Investasi lainnya
( 1343 )Menabung Emas untuk Semua Kalangan
Bagi Sari
Indrayati (39) orangtua remaja berusia 16 tahun di Tangsel, Banten, menabung
emas adalah prioritas bulanan yang tak bisa ditinggal. Sari bukanlah pegawai
swasta atau ASN yang setiap bulan mendapat kepastian gaji, bonus, dan THR
menjelang Idul Fitri. Ia sehari-hari menerima pesanan katering sembari membuka
kios kecil di depan rumahnya yang menjual seblak dan bakso aci. Sari juga
menerima panggilan untuk sejumlah layanan kesehatan tradisional berbasis keterampilan,
seperti akupunktur, refleksi, dan bekam. ”Penghasilan saya pas-pasan, apalagi
harga kebutuhan pokok terus naik. Tapi, saya tetap menyisihkan sedikit untuk
membeli emas tiap bulan walau 0,5 gram atau 0,1 gram,” ujar Sari, (22/3). Meski
penghasilannya tak menentu, Sari rutin menabung emas sejak tujuh tahun lalu.
Bagi banyak keluarga kelas menengah, emas adalah tabungan yang mudah dicairkan
saat dibutuhkan.
Dian
Lestari (34) pegawai administrasi perusahaan swasta di Bekasi, Jabar,
mengatakan rutin membeli emas setiap beberapa bulan sebagai bentuk investasi
jangka panjang. ”Dulu saya membeli emas hanya untuk dipakai, tapi sekarang juga
investasi. Jika butuh dana mendadak, emas lebih mudah dijual ketimbang aset
lain,” ujarnya. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang diolah
lembaga publikasi riset Next Indonesia Center menunjukkan, pada 2023, warga
kelas menengah berpenghasilan Rp 1,9 juta hingga Rp 9,4 juta per kapita per
bulan menjadi kelompok yang paling banyak menyimpan emas, minimal 10 gram. Dari
15,19 juta rumah tangga kelas menengah di Indonesia, 6,16 juta rumah tangga
atau 41 % menyimpan emas minimal 10 gram. Dari 439.620 rumah tangga kelas atas
di Indonesia, 316.417 rumah tangga atau 71 % menyimpan minimal 10 gram emas.
Berdasarkan
survei yang sama, emas bukan komoditas eksklusif bagi kelompok rumah tangga
menengah dan kaya. Semua lapisan ekonomi di Indonesia, hingga yang berstatus
rentan dan miskin, menyimpan emas minimal 10 gram. Dari total 36,83 juta rumah tangga
calon kelas menengah, 6 juta rumah tangga atau 16,3 % menyimpan 10 gram emas. Sebanyak
1 juta rumah tangga atau 7 % dari total 15 juta rumah tangga rentan menyimpan
emas. Adapun 217.789 kelompok rumah tangga atau 3,9 % dari 5,5 juta rumah
tangga miskin juga memiliki 10 gram emas. Direktur Eksekutif Next Indonesia Center
Christiantoko menjelaskan, kelas menengah menjadi kelompok terbanyak yang
menyimpan emas. Dalam kondisi ekonomi melemah, konsumsi menurun, sebagian
pendapatan dialihkan ke aset seperti emas, karena dianggap aman, mudah diakses,
dan likuid ketimbang instrumen lain, seperti saham atau obligasi. (Yoga)
Kenaikan Biaya Utang Jadi Ancaman Baru
Peluang Pertumbuhan Emiten Kawasan Industri
Nasib Bank BUMN Ditentukan RUPS
Tarik Menarik Properti Hijau Dengan Pengembang
Pengembangan proyek-proyek properti
hijau di Tanah Air masih cenderung lamban. Meski pasar semakin mencari properti
yang ramah lingkungan dan lestari, masih ada tarik-menarik dalam mendorong
proyek properti hijau di Tanah Air. Konsil Bangunan Hijau Indonesia (GBCI)
mencatat, komitmen pengembang membangun
properti hijau masih sebatas pada bangunan komersial. Dari data GBCI, tercatat
lebih dari 100 bangunan gedung memperoleh sertifikasi greenship dari GBCI,
sedangkan gedung yang memperoleh sertifikasi edge untuk efisiensi energi
sekitar 240 bangunan. Sementara proyek residensial masih sangat sedikit.
Ketua Umum GBCI Ignesjz Kemalawarta
mengungkapkan, konsep properti hijau sudah cukup banyak diterapkan
gedung-gedung pemerintah dan BUMN. Sebaliknya, penerapan properti hijau pada
gedung yang dibangun pengembang swasta masih minim. Saat ini, baru ada lima
grup pengembang besar yang gencar menerapkan prinsip ramah lingkungan pada
property, seperti PT Intiland Development Tbk, Sinar Mas Land, Kota Baru Parahyangan,
dan Grup Ciputra. ”Kami ingin mendorong kesadaran developer agar bangunannya
green dari hulu-hilir, mulai dari konsultan, kontraktor, hingga bahan
bangunannya. Kalau materialnya hijau, kontraktornya pasti menerapkan prinsip
hijau. Kesadaran bangunan hijau bukan hanya kepentingan saat ini, tetapi generasi
mendatang,” kata Ignesjz di Tangerang, Kamis (20/3).
Menurut
Ignesjz, pemicu keengganan developer swasta untuk menggencarkan proyek properti
hijau adalah biaya konstruksi lebih mahal sehingga harga jual menjadi lebih
mahal. Padahal, dari hasil kajian GBCI, biaya pembangunan gedung berkonsep
hijau hanya 4 % lebih tinggi dibanding gedung konvensional. Dalam 5 tahun,
penambahan biaya itu dinilai sudah kembali, yang terkonversi dari penghematan
energi dan air. Dalam jangka panjang atau setara usia bangunan 40 tahun, pemilik
gedung atau property hijau juga akan menikmati biaya operasional bangunan lebih
rendah 15 %. (Yoga)
Pekan Depan Struktur Kepengurusan Danantara akan Diumumkan
Susunan lengkap kepengurusan Badan Pengelola
Investasi Danantara dijadwalkan akan diumumkan pada Senin (24/3/2025) pekan
depan. Pengumuman struktur tim inti operasional ini diperkirakan akan berdampak
signifikan terhadap persepsi publik, termasuk sentimen investor di pasar modal.
Hal itu disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM yang juga CEO
BPI Danantara, Rosan Roeslani. ”Ya, tunggu saja hari Senin pukul 12.00,”
ujarnya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (21/3). Sejak pukul 14.30 hingga
sekitar pukul 16.00, Presiden Prabowo mengadakan pertemuan tertutup dengan sejumlah
menteri, kepala lembaga, dan direktur utama bank pemerintah di Istana
Kepresidenan, Jakarta, Jumat.
Menko Bidang Perekonomian Airlangga
Hartarto memberi sinyal, PP yang mengatur inbreng atau pengalihan saham BUMN ke
BPI Danantara diupayakan terbit sesuai waktu yang sudah dijadwalkan, yakni pada
pekan ini. Wakil Menteri BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) BPI
Danantara, Dony Oskaria mengatakan, target inbreng seluruh BUMN ke Danantara
selesai akhir Maret 2025. Pelaksanaan inbreng ini, menurut rencana, dilakukan
sebelum rapat umum pemegang saham (RUPS) sejumlah BUMN yang akan bergabung
dengan Danantara.
”Sebelum RUPS, sudah kita lakukan
inbreng. Beberapa RUPS akan mulai pada akhir bulan ini (Maret 2025),” ujar Dony
seusai rapat konsultasi secara tertutup dengan Komisi VI DPR di Gedung DPR,
Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/3). Terkait dengan struktur
organisasi Danantara, nama sejumlah tokoh yang akan mengisi struktur kepengurusan
BPI Danantara dilaporkan oleh Rosan Roeslani, Dony Oskaria, dan Chief
Investment Officer (CIO) BPI Danantara, Pandu Sjahrir kepada Presiden di Istana
Kepresidenan, Jakarta, Rabu (5/3) sore. Tokoh-tokoh dimaksud tidak hanya berasal
dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri. (Yoga)
Investasi Emas Makin diminati walau Harganya Tinggi
Penjualan emas pada periode Ramadan mengalami peningkatan. Meski kenaikan harga emas terus melambung, ini mencerminkan minat masyarakat berinvestasi terhadap aset safe haven. Dua bank emas mencatat lonjakan pembelian emas saat ini. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) yang menegaskan komitmennya untuk menghadirkan layanan terbaik dan produk yang memberi manfaat bagi nasabah, salah satu-nya BSI Gold. Investani emas dinilai merupakan langkah tepat seiring tren kenaikan harga emas.
Direktur Sales & Distri-bution BSI, Anton Sukarna mengatakan, emas tetap menjadi pilihan utama investor sebagai pelindung terhadap ketidakpastian. BSI mencoba memberi solusi investasi syariah yang aman, tahan terhadap inflasi, mudah dan memberi kepastian untuk jangka menengah dan panjang. “Kami selalu berkomitmen menghadirkan layanan terbaik dan produk yang akan memberi manfaat positif untuk nasabah. Salah satunya BSI Gold yang merupakan produk dan Layanan bank emas atau bullion bank BSI. Apalagi bila melihat tren harga emas dunia yang cenderung meningkat. Investasi emas merupakan langkah yang tepat" ujar Anton. (Yetede)
Optimalisasi Dana Jangka Panjang untuk Pembangunan
Lembaga pengelola aset investasi jangka panjang, seperti dana pensiun (dapen) dan lembaga jaminan sosial, memiliki potensi besar untuk mendongkrak performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam waktu dekat. Meskipun saat ini terdapat penurunan alokasi investasi pada saham, sejumlah lembaga ini memiliki likuiditas yang kuat untuk menambah investasi di pasar saham, terutama pada saham dengan valuasi menarik.
Felix Darmawan, seorang analis dari Panin Sekuritas, mengungkapkan bahwa dana pensiun yang lebih agresif dapat melihat saham dengan valuasi menarik sebagai peluang investasi. Martin Aditya dari PT Capital Asset Management juga meyakini bahwa dana pensiun dapat memainkan peran penting dalam memulihkan pasar saham, khususnya pada emiten berkapitalisasi besar seperti sektor perbankan.
Syarif Yunus, Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK, menekankan bahwa langkah ini dapat memberikan dampak positif bagi IHSG, namun perlu dukungan dari kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kepercayaan investor. Sementara itu, Bam-bang Sri Muljadi dari Asosiasi Dana Pensiun Indonesia mengungkapkan bahwa dana pensiun cenderung menunggu kondisi pasar yang lebih stabil.
Di sisi lain, Togar Pasaribu dari AAJI melihat saham sebagai instrumen yang menjanjikan untuk profitabilitas dan penguatan pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melalui Iwan Pasila, juga mendorong asuransi untuk menyesuaikan kebijakan investasi dengan karakteristik dan durasi kewajiban masing-masing. Secara keseluruhan, investasi dari dana pensiun dan lembaga pengelola jangka panjang diyakini dapat memberikan angin segar bagi pasar saham Indonesia.
Arah Investasi Saham Konglomerasi
Sepanjang tahun berjalan, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mengalami pelemahan sebesar 9,86% (YtD), meskipun sempat menguat 1,11% ke level 6.381. Pelemahan ini sebagian disebabkan oleh tekanan terhadap saham-saham milik para konglomerat, terutama karena gagal masuk indeks MSCI dan aksi profit taking investor.
Namun, belakangan ini terjadi fenomena menarik: para taipan dan jajaran direksi emiten besar justru gencar memborong saham mereka sendiri, yang menjadi suntikan sentimen positif bagi pasar modal.
Beberapa tokoh penting dalam fenomena ini adalah:
-
Prajogo Pangestu, pemilik Grup Barito, menambah kepemilikan saham di PT Barito Renewable Energy Tbk. (BREN). Saham BREN dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) pun melonjak signifikan.
-
Toto Sugiri, melalui PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), mencatatkan lonjakan harga saham hingga 19,99%.
-
Garibaldi Thohir, dari Grup Adaro, juga memborong 3,65 juta saham anak usahanya, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI).
-
Jajaran direksi dari bank-bank besar seperti BRI, BNI, dan BCA turut menambah koleksi saham pribadi mereka.
Menurut Felix Darmawan, Ekonom Panin Sekuritas, aksi beli saham oleh para pemilik perusahaan menunjukkan tingginya kepercayaan terhadap prospek jangka panjang emiten tersebut. Ini juga bisa meredam tekanan jual dan menjadi pemicu pemulihan IHSG, meski ia mengingatkan bahwa valuasi beberapa saham saat ini sudah tergolong premium.
Sementara itu, Ekky Topan, Investment Analyst dari Infovesta, menyarankan agar investor berhati-hati dalam mengakumulasi saham-saham konglomerat di tengah tren bearish dan penurunan rating Indonesia.
Menambah sentimen positif, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan kebijakan baru yang memungkinkan aksi buyback saham oleh emiten tanpa melalui RUPS, sebuah langkah yang diyakini oleh Irvan Susandy dari BEI dapat membantu menopang IHSG dan meningkatkan rata-rata nilai transaksi harian.
Secara keseluruhan, meskipun pasar masih dalam tekanan, aksi para taipan dan pejabat korporasi yang memborong saham sendiri menunjukkan optimisme terhadap prospek jangka panjang dan turut menjadi penopang psikologis bagi investor di bursa.
Terancam Disitanya, Aset KBRI di Paris
Aset propeti milik Kedutaan Besar
Republik Indonesia atau KBRI di Paris, Perancis, terancam disita perusahaan
satelit swasta Navayo International AG, salah satu operator satelit yang pernah
menjalin kerja sama dengan Kemenhan pada 2015. Hal ini terjadi karena pemerintah
tak kunjung memenuhi kewajiban sesuai putusan pengadilan arbitrase Singapura, yang
merupakan buntut dari persoalan korupsi pada penyewaan satelit untuk mengisi
slot orbit 123 BT. Untuk itu, Pemerintah RI berkomitmen akan membayar kewajiban
itu karena putusan arbitrase bersifat final. Namun, karena ada temuan
kecurangan (fraud), pemerintah juga mengancam balik Navayo untuk dijadikan
tersangka secara pidana.
Ancaman balik itu disampaikan Menko
Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra saat
konferensi pers di Jakarta, Kamis (20/3). Yusril menjelaskan, lima rumah
pejabat diplomatik KBRI Paris terancam disita oleh juru sita yang ditunjuk
Navayo pada 2024. Pada 29 Juli 2024, juru sita memasuki tanpa izin rumah dinas
yang didiami Koordinator Fungsi Ekonomi KBRI Paris. ”Proses penyitaan berlanjut
pada 20 Agustus 2024 di mana juru sita mendatangi secara paksa aset KBRI Paris
hingga mengakibatkan kerusakan pada kunci pintu-pintu apartemen,” ucapnya.
Navayo merupakan salah satu operator
satelit yang menjalin kerja sama dengan Kemenhan pada 2015. Presiden Joko
Widodo, saat itu, menugasi Kemenhan mengisi slot 123 BT. Akan tetapi, penyewaan
satelit terindikasi tak sesuai prosedur, di antaranya untuk sewa satelit dengan
Avanti dan Navayo. Berdasarkan hasil penyidikan Kejagung, dari penyewaan
satelit ini ditaksir kerugian negara mencapai Rp 453 miliar. Dalam perkara ini,
empat orang telah diadili, salah satunya bekas Dirjen Kekuatan Pertahanan Kemenhan
Laksamana Muda (Purn) Agus Purwoto. Terkait sewa satelit itu, pada 2021,
Pemerintah RI menerima tagihan 21 juta USD dari Navayo berdasarkan putusan
arbitrase Singapura. Terkait dengan putusan arbitrase Singapura itu, muncul ancaman
penyitaan aset KBRI di Paris.
Kemenhan sebagai pihak yang
bertanggung jawab atas pengadaan satelit diwajibkan membayar 24,15 juta USD
atau Rp 397 miliar. Yusril menegaskan, meski permohonan penyitaan sudah dikabulkan
Pengadilan Perancis, Pemerintah RI akan melakukan perlawanan untuk menghambat
eksekusi. ”Saya pada 28 Maret ini akan menghadiri konferensi atau pertemuan
OECD (Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) di Paris dan juga
sekaligus akan melakukan pembicaraan dengan Menteri Kehakiman Perancis,”
ujarnya. BPKP pun sudah mengeluarkan audit bahwa Navayo melakukan wanprestasi
karena tak memenuhi kewajibannya. Menurut perhitungan BPKP, nilai pekerjaan yang
dilakukan Navayo hanya Rp 1,9 miliar. Nilai ini disebut sangat jauh dari nilai
kontrak yang ditandatangani dengan Kemenhan. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Mengelola Risiko Laju Inflasi
09 Jun 2022 -
Audit Perusahaan Sawit Segera Dimulai
08 Jun 2022 -
Penerimaan Negara Terbantu Komoditas
14 Jun 2022 -
Menkeu Minta Kualitas Belanja Pemda Diperbaiki
08 Jun 2022 -
Yusuf Ramli, Jalan Berliku Juragan Ikan
10 Jun 2022









