membentuk persepsi positif saja tidak lagi memadai. Terlebih jika sosok kunci dalam perekonomian, seperti Presiden, justru bersikap berseberangan terhadap reaksi pasar yang telah lebih dahulu membaca kondisi riil. (Yoga)