Investasi lainnya
( 1347 )BUMA Terbitkan Sukuk Senilai Rp 2 Triliun
PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), anak perusahaan dari PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID), telah berhasil melakukan pencatatan sukuk perdana, yakni Sukuk Ijarah I BUMA Tahun 2025 dengan nilai Rp2 triliun pada Kamis, 27 Maret. Iwan Fuad Salim, Direktur BUMA Internasional Grup, mengungkapkan bahwa lebih dari 50% investasi yang masuk pada sukuk ini memiliki jangka waktu 5 tahun, yang menunjukkan preferensi investor terhadap investasi jangka panjang dan kepercayaan terhadap stabilitas keuangan BUMA.
Penerbitan sukuk ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi DOID, yang bertujuan mencari sumber dana dengan biaya yang efisien. Sukuk ini memperoleh sambutan positif dari pasar, dengan tingkat oversubscription sebesar 1,1 kali. Sukuk ini diterbitkan dalam tiga seri dengan tenor 370 hari, 3 tahun, dan 5 tahun, dan menarik minat berbagai jenis investor, termasuk bank, pengelola aset, reksa dana, dan dana pensiun. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memperkuat operasional BUMA, dengan alokasi 50% untuk belanja modal dan 50% sisanya untuk modal kerja.
BUMA juga memperoleh peringkat A+ Syariah dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dan Fitch Ratings, yang mencerminkan stabilitas keuangan perusahaan dan profil risiko gagal bayar yang rendah. Iwan Fuad Salim juga menyebutkan bahwa BUMA memiliki panduan untuk mencapai proporsi pendapatan sebesar 50% dari sektor non-batu bara, dengan proyek-proyek di sektor lainnya, seperti 29Metals dan Asiamet.
IHSG Menguat, Tapi Masih Rentan Koreksi
Ancaman Stagflasi dan Dampaknya bagi Ekonomi RI
Mencermati Peluang Investasi dari Dividen Bank
Respons Negatif Pasar terhadap Danantara
Pengumuman struktur lengkap pengurus Danantara yang diisi banyak nama besar, sangat dikenal, kapabel, dan kredibel belum sepenuhnya bisa meyakinkan pasar, terbukti dari respons pasar yang cenderung negatif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia yang jeblok jelang pengumuman, bahkan menyentuh titik terendah, memang sempat rebound setelah pengumuman, tetapi akhirnya tetap ditutup melemah. Rupiah dan harga surat utang juga cenderung tertekan. Saham beberapa emiten BUMN yang diintegrasikan ke Danantara juga mengalami penurunan ketimbang hari sebelumnya. Di atas kertas, tim terlihat sangat solid, melibatkan nama-nama tokoh terkemuka nasional dan internasional, atau profesional yang sudah dikenal di pasar finansial. Termasuk para mantan presiden negara ini, sebagai dewan penasihat.
Namun, aksi jual saham tetap terjadi setelah pengumuman struktur manajemen Danantara. Masuknya mantan PM Thailand Thaksin Shinawatra yang pernah terlibat kasus korupsi dan penghindaran pajak, di dewan penasihat Danantara, ikut menyumbang sentiment negatif. Kekhawatiran terkait tata kelola, pengawasan, dan potensi intervensi politik, yang ikut memicu kejatuhan IHSG pada awal peluncuran Danantara, juga masih mengemuka. Kekhawatiran ini ditepis dengan pembentukan struktur pengawasan berlapis untuk menjamin transparansi tata kelola Danantara. Ada dewan pengawas, dewan penasihat, oversight committee, pemantau, komite audit, komite investasi, komite etik, yang seluruhnya diisi tokoh terkemuka yang kredibel. Pada satu sisi, struktur ini dilihat pasar sebagai sinyal kuat pemerintah terhadap arah masa depan ekonomi nasional.
Para pengamat, masih melihat perangkapan peran dan jabatan operator dengan regulator bisa menjadi celah kelemahan dalam pengawasan. Investor juga masih akan melihat arah kebijakan dan strategi investasi Danantara. Gebrakan pertama Danantara akan menjadi barometer penting kredibilitas lembaga ini. Dalam jangka panjang, keberadaan Danantara sebagai superholding BUMN dan sovereign wealth fund keenam terbesar dunia dengan aset kelolaan 900 miliar USD seharusnya bisa menjadi katalis positif bagi pasar dan mampu menarik investasi dalam jumlah besar ke dalam negeri untuk mendukung program-program ekonomi pemerintah. Semua masih menunggu efektivitas strategi dan aksi korporasi Danantara. (Yoga)
Pekerja IMP Tewas dalam Kecelakaan Kerja akibat Tertimbun Longsoran
Hingga Senin (24/3) pencarian dua
korban kecelakaan kerja yang tertimbun longsoran di kawasan industri PT
Indonesia Morowali IndustrialPark atau IMIP masih terus dilakukan. Sebelumnya,
satu orang ditemukan selamat dan seorang lainnya tewas. Head of Media Relations
Department PT IMIP, Dedy Kurniawan mengatakan, tim masih berupaya mencari korban.
Ratusan alat berat dan tim SAR gabungan dikerahkan. Peristiwa longsor terjadi
di dalam kawasan PT IMIP, Morowali, Sulteng, Sabtu (22/3) pukul 00.10 Wita,
yang menyebabkan empat karyawan tertimbun. Namun, malam itu satu orang
ditemukan selamat. ”Para korban adalah karyawan perusahaan kontraktor lokal PT
Morowali Investasi Konstruksi Indonesia,” kata Dedy Kurniawan, Senin (24/3) petang.
Yayasan Tanah Merdeka, LSM yang berfokus
pada isu pengelolaan sumber daya alam, menyebut peristiwa ini terkait pengelolaan
tailing. Longsor terjadi di area fasilitas penyimpanan tailing PT QMB New
Energy Materials di Kilometer 8. Pengelolaan tailing menggunakan metode
fasilitas penyimpanan tailing di tanah mengandung risiko sangat besar dan
berbahaya di daerah dengan tingkat curah hujan tinggi seperti di Morowali.
”Tailing berbentuk bubur tanah dengan kandungan air 30 % yang disimpan di
fasilitas penyimpanan tailing akan berubah menjadi lumpur ketika ditimpa hujan
dengan intensitas lebat. Curah hujan tinggi juga menyebabkan area penyimpanan
yang menampung belasan juta ton tailing rentan longsor,” kata Richard Labiro, Direktur
Pelaksana Yayasan Tanah Merdeka, Minggu (23/3) malam.
Dia mengingatkan Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Morowali (2019-2039) yang menyebut Kecamatan Bahodopi, lokasi
PT IMIP beroperasi, adalah kawasan rawan bencana gempa bumi, tanah longsor, dan
banjir. ”Pemerintah harus meninjau kembali perizinan fasilitas penyimpanan
tailing di IMIP. Sebab, peristiwa longsor dan banjir menunjukkan standar keamanan
dan keselamatan fasilitas penyimpanan tailing sangat rendah sehingga mengancam
keselamatan warga, buruh, dan lingkungan alam,” kata Richard. (Yoga)
Harapan Baru: Danantara dan Pemulihan Ekonomi
Profesionalisme Danantara
Pada 24
Februari 2025, BPI Danantara resmi menjadi dana investasi kelolaan negara atau
sovereign wealth fund (SWF) dengan dana kelolaan hingga Rp 15.000 triliun. Peresmian
BPI Danantara mengukuhkan Rosan Roeslani sebagai Chief Executive Officer (CEO),
Pandu Patria Sjahrir sebagai Chief Investment Officer (CIO), serta Dony Oskaria
sebagai Chief Operating Officer (COO). Sebulan kemudian, BPI Danantara
mengumumkan susunan kepengurusannya. berdasarkan rekam jejak profesionalitas di
bidang yang bersangkutan dan bebas muatan politis. Ke depan, BPI Danantara
berkomitmen untuk mengedepankan prinsip tata kelola yang baik secara
profesional, manajemen risiko, akuntabilitas, serta transparansi dalam
menjalankan bisnisnya.
Di tengah
dinamika pasar yang bergejolak, pengumuman tersebut diharapkan dapat
mengembalikan kepercayaan publik dan pelaku pasar. ”Untuk membentuk tim berdasarkan
meritokrasi, yang berdasarkan nama yang baik, itu membutuhkan waktu.
Diharapkan, adanya nama-nama ini memberikan confidence, keyakinan, bahwa ini
adalah yang terbaik,” kata Rosan dalam konferensi pers. Penunjukan Dewan Penasihat,
misalnya, BPI Danantara memilih orang-orang yang memiliki pengalaman di kancah
internasional, antara lain konglomerat AS sekaligus Hedge Fund Manager ternama
Ray Dalio, dan mantan CEO Asia Pasifik Credit Suisse Helman Sitohang.
Terdapat
pula ekonom dan akademisi global dari Colombia University, Jeffrey Sachs;
Equity Portfolio Manager Capital Group. F Chapman Taylor; serta mantan PM
Thailand, Thaksin Shinawatra. Dalam proses merekrut kandidat, BPI Danantara
memanfaatkan jasa perusahaan rekrutmen atau headhunter, baik domestik maupun
global, seperti Eghon Zehnder. Kemudian, BPI Danantara memilih satu nama
terbaik dari tiga kandidat yang diajukan oleh perusahaan rekrutmen itu. Ekonom
senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menambahkan, pemilihan
sederet nama kepengurusan BPI Danantara terbilang cukup kredibel sehingga dapat
menjadi awal yang baik dan cukup menjanjikan bagi Danantara ke depan. ”Unsur
profesionalisme dan kredibilitas sangat menonjol,” ujarnya. (Yoga)
Respons dan siasat para Investor Ritel menghadapi Anjloknya IHSG
IHSG
anjlok hingga 6,12 % pada 18 Maret 2025, memicu ”trading halt”. Meski sempat
pulih, pasar saham masih melemah. Berikut respons dan siasat para investor
ritel menghadapi kondisi tersebut : “Penurunan IHSG belakangan ini berdampak besar
pada portofolio saya. Sebulan lalu, saat Danantara dibentuk, saya menjual rugi saham
bank-bank BUMN dan mengalihkan investasi ke sektor swasta. Jika tren ini berlanjut,
saya akan mengamankan dana dalam bentuk tunai sambil menunggu stabilitas pasar.
Setelah investor asing kembali masuk, baru saya mempertimbangkan membeli saham
lagi,” ujar Nico Himawan (28), pekerja swasta di Pekalongan, Jateng.
“Saya
berinvestasi saham jangka panjang, jadi saat IHSG anjlok, saya tidak cut loss
dan justru menambah sedikit demi sedikit dengan strategi dollar cost averaging.
Meski tren penurunan IHSG memengaruhi portofolio, saya tetap mempertahankan
saham, termasuk yang fundamentalnya kurang baik, sambil diversifikasi ke aset
lain, ujar Yuliana Jemie, pebisnis UMKM asal Pontianak, Kalbar. Menurut Sem
(28) karyawan swasta di Jakarta, “Untuk mengantisipasi penyusutan nilai saham, saya
mulai mengalihkan dana ke emas dan deposito, yang dinilai lebih aman dan menguntungkan.
Ketidakpastian kebijakan setiap pergantian presiden membuat investor ragu.
Pemerintah perlu menciptakan kebijakan yang stabil dan berkelanjutan agar
investor percaya, termasuk menunjukkan komitmen dengan menindak tegas
koruptor.” (Yoga)
Risiko Independensi Akibat Dorongan Pemerintah agar BI Mendukung Ekonomi
DPR tengah
memproses revisi UU No 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor
Keuangan atau UU P2SK. Komisi XI DPR berencana mengajukannya sebagai RUU
inisiatif pada masa sidang berikutnya. Proses revisi UU P2SK semula sebatas
untuk menindaklanjuti hasil putusan uji materi (judicial review) MK atas UU
P2SK alias omnibus law Keuangan. Sejumlah pasal itu terkait Lembaga Penjamin
Simpanan (LPS) dan OJK. Namun, pembahasan berpotensi melebar. Belakangan, DPR
ingin sekaligus merevisi sejumlah pasal lain yang berkaitan dengan peran BI,
terutama seputar tugas bank sentral tersebut dalam mendukung pertumbuhan ekonomi
berkelanjutan. Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menjelaskan, DPR ingin
memanfaatkan momentum revisi UU P2SK untuk turut mengubah fungsi BI melalui
pembahasan politik yang mendalam.
Dalam hal
ini, peran BI menjaga stabilitas sistem keuangan akan diperkuat untuk mendukung
pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan. ”Kami sedang membicarakan
(penambahan peran BI), tetapi belum memutuskan, dan sedang diformulasikan.
Untuk itu, saya minta tidak dijadikan bahan spekulasi baru,” ujarnya dalam
Capital Market Forum 2025 di Jakarta, Jumat (21/3). Pengajar di Departemen Ekonomi
Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai, pemerintah perlu instrument
kuat untuk mendorong pertumbuhan, tetapi bukan dengan menjadikan BI sebagai sumber
pendanaan fiskal. Fokus sebaiknya pada reformasi pajak dan efisiensi belanja,
sementara BI tetap menjaga stabilitas inflasi, nilai tukar, dan sistem keuangan
demi menjaga independesinya dari campur tangan pemerintah yang berkuasa. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Membuat QRIS Semakin Perkasa
09 Aug 2022 -
Peran Kematian Ferdy Sambo dalam Kematian Yosua
10 Aug 2022 -
Salurkan Kredit, Bank Digital Mulai Unjuk Gigi
29 Jun 2022 -
Penerimaan Negara Terbantu Komoditas
14 Jun 2022









