;
Tags

Investasi lainnya

( 1334 )

Investor Beralih ke Cash, Saham Mulai Mengecewakan

HR1 10 Apr 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia tengah mengalami tekanan berat, ditandai dengan penurunan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 15,71% sejak awal tahun 2025. Di tengah volatilitas tinggi dan aksi jual besar-besaran oleh investor asing senilai Rp 34,89 triliun, banyak investor mulai mengalihkan portofolio mereka ke aset yang lebih aman seperti emas, yang justru mencatatkan kenaikan harga lebih dari 14% secara tahunan.

Hans Kwee, pengamat pasar modal, menilai bahwa di tengah ketidakpastian dan ancaman resesi, banyak investor memilih mengamankan dana dalam bentuk cash, termasuk dengan menjual emas sebagai likuiditas cadangan. Ketika pasar saham mencapai titik rendahnya, uang tunai ini bisa dimanfaatkan untuk membeli saham berharga murah.

Sementara itu, Budi Frensidy dari Universitas Indonesia menyarankan agar investor tetap berinvestasi di saham yang menawarkan dividen besar, menggunakan dana yang tidak akan digunakan dalam waktu dekat. Ia melihat posisi IHSG yang sudah menjauh dari angka 6.000 menandakan bahwa harga saham sudah relatif murah.

Oktavianus Audi, VP Kiwoom Sekuritas, menekankan agar investor menghindari saham dengan utang dalam dolar AS yang tinggi, serta perusahaan dengan rasio utang terhadap ekuitas (DER) di atas 1x. Ia juga menyarankan untuk melakukan diversifikasi aset ke instrumen bebas risiko seperti obligasi pemerintah dan emas.

Eko Endarto, perencana keuangan dari Finansia Consulting, mengingatkan investor untuk tidak menempatkan dana di instrumen berisiko tinggi dalam situasi pasar seperti sekarang. Ia merekomendasikan alokasi dana yang proporsional tergantung pada profil risiko, dengan fokus utama pada cash dan emas.

Meski pasar saham belum menarik, para ahli sepakat bahwa strategi investasi yang hati-hati, berbasis likuiditas tinggi dan diversifikasi ke aset safe haven seperti emas, adalah kunci menghadapi tekanan pasar saat ini.

OJK Menyambut Baik Mengembangkan Ekosistem Bank Emas

KT1 09 Apr 2025 Investor Daily
OJK menyambut baik apabila terdapat bank yang akan mengajukan permohonan izin untuk melaksanakan kegiatan usaha bullion. Ini karena Indonesia memiliki potensi untuk pemanfaatan komoditas emas dan pengembangan ekosistem bullion yang terintegrasi. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, kegiatan usaha bullion salah satunya mencakup pembiayaan emas. Apabila terdapat pengajuan permohonan suatu bank untuk melaksanakan kegiatan usaha bullion kepada OJK, evaluasi akan segera dilakukan dan ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pada tahun 2023, Indonesia berada di posisi kedelapan sebagai negara penghasil emas terbesar dengan produksi tahunan mencapai 110-160 ton dan berada di peringkat keenam sebagai negara dengan cadangan emas terbesar. "Dengan jumlah cadangan yang besar dan produksi emas yang solid, Indonesia dapat mengoptimalkan monetisasi emas untuk mendorong perekonomian nasional  yaitu melalui pembentukan kegiatan usaha bullion," jelas Dian. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti, intrusmen investasi emas menjadi salah satu pilihan masyarakat. Kegiatan usaha bullion menjadi bentuk diversifikasi produk jasa keuangan yang memanfaatkan moneitasasi emas sebagai sumber pendanaan dalam rangka mendukung kebutuhan pembiayaan pada rantai pasok emas dalam negeri. Mulai dari sektor pertambangan, pemurnian, manufaktur, hingga penjualan emas ke konsumen ritel. (yetede)

Chandra Asri Group Raksasa Energi dan Kimia Asia Tenggara

KT1 09 Apr 2025 Investor Daily (H)
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) segera bertransformasi menjadi pemain utama sektor energi dan kimia di kawasan Asia Tenggara  seusai resmi menuntaskan akuisisi saham Shell Singapore Pte. Ltd (SSPL) di Shell Energy and Chemicals Park (SECP) yang kini berubah nama menjadi  Aster Energy and Chemicals Park di Singapura. Aster yang disebut mam[u menghasilkan pendapatan US$ 8-10 miliar atau setara Rp168 triliun per  tahun akan mulai terkonsolidasi ke Chandra Asri roup pada 1 Juli atau awal kuartal III-2025. Transformasi gigantis TPIA selepas akisisi Aster akan dapat terindentifikasi salah satunya dari sinergi yang terbangun. Di mana, Chandra Asri Group dan Glencore-perusahaan sumber daya alam terbesar yang manjadi mitra TPIA dalam mengambilalih Aster- bakal mampu memanfatatkan dan offtake Aster, serta mencari peluang baru guna meningkatkan keuntungan. Direktur TPIA Suryandi menyebut, ada tiga inisiatif utama untuk memastikan sinergi tersebut berjalan. Pertama, sinergi dan optimisasi basket minyak mentah. Artinya, sinergi ini akan membuat Glencore dapat menawarkan minyak mentah paling optimal atau termurah dari 31 jenis minyak mentah dan Shell International Eastern Tranding Company (SIETCO) sebagai cabang perdagangan perusahaan energi Shell dapat membawa sembilan jenis minyak mentah. (Yetede)

Stimulus Ekonomi Jadi Harapan Investor

HR1 09 Apr 2025 Kontan (H)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan tajam pada perdagangan pertama setelah libur Lebaran, Selasa (8/4), sebagai dampak langsung dari kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS). IHSG sempat turun lebih dari 9% hingga menyebabkan trading halt, sebelum ditutup melemah 7,90% di level 5.996,14. Dana asing pun keluar dari pasar sebesar Rp 3,87 triliun.

Meskipun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah meluncurkan berbagai stimulus seperti penyesuaian batas auto rejection, relaksasi buyback, dan penundaan short selling, langkah ini dinilai belum cukup oleh para pengamat pasar.

Hendra Wardhana, Pengamat Pasar Modal, menekankan pentingnya respons cepat dan terkoordinasi dari pemerintah serta otoritas terkait untuk mengembalikan kepercayaan investor. Menurutnya, pernyataan resmi atau intervensi langsung lebih efektif dibanding sekadar mengandalkan sistem otomatis.

Parto Kawito, Direktur Infovesta Utama, juga mengungkapkan bahwa investor masih khawatir terhadap kondisi fundamental ekonomi, meski hubungan perdagangan Indonesia-AS relatif kecil. Ia menyatakan bahwa kebijakan Presiden AS Donald Trump tetap berdampak besar terhadap pasar Indonesia.

Edwin Sebayang, Direktur Purwanto Asset Management, menambahkan bahwa dominasi sentimen ketakutan di pasar saat ini tidak bisa dilawan hanya dengan stimulus yang tidak terpadu. Ia menyoroti pentingnya koordinasi yang solid antar lembaga.

Sementara itu, Daniel Agustinus dari Kanaka Hita Solvera menyarankan agar pemerintah menginstruksikan lembaga dana besar seperti BPJS Ketenagakerjaan dan dana pensiun untuk meningkatkan porsi investasinya di saham sebagai langkah stabilisasi.

Secara teknikal, analis Ezaridho Ibnutama dari NH Korindo Sekuritas memperkirakan IHSG masih berpotensi melemah hingga level support mayor di kisaran 5.370 jika tekanan pasar berlanjut.

Dengan kondisi ini, kepercayaan investor dan tindakan cepat dari pemerintah akan menjadi kunci untuk membalikkan arah pasar yang sedang lesu.

Ketahanan Valas Diuji oleh Melemahnya Rupiah

HR1 09 Apr 2025 Kontan
Kebijakan agresif Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam mengenakan tarif impor ke banyak negara menyebabkan pelemahan nilai tukar dolar AS, yang kemudian mendorong penguatan sejumlah mata uang utama dunia. Indeks dolar AS sempat naik ke 103,26 di awal pekan, namun secara mingguan tetap mengalami pelemahan.

Menurut Sutopo Widodo, Presiden Komisioner HFX International Berjangka, pelemahan dolar AS berkaitan erat dengan kekhawatiran akan potensi resesi ekonomi di AS akibat kebijakan perdagangan Trump. Ia menjelaskan bahwa penguatan mayoritas mata uang utama seperti euro (EUR), franc Swiss (CHF), poundsterling (GBP), dan yen Jepang (JPY) merupakan respons alami atas tekanan terhadap dolar.

Sutopo juga menyoroti potensi rebound mata uang Inggris (GBP) jika negara tersebut mampu memperbaiki ketidakstabilan fiskal dan prospek ekonominya. Di sisi lain, yen Jepang dan CHF tetap menjadi incaran investor karena statusnya sebagai mata uang safe haven.

Lukman Leong, Analis dari Doo Financial Futures, merekomendasikan investasi di CHF dan JPY karena keduanya masih mendapat dukungan sebagai mata uang aman meskipun menghadapi tekanan. Ia menyarankan strategi swing trading untuk investor agresif yang siap menavigasi volatilitas tinggi pasar global, sementara investor jangka panjang sebaiknya menunggu situasi lebih stabil.

Gejolak kebijakan perdagangan AS telah menciptakan ketidakpastian pasar global dan mendorong fluktuasi tajam di pasar mata uang, dengan peluang bagi investor jangka pendek namun risiko tinggi bagi investor jangka panjang.

Kebijakan Tarif Resiprokal Donald Trump Diproyeksikan Menghantam Pasar Saham Indonesia

KT1 08 Apr 2025 Investor Daily
Kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diproyeksikan turut menghantam pasar saham Indonesia saat kembali memulai perdagangan perdana pada Selasa (8/5/2025) usai libur panjang Lebaran 2025. Ditengah kondisi pasar yang diperkirakan mengalami kontraksi, dengan IHSG BEI diperkirakan mengalami trading halt dan menguji level support psikologis 6.000, kalangan analis menyarankan agar investor melakukan diversifikasi aset dan selektif pada saham berfundamental solid yang memiliki good corporate governance (GCG) bagus. Vi Marketin, Startegy, and Planning Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi Kasmarandana mengatakan, di tengah kondisi pasar yang tertekan saat ini, pelaku pasar diharapkan bisa lebih bijak dalam memilih porfolio investasi.

"Investor  dapat wait and see saat ini, dengan melakukan diversifikasi aset, khusunya safe havens asset," ujar dia kepada Investor Daily. Meski demikian, Audi melihat, masih ada potensi untuk mengakumulasi saham tertentu. "Kami meyakini jika kinerja kuartal 1-2025 emiten blue chip masih resilen, dapat menjadi peluang akumulasi," tutur dia. Dalam pandangan Audi, pasar akan mengimplementasikan dampak dari kejadian pengenaan tarif resiprokal Trump di hari pertama pembukaan pasar pada Selasa (8/4/2025) usai libur Lebaran panjang.  "IHSG kami perkirakan bergerak cenderung melemah di tengah tekanan, dengan support psikologis di rentang 6,00-6.100, dan resitance 6.600-6.670. Tekanan asing juga berpotensi berlanjut seiring meningkatnya ketidakpastitan ekonomi," ungkap dia. (Yetede)

Perbankan Waspada: Likuiditas Menuju Titik Kritis

HR1 07 Apr 2025 Kontan
Kondisi likuiditas perbankan nasional, khususnya pada kelompok bank besar (KBMI 4), menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, dengan rasio kredit terhadap simpanan (LDR) beberapa bank besar telah melewati ambang batas sehat 92%. Bank Negara Indonesia (BNI) mencatat LDR tertinggi sebesar 95,7% pada Februari 2025, yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pertumbuhan kredit (10,2%) dan dana pihak ketiga (DPK) yang hanya tumbuh 1%. Kondisi serupa dialami Bank Mandiri dengan LDR 92,5%.

Everson Sugianto, Investment Analyst dari Stockbit, menilai bahwa persoalan likuiditas ini bersifat industri, bukan hanya terjadi pada satu atau dua bank saja. Namun, ia menyebut Bank Central Asia (BCA) masih berada dalam posisi likuiditas yang lebih aman, meski likuiditasnya ikut mengetat. BCA mencatat pertumbuhan kredit 14% dengan pertumbuhan DPK hanya 3,8%.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga masih mempertahankan LDR di bawah batas kritis, yakni 88,26%, menunjukkan posisi yang relatif stabil dibandingkan bank lainnya.

Sementara itu, M. Ashidiq Iswara, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, menjelaskan bahwa Mandiri tengah mengupayakan efisiensi dan penguatan struktur pendanaan dengan fokus pada peningkatan dana murah dari segmen wholesale dan ritel, serta menjaga pertumbuhan kredit tetap sejalan dengan kemampuan DPK.

Meskipun sebagian bank masih menunjukkan posisi likuiditas yang aman, tekanan terhadap likuiditas secara umum menjadi tantangan serius yang perlu ditanggapi dengan strategi pendanaan yang cermat dan terukur.

Investasi Emas Batangan

KT3 04 Apr 2025 Kompas

Emas menjadi salah satu pilihan investasi yang evergreen, dari dulu hingga sekarang. Apalagi belakangan ketika situasi perekonomian labil, nilai emas yang stabil naik semakin dilirik. Wajah Abdul Rosad (34) dan istrinya Yenni Kristayanti (29) tampak semringah setelah menyelesaikan transaksi pembelian emas di gerai PT Aneka Tambang Tbk (Antam), Pondok Indah Mall (PIM) 1, Jaksel, Rabu (2/4).  Pasangan muda itu jadi bagian warga yang antre untuk membeli emas. Keduanya mengantre hampir satu jam, tapi mereka puas karena akhirnya mendapatkan emas dan menilai baik pelayanan petugas. Kedatangan mereka ke PIM, awalnya hanya sekadar jalan-jalan dan mengisi waktu libur Lebaran. Saat turun dari lantai satu ke lantai GF, Abdul dan Yenni melihat antrean pengunjung. Tanpa pikir panjang, Abdul dan Yenni ikut mengantri.

”Ini pertama kali kami membeli emas. Jadi, ini investasi emas pertama kami. Sebelumnya ada sih, tapi itu wujud kayak perhiasan kalung dan gelang, tetapi itu bukan dari emas Antam,” kata Yenni, yang menunjukkan enam keping emas yang masing-masing seberat satu gram. Alasan membeli emas Antam karena melihat nilainya terus naik. Dengan demikian, instrument itu akan menjadi investasi cerah dan menjanjikan untuk masa depan. Investasi emas, menurut keduanya, juga akan sangat berguna untuk membiayai keperluan mendesak di masa depan. Misalnya untuk keperluan persalinan dan biaya sekolah. Ronny (58), pengunjung lainnya, juga menilai emas menjadi investasi menjanjikan untuk masa depan. Ronny bersama istri dan anak perempuannya sengaja datang ke PIM 1 untuk membeli emas sembari menikmati masa libur Lebaran. (Yoga)

Untung Rugi Investasi Besar untuk AI

KT3 03 Apr 2025 Kompas

Sejumlah korporasi global berinvestasi besar-besaran mengembangkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Tak sedikit investor skeptis apakah besarnya investasi pengembangan AI sepadan dengan manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh pada saatnya nanti. Melansir The Economist, raksasa-raksasa global berinvestasi besar-besaran dalam pengembangan AI. Mereka adalah Alphabet, Amazon, Apple, Meta, dan Microsoft. Pada 2024, kombinasi nilai investasi kelima korporasi itu mencapai 400 miliar USD untuk belanja modal. Mayoritas dialokasikan untuk pengadaan perangkat keras berkaitan dengan AI. Sisanya untuk penelitian dan pengembangan (R&D). AI selalu disebut-sebut sebagai teknologi yang dapat mengubah ekonomi global. Guna mengadopsinya agar meningkatkan efisiensi dan produktivitas, perusahaan perlu membeli teknologi baru tersebut dan membentuknya sesuai kebutuhan.

Namun, konsekuensi yang ditimbulkan oleh investasi pada AI bagi perusahaan dalam jangka pendek, merujuk data Reuters, adalah penyusutan saham. ”(Minat) semua orang sangat rendah untuk berinvestasi ke (perusahaan) penggerak AI,” kata Head of European Equity Strategy di UBS Gerry Fowler, 26 Maret 2025. Apalagi, AI ternyata dapat diproduksi dengan biaya lebih rendah, seperti DeepSeek buatan China. Pada akhirnya, pasar kini mencari perusahaan yang dapat meraup untung dari AI. Para investor telah menyuntik lebih dari 2 triliun USD ke lima perusahaan tersebut selama setahun terakhir. Namun, hasil yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan teknologi itu masih jauh dari harapan. Microsoft, misalnya, para analis menilai, hanya mencetak 10 miliar USD dari penjualan kecerdasan buatan yang menciptakan produk baru atau generative (Gen) AI.  Ini menunjukkan, AI belum memberikan efek besar.

”Perhatian khusus pada keamanan data, bias algoritma dan halusinasi memperlambat implementasi,” demikian tulis The Economist. Restoran makanan cepat saji, McDonald’s telah mencoba menggunakan AI untuk melayani pelanggan tanpa turun dari kendaraan (drive-through), tetapi mengalami kesalahan (error). Sistem itu justru menambah 222 USD untuk menu camilan ayam pada tagihan seorang konsumen. Dalam survei yang disebarkan pada lebih dari 100 analis Fidelity, 72 % responden memperkirakan AI belum akan berdampak pada keuntungan perusahaan pada 2025. Banyak dari mereka melihat dampaknya baru akan terasa lebih dari 5 tahun. ”Pasar akan kehilangan kesabaran dengan investasi tidak terbatas pada AI, kecuali teknologi itu mulai menunjukkan return pada investasi yang dikeluarkan,” ujar Lead Portfolio Manager di Lazard Asset Management, Steve Wreford. (Yoga)

BUMA Terbitkan Sukuk Senilai Rp 2 Triliun

HR1 28 Mar 2025 Bisnis Indonesia

PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), anak perusahaan dari PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID), telah berhasil melakukan pencatatan sukuk perdana, yakni Sukuk Ijarah I BUMA Tahun 2025 dengan nilai Rp2 triliun pada Kamis, 27 Maret. Iwan Fuad Salim, Direktur BUMA Internasional Grup, mengungkapkan bahwa lebih dari 50% investasi yang masuk pada sukuk ini memiliki jangka waktu 5 tahun, yang menunjukkan preferensi investor terhadap investasi jangka panjang dan kepercayaan terhadap stabilitas keuangan BUMA.

Penerbitan sukuk ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi DOID, yang bertujuan mencari sumber dana dengan biaya yang efisien. Sukuk ini memperoleh sambutan positif dari pasar, dengan tingkat oversubscription sebesar 1,1 kali. Sukuk ini diterbitkan dalam tiga seri dengan tenor 370 hari, 3 tahun, dan 5 tahun, dan menarik minat berbagai jenis investor, termasuk bank, pengelola aset, reksa dana, dan dana pensiun. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memperkuat operasional BUMA, dengan alokasi 50% untuk belanja modal dan 50% sisanya untuk modal kerja.

BUMA juga memperoleh peringkat A+ Syariah dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dan Fitch Ratings, yang mencerminkan stabilitas keuangan perusahaan dan profil risiko gagal bayar yang rendah. Iwan Fuad Salim juga menyebutkan bahwa BUMA memiliki panduan untuk mencapai proporsi pendapatan sebesar 50% dari sektor non-batu bara, dengan proyek-proyek di sektor lainnya, seperti 29Metals dan Asiamet.