Saham
( 1717 )Pemegang Saham BSI Sepakat Perkuat Transformasi Digital & Culture
JAKARTA, ID- Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) digelar di Jakarta, Senin (22/5/2023). Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengapresiasi hasil keputusan RUPST karena mengindikasikan dukungan yang kuat dari pemegang saham kepada managemen untuk mengakselerasi rencana ekspansi bisnis perusahaan kedepananya, melalui transformasi digital dan culture. "Sejalan dengan dukungan pemegang saham dan momentum pertumbuhan ekonomi, kami meyakini kinerja BSI akan terus membaik. Kedepan, kami akan terus memacu pengembangan bisnis dan layanan agar dapat memenuhi ekspektasi nasabah dab seluruh stakjeholder perseroan," kata Hery. RUSPT BSI menghasilkan keputusan sejumlah agenda lainnya, yaitu persetujuan dan pengesahan laporan tahunan keuangan perseroan tahun buku akhir Desember 2022, persetujuan penggunaaan laba bersih tahun 2022, penunjukkan kantor akuntan publik, remunerasi direksi, komisaris dan Dewan Pengawas Syariah, Laporan Penggunaan Dana Hasil Penambahan Modal Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I (PMHMETD)I), persetujuan Rencana Aksi (Recovery Plan) perseroan, serta persetujuan perubahan susunan pengurus perseroan. (Yetede)
CUAN SAHAM LAPIS KEDUA
Pasar saham Indonesia bergerak kurang bergairah pada bulan ini. Namun, performa itu tak menyurutkan langkah pelaku pasar untuk terus berburu alternatif saham yang berpotensi mendatangkan cuan, termasuk dengan melirik saham lapis kedua alias small medium caps(SMC).Indeks harga saham gabungan (IHSG) parkir di level 6.729,65 pada akhir perdagangan Senin (22/5). Level itu mencerminkan kontraksi 2,69% secara month-to-date (MtD) atau -1,77% sepanjang tahun berjalan 2023.Pada saat yang sama, indeks yang menaungi saham-saham emiten berkapitalisasi pasar menengah dan kecil dengan transaksi saham yang likuid atau IDX SMC Liquid merosot lebih dalam. Indeks tersebut turun 7,22% secara year-to-date (YtD).Di tengah merosotnya IHSG, sejumlah konstituen IDX SMC Liquid dengan fundamental yang solid, prospek yang positif, dan valuasi yang atraktif, dinilai dapat menjadi opsi bagi investor.Head of Research Jasa Utama Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya menuturkan penurunan indeks yang beranggotakan saham berkapitalisasi pasar mini dan menengah ini dikarenakan indeks tersebut berisi saham-saham dari sektor energi dan bahan baku, yang sejak awal tahun kinerjanya anjlok.
Head of Research Surya Fajar Sekuritas Raphon Prima menambahkan salah satu penekan dari penurunan tajam pada saham-saham anggota SMC Liquid berasal dari sektor konstruksi yang terbebani sentimen risiko utang.Sebagai alternatif, dia menyarankan investor untuk mempertimbangkan konstituen IDX SMC Liquid dari sektor properti dan semen yang valuasinya sedang terdiskon. Beberapa saham yang dapat dilirik a.l. SMRA, PWON, SMGR, dan INTP.
Senada, CEO RHB Sekuritas Indonesia Thomas Nugroho menilai investor dapat melirik saham-saham berkapitalisasi kecil dengan fundamental solid sebagai alternatif investasi selain big caps.
Euforia Kendaraan Listrik Memudar
Laju saham-saham yang terkait dengan bisnis kendaraan listrik atau
electric vehicle
(EV) mulai melambat. Saat ini, investor lebih menantikan kontribusi bisnis EV in terhadap kinerja emiten terkait.
Kebijakan pemerintah mendukung ekosistem EV seperti pemberian subsidi untuk konversi dan pembelian EV hanya mampu mengangkat saham emiten sektor ini sesaat. Setelah itu, harga saham-saham ini kembali turun.
CEO Edvisor.id, Praska Putrantyo mengatakan, rata-rata, pergerakan saham emiten motor listrik sepekan dan sebulan terakhir terkoreksi lebih dari 5%. Menurut Praska, euforia terkait terobosan di bidang EV sudah direspons pelaku pasar pada semester kedua tahun lalu.
Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Leonardo Lijuwardi punya pandangan serupa. Dia melihat pelaku pasar sudah
priced in
terhadap katalis positif berupa subsidi konversi dan pembelian EV yang diberikan pemerintah.
Sehingga, sentimen terhadap pergerakan harga saham lebih dominan berasal dari masing-masing bisnis inti. Seperti INDY dan TOBA yang secara sektoral dipengaruhi oleh melandainya harga batubara. Serta WIKA yang terseret oleh sentimen negatif pada BUMN karya.
Meskipun permintaan EV di dalam negeri masih kecil,
Financial Expert
Ajaib Sekuritas, Chisty Maryani optimistis, prospek industri kendaraan listrik akan positif, sejalan dengan perkembangan pasar dan teknologi.
Harga Produk Terus Melemah, Kinerja Emiten Baja Tidak Bergairah
Kinerja emiten saham baja di Tanah Air masih diselimuti sejumlah sentimen negatif. Salah satunya ialah tren penurunan harga
hot rolled coil
(HRC) atau baja canai panas di pasaran global.
Mengutip Trading Economics, Jumat (19/5), harga HRC pada perdagangan kemarin ditutup US$ 950 per ton atau melemah 0,52% dibanding hari sebelumnya. Jika diakumulasi dalam sebulan, harga HRC sudah anjlok 14,80%.
Johannes W. Edward, Sekretaris Perusahaan dan Investor Relation PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) atau Spindo mengatakan, fluktuasi harga baja saat ini cukup parah. Kondisi ini ikut mempengaruhi kebijakan harga ISSP.
Namun, Johannes mengklaim, penjualan ISSP masih stabil. "Sampai bulan Mei ini performa penjualan kami masih cukup
on the track
untuk mencapai target perseroan di tahun 2023," ujarnya kepada Kontan, Jumat (19/5).
Johannes mengatakan, pihaknya masih melakukan beberapa cara untuk meningkatkan penjualan di sisa tahun ini. "Kami terus meningkat pendekatan ke para konsumen
end user
untuk mempromosikan produk," imbuh dia.
Senior Investment Information
Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menilai, pergerakan harga baja di pasar global sangat mempengaruhi
average selling price
(ASP) atau harga jual rata-rata emiten baja.
Likuiditas BUMN Karya Terbelit Arus Kas dan Utang
Di tengah belitan utang jumbo, perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor konstruksi terus berupaya membenahi kinerja. Salah satunya caranya, merestrukturisasi utang.
Ambil contoh PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Emiten BUMN karya mengajukan penundaan pembayaran utang kepada sejumlah kreditur. Mengutip laporan keuangan per 31 Maret 2023, WIKA memiliki utang kepada pihak ketiga Rp 12,64 triliun.
Salah satu kreditur terbesar WIKA adalah Bank Mandiri, dengan pinjaman Rp 3,9 triliun. WIKA juga memiliki beberapa utang obligasi jatuh tempo di 2023 dan 2024. Totalnya sekitar Rp 1,39 triliun.
Mahendra Vijaya, Sekretaris Perusahaan WIKA mengungkapkan, penundaan pembayaran pokok dan bunga kepada bank untuk memperbaiki struktur keuangan.
Mahendra membeberkan, WIKA saat ini sedang berupaya memperbaiki posisi arus kas. Caranya, melakukan refocusing bisnis. WIKA akan memperbanyak proyek pemerintah karena pola pembayarannya
monthly progres payment
dengan uang muka. Pun dengan Waskita Karya (WSKT). Emiten ini menargetkan pembayaran proyek melalui
monthly payment.
Dengan begitu, arus kas WSKT berjalan lancar. Per Maret 2023, arus kas operasi WSKT minus Rp 467,6 miliar.
Yogie Perdana, analis Pefindo menilai, kondisi arus kas BUMN karya saat ini berada di bawah tekanan. Hal ini seiring
mismatch
antara uang yang masuk dari pembayaran termin dari bouwheer (pemilik proyek) dengan uang keluar terkait pembayaran ke vendor, investasi, dan pinjaman.
KOREKSI PASAR : BERBURU CUAN REKSA DANA SAHAM
Saat pasar saham tengah rontok, ternyata masih ada reksa dana saham yang mampu menawarkan imbal hasil menarik sehingga bisa menjadi acuan untuk mengoptimalkan portofolio saham. comBerdasarkan data Infovesta Utama, kinerja indeks reksa dana saham sepanjang 2023 sejalan dengan kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG). Namun, masih ada reksa dana saham yang menawarkan imbal hasil menarik. Dari data Infovesta Utama, imbal hasil tertinggi berada pada rentang 4,74% hingga 9,83% yang ditawarkan oleh Trim Kapital dan Recapital Equity. Bila merujuk pada lembar fakta Cipta Ovo Ekuitas, Majoris Alokasi Dinamik Indonesia, Prospera Bijak, dan Trim Kapital, terdapat kesamaan strategi investasi yang diterapkan manajer investasi sehingga mampu menghasilkan imbal hasil tebal. Manajer investasi yang memiliki produk dengan imbal hasil tinggi mengalokasikan dananya pada sektor Keuangan, konsumer cyclicals, properti dan infrastruktur. Berdasarkan data per 31 Maret 2023, reksa dana saham Majoris Alokasi Dinamik Indonesia milik PT Majoris Asset Management misalnya menempatkan dana paling tebal pada saham PT Astra International Tbk. (ASII) sebesar 9,59%; PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dengan porsi 9,88%; PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sebesar 6,96%; PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dengan porsi 9,23% dan saham PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BBTN) dengan porsi 3,13%.
Reksa dana saham tersebut turut memiliki portofolio PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) sebesar 3,12%; PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) dengan 3,48%; PT Semen Indonesia Tbk. (SMGR) dengan porsi 3,22%; PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) sebesar 8,78% dan PT United Tractors Tbk. (UNTR) 6,51%.
Direktur Pemasaran Ashmore Asset Management Steven Satya Yudha mengatakan bahwa ketidakpastian di pasar masih tinggi sejalan dengan sentimen potensi gagal bayar utang pemerintah Amerika Serikat. Selain itu, kebijakan moneter ketat dan tensi geopolitik masih menjadi sentimen yang memengaruhi pergerakan pasar saham sehingga perusahaan memilih sektor yang tahan banting terhadap gejolak pasar untuk memoles kinerja reksa dana saham.
Strategi itu pula yang membuat perusahaan menduduki deretan manajer investasi dengan dana kelolaan reksa dana saham ketiga paling tebal. Berdasarkan data Pasardana.id, hingga akhir April 2023, dana kelolaan reksa dana saham Ashmore Asset Management mencapai Rp9,48 triliun dari 7,41 miliar unit.
Dilanda Profit Taking, Big Caps Jadi Penggerus
Usai musim pembagian dividen, saham-saham berkapitalisasi pasar besar (
big caps
) mulai dilanda aksi
profit taking
. Melihat data Bursa Efek Indonesia (BEI), sepanjang Mei 2023, saham-saham
big caps
kompak menjadi saham tertinggal (
laggard
) yang menggerus IHSG.
Di sisi lain, saham-saham lapis kedua justru bergerak menguat. Terutama, saham sektor barang konsumsi dan ritel. Saham PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) juga menjadi salah satu saham
movers
IHSG di bulan Mei ini.
Research Analyst
Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani mengatakan, kebanyakan saham
big caps
yang berada di daftar
laggard
memang mengalami
downtrend
atau koreksi setelah mencatat rekor harga tertinggi tahun ini pada akhir bulan lalu. "Sehingga investor
profit taking,"ujarnya, Senin (15/5).
Saat
big caps
turun,
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus melihat, sejumlah saham lapis dua memiliki valuasi menarik. Menurutnya, dalam jangka pendek saham sektor infrastruktur dan keuangan berpeluang naik.
Merilis Saham Baru Demi Perkuat Modal
Sejumlah emiten berencana menggelar aksi korporasi lewat skema penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) alias
private placement. Aksi ini dilakukan emiten untuk memperkuat strukutur permodalannya.
Dalam catatan KONTAN, sedikitnya ada delapan emiten yang akan melaksanakan
private placement. Terbaru ada PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI). Emiuten ini telah menggelar
private placement
dengan menerbitkan saham baru seri A sebanyak 3 miliar lembar dengan nominal Rp 100 per saham.
Selain BIPI, beberapa emiten juga bersiap melakukan
private placement
. Aksi korporasi ini akan dilakukan emiten setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham dalam RUPS. Salah satunya adalah PT MNC Energy Investment Tbk (IATA).
Emiten tambang batubara itu akan menambah modal lewat
private placement
sebanyak 2,52 miliar saham dengan nilai nominal Rp 50 per saham. Untuk itu, IATA akan menggelar RUPSLB pada 16 Juni 2023.
CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo menilai,
private placement
umumnya dilaksanakan emiten untuk memenuhi kebutuhan modal. "Tentu mengarah pada kebutuhan ekspansi, yang dinilai membantu meningkatkan bisnis dan keuangan emiten," katanya, Minggu (15/5).
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menyarankan investor menyimak tujuan
private placement, untuk menghindari dilusi. "Jadi yang paling penting adalah tujuan dari penggunaan dana melalui aksi
private placement
tersebut," terang Nafan.
Saham Pabrik Kertas Kian Bernas
Kinerja emiten kertas diproyeksi terpapar efek positif kebijakan green procurement guide (GPG) atau pengadaan barang ramah lingkungan. Hal itu terjadi seiring aksi Pemerintah Kota Tokyo, Jepang, merevisi beleid GPG April lalu.
Pada 2020, GPG mencantumkan klausul tambahan terkait kewajiban eksportir kertas memiliki sertifikas kehutanan. Bagi perusahaan yang pernah menerima pemutusan hubungan dari sertifikasi kehutanan apapun, produknya tidak dapat diterima masuk ke Jepang.
CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo menilai, revisi peraturan GPG berpeluang meningkatkan ekspor kertas ke Jepang dan Asia. "Saat ini total orientasi ekspor ke pasar Asia lebih dari 60% terhadap penjualan ekspor emiten," kata Praska ke Kontan, Jumat (12/5).
Financial Expert
Ajaib Sekuritas, Chisty Maryani sepakat. Dia menilai, revisi peraturan GPG akan mendorong volume ekspor produk kertas dari Indonesia ke Jepang. Secara historis, sejak tahun 2018 hingga 2022, pertumbuhan ekspor kertas Indonesia belum memuaskan.
Chisty memproyeksi, efek revisi peraturan GPG akan terefleksi pada kinerja emiten kertas di akhir kuartal II-2023. "Prospek jangka panjang kinerja emiten kertas masih positif. Permintaan kertas masih tinggi di domestik dan ekspor," katanya.
Chisty menambahkan, sentimen positif yang bisa mendorong kinerja keuangan emiten kertas antara lain pertumbuhan volume ekspor. Sedang sentimen negatif, melandainya harga bubur kertas global di sepanjang tahun berjalan ini. Selain itu, ada potensi penurunan permintaan akibat melambatnya ekonomi global.
Saham Perbankan Dibayangi Teror Siber
Gangguan sistem perbankan di Bank Syariah Indonesia Tbk (BBSI) membuat heboh. Tak hanya bagi nasabah BSI, tapi juga nasabah perbankan di Tanah Air.
Keandalan sistem keamanan digital perbankan Tanah Air jadi dipertanyakan seiring dengan dugaan serangan siber yang kian marak. Namun, hingga Minggu (14/5), masalah utama yang membuat sistem di BSI lumpuh belum diketahui penyebabnya secara resmi.
Sejauh ini, efeknya ke harga saham bank ini relatif minim. Bila dihitung dalam sepekan hingga Jumat (12/5), harga saham bank syariah pelat merah ini justru naik 3,13% menjadi Rp 1.810 per saham. Bila dihitung sejak awal tahun, saham BRIS naik 40,31%.
Saham BRIS sepekan terakhir juga lebih apik dibanding saham bank big four yang terkoreksi tipis. Saham Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 0,28% Jumat lalu jadi Rp 8.800 per saham. Dalam sepekan, BBCA melemah 2,22%.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji mengungkapkan, dampak ke saham BRIS minim lantaran secara teknikal BRIS sedang dalam kondisi uptrend. Ini didorong realisasi kinerja keuangan BRIS yang positif.
BRIS berhasil mencatat laba bersih Rp 1,45 triliun pada kuartal I-2023 atau tumbuh 47,6% secara tahunan. Penetrasi ke pasar payroll yang jadi kunci pertumbuhan BSI meningkat 8,91% di kuartal I.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus melihat saham BSI juga masih terapresiasi karena investor melihat ada aksi mitigasi BSI untuk menyelesaikan masalah pada layanannya.
SVP Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menambahkan, efek kasus BSI ini baru akan signifikan jika ditemukan ada kerugian langsung pada fundamental bank atau nasabah. Misalnya nasabahnya kehilangan dana secara masif atau ada kebocoran data finansial.









