Segera Realisasikan Manfaat Hilirisasi Nikel
Cadangan logam nikel dalam negeri semakin menipis di tengah pengembangan
hilirisasi tambang yang masif. Indonesia berkejaran dengan waktu untuk mengejar
manfaat hilirisasi sebesar-besarnya yang saat ini belum sepenuhnya ”menetes”
hingga lapis masyarakat terbawah. Pengembangan kapasitas SDM jadi tantangan terbesar
untuk mewujudkan hilirisasi yang berkelanjutan. Berdasarkan data BPS,
persentase penduduk miskin di daerah-daerah pertambangan masih di atas
persentase penduduk miskin nasional yang pada 2022 mencapai 9,57 % total
populasi. Sebagai contoh, produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita di
Kabupaten Morowali, Sulteng, sebagai sentra nikel nasional adalah Rp 831,8 juta,
tertinggi di antara 13 kabupaten/kota penghasil tambang lainnya. Namun, tingkat
kemiskinan di Morowali masih terhitung tinggi, yakni 12,58 % dari total
populasi, di atas rata-rata nasional.
Menurut Kepala Center of Trade Industry and Investment di
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho,
faktor yang memunculkan ketimpangan itu adalah minimnya suplai tenaga kerja
lokal untuk memenuhi kebutuhan industri. Hilirisasi di sektor pertambangan
umumnya bersifat padat teknologi sehingga membutuhkan suplai tenaga kerja
dengan keterampilan yang tinggi pula. ”Kuncinya, bagaimana kita bisa
menghadirkan suplai tenaga kerja lokal dengan skill yang sesuai dengan
permintaan dari investasi yang masuk,” kata Andry, Senin (9/10). Menurut dia,
Indonesia berkejaran dengan waktu, cadangan nikel di dalam negeri semakin
menipis seiring masifnya eksplorasi tambang dan hilirisasi. Berdasarkan data
Indonesian Mining Association (IMA), umur cadangan nikel berdasarkan bijih
produksi per tahun hanya tersisa 20 tahun. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023