Respons Negatif Pasar terhadap Danantara
Pengumuman struktur lengkap pengurus Danantara yang diisi banyak nama besar, sangat dikenal, kapabel, dan kredibel belum sepenuhnya bisa meyakinkan pasar, terbukti dari respons pasar yang cenderung negatif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia yang jeblok jelang pengumuman, bahkan menyentuh titik terendah, memang sempat rebound setelah pengumuman, tetapi akhirnya tetap ditutup melemah. Rupiah dan harga surat utang juga cenderung tertekan. Saham beberapa emiten BUMN yang diintegrasikan ke Danantara juga mengalami penurunan ketimbang hari sebelumnya. Di atas kertas, tim terlihat sangat solid, melibatkan nama-nama tokoh terkemuka nasional dan internasional, atau profesional yang sudah dikenal di pasar finansial. Termasuk para mantan presiden negara ini, sebagai dewan penasihat.
Namun, aksi jual saham tetap terjadi setelah pengumuman struktur manajemen Danantara. Masuknya mantan PM Thailand Thaksin Shinawatra yang pernah terlibat kasus korupsi dan penghindaran pajak, di dewan penasihat Danantara, ikut menyumbang sentiment negatif. Kekhawatiran terkait tata kelola, pengawasan, dan potensi intervensi politik, yang ikut memicu kejatuhan IHSG pada awal peluncuran Danantara, juga masih mengemuka. Kekhawatiran ini ditepis dengan pembentukan struktur pengawasan berlapis untuk menjamin transparansi tata kelola Danantara. Ada dewan pengawas, dewan penasihat, oversight committee, pemantau, komite audit, komite investasi, komite etik, yang seluruhnya diisi tokoh terkemuka yang kredibel. Pada satu sisi, struktur ini dilihat pasar sebagai sinyal kuat pemerintah terhadap arah masa depan ekonomi nasional.
Para pengamat, masih melihat perangkapan peran dan jabatan operator dengan regulator bisa menjadi celah kelemahan dalam pengawasan. Investor juga masih akan melihat arah kebijakan dan strategi investasi Danantara. Gebrakan pertama Danantara akan menjadi barometer penting kredibilitas lembaga ini. Dalam jangka panjang, keberadaan Danantara sebagai superholding BUMN dan sovereign wealth fund keenam terbesar dunia dengan aset kelolaan 900 miliar USD seharusnya bisa menjadi katalis positif bagi pasar dan mampu menarik investasi dalam jumlah besar ke dalam negeri untuk mendukung program-program ekonomi pemerintah. Semua masih menunggu efektivitas strategi dan aksi korporasi Danantara. (Yoga)
Postingan Terkait
Ketahanan Investasi di Sektor Hulu Migas
Diplomasi Simbolik RI Dinilai Berisiko
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023