HILIRISASI, Porsi Lokal Ditingkatkan
Ketergantungan pada tenaga kerja asing dalam pengembangan
smelter yang mengolah produk mentah pertambangan, seperti bijih nikel, perlu
diakhiri secara bertahap. SDM lokal asal Indonesia, seperti pada bidang
metalurgi, dinilai sudah mampu bersaing. Tinggal bagaimana transfer of
knowledge dan alih operasi berjalan dengan optimal. Ketua Perhimpunan Ahli
Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli, saat dihubungi Rabu (11/10) mengatakan,
banyaknya tenaga kerja asal China dalam pengembangan pabrik pengolahan bijih
nikel tak terlepas dari negosiasi pemerintah. Sebab, dalam pembangunan smelter-smelter,
dibutuhkan modal, teknologi, dan pasar yang kini dikuasai China.
”Dalam hilirisasi nikel, (investasi) mayoritas dari China sehingga
mereka meminta sebagian atau mayoritas
tenaga kerja berasal dari negara mereka. Harus kita akui, dalam
hal produktivitas, mereka lebih unggul, terutama
di bidang konstruksi. Namun, situasi itu harus bisa segera tergantikan. Perlu
lebih banyak tenaga kerja dari dalam negeri,” kata Rizal. Dalam mendukung itu,
perlu didorong agar manual mesin dan peralatan dibuatkan dalam bahasa Indonesia
atau bahkan bisa multibahasa, yakni China, Inggris, dan Indonesia. ”Sedari awal
(negosiasi) seharusnya sudah kita tekankan bahwa penggunaan tenaga kerja
nasional saat konstruksi minimal 70 %. Kemudian meningkat lagi setelah operasional
atau pada tahun ke sekian. Misalnya, menjadi 98 %. Itu yang harus ditekankan
agar (dalam hilirisasi) manfaat untuk bangsa ini lebih besar,” kata Rizal. (Yoga)
Postingan Terkait
Optimalkan Kekuatan Ekonomi Domestik
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
Ancaman Deindustrialisasi & Nasib Buruh
Danantara Gencar Himpun Pendanaan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023