Investasi lainnya
( 1343 )Rencana BI Borong SBN Masih Diragukan Pasar
Ekonomi Terpuruk, Bursa Menurun
Mengikis Kegelisahan Investor di Lantai Bursa
Kondisi pasar modal Indonesia yang mengalami tekanan cukup besar sejak awal tahun 2025, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk sebesar 6,69%. Pelemahan ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk peluncuran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dan peresmian bullion bank yang justru tidak memberikan dampak positif di pasar. Saham-saham seperti PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), dan saham bank BUMN seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (BBNI), dan PT Bank Mandiri (BMRI) tercatat mengalami penurunan signifikan.
Presiden Prabowo Subianto memberikan klarifikasi mengenai BPI Danantara, menyatakan bahwa lembaga ini dapat diaudit kapan pun dan oleh siapa pun, namun masalah tata kelola dan akuntabilitas tetap menjadi perhatian publik. Selain itu, MSCI juga memangkas peringkat Indonesia dalam risetnya, menyarankan bahwa investasi di China lebih menarik daripada di Indonesia. Hal ini berhubungan dengan penurunan return on equity (ROE) di Indonesia dan tantangan dalam pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, kebijakan efisiensi yang diterapkan pemerintah, yang mengalokasikan dana sebesar Rp300 triliun untuk BPI Danantara, turut menciptakan ketidakpastian di pasar. Oleh karena itu, pelaku pasar cemas dengan dampak kebijakan ini terhadap perekonomian. Menanggapi hal ini, Prabowo Subianto menekankan bahwa kebijakan tersebut harus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan memberikan sentimen positif kepada pelaku pasar modal, bukan justru menambah ketidakpastian. Pemerintah diharapkan bisa mengeluarkan kebijakan yang lebih mendukung pertumbuhan ekonomi dan pasar modal.
Peran Swasta dan UMKM Lebih Maju
Gelombang PHK dan Tutupnya Sejumlah Pabrik
Kemenperin berharap investasi BPI Danantara Dapat Dialokasikan pada Sektor Industri Non Migas dan Manufaktur
Danantara Dapat Terbitkan Surat Utang, sehingga Perlu Tarik Dana Asing untuk menambah Modal
Dalam menjalankan tugasnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara alias BPI Danantara dapat mengeluarkan surat utang untuk pendanaan proyek pemerintah. Alih-alih menyerap likuiditas domestik, Danantara diharap dapat mendatangkan likuiditas dari luar negeri. Peneliti Senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan menjelaskan, Danantara sebagai superholding akan mengonsolidasikan entitas kekayaan negara yang berasal dari seluruh aset BUMN. Di sisi lain, modal Danantara didapat dari hasil efisiensi anggaran serta dividen BUMN. Sebagai gambaran, Danantara akan mengelola aset kekayaan negara senilai 900 miliar USD atau Rp 14.648 triliun. Hasil efisiensi anggaran belanja pemerintah sebesar Rp 300 triliun dan dividen BUMN sebesar Rp 85,5 triliun akan menjadi modal awal bagi Danantara.
Kemudian, aset-aset yang telah terkonsolidasitersebut akan dilipatgandakan nilainya (leverage) untuk diinvestasikan ke proyek-proyek strategis pemerintah. Dalam hal ini, Danantara dapat menempatkan investasinya sendiri atau bekerja sama dengan investor asing. Selain itu, Danantara juga dapat menerbitkan surat utang untuk pembiayaan proyek strategis pemerintah, mengingat kapasitas asetnya yang sangat besar sehingga surat utang yang dikeluarkan jauh lebih murah, terjamin, serta efisien. ”Namanya leverage kan, utang. Jaminannya aset-aset BUMN itu. Dari situ diharapkan Danantara menjadi second engine pembangunan di luar APBN. Danantara ada karena APBN kita tidak punya dana lagi untuk mendorong program pembangunan,” katanya dalam diskusi publik secara hibrida di Jakarta, Selasa (25/2). (Yoga)
Perang Dagang AS-Cina Bawa Berkah
ICW Soroti UU BUMN dan Aturan Pembentuk Danantara Belum Tersedia untuk Publik
Kawasan Industri Kendal Catat Telah Menyerap 17.635 Tenaga Kerja Sepanjang 2024 Selama 8 Tahun
Hingga saat ini, terdapat 124 entitas perusahaan yang masuk ke kawasan, dengan tiga sektor industri terbesar yang meliputi fesyen sebesar 29 persen, otomotif dan energi terbarukan sebesar 19 persen, dan elektronik 17 persen. Ihwal negara asal perusahaan, Juliani menjelaskan 39 persen di antaranya berasal dari Cina. Kemudian 26 persen dari dalam negeri, dan selebihnya dari negara-negara seperti Hong Kong, Korea Selatan, hingga Jerman. Lebih lanjut, Juliani juga melaporkan fase pertama pembangunan KIK seluas 1.000 hektare hampir rampung. Sekitar 90 persen kawasan sudah terisi atau fully occupied. “Dari sisanya 10 persen ini kami akan konsentrasikan kepada fasilitas pendukung yang terdiri dari pemukiman, komersial, dan juga retail,” ujar dia. Kemudian, lanjut dia, kegiatan industri ini juga akan dilanjutkan ke fase kedua, dengan target pembangunan seluas 1.200 hektare. (Yetede)
Pilihan Editor
-
KKP Genjot Revitalisasi Tambak Udang Tradisional
23 Feb 2022 -
Minyak Goreng, Wajah Kemanusiaan Kita
24 Feb 2022









