;
Tags

Industri lainnya

( 1875 )

Hilirisasi Musiman Bisa Gagalkan RI Maju

KT3 11 Oct 2023 Kompas (H)

Inkonsistensi kebijakan hilirisasi sebagai bagian dari industrialisasi akan membuyarkan mimpi Indonesia menjadi negara maju. Pengalaman menunjukkan, pergantian rezim selama 30 tahun terakhir selalu berdampak pada kebijakan teknokratis jangka panjang, termasuk industrialisasi yang merupakan kunci mencapai kemajuan. ”Hilirisasi bagus. Tapi, yang saya khawatirkan, (pengalaman) dalam industri itu, minim konsistensi. Perlu komitmen dari pemerintah berikutnya. Sejarah kita menunjukkan, gonta-ganti (kebijakan) terus,” kata Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, Teguh Dartanto dalam paparanya pada sesi ke-2 Indonesia Mining Summit 2023 di Badung, Bali, Selasa (10/10).

Urusan konsistensi kebijakan industrialisasi pemerintah tersebut menjadi perhatian sekaligus harapan yang mencuat pada pertemuan tersebut. Acara kolaborasi antara Indonesian Mining Association (IMA) dan harian Kompas itu mengusung tema ”Sustainable Downstream”. Sekitar 400 pemimpin dan perwakilan industri pertambangan nasional hadir dalam kesempatan itu. Menteri PPN /Kepala Bapenas Suharso Monoarfa mengakui, selama ini Indonesia terlalu terlena menjalankan hilirisasi yang sebatas mengolah komoditas menjadi bentuk setengah jadi. ”Kita seharusnya bisa mengembangkan produk-produk turunan. Kebertautan hulu-hilir ini yang akan terus kita kejar,” kata Suharso. (Yoga)

Dilema Hilirisasi di Era Transisi Energi

KT3 11 Oct 2023 Kompas

Indonesia masih meniti langkah untuk mewujudkan hilirisasi atau industrialisasi tambang yang lebih utuh dari hulu ke hilir. Konsekuensinya, dibutuhkan jaminan pasokan energi terjangkau yang sejauh ini baru bisa didapat dari tenaga batubara.Pengembangan energi terbarukan yang terjangkau dan ”menghijaukan” batubara menjadi tantangan besar mewujudkan cita-cita tersebut. Sampai saat ini, batubara masih menjadi sumber energi utama di sektor pembangkit listrik di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian ESDM untuk tahun 2022, batubara berperan 67,21 % dalam bauran energi primer pembangkit listrik di Indonesia. Angka itu naik dari 2021 di 66,01 %. Adapun porsi energi baru dan terbarukan di 2022 sebesar 14,11 % atau naik dari 2021 yang 13,65 %.

Menurut Ketua Umum Indonesian Mining Association (IMA) Rachmat Makkasau, komitmen menekan emisi karbon lewat sektor pembangkit listrik itu akan semakin menantang seiring dengan kebutuhan konsumsi yang tinggi di sektor industri. Apalagi, Indonesia sedang menggenjot industrialisasi tambang yang lebih utuh dari hulu ke hilir, yang otomatis akan ikut menyumbang kenaikan emisi karbon. ”Dengan meningkatnya industrialisasi itu, konsekuensinya adalah peningkatan power. Kita pasti akan membutuhkan banyak energi. Pemerintah dan industri harus sama-sama memikirkan bagaimana batubara tetap bisa dipakai, tetapi dengan emisi yang ditekan,” katanya dalam acara Indonesia Mining Summit (IMS) yang digelar IMA bersama harian Kompas di Nusa Dua, Badung, Bali, Selasa (10/10). (Yoga)

PLN Mulai Produksi Hidrogen Hijau

KT3 10 Oct 2023 Kompas

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mulai memproduksi hidrogen hijau dari Green Hydrogen Plant yang diresmikan pada Senin (9/10/2023) di kawasan PLTU Muara Karang, Jakarta. Dengan kapasitas produksi hidrogen hijau 51 ton per tahun saat ini, menurut Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, pengembangan hidrogen hijau berikutnya bakal diterapkan pada sejumlah PLTU milik PLN. (Yoga)

Segera Realisasikan Manfaat Hilirisasi Nikel

KT3 10 Oct 2023 Kompas(H)

Cadangan logam nikel dalam negeri  semakin menipis di tengah pengembangan hilirisasi tambang yang masif. Indonesia berkejaran dengan waktu untuk mengejar manfaat hilirisasi sebesar-besarnya yang saat ini belum sepenuhnya ”menetes” hingga lapis masyarakat terbawah. Pengembangan kapasitas SDM jadi tantangan terbesar untuk mewujudkan hilirisasi yang berkelanjutan. Berdasarkan data BPS, persentase penduduk miskin di daerah-daerah pertambangan masih di atas persentase penduduk miskin nasional yang pada 2022 mencapai 9,57 % total populasi. Sebagai contoh, produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita di Kabupaten Morowali, Sulteng, sebagai sentra nikel nasional adalah Rp 831,8 juta, tertinggi di antara 13 kabupaten/kota penghasil tambang lainnya. Namun, tingkat kemiskinan di Morowali masih terhitung tinggi, yakni 12,58 % dari total populasi, di atas rata-rata nasional.

Menurut Kepala Center of Trade Industry and Investment di Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho, faktor yang memunculkan ketimpangan itu adalah minimnya suplai tenaga kerja lokal untuk memenuhi kebutuhan industri. Hilirisasi di sektor pertambangan umumnya bersifat padat teknologi sehingga membutuhkan suplai tenaga kerja dengan keterampilan yang tinggi pula. ”Kuncinya, bagaimana kita bisa menghadirkan suplai tenaga kerja lokal dengan skill yang sesuai dengan permintaan dari investasi yang masuk,” kata Andry, Senin (9/10). Menurut dia, Indonesia berkejaran dengan waktu, cadangan nikel di dalam negeri semakin menipis seiring masifnya eksplorasi tambang dan hilirisasi. Berdasarkan data Indonesian Mining Association (IMA), umur cadangan nikel berdasarkan bijih produksi per tahun hanya tersisa 20 tahun. (Yoga)

Industri Nikel Perlu Libatkan SDM Lokal

KT3 06 Oct 2023 Kompas
Industri nikel perlu menyiapkan sumber daya manusia lokal sesuai kompetensinya agar bisa mengangkat kesejahteraan warga. Selama ini pelibatan warga lokal masih minim. ”Harus dibuat semacam strategi penyiapan SDM lokal, yang sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan dari industri,” ujar ekonom Institute for Development of Economics and Finance, M Rizal, di Jakarta, Kamis (5/10/2023). (Yoga)

Terseret Turun Harga Logam Industri

HR1 06 Oct 2023 Kontan
Kinerja PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tergerus merosotnya harga logam. Proyek jangka panjang MDKA diharapkan bisa memulihkan kerugian di semester pertama tahun ini. Analis Panin Sekuritas Felix Darmawan melihat, lesunya kinerja MDKA hingga separuh pertama tahun ini karena koreksi yang terjadi pada harga nikel. Seperti diketahui, kontribusi terbesar pendapatan MDKA berasal dari nikel sekitar 67% terhadap total pendapatan hingga semester I 2023. Harga nikel sudah turun sekitar 38% year to date (ytd) karena kekhawatiran pertumbuhan ekonomi China. "Utamanya industri properti China tengah terguncang seiring dengan gagal bayar obligasi salah satu pengembang properti besar di negara tersebut yaitu Country Garden," ujar Felix, kemarin (5/10). Analis Indo Premiere Sekuritas Reggie Parengkuan mengatakan, sentimen negatif terhadap harga logam didorong oleh berlanjutnya pelemahan data makro perekonomian Tiongkok. Ini tercermin dari kinerja MDKA yang kurang menggembirakan. Kerugian bersih MDKA mencapai US$ 49,2 juta karena lemahnya pendapatan dari seluruh aset unit usaha akibat dari rendahnya harga komoditas dan tingginya biaya. Rugi bersih MDKA sebesar US$ 49,2 juta ini berlawanan dari capaian laba bersih sebesar US$ 96,8 juta di semester pertama tahun lalu. Analis Mandiri Sekuritas Ariyanto Kurniawan dan Wesley Louis Alianto dalam riset 2 Oktober 2023 melihat, merosotnya kinerja MDKA terjadi pada kuartal kedua 2023 yang mencatatkan kerugian sebesar US$ 52,3 juta. Ini terjadi akibat Tambang Tujuh Bukit mencatatkan volume penjualan emas lebih rendah 17% yoy sebesar 29.500 troi ons pada kuartal II-2023. Volume penjualan tembaga Wetar di semester I sebesar 9.700 ton atau lebih rendah 21% yoy. Harga jual rata-rata turun 10% yoy ke posisi US$ 8.800 per ton. Sementara segmen nikel, melalui Merdeka Battery Mineral Tbk (MBMA), menjual 19.200 ton Nickel Pig Iron (NPI) di kuartal kedua atau naik 281% yoy.

Kontribusi Minim, Industri Maritim Butuh Strategi Khusus

KT3 05 Oct 2023 Kompas

Kontribusi industri maritim terhadap perekonomian nasional masih belum optimal. Pemanfaatan potensi besar sumber daya maritim Indonesia membutuhkan strategi dan langkah konkret di tengah tantangan perubahan iklim. Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, akhir pekan lalu, mengemukakan, perubahan iklim akan menjadi persoalan global ke depan. Oleh karena itu, pendekatan ekonomi biru harus menjadi arus utama pembangunan sektor maritim di Indonesia. Pada 2021, kontribusi PDB kemaritiman terhadap PDB nasional hanya 7,6 %, sedangkan pertumbuhan sektor kemaritiman hanya 2,04 % atau di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang 3,69 5.

Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata 5 %. Pada triwulan II (April-Juni) 2023, ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 % atau di bawah China yang 6,3 %. Upaya mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai 6 % pada tahun 2027 membutuhkan geliat ekonomi yang lebih kompleks, antara lain lewat hili risasi sumber daya maritim. Dengan potensi besar, industri pengolahan maritim di Indonesia tercatat hanya berkontribusi 4,17 %. Industri pembuatan, pemeliharaan, dan jasa perbaikan kapal hanya 0,74 %, sedangkan jasa konstruksi maritim hanya 1,2 %. Sementara, sektor perikanan dan budidaya maritim memberi kontribusi 29,11 % dan sumber daya energi maritim 21,98 %.

”Indonesia tidak lagi mengandalkan komoditas mentah. Hilirisasi mendorong investasi lebih berkualitas dan industri hilir di Indonesia timur,” kata Luhut dalam Seminar Nasional Kemaritiman ”Pembangunan Negara Kepulauan Berwawasan Nusantara Menuju Indonesia Emas 2045,” dalam rangka memperingati Hari Maritim Nasional Ke-59, yang diselenggarakan Kemenko Bidang Maritim dan Investasi, Jumat (29/9). Luhut menambahkan, perekonomian daerah dinilai terus tumbuh pasca penerapan hilirisasi. Peningkatan nilai tambah sumber daya alam dan jasa kemaritiman akan terus dilakukan. Hilirisasi diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi dan transfer teknologi, tetapi juga sumber daya manusia. (Yoga) 

RI Perlu Setahap Lebih Maju dari Hilirisasi

KT3 04 Oct 2023 Kompas (H)

Indonesia perlu setahap lebih maju dari program hilirisasi mineral tambang di dalam negeri, yaitu industrialisasi. Hanya dengan industrialisasi, semua produk hilirisasi mineral bisa terserap dan terjadi peningkatan nilai tambah yang lebih optimal. Sejumlah pekerjaan rumah perlu diselesaikan untuk menuju tahap industrialisasi tersebut. Demikian benang merah diskusi ”Kesiapan Industri Pendukung dalam Menyerap Produk Hilirisasi”, Selasa (3/10) di Jakarta, yang diselenggarakan harian Kompas dan Indonesian Mining Association (IMA). Narasumber diskusi adalah Staf Ahli Menteri ESDM Irwandy Arif, Wakil Ketua IMA Ezra Sibarani, Ketua Komite Tetap Mineral dan Batubara Kadin Indonesia A Rizqi Darsono, dan CEO PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Alexander Barus.

Irwandy menyampaikan, dalam mendukung hilirisasi, Kementerian ESDM terus melakukan  optimalisasi peningkatan mineral dan batubara di Indonesia. Setelah itu, agar sampai ke tahap industrialisasi, ada pekerjaan rumah bersama Kementerian ESDM dengan Kemenperin. ”Harus ada kebijakan bersama (terpadu) agar industri hilir di bawah Kementerian ESDM dan smelter-smelter independen berjalan baik. Pengawasannya harus dilakukan bersama. Di Kementerian ESDM, setiap komoditas sudah memiliki pohon industri sampai ke hilir,” kata Irwandy. Ezra menambahkan, menghubungkan hilirisasi mineral dengan industrialisasi jadi pekerjaan rumah bersama antar seluruh pemangku kepentingan. Menurut dia, harus ada keselarasan antara pemerintah dan pelaku usaha dalam hal kebijakan, grand strategy, pembukaan pintu investasi, dan komunikasi yang terjalin baik. (Yoga)

MAGNET LEASING PIKAT ASING

HR1 04 Oct 2023 Bisnis Indonesia (H)

Industri pembiayaan di Tanah Air sedang bersiap lepas landas. Saat kinerja pembiayaan bangkit dari kontraksi selama pandemi Covid-19, investor asing terus menunjukkan minat pada perusahaan multifinance di dalam negeri. Terbaru, PT Home Credit Indonesia (Home Credit) resmi diakuisisi oleh konsorsium yang terafiliasi dengan Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) asal Jepang, setelah proses berjalan sejak November 2022. Perkiraan nilai akuisisi yang disepakati sekitar 209 juta euro atau Rp3,4 triliun. Bank of Ayudhya Public Company Limited (Krungsri) asal Thailand--anggota strategis MUFG— PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. (Adira Finance), dan mitra lokal menjadi pemegang saham baru dengan komposisi masing-masing 75%, 10%, dan 15%. Home Credit Indonesia sebelumnya merupakan perusahaan patungan antara grup Home Credit B.V asal Republik Ceko dengan PT SL TRIO. Berdiri di Indonesia sejak 2013, perusahaan melayani pembiayaan belanja online dan offline, termasuk untuk peralatan rumah tangga, peralatan elektronik, dan furnitur. Direktur Strategi Aliansi Bisnis Adira Finance Jin Yoshida mengatakakan akuisisi itu dapat memperkuat franchise Grup MUFG di Indonesia dan membangun sinergi antara Home Credit, Bank Danamon, dan Adira Finance. Bahkan, menurut dokumen Roadmap Perusahaan Pembiayaan Indonesia 2023-2027 yang disusun Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), masih terdapat peluang 18 grup perusahaan pembiayaan yang memiliki pemegang saham sama, untuk dapat melakukan aksi korporasi berupa merger, akuisisi, dan konsolidasi. KB Kookmin Card Corp, perusahaan kartu kredit asal Korea Selatan, mengakuisisi 80% saham PT Finansia Multi Finance senilai 94,9 miliar won atau Rp1,1 triliun pada November 2019. Finansia Finance kemudian berubah nama menjadi KreditPlus. Ketua APPI Suwandi Wiratno melihat investor asing, baik yang sudah maupun akan mengakuisisi, mengincar bisnis pembiayaan ritel atau multiguna, seperti pembiayaan sepeda motor dan mobil, serta barang elekronik. Alasannya adalah pembiayaan ritel memiliki peluang lebar mengingat Indonesia akan memasuki bonus demografi pada 2030. Saat itu, akan ada lebih banyak penduduk usia produktif yang membutuhkan kendaraan. Saat ini pasar multifinance dipimpin oleh tiga pemain besar, yakni Astra Group (termasuk FIF, Astra Sedaya Finance, Toyota Astra Financial Service), Adira Finance, dan Mandiri Tunas Finance, berdasarkan data Sucor Sekuritas dan OJK. Pangsa pasar ketiganya masing-masing 25,8%, 6,5%, dan 5,9% pada semester I/2023. Analis Sukor Sekuritas Yoga Ahmad Gifari mengatakan penetrasi pembiayaan multifinance yang lebih rendah dan prospek besar penjualan otomotif telah menarik minat investor asing mengakuisisi multifinance di Indonesia.

Memperkuat Ekuitas Industri Pembiayaan

HR1 04 Oct 2023 Bisnis Indonesia

Pertumbuhan industri perusahaan pembiayaan kian menunjukkan tren pemulihan dari dampak pandemi Covid-19 meskipun masih dihadapkan pada tantangan peningkatan risiko kredit yang dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global. Kondisi pemulihan ini diperlihatkan dari jumlah pendanaan perusahaan pembiayaan yang perlahan tapi pasti meningkat sejak pandemi berakhir. Untuk memanfaatkan momentum ini, Otoritas Jasa Keuangan telah menekankan arah pengembangan jangka pendek perusahaan pembiayaan pascapandemi untuk mengoptimalkan peran multifinance dalam mempercepat proses pemulihan ekonomi. Adapun arah pengembangan struktural ditujukan untuk memperkuat industri perusahaan pembiayaan agar memiliki daya tahan lebih baik, berdaya saing lebih tinggi, dan memiliki kontribusi lebih optimal terhadap perekonomian. Peningkatan daya saing ini mencakup program memperkuat permodalan dan akselerasi konsolidasi industri yang ditargetkan dilaksanakan pada 2025. Salah satu peluang penguatan ketahanan industri perusahaan pembiayaan adalah dengan melakukan sinergi melalui strategi penggabungan usaha, pengambilalihan, dan melakukan konsolidasi. Upaya penguatan industri pembiayaan terkini kali ini datang dari proses akuisisi perusahaan pembiayaan PT Home Credit Indonesia yang telah rampung oleh Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) dan PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF), Selasa (3/10). MUFG melalui Bank of Ayudhya Public Company Limited (Krungsri) dan Adira Finance sepakat mengakuisisi Home Credit dengan nilai akuisisi sebesar EUR209 juta atau setara Rp3,4 triliun. Perusahaan berharap transaksi ini dapat membuka kunci sinergi yang signifikan dalam ekosistem Home Credit dan MUFG, menggerakkan bisnis Home Credit, dan memfasilitasi akses pembiayaan yang lebih luas bagi konsumen. Selain itu, pandemi Covid-19 juga seakan telah menuntut perusahaan pembiayaan untuk sadar IT dan segera mereset ulang strategi yang telah ditetapkan sebelumnya. Adanya pembatasan kegiatan masyarakat telah menyebabkan akselerasi transformasi proses penyaluran dan penagihan pembiayaan yang menghendaki pemanfaatan teknologi informasi. Perubahan proses bisnis ini, tentu saja menggaris bawahi kebutuhan investasi yang besar.