Investasi lainnya
( 1334 )Investor Terjepit Dilema di Tengah Ketidakpastian
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia mengalami lonjakan signifikan sebesar 3,7% pada sesi pertama perdagangan (3/3), kenaikan tersebut masih perlu dianalisis lebih lanjut. Kenaikan yang tajam ini, yang membawa IHSG ke level 6.502, mungkin lebih merupakan "technical rebound" atau pemantulan sementara setelah penurunan tajam sebelumnya, daripada indikasi pemulihan jangka panjang. Hal ini dipicu oleh aksi beli investor domestik yang memanfaatkan harga saham yang sudah terdiskon.
Namun, faktor fundamental yang mendasari pasar masih belum sepenuhnya mendukung pemulihan berkelanjutan. Ketidakpastian pasar global, terutama yang terkait dengan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan arus modal. Kenaikan imbal hasil obligasi AS dan kebijakan suku bunga tinggi oleh Federal Reserve mengurangi daya tarik pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, bagi investor asing. Ditambah dengan ancaman resesi global dan ketidakpastian akibat perang dagang, banyak investor global cenderung lebih berhati-hati.
Dalam menghadapi situasi ini, investor perlu lebih cermat dalam menilai peluang dan risiko pasar. Pilihan antara melakukan bargain hunting atau memilih strategi defensif menjadi dilema yang harus dipertimbangkan dengan hati-hati. Oleh karena itu, memilih sektor-sektor strategis yang memiliki potensi untuk memberikan keuntungan jangka panjang sangat penting untuk menghindari risiko investasi yang lebih besar.
Kembalikan Kepercayaan Pelakunya Pasar
Rencana BI Borong SBN Masih Diragukan Pasar
Ekonomi Terpuruk, Bursa Menurun
Mengikis Kegelisahan Investor di Lantai Bursa
Kondisi pasar modal Indonesia yang mengalami tekanan cukup besar sejak awal tahun 2025, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk sebesar 6,69%. Pelemahan ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk peluncuran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dan peresmian bullion bank yang justru tidak memberikan dampak positif di pasar. Saham-saham seperti PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), dan saham bank BUMN seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (BBNI), dan PT Bank Mandiri (BMRI) tercatat mengalami penurunan signifikan.
Presiden Prabowo Subianto memberikan klarifikasi mengenai BPI Danantara, menyatakan bahwa lembaga ini dapat diaudit kapan pun dan oleh siapa pun, namun masalah tata kelola dan akuntabilitas tetap menjadi perhatian publik. Selain itu, MSCI juga memangkas peringkat Indonesia dalam risetnya, menyarankan bahwa investasi di China lebih menarik daripada di Indonesia. Hal ini berhubungan dengan penurunan return on equity (ROE) di Indonesia dan tantangan dalam pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, kebijakan efisiensi yang diterapkan pemerintah, yang mengalokasikan dana sebesar Rp300 triliun untuk BPI Danantara, turut menciptakan ketidakpastian di pasar. Oleh karena itu, pelaku pasar cemas dengan dampak kebijakan ini terhadap perekonomian. Menanggapi hal ini, Prabowo Subianto menekankan bahwa kebijakan tersebut harus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan memberikan sentimen positif kepada pelaku pasar modal, bukan justru menambah ketidakpastian. Pemerintah diharapkan bisa mengeluarkan kebijakan yang lebih mendukung pertumbuhan ekonomi dan pasar modal.
Peran Swasta dan UMKM Lebih Maju
Gelombang PHK dan Tutupnya Sejumlah Pabrik
Kemenperin berharap investasi BPI Danantara Dapat Dialokasikan pada Sektor Industri Non Migas dan Manufaktur
Danantara Dapat Terbitkan Surat Utang, sehingga Perlu Tarik Dana Asing untuk menambah Modal
Dalam menjalankan tugasnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara alias BPI Danantara dapat mengeluarkan surat utang untuk pendanaan proyek pemerintah. Alih-alih menyerap likuiditas domestik, Danantara diharap dapat mendatangkan likuiditas dari luar negeri. Peneliti Senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan menjelaskan, Danantara sebagai superholding akan mengonsolidasikan entitas kekayaan negara yang berasal dari seluruh aset BUMN. Di sisi lain, modal Danantara didapat dari hasil efisiensi anggaran serta dividen BUMN. Sebagai gambaran, Danantara akan mengelola aset kekayaan negara senilai 900 miliar USD atau Rp 14.648 triliun. Hasil efisiensi anggaran belanja pemerintah sebesar Rp 300 triliun dan dividen BUMN sebesar Rp 85,5 triliun akan menjadi modal awal bagi Danantara.
Kemudian, aset-aset yang telah terkonsolidasitersebut akan dilipatgandakan nilainya (leverage) untuk diinvestasikan ke proyek-proyek strategis pemerintah. Dalam hal ini, Danantara dapat menempatkan investasinya sendiri atau bekerja sama dengan investor asing. Selain itu, Danantara juga dapat menerbitkan surat utang untuk pembiayaan proyek strategis pemerintah, mengingat kapasitas asetnya yang sangat besar sehingga surat utang yang dikeluarkan jauh lebih murah, terjamin, serta efisien. ”Namanya leverage kan, utang. Jaminannya aset-aset BUMN itu. Dari situ diharapkan Danantara menjadi second engine pembangunan di luar APBN. Danantara ada karena APBN kita tidak punya dana lagi untuk mendorong program pembangunan,” katanya dalam diskusi publik secara hibrida di Jakarta, Selasa (25/2). (Yoga)
Perang Dagang AS-Cina Bawa Berkah
Pilihan Editor
-
Melawan Hantu Inflasi
10 Mar 2022 -
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
10 Mar 2022 -
Ekspor Sarang Walet Sumut Tembus Rp 3,7 Triliun
24 Feb 2022









