Saham
( 1717 )TBIG Akan Merilis Obligasi Rp 20 Triliun
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) bakal menggalang pendanaan jumbo di pasar modal. Emiten menara telekomunikasi ini akan menerbitkan obligasi baru senilai Rp 20 triliun. Direktur Keuangan TBIG Helmy Yusman Santoso mengatakan, TBIG tengah memproses pengajuan aksi korporasi ini ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Rencananya, obligasi yang memiliki skema Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) itu akan terbit dalam satu hingga dua bulan ke depan.
"Saat ini dalam proses untuk pendaftaran ke OJK program PUB yang baru sebesar Rp 20 triliun," ujar Helmy, dalam paparan publik, Rabu (31/5).
Sayang, Helmy belum merinci penggunaan dana obligasi tersebut. TBIG memang kerap menerbitkan surat utang untuk belanja modal ataupun
refinancing
utang. Teranyar, TBIG menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V dengan target penghimpunan dana Rp 15 triliun.
Awal tahun ini, TBIG telah menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V TBIG Tahap VI 2023 dengan jumlah pokok sebesar Rp 2,48 triliun. Dana obligasi itu digunakan untuk
refinancing.
IHSG Terpukul Pelemahan Saham Batu Bara
JAKARTA, ID – Pelemahan saham-saham batu bara berkapitalisasi besar memukul indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (29/5/2023), saat bursa saham regional menghijau dan negosiasi plafon utang Amerika Serikat (AS) tuntas. Kemarin, indeks terpangkas 0,09% ke level 6.681, setelah sebelumnya sempat turun ke level 6.616. Sementara itu, indeks FTSE BM Malaysia naik 0,14%, PSEi Filipina 0,96%, SETi Thailand 0,7%, dan VN-Index Vietnam naik 1%. Adapun indeks STI Singapura turun 0,38%. Sementara itu, indeks SH Comp Tiongkok naik 0,28%, Sensex India 0,56%, Nikkei225 Jepang 1%, dan TAEIX Taiwan 0,8%. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Ketua DPR Kevin McCarthy mencapai kesepakatan akhir, Minggu (28/5/2023), untuk menaikkan plafon utang negara. Kini, mereka bekerja memastikan dukungan yang cukup di Kongres untuk meloloskan Rancangan Undang-Undang (RUU) itu pekan ini. Berdasarkan data BEI, sebanyak lima saham batu bara masuk 10 besar pemberat IHSG. Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi pemberat terbesar indeks dengan kon tribusi penurunan 16,7 poin, setelah turun 4,8%. Selanjutnya, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyumbangkan penurunan indeks 2 poin, PT United Tractors Tbk (UNTR) 0,72%, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) turun 0,66%, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk
(ITMG) 0,55 poin. (Yetede)
Emiten Penjala Berkah dari Bursa Karbon
Kabar bursa karbon mulai sedikit terang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan bursa karbon siap beroperasi pada September tahun 2023 ini. Jika tak ada hambatan, OJK akan mengeluarkan aturan perdana terkait bursa karbon pada 12 Juni 2023.
Analis Eksekutif Direktorat Pengembangan Pasar Modal dan Pasar Syariah OJK Agustyatun Muji Rahayu mengatakan, OJK saat ini sedang dalam tahap diskusi dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menyusun aturan itu. "Aturan OJK dalam proses dengan DPR." jelas dia kepada KONTAN, Senin (29/5).
Pada kesempatan berbeda, Ketua OJK Mahendra Siregarmengatakan, perdagangan bursa karbon akan dilakukan dengan mekanisme pembayaran berbasis hasil atau
result based payment
(RBT). "Rencana awal RBT yang akan diperdagangkan sebanyak 100 juta karbon dioksida (CO2) ," sebut Mahendra.
Bursa karbon inilah yang akan mengatur perdagangan karbon, termasuk pencatatan kepemilikan karbon dan penjualan kepada pihak atau perusahaan di dalam negeri maupun luar negeri.
Analis Henan Putihrai Sekuritas Ezaridho Ibnutama mengatakan, INDY juga telah melakukan perdagangan karbon menyusul target perusahaan tersebut mengurangi karbon sebesar 550 kilo ton (Kton) sampai 600 Kton emisi CO2 di bawah anak usaha, yakni Indika Multi Properti (IMP), dengan meningkatkan reklamasi lahan 20% pada tahun 2025.
"Selain INDY, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) sudah mulai perdagangan karbon kredit juga,’ sebut Ezar. Anak usaha PT Pertamina ini mengeduk pendapatan baru dari carbon credit. Tahun lalu, PGEO membukukan pendapatan
carbon credit
sebesar US$ 747.000.
MANUVER EMITEN JARING DANA
Sejumlah emiten bermanuver di pasar saham untuk menerbitkan saham baru dengan skema rights issue untuk menjaring dana segar dari investor. Kebutuhan dana yang tinggi untuk ekspansi mendorong sejumlah emiten untuk bermanuver di pasar saham yang sejatinya tengah lesu digelayuti sejumlah tantangan. Salah satu opsi yang ditempuh adalah penerbitan saham baru dengan skema rights issue untuk menjaring dana segar dari investor. Bursa Efek Indonesia mencatat realisasi penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue mencapai 16 perusahaan dengan total dana dihimpun senilai Rp15,9 triliun per 26 Mei 2023. Jumlah itu lebih tinggi dari realisasi penawaran umum terbatas (PUT) yang direkapitulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sepanjang Januari-Mei 2022 yang tercatat sebanyak 10 perusahaan dengan total dana segar Rp11,98 triliun. Emiten dari sektor konsumer dan finansial mendominasi antrean aksi penerbitan saham baru itu. Beberapa emiten di sektor tersebut yang tengah meracik rights issue, yakni PT Bank Maspion Indonesia Tbk. (BMAS), PT Bank KB Bukopin Tbk. (BBKP), PT Bank J-Trust Indonesia Tbk. (BCIC), PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI), PT Catur Sentosa Adiprana Tbk. (CSAP), dan PT Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk. (BMSL). Dari jajaran itu, dana jumbo senilai Rp11,99 triliun diincar oleh BBKP dari penerbitan 119,99 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp100 per saham. Pemegang saham BBKP, Kookmin Bank Co. Ltd. akan menggelontorkan dana Rp4,85 triliun dan STIC Eugene Star Holdings Inc. akan menanamkan modal senilai Rp3,19 triliun lewat rights issue tersebut. Saat dihubungi Bisnis, Head of Research Surya Fajar Sekuritas Raphon Prima mengatakan minat rights issue saat ini cukup tinggi karena perusahaan menilai perekonomian Indonesia telah memasuki pemulihan setelah Covid-19. Pada saat yang sama, tingkat suku bunga masih tinggi.
Terpisah, Head of Research Jasa Utama Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya menilai rights issue menjadi opsi penggalangan dana yang tetap atraktif bagi perusahaan karena tidak menambah porsi utang. “Rights issue menjadi pilihan yang menarik kala suku bunga sedang tinggi seperti saat ini sehingga beban keuangan tidak bertambah,” ujarnya. Sementara itu, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina berpandangan minat perusahaan untuk menerbitkan saham baru tetap tinggi, tetapi masih tertahan dengan kondisi pasar yang kurang kondusif. Dari kalangan emiten, Direktur Keuangan PT Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk. (BSML) Pramayari Hardian Doktrianto mengatakan rights issue dilakukan sejalan dengan rencana jangka panjang perseroan untuk memperkuat struktur permodalan. Emiten jasa pengangkutan laut dan logistik itu akan menggunakan mayoritas dana hasil rights issue untuk membayar sebagian besar atau melunasi kewajiban kepada kreditur perbankan.
Menanti Akhir Kisah Divestasi Saham INCO
Rencana PT Vale Indonesia (INCO) melepas 11% saham kepada Pemerintah Indonesia lewat skema divestasi terus bergulir.
Langkah divestasi 11% saham dari milik Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining Co Ltd ini, merupakan bagian dari kewajiban emiten pertambangan nikel ini untuk memenuhi syarat pengalihan status kontrak karya (KK) menjadi izin usaha pertambangan khusus atau IUPK.
Vale beroperasi di Indonesia sejak tahun 1968 lewat KK pertama. Tahun 2014, KK INCO diperpanjang hingga 28 Desember 2025. Artinya, dua tahun ke depan, KK INCO di Indonesia akan berakhir.
Agar bisa terus beroperasi di Indonesia, INCO harus dapat IUPK. Syaratnya, INCO harus divestasi saham 51% kepada pemerintah Indonesia, pemerintah daerah, BUMN, badan usaha milik daerah atau investor swasta. Syarat ini sesuai titah Undang-Undang (UU) No 3/2020 Pasal 112 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Saat ini mayoritas saham INCO milik Vale Canada Limited 44,3%, Sumitomo Metal Mining Co Ltd (SMM) 15%. Lalu, 20,18% milik Inalum (Mind ID). Sisanya 20,7% dikuasai publik di pasar modal.
Head of Communications Vale Indonesia, Bayu Aji Suparam mengungkapkan, INCO telah memenuhi kewajiban divestasi sebesar 40%, ke Pemerintah Indonesia dan publik. Vale masih perlu melakukan divestasi tambahan sesuai UU sebanyak 11%.
Dengan begitu, divestasi INCO tanpa memperhitungkan saham publik, baru mencapai 20,1%, Artinya INCO masih harus melepas sekitar 31% untuk divestasi 51%.
Berkat AI, Harga Saham Nvidia Melonjak Tajam
Pialang dan investor di bursa saham Amerika Serikat, Kamis (25/5/2023), tercengang. Mereka menyaksikan lonjakan harga saham salah satu produsen semikonduktor, Nvidia. Harga saham Nvidia lebih tinggi dua kali lipat daripada saham Apple dan Alphabet, perusahaan induk Google. OpenAI dan aneka perusahaan yang bergulat di pasar kecerdasan buatan (AI) menjadi pasar baru Nvidia. (Yoga)
Jeli Menangkap Peluang Saham Emiten Politisi
Kurang dari setahun ke depan, rakyat Indonesia akan kembali menggelar pesta demokrasi lima tahunan bertajuk Pemilihan Umum (Pemilu). Sesuai jadwal, pemilu legislatif dam presiden akan serentak dilaksanakan pada 14 Februari 2024.
Secara historis, sentimen pemilu bakal menggairahkan pergerakan pasar saham di dalam negeri. Di momentum ini, biasanya daya beli masyarakat terangkat. Terutama belanja konsumsi, telekomunikasi, dan iklan.
Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee menilai, pemilu akan menjadi pemanis pagi pergerakan pasar saham yang tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sebagai gambaran, pada pemilu 2019, IHSG menguat 1,64%.
Sebut saja, saham related Sandiaga Uno. Pengusaha yang kini sedang menyandang jabatan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu merupakan mantan politikus Partai Gerindra dan segera bergabung ke partai PPP.
Saat ini, Sandiaga terafiliasi sedikitnya dengan delapan emiten bursa. Sandi mengempit kepemilikan saham di emiten-emiten itu lewat kendaran bisnisnya PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG).
Selain Sandi Uno, ada juga kompatriotnya di jajaran kabinet Indonesia Maju yang terafiliasi emiten BEI. Yakni, Erick Thohir, Menteri Negara BUMN. Erick merupakan pemilik emiten media PT Mahaka Radio Integra Tbk (MARI) dan PT Mahaka Media Tbk (ABBA).
Hans Kwee mencermati, biasanya saham-saham emiten politisi akan terimbas sentimen Pemilu. "Saham emiten yang dimiliki politisi bisa bergerak positif. Apalagi kalau partainya diperkirakan menang pemilu legislatif atau pilpres," kata Hans saat dihubungi Kontan, Kamis (25/5).
Setali tiga uang, Pengamat Pasar Modal dan Founder WH Project, William Hartanto menilai tahun politik bisa mendorong pergerakan saham emiten politisi.
FFR Berhenti Naik, Indeks Kembali ke 7.000
JAKARTA, ID - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), kembali menguat 7,03 poin (0,1%) ke level 6.736, Selasa (23/5/2023), melanjutkan tren dua hari sebelumnya. IHSG diyakini dapat kembali menembus level 7.000, jika suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) atau Federal Funds Rate (FFR) berhenti naik, Juni mendatang. Kemarin, Investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) saham senilai Rp 788 miliar. Net buy terbanyak oleh investor asing melanda lima saham berikut, yaitu PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 284,56 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 231,86 miliar, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp 193,37 miliar, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 176,80 miliar, dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) Rp 119,44 miliar. Penguatan IHSG kemarin didukung oleh kenaikan mayoritas sektor saham, yaitu sektor konsumer primer 1,37%, sektor transportasi 1,43%, sektor keuangan 0,19%, dan sektor kesehatan 0,19%. Sebaliknya, pelemahan melanda saham sektor teknologi 0,96%, sektor infrastruktur 0,5%, dan sektor energi 0,82%. Menurut Head of Fixed Income BNP Paribas Asset Management Djumala Sutedja, IHSG reli, karena merespons optimisme investor terhadap penyelesaian penentuan plafon utang (debt ceiling) AS. (Yetede)
Kinerja Reksadana Offshore Berbasis Saham Naik Dua Digit
Pasar saham menjadi penggerak utama reksadana global berdenominasi dollar Amerika Serikat (AS). Situasi ekonomi global yang membaik berpengaruh positif bagi pendapatan emiten.
Research & Consulting Manager Infovesta Kapital Advisori, Nicodimus Kristiantoro menjelaskan, dari 59 produk reksadana dollar yang terdapat di Infovesta, sebanyak 51 reksadana dollar mencatat kinerja positif di sepanjang tahun ini.
Reksadana dollar terdiri dari empat jenis yaitu reksadana dollar saham, reksadana dollar pendapatan tetap, reksadana dollar pasar uang dan reksadana dollar campuran. Produk Batavia Technology Sharia Equity USD merupakan reksadana dollar yang mencatatkan penguatan tertinggi dari seluruh jenis reksadana dollar yakni 21,84% secara year to date (ytd). Kemudian menyusul Bahana USD Global Sharia Equities dengan penguatan 18% ytd dan STAR Global Sharia Equity USD.
Ketiga produk teratas tersebut merupakan reksadana dollar berbasis saham. Nico menyebut, reksadana PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen (BPAM) yaitu Batavia Technology Sharia Equity USD mencetak kinerja tertinggi karena menempatkan dana di saham sebesar 90,17% dan 9,83% diisi pasar uang.
Ke depan, reksadana offshore memang dinilai masih menarik. Apalagi jika kondisi ekonomi global terkonfirmasi bergerak dan tidak terjadi resesi. Tapi, Nico menyarankan tetap berhati-hati karena jika masih ada sikap hawkish The Fed, risiko gagal bayar AS dan ekonomi China yang stagnan.
Kinerja Emiten Beralkohol Kian Fly
Kinerja emiten minuman beralkohol kembali bergairah di awal tahun ini. Dari empat emiten alkohol yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), mayoritas mencetak pertumbuhan kinerja di kuartal I-2023.
Ambil contoh kinerja PT Hatten Bali Tbk (WINE). Di sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, WINE berhasil membalikkan posisi rugi bersih di kuartal I-2022 sebesar Rp 118 juta menjadi laba bersih Rp 11,48 miliar. Pertumbuhan laba bersih emiten yang baru melantai di BEI pada Januari 2023 ini, ditopang lonjakan penjualan 136,36% secara tahunan menjadi Rp 58,50 miliar pada kuartal I-2023.
Kenaikan laba bersih MLBI juga didorong melonjaknya penjualan di kuartal I-2023 sebesar 9,8% secara tahunan jadi Rp 740,01 miliar. Nasib kurang beruntung dialami PT Delta Djakarta Tbk (DLTA).
Pada kuartal pertama tahun ini, DLTA membukukan laba bersih sebesar Rp 58,85 miliar pada kuartal I 2023. Jumlah ini menyusut 4,6% ketimbang laba di periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 61,69 miliar.
Research & Consulting Manager Infovesta Kapital Advisori, Nicodimus Kristiantoro melihat, ada beberapa faktor yang jadi kunci sukses pertumbuhan kinerja emiten alkohol di kuartal I-2023.
Nico melihat, ke depan, emiten minol masih akan diselimuti sentimen positif. Seperti daya beli konsumen pulih, maraknya event pariwisata dan musim liburan di akhir tahun mendatang.
Senada, Kepala Riset Surya Fajar Sekuritas, Raphon Prima memproyeksi, banyaknya momentum hari libur di kuartal II-2023 akan menjadi sentimen positif pertumbuhan kinerja emiten alkohol.
Raphon melihat saham emiten alkohol masih menarik. Dia merekomendasi beli saham MLBI dengan target harga Rp 11.000. Nico merekomendasi beli saham MLBI dengan target harga Rp 9.400.









