Industri lainnya
( 1875 )Membalikkan Deindustrialisasi
Indonesia menargetkan
jadi negara maju pada 2045. Namun, hingga kini kita belum mampu membalikkan tren
deindustrialisasi yang terjadi 20 tahun terakhir di manufaktur. Secara umum,
seperti dilaporkan BI, kinerja industri pengolahan pada triwulan III-2023 masih
meningkat dan berada pada fase ekspansi. Ini tecermin dari Prompt Manufacturing
Index BI yang di atas 50 %, naik dari triwulan sebelumnya. Demikian pula, tahun
lalu ekspor terus meningkat, pernah mencapai rekor tertinggi dalam sejarah,
yakni 27,91 miliar USD pada Agustus 2023. Namun, semua itu tidak mewakili
gambaran utuh industri manufaktur kita. Lonjakan ekspor tersebut lebih dipicu
kenaikan harga komoditas, seperti minyak mentah, CPO, karet, timah, tembaga,
dan batubara, sejalan dengan melonjaknya harga-harga di pasar dunia karena
disrupsi rantai pasok global akibat perang Rusia-Ukraina dan Covid-19. Setelah
itu, ekspor kembali melandai dan relatif stagnan, sejalan dengan mulai
meredanya tekanan harga di tingkat global.
Faktanya, jika dicermati,
apa yang kita sebut sebagai fenomena deindustrialisasi dini masih terus
berlanjut di Indonesia. Hal ini setidaknya tecermin dari kontribusi manufaktur
yang terus menurun dan pertumbuhan manufaktur yang lebih rendah dibandingkan
pertumbuhan ekonomi kita. Kondisi ini terjadi sejak 2012 dan belum mampu kita
balikkan hingga kini. Pada 2022, pertumbuhan ekonomi 5,31 %, sementara industri
manufaktur hanya tumbuh 4,89 %. Penyusutan industri manufaktur itu semakin
terlihat terutama delapan tahun terakhir. Ini juga pemicu kian menurunnya
kemampuan penyerapan tenaga kerja kita. Pertumbuhan disebut inklusif dan
berkualitas jika mampu menyerap banyak tenaga kerja, terutama dari kelompok
usia yang kita harapkan akan menjadi penyokong bonus demografi kita untuk bisa
membawa kita ke Indonesia Emas 2045. Untuk bisa membalikkan keadaan yang kurang
menguntungkan ini, kuncinya, benahi problem struktural yang membuat manufaktur
kita susah naik kelas. Kebijakan strategis untuk membuat terobosan dan lompatan
menjadi penting. (Yoga)
PELUANG BISNIS, Sektor Tertentu Berpeluang Melonjak karena Pemilu 2024
Bisnis sektor percetakan,
periklanan, media, transportasi, logistik, makanan dan minuman, serta garmen
berpeluang melonjak karena penyelenggaraan pemilu. Masifnya belanja iklan dan kampanye
dari ribuan calon anggota legislatif, calon kepala daerah, bahkan pasangan
calon presiden dan calon wakil presiden bisa melambungkan omzet usaha mereka.
Pada ujungnya, belanja ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Dihubungi
pada Rabu (1/11) Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual
mengatakan, penyelenggaraan pemilu akan mendorong belanja jumbo berbagai
aktivitas politik para calon yang berkompetisi. Selain pemilihan presiden, mengutip
data Litbang Kompas, tercatat ada 541 daerah, baik provinsi, kabupaten, maupun kota,
yang akan menggelar pilkada pada November 2024. Tahun depan juga akan ada
ribuan calon yang berkompetisi di pemilu legislatif. Artinya, akan ada ribuan
calon yang melakukan aktivitas politik
sehingga mendorong gelontoran belanja iklan dan kampanye.
Untuk penyelenggaraan pemilu,
Komisi II DPR juga sudah menetapkan anggaran penyelenggaraan pemilu bagi KPU
sebesar Rp 27,39 triliun dan Bawaslu sebesar Rp 11,6 triliun (Kompas, 12/9). Belanja
jumbo ini akan tersalurkan ke sektor-sektor ekonomi, antara lain percetakan, periklanan,
media, transportasi, logistik, makanan dan minuman, serta garmen. ”Ini akan
mendorong sektor-sektor ekonomi itu mencatat kinerja yang lebih tinggi dibandingkan
periode-periode sebe- lumnya,” ujar David. Lonjakan pendapatan di sektor-sektor
tersebut diperkirakan mulai terjadi saat masa kampanye, yakni 28 November 2023-10
Februari 2024. Apabila terjadi putaran kedua pemilu presiden, kampanye
berikutnya dijadwalkan pada 2-22 Juni 2024. Itu belum termasuk kegiatan
pemilihan kepala daerah pada November 2024. Peningkatan jumlah
uang beredar terkait belanja pemilu itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi
dari sisi konsumsi dalam negeri. Gelontoran dana yang besar itu akan merangsang
pertumbuhan ekonomi tahun ini dan tahun depan. (Yoga)
Generasi Z Tunggu Arah Industrialisasi
Bonus demografi atau dominasi penduduk berusia produktif,
yang puncaknya diperkirakan pada 2030, menjadi faktor krusial dalam mewujudkan
Indonesia maju pada 2045. Namun, kesiapan kapasitasnya harus disiapkan sejak
dini. Segala upaya perlu diawali dengan menentukan arah industrialisasi yang diambil
Indonesia. Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Yogyakarta, Amirullah
Setya Hardi, Senin (30/10) mengatakan, Indonesia tidak akan kekurangan jumlah
sumber daya manusia (SDM) sampai dengan 2035. Tantangannya adalah pada kualitas
dan kompetensinya. Menyiapkan SDM di bidang industri, menurut Amirullah, harus
spesifik dan tidak bisa seketika. Untuk itu, kesiapan generasi Z mengisi
kebutuhan industri harus dipastikan sejak dini.
”Perguruan tinggi dengan berbagai level pendidikannya akan
bisa (turut menyiapkan). Namun, yang terjadi di Indonesia selama ini,
kurikulumnya lebih banyak trial and error. Dicoba, tidak cocok, kemudian diubah
lagi. Ke depan harus terintegrasi dengan kebutuhannya. Di industri, yang paling
kentara ialah kebutuhan untuk sertifikasinya,” ujar Amirullah. Oleh sebab itu,
perlu desain tepat mengenai pendidikan hingga sertifikasi dalam menyiapkan
kebutuhan SDM industri. Ia mencontohkan, lulusan perguruan tinggi akan kalah bersaing
dengan lulusan sekolah teknik yang memiliki sertifikat juru las. Sejalan dengan
itu, Amirullah menekankan, penting untuk menentukan arah industrialisasi
Indonesia. Ini akan mendasari upaya peningkatan kontribusi industri manufaktur
terhadap PDB yang saat ini masih 18,25 % total perekonomian nasional. Idealnya
28-30 % terhadap PDB. (Yoga)
Industrialisasi untuk Generasi Indonesia Maju
Rangkaian kegiatan Kompas100 CEO Forum Powered by PLN tahun ini mengusung tema ”Melaju Menuju Indonesia Emas”. Rangkaian kegiatan dimulai sejak pecan ketiga Oktober 2023 dan akan berlangsung hingga November 2023. Puncaknya adalah diskusi panel di Kota Balikpapan, Kaltim, pada Rabu (1/11) dan kegiatan para CEO dan Presiden Jokowi di Ibu Kota Nusantara, Kaltim, Kamis (2/11), dimana Presiden akan memberikan informasi mutakhir seputar pembangunan Ibu Kota Nusantara. Presiden juga akan berdialog dengan sekitar 100 CEO yang hadir di acara tersebut. Sehari sebelumnya, Kompas100 CEO Forum akan menggelar diskusi panel menghadirkan Menkeu Sri Mulyani, Kepala Bapanas Suharso Monoarfa, Menkes Budi Gunadi Sadikin, Menhub Budi Karya Sumadi, dan Menteri PAN dan RB Abdullah Azwar Anas. Diskusi akan disiarkan secara langsung melalui akun harian Kompas di kanal Youtube mulai pukul 16.00 WITA atau 15.00 WIB.
Rektor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta Agustinus Prasetyantoko akan memandu diskusi dengan tema ”Industrialisasi Berkelanjutan Berbasis Manufaktur untuk Generasi Indonesia Maju”. Tema diambil karena Indonesia, seperti semua bangsa di dunia, ingin menjadi negara maju alias berpendapatan atas. Namun, saat ini, hanya 83 dari 193 negara anggota PBB yang dalam kategori Bank Dunia masuk ke kasta itu. Selebihnya, masih di level pendapatan rendah dan menengah, termasuk Indonesia. Prasetyantoko menekankan, mau tidak mau memperkuat industri manufaktur supaya terjadi peningkatan pendapatan secara luas. Kenaikan pendapatan per kapita dengan sendirinya akan menciptakan permintaan di sektor jasa. ”Industrialisasi berbasis manufaktur yang menyerap banyak tenaga kerja harus menjadi backbone (tulang punggung) pembangunan menuju high income country,” katanya. (Yoga)
MTDL Kejar Target Pertumbuhan 8%
J&T Mengakali Aturan Investasi
Setoran Pajak Terhambat Industri Pengolahan
PENINGKATAN NILAI TAMBAH : PASAR TERBATAS HASIL PENGHILIRAN
Minimnya serapan produk hasil penghiliran membuat cemas pelaku industri pertambangan yang sudah mengeluarkan modal cukup besar untuk membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian.
Indonesia Mining Associa tion (IMA) mencatat serapan produk hasil penghiliran di dalam negeri hanya sekitar 20%—25%. Hal itu dinilai bakal membawa dampak negatif terhadap keberlangsungan usaha hulu pertambangan yang sekarang diwajibkan melakukan penghiliran.Rachmat Makkasau, Ketua Umum IMA, mengatakan bahwa perusahaan pertambangan telah menggelontorkan investasi yang tidak sedikit dalam melaksanakan penghiliran di dalam negeri. Padahal, sektor itu tergolong industri baru bagi penambang dan memiliki margin yang relatif tipis.
Dia berharap pemerintah bisa meningkatkan kapasitas serapan produk hasil penghiliran di dalam negeri, seiring dengan meningkatnya komitmen penambang dalam menyelesaikan proyek smelter yang ada.Dengan begitu, investasi yang telah direalisasikan penambang tidak berakhir sia-sia dalam upaya mendukung program penghiliran mineral logam di dalam negeri.
Kekhawatiran serupa sempat disampaikan oleh Presiden Joko Widodo yang ingin memastikan impian untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain utama di ekosistem kendaraan listrik.Presiden menyebut, pemerintah pun fokus untuk menyatukan potensi yang ada di dalam negeri agar sumber daya mineral yang terkandung di Tanah Air bisa terus diolah menjadi produk paling hilir, sehingga mampu menciptakan ekosistem kendaraan listrik.
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia meminta perbankan nasional untuk ikut memberi pembiayaan untuk proyek smelter di dalam negeri.
Padahal, Bahlil menambahkan, sekitar 80% izin usaha pertambangan atau IUP di sisi hulu tambang dimiliki oleh perusahaan nasional. Sementara itu, pada sisi pengolahan dan pemurnian lebih lanjut mayoritas investasi justru berasal dari perusahaan asing. Di sisi lain, dia menambahkan, masifnya pembiayaan perbankan dari luar negeri membuat sebagian modal perusahaan smelter mesti lari ke luar negeri untuk membayar utang dan kredit bunga.
DAMPAK HARGA BATU BARA : ‘Honeymoon’ Alat Berat Sudah Berakhir
Lesunya harga batu bara di pasar global menambah tekanan dari minimnya serapan anggaran pemerintah pada proyek infrastruktur dan tahun politik terhadap penjualan alat berat di Tanah Air.Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI) mencatat penurunan penjualan alat berat pada kuartal III/2023 mencapai 11% secara tahunan.Ketua Umum PAABI Etot Listyono mengatakan, turunnya penjualan alat berat disebabkan permintaan yang melemah di sektor konstruksi dan pertambangan, khususnya batu bara dan nikel.“Kalau akhir September 2023 itu dari data yang masuk market sizenya 14.000-an unit. Jadi memang ada penurunan sekitar 11% dibandingkan dengan tahun lalu,” katanya kepada Bisnis, Kamis (26/10).
Hal tersebut menambah beban dari sektor pertambangan, di mana harga batu bara yang cenderung melemah, sehingga banyak pelanggan wait and see untuk melihat perkembangan ke depannya.Meski mengalami penurunan, Etot menilai penurunan penjualan alat berat tahun ini terbilang wajar setelah industri menikmati masa ‘honeymoon’ pada 2 tahun belakangan.
“Demand terus meningkat sampai dengan 2022. Artinya, kalau kami hitung hingga kuartal III/2023, Agustus tahun ini sudah terjadi penurunan. Jadi honeymoonnya itu hampir 2 tahun lebih,” jelasnya.Adapun, produksi alat berat di Indonesia pada kuartal III/2023 mengalami penurunan sekitar 3,16% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
INDUSTRI OTOMOTIF : PENJUALAN LCGC TETAP BERGAIRAH
Sejumlah pelaku industri otomotif menjaga penjualan segmen mobil murah dan ramah lingkungan tetap bergairah, di tengah tren suku bunga pembiayaan yang relatif tinggi.
Marketing Director PT Toyota-Astra Motor (TAM) Anton Jimmi Suwandy mengatakan bahwa Toyota tetap menjaga kontribusi penjualan segmen mobil murah dan ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC) sekitar 20% hingga akhir tahun ini.“[Penjualan] tergantung tren market juga ya. Harapannya bisa tetap mempertahankan persentase kontribusinya,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (26/10).Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia menunjukkan (Gaikindo) menunjukkan penjualan secara wholesales LGCG Toyota mencapai 49.838 unit sepanjang Januari-September 2023 atau naik 5,15% secara year-on-year (YoY) daripada periode yang sama 2022 sebanyak 47.397 unit.Pencapaian penjualan itu terdiri atas model Agya dan Calya berkontribusi sekitar 20,22% dari total penjualan Toyota yang mencapai 246.382 secara wholesales sepanjang Januari-September 2023.
Sales Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy mengatakan bahwa segmen LCGC Honda masih menarik bagi konsumen.
Dia menegaskan segmen LCGC merupakan salah satu yang paling diminati oleh para konsumen Indonesia. Segmen itu lebih menyasar para konsumen yang ingin memiliki kendaraan pertamanya atau firstcar buyer.“Harga yang lebih terjangkau dan hemat bahan bakar membuat segmen mobil ini paling diminati sekarang,” tuturnya.
Yusak mengatakan penurunan penjualan secara bulanan masih dalam batas wajar, dan bahkan segmen ini disebut masih stabil. “Setiap bulan bisa saja naik dan turun. [Perubahan] masih dalam batas normal,” ujarnya.Dia hanya mengkhawatirkan adanya pengetatan dari lembaga pembiayaan yang dapat berdampak terhadap penjualan pada segmen LCGC. Dia menyebut naiknya kredit bermasalah alias non-performing loan (NPL) menjadi pemicu keringnya saluran kredit kendaraan bermotor.
Dari data Gaikindo, penjualan mobil segmen LCGC tetap didominasi dua merek milik PT Astra International Tbk. (ASII) yaitu Daihatsu dan Toyota.
Mobil LCGC merupakan salah satu program pemerintah yang diatur melalui Permenperin 36/2021 tentang Kendaraan Bermotor Roda Empat Emisi Karbon Rendah. Dalam beleid tersebut tertuang Kendaraan Bermotor Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2) atau LCGC merupakan kendaraan dengan besaran harga jual paling tinggi Rp135 juta.
Pilihan Editor
-
Pertumbuhan Diproyeksi tak Sampai 5 Persen
19 Mar 2020 -
Dampak Corona, Badai Ganas Terjang Bisnis Travel
16 Mar 2020 -
UMKM Kesulitan Isi Pasar
10 Mar 2020









