;
Tags

Saham

( 1722 )

Market Cap Amman Mineral Rp 129 Triliun, Terbesar di Sektor Material Dasar

KT1 07 Jun 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID- Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) akan memiliki kapitalisasi pasar  (market cap) berkisar Rp 120-129 triliun begitu sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), Juli 2023. Dengan demikian, market cap Amman Mineral terbesar di sektor mineral dasar Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, dikutip Selasa (6/6/2023), market cap Amman Mineral mencapai Rp 120 triliun, jika harga pelaksanaan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham mencapai Rp1.650. Adapun market cap Rp 129 triliun tercapai  jika harga pelaksanaan IPO Amman Mineral di harga tertinggi, Rp1.775. Sebagai perbandingan, tulis Phintraco, market cap PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) per 6 Juni 2023 mencapai Rp 73 triliun, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Rp 65,5 triliun, PT Aneka Tambang Tbk Rp 47 triliun, PT Bumi Resourch Tbk (BMRS) Rp 18,4 triliun. Adapun market cap dua  pendatang baru di sektor ini, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel masing-masing Rp82 triliun dan Rp 51 triliun, berdasarkan data Google Finance. Amman Mineral akan melepas 7,2 miliar saham melalui IPO dengan harga penawaran Rp1.650-1775. Perusahaan pertambangan tembaga dan emas ini bakal meraup dana IPO maksimal Rp 12,9 triliun, lebih besar Merdeka Battery dan Harita Nickel sekaligus menjadi IPO terbesar sepanjang tahun 2023 berjalan. (Yetede)

Kilau Emiten Emas Belum Memudar

HR1 06 Jun 2023 Kontan

Harga emas cenderung menurun dalam dua hari terakhir, terutama setelah pengesahan plafon utang Amerika Serikat (AS). Mengutip Bloomberg, harga emas kontrak Agustus 2023 di Commodity Exchange turun 0,73% ke US$ 1.955,30 per ons troi, Senin (5/6) pukul 19.00 WIB. Meski begitu, analis memperkirakan, harga emas masih cukup tinggi tahun ini. Analis Panin Sekuritas Felix Darmawan mengatakan, pelemahan ekonomi global dan stabilitas keuangan global yang fluktuatif akan menopang harga emas. The Federal Reserve dinilai masih berpotensi menaikkan bunga, meski dengan ritme lebih lambat. Sementara itu, pembelian emas besar-besaran oleh bank sentral di berbagai negara masih tinggi meski sudah mulai melambat. Dari dalam negeri, Felix bilang, daya beli masyarakat terhadap emas meningkat setelah sempat turun akibat pandemi Covid-19. Sementara Kepala Riset Sucor Sekuritas Edward Lowis memperkirakan, harga emas akan mencapai US$ 2.100 per ons troi di tahun ini. Hal tersebut menimbang resesi pasar dan potensi quantitative easing dari bank sentral utama. Prospek harga emas yang masih akan tinggi membuat Panin Sekuritas masih merekomendasikan overweight untuk saham sektor emas. Saham pilihan utama atau top pick di sektor ini adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Selain didorong solidnya harga komoditas, prospek ANTM juga ditopang tingginya minat masyarakat untuk berinvestasi logam mulia.

Risiko Main Saham Gorengan Makin Besar

HR1 06 Jun 2023 Kontan (H)

Investor yang baru masuk ke bursa saham sejak pandemi Covid-19 harus makin berhati-hati lantaran harga saham kini bisa turun lebih dalam. Maklum, Bursa Efek Indonesia (BEI) secara bertahap telah memulai normalisasi batas penolakan otomatis alias auto rejection simetris. Terhitung sejak kemarin, Senin (5/6), batas bawah penolakan otomatis alias auto rejection bawah (ARB) ditetapkan 15%. Kelak, di tahap kedua yang akan diterapkan pada 4 September 2023, batas ARB saham akan benar-benar menjadi simetris. Sehingga, batasan persentase ARB akan sama dengan batasan persentase auto rejection atas alias ARA. Penurunan terdalam dialami oleh saham PT Mitra Energi Persada Tbk (KOPI) yang harganya anjlok 15%. Posisi kedua ditempati saham PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang ambles 14,97%. Beberapa saham emiten yang terbilang pendatang baru di BEI juga tak luput terkena ARB 15%. Salah satunya saham PT Saptausaha Gemilangindah Tbk (SAGE) yang melemah 14,88% ke Rp 103. Pengamat pasar modal Teguh Hidayat mencermati, saham yang mengalami ARB 15% kebanyakan saham debutan yang baru melakukan initial public offering (IPO). CEO Sucor Sekuritas Bernadus Setya Ananda Wijaya menimpali, pasar tentu akan beradaptasi dengan mekanisme ARB sebesar 15%. Sebab, selama pandemi, banyak investor belum merasakan ARB sedalam ini. "Penyesuaian ARB akan membuat likuiditas transaksi lebih baik karena pasar lebih fleksibel," kata Bernadus.

Batas Baru ARB Tidak Pengaruhi Saham Bank

HR1 06 Jun 2023 Kontan

Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi memberlakukan batas auto rejection bawah (ARB) sebesar 15%, kemarin (5/6). Pada hari pertama pemberlakuan, saham-saham sektor keuangan masih menguat tipis 0,09%. Adapun pergerakan saham perbankan yang memiliki kapitalisasi besar, cukup bervariasi. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), kompak turun tipis.BBRI ditutup melemah 2,69% ke Rp 5.425 dan BBNI turun 0,55% ke Rp 9.000. Sementara saham big caps lain, seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 0,5% jadi Rp 5.075 dan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 1,66% menjadi Rp 9.200. Salah satu emiten bank digital yakni PT Bank Jago Tbk (ARTO) naik cukup tinggi yakni 5,04% menjadi Rp 2.500. Saham PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) juga naik 3,56% jadi Rp 466 per saham. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy mengungkapkan, penetapan ARB ini akan lebih berdampak pada pergerakan saham yang volatilitasnya tinggi. Meski, itu hanya akan bersifat lebih jangka pendek. Budi menuturkan, bank-bank yang memiliki nilai kapitalisasi pasar besar masih menjadi andalan karena mereka memiliki fundamental yang bagus. Sementara saham bank digital saat ini lebih sudah mahal, tidak sesuai dengan fundamentalnya. Apalagi, euforia saham bank digital di bursa semakin meredup. Sementara itu, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menuturkan, selama prospek fundamental dari emiten bank tersebut bagus, seharusnya tak perlu mencemaskan ketentuan batas baru ARB. Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menuturkan, kecil kemungkinan bagi saham-saham emiten perbankan yang memiliki modal inti jumbo, untuk menyentuh batasan ARB. Situasi berbeda berlaku untuk saham emiten bank kelas menengah, apalagi bank berskala kecil.

AS Lolos dari Gagal Bayar, IHSG Berpotensi Bangkit

KT1 05 Jun 2023 Investor Daily

JAKARTA, ID- Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi bangkit pada pekan ini, setelah Amerika Serikat (AS) lolos dari dari ancaman gagal bayar utang. Selain itu, sentimen domestik  masih cukup sulit menopang pergerakan indeks. Pekan lalu, Presiden AS Joe Biden menandatangani Undang-Undang penangguhan plafon utang (debt ceiling) pemerintah AS sebesar US$ 31,4 triliun. DPR dan senat telah mengesahkan undang-undang tersebut. Dengan begini AS bisa menambah melebihi plafon hingga Januari  2025 untuk membayar semua kewajiban. Kasus debt ceiling menjadi salah satu pemberat indeks. Selain itu, kejatuhan harga saham  komoditas, yakni nikel dan batu bara menambah tekanan ke indeks. Pekan lalu indeks saham ambles, 1,67% ke level 6,633. Adapun pekan ini, indeks diprediksi bergerak di kisaran 6.580-6.740. Analis Suya Fajar Sekuritas Raphon Prima menegaskan, sendtimen domestik dan global mendukung penguatan IHSG pekan ini. Dari sisi domestik dan global mendukung pengutan IHSG pekan ini. Dari sisi domestik, inflasi dan indeks manufaktur dan Purchasing Managers Indeks (PMI) Indonesia pada Mei 2023 masih cukup solid. (Yetede)

Amman Mineral Incar Dana Rp 12,9 Triliun

KT3 02 Jun 2023 Kompas

Perusahaan tambang PT Amman Mineral Internasional Tbk  berencana melepaskan 10 persen saham atau sebanyaknya 7,2 miliar saham. Adapun harga penawaran berkisar antara Rp 1.650 dan Rp 1.775 per saham. Dengan demikian, potensi dana yang diserap sebesar Rp 12,9 triliun. ”Aksi korporasi ini merupakan salah satu langkah strategis untuk mengembangkan bisnis yang berkelanjutan di era transisi energi,” kata Presiden Direktur Amman Alexander Ramlie di Jakarta, Rabu (31/5/2023). (Yoga)

TBIG Akan Merilis Obligasi Rp 20 Triliun

HR1 02 Jun 2023 Kontan

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) bakal menggalang pendanaan jumbo di pasar modal. Emiten menara telekomunikasi ini akan menerbitkan obligasi baru senilai Rp 20 triliun. Direktur Keuangan TBIG Helmy Yusman Santoso mengatakan, TBIG tengah memproses pengajuan aksi korporasi ini ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Rencananya, obligasi yang memiliki skema Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) itu akan terbit dalam satu hingga dua bulan ke depan. "Saat ini dalam proses untuk pendaftaran ke OJK program PUB yang baru sebesar Rp 20 triliun," ujar Helmy, dalam paparan publik, Rabu (31/5). Sayang, Helmy belum merinci penggunaan dana obligasi tersebut. TBIG memang kerap menerbitkan surat utang untuk belanja modal ataupun refinancing utang. Teranyar, TBIG menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V dengan target penghimpunan dana Rp 15 triliun. Awal tahun ini, TBIG telah menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V TBIG Tahap VI 2023 dengan jumlah pokok sebesar Rp 2,48 triliun. Dana obligasi itu digunakan untuk refinancing.

IHSG Terpukul Pelemahan Saham Batu Bara

KT1 30 May 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID – Pelemahan saham-saham batu bara berkapitalisasi besar memukul indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (29/5/2023), saat bursa saham regional menghijau dan negosiasi plafon utang Amerika Serikat (AS) tuntas. Kemarin, indeks terpangkas 0,09% ke level 6.681, setelah sebelumnya sempat turun ke level 6.616. Sementara itu, indeks FTSE BM Malaysia naik 0,14%, PSEi Filipina 0,96%, SETi Thailand 0,7%, dan VN-Index Vietnam naik 1%. Adapun indeks STI Singapura turun 0,38%. Sementara itu, indeks SH Comp Tiongkok naik 0,28%, Sensex India 0,56%, Nikkei225 Jepang 1%, dan TAEIX Taiwan 0,8%. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Ketua DPR Kevin McCarthy mencapai kesepakatan akhir, Minggu (28/5/2023), untuk menaikkan plafon utang negara. Kini, mereka bekerja memastikan dukungan yang cukup di Kongres untuk meloloskan Rancangan Undang-Undang (RUU) itu pekan ini. Berdasarkan data BEI, sebanyak lima saham batu bara masuk 10 besar pemberat IHSG. Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi pemberat terbesar indeks dengan kon tribusi penurunan 16,7 poin, setelah turun 4,8%. Selanjutnya, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyumbangkan penurunan indeks 2 poin, PT United Tractors Tbk (UNTR) 0,72%, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) turun 0,66%, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk
(ITMG) 0,55 poin. (Yetede)

Emiten Penjala Berkah dari Bursa Karbon

HR1 30 May 2023 Kontan (H)

Kabar bursa karbon mulai sedikit terang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan bursa karbon siap beroperasi pada September tahun 2023 ini. Jika tak ada hambatan, OJK akan mengeluarkan aturan perdana terkait bursa karbon pada 12 Juni 2023. Analis Eksekutif Direktorat Pengembangan Pasar Modal dan Pasar Syariah OJK Agustyatun Muji Rahayu mengatakan, OJK saat ini sedang dalam tahap diskusi dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menyusun aturan itu. "Aturan OJK dalam proses dengan DPR." jelas dia kepada KONTAN, Senin (29/5). Pada kesempatan berbeda, Ketua OJK Mahendra Siregarmengatakan, perdagangan bursa karbon akan dilakukan dengan mekanisme pembayaran berbasis hasil atau result based payment (RBT). "Rencana awal RBT yang akan diperdagangkan sebanyak 100 juta karbon dioksida (CO2) ," sebut Mahendra. Bursa karbon inilah yang akan mengatur perdagangan karbon, termasuk pencatatan kepemilikan karbon dan penjualan kepada pihak atau perusahaan di dalam negeri maupun luar negeri. Analis Henan Putihrai Sekuritas Ezaridho Ibnutama mengatakan, INDY juga telah melakukan perdagangan karbon menyusul target perusahaan tersebut mengurangi karbon sebesar 550 kilo ton (Kton) sampai 600 Kton emisi CO2 di bawah anak usaha, yakni Indika Multi Properti (IMP), dengan meningkatkan reklamasi lahan 20% pada tahun 2025. "Selain INDY, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) sudah mulai perdagangan karbon kredit juga,’ sebut Ezar. Anak usaha PT Pertamina ini mengeduk pendapatan baru dari carbon credit. Tahun lalu, PGEO membukukan pendapatan carbon credit sebesar US$ 747.000.

MANUVER EMITEN JARING DANA

HR1 30 May 2023 Bisnis Indonesia (H)

Sejumlah emiten berma­nuver di pasar saham untuk menerbitkan saham baru dengan skema rights issue untuk menjaring dana segar dari investor. Kebutuhan dana yang tinggi untuk eks­pansi mendo­rong sejumlah emiten untuk berma­nuver di pasar saham yang sejatinya tengah lesu digelayuti sejumlah tantangan. Salah satu opsi yang ditempuh adalah penerbitan saham baru dengan skema rights issue untuk menjaring dana segar dari investor. Bursa Efek Indonesia mencatat realisasi penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue mencapai 16 perusahaan dengan total dana dihimpun senilai Rp15,9 triliun per 26 Mei 2023. Jumlah itu lebih tinggi dari rea­lisasi penawaran umum ter­batas (PUT) yang direkapitulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sepanjang Januari-Mei 2022 yang tercatat sebanyak 10 perusahaan dengan total dana segar Rp11,98 triliun. Emiten dari sektor konsumer dan finansial mendominasi an­trean aksi penerbitan saham baru itu. Beberapa emiten di sektor tersebut yang tengah mera­­cik rights issue, yakni PT Bank Maspion Indonesia Tbk. (BMAS), PT Bank KB Bukopin Tbk. (BBKP), PT Bank J-Trust Indo­nesia Tbk. (BCIC), PT Midi Uta­ma Indonesia Tbk. (MIDI), PT Catur Sentosa Adiprana Tbk. (CSAP), dan PT Bintang Sa­­mudera Mandiri Lines Tbk. (BMSL). Dari jajaran itu, dana jumbo senilai Rp11,99 triliun diincar oleh BBKP dari penerbitan 119,99 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp100 per saham. Pemegang saham BBKP, Kookmin Bank Co. Ltd. akan menggelontorkan dana Rp4,85 triliun dan STIC Eugene Star Holdings Inc. akan menanamkan modal senilai Rp3,19 triliun lewat rights issue tersebut. Saat dihubungi Bisnis, Head of Research Surya Fajar Sekuritas Raphon Prima mengatakan minat rights issue saat ini cukup tinggi karena perusahaan menilai perekonomian Indonesia telah memasuki pemulihan setelah Covid-19. Pada saat yang sama, tingkat suku bunga masih tinggi.

Terpisah, Head of Research Jasa Utama Capital Se­kuritas Cheril Tanuwijaya menilai rights issue menjadi opsi penggalangan dana yang tetap atraktif bagi perusahaan ka­rena tidak menambah porsi utang. “Rights issue menjadi pilihan yang menarik kala suku bunga sedang tinggi seperti saat ini sehingga beban keuangan tidak bertambah,” ujarnya. Sementara itu, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina berpandangan minat perusahaan untuk menerbitkan saham baru tetap tinggi, tetapi masih tertahan dengan kondisi pasar yang kurang kondusif. Dari kalangan emiten, Di­rektur Keuangan PT Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk. (BSML) Pramayari Hardian Doktrianto mengatakan rights issue dilakukan sejalan dengan rencana jangka panjang perseroan untuk memperkuat struktur permodalan. Emiten jasa pengangkutan laut dan logistik itu akan menggunakan mayoritas dana hasil rights issue untuk membayar sebagian besar atau melunasi kewajiban kepada kreditur perbankan.

Pilihan Editor