;
Tags

Saham

( 1722 )

Gula-Gula Pemanis IHSG Bagi Asing

HR1 11 May 2023 Kontan

Bursa saham dalam negeri dinilai masih memiliki daya tawar untuk menggaet investor asing. Hingga Rabu (10/5), Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan nilai beli bersih alias net buy asing mencapai Rp 17,98 triliun secara year to date (ytd). Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mencermati, dana asing yang keluar alias capital inflow di pasar saham berpotensi terus bertambah, seiringan dengan perlambatan ekonomi global. "Namun untungnya ekonomi dalam negeri masih solid, sehingga capital outflow China bisa ke dalam negeri," kata dia, Rabu (10/5). Jika dibandingkan dengan bursa Asia Tenggara, price earning ratio (PER) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang masih di level rata-rata. Berdasarkan data Bloomberg, per Rabu (10/5), PER IHSG ada di 13,06 kali. Valuasi tersebut lebih rendah dari Thailand, Malaysia dan Filipina. Di pasar Asia, PER IHSG juga lebih rendah dari bursa China dan Korea Selatan yang masing-masing di 37,78 kali dan 14,26 kali. Sementara Indonesia menunjukkan progress ekonomi yang cukup baik. Hal ini menurut Nico bisa membuka peluang bagi Indonesia untuk menampung aliran dana asing. "Apalagi memasuki semester II, Indonesia akan menghadapi sentimen Pemilu," papar Nico, Rabu (10/5). Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas juga sepakat mengatakan jika fundamental ekonomi Indonesia yang masih kuat akan memicu aliran dana asing. "Jika saat tahun 2022 asing sudah memanfaatkan net sell, harapannya di tahun ini asing melanjutkan net buy meskipun di tengah kekhawatiran dari sisi global," kata Sukarno.

Saham FMCG Masih Moncer

HR1 10 May 2023 Kontan

Emiten yang bergerak di bisnis barang konsumen habis pakai alias fast moving consumer goods (FMCG) sudah merilis laporan kinerja keuangan kuartal I-2023. Hasilnya, rata-rata emiten di sektor ini membukukan kinerja positif. Ambil contoh PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD). Emiten ini mencatatkan kenaikan laba bersih 67,96% secara tahunan menjadi Rp 156,47 miliar di kuartal I -2023. Kinerja apik juga dicatat PT Mayora Indah Tbk (MYOR). Pada tiga bulan pertama tahun ini, MYOR mengantongi laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 727,71 miliar. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) juga mencatatkan pertumbuhan laba bersih 63,27% secara tahunan menjadi Rp 3,84 triliun dari Rp 2,35 triliun pada periode yang sama tahun 2022. Meski mencatat kinerja positif di kuartal I-2023, saham emiten FMCG masih bergerak volatil. Contoh saham GOOD. Kemarin, saham GOOD naik 0,43% ke level Rp 466. Namun, jika diakumulasi sejak awal tahun, saham GOOD sudah longsor 11,24%. Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai, masih merahnya kinerja saham sejumlah emiten barang konsumen dipicu beberapa faktor. Salah satunya mahalnya valuasi saham emiten. Meski begitu, Nafan melihat. prospek emiten barang konsumen masih cerah. Katalis positif emiten akan ditopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini yang diproyeksi berkisar 5%. Menurut Nafan, kinerja perekonomian tahun ini akan ditopang pertumbuhan konsumsi pasca pandemi. Momentum Pemilu 2024 juga akan menggenjot konsumsi masyarakat. "Sentimen positifnya ada di tingkat konsumsi yang tinggi," katanya. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang sepakat. Dia menilai, faktor pendorong pertumbuhan kinerja emiten konsumen adalah pemulihan konsumsi masyarakat yang relatif stabil di awal 2023.

Berkah Lebaran, Kinerja Peritel Bakal Lebih Tinggi di Kuartal II

HR1 10 May 2023 Kontan

Ramadan dan Lebaran Idul Fitri menjadi katalis penting bagi pertumbuhan kinerja emiten ritel pada kuartal II-2023 mendatang. Pasalnya, ada lonjakan penjualan selama momentum tersebut. Berkah Ramadan dan Lebaran ini dirasakan oleh emiten ritel dari berbagai segmen, baik di bisnis barang konsumen primer maupun nonprimer. Seperti yang dialami oleh emiten ritel fesyen, PT Mega Perintis Tbk (ZONE). Sekretaris Perusahaan ZONE Luki Rusli memprediksi, omzet pada momen puasa dan Lebaran tahun 2023 tumbuh di level dua digit dibandingkan periode yang sama tahun lalu. "Ramadan dan Lebaran selalu menjadi kontribusi penjualan tertinggi bagi ZONE, dibanding musimlainnya," kata Luki kepada KONTAN, Selasa (9/5). Emiten pengelola Alfamidi, PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) juga menjaring cuan dari Ramadan dan Lebaran. Direktur dan Sekretaris Perusahaan MIDI Suantopo Po memberikan gambaran, secara historis, penjualan di periode ini bisa tumbuh sekitar 15% dibandingkan hari biasa. Sehingga, dia optimistis, kinerja perusahaan di kuartal II-2023 akan lebih tinggi. Analis Panin Sekuritas, Andhika Audrey mengamati, pertumbuhan kinerja emiten ritel juga terkait dengan pemilihan segmen pasar dan format gerai. Misalnya untuk format gerai mini seperti pada Alfamidi (MIDI) dan Alfamart atau PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang cenderung menyasar pasar menengah hingga bawah. Di sisi lain, emiten dengan segmentasi menengah ke bawah seperti PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) juga turut terpapar berkah Ramadan. Sehingga, dia memprediksi, kinerja emiten ritel akan mengalami pertumbuhan pada kuartal II-2023.

Pilih-Pilih Pendatang Baru di Bursa

HR1 09 May 2023 Kontan

Bursa Efek Indonesia (BEI) terus kedatangan emiten baru. Senin (8/5), empat emiten anyar resmi mencatatkan saham perdananya lewat skema initial public offering (IPO) di BEI. Keempat emiten tersebut adalah PT King Tire Indonesia Tbk (TYRE), PT Multivision Plus Tbk (RAAM), PT Informasi Teknologi Indonesia Tbk (JATI) dan PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH). Total penggalangan dana atau nilai emisi IPO dari keempat emiten anyar tersebut tergolong relatif kecil. Ambil contoh dana IPO yang diraup Multivision Plus dari IPO sebesar Rp 217,43 miliar. Lalu, DOOH hanya mengantongi dana IPO Rp 154,70 miliar. Adapun, King Tire meraup dana IPO Rp 96,8 miliar. Terakhir yang paling kecil adalah JATI dengan nilai emisi IPO sebesar Rp 54,25 miliar. Research Analyst Reliance Sekuritas Lukman Hakim mencermati, secara umum emiten yang baru melantai di bursa memiliki peluang untuk tumbuh. Hal ini didukung oleh pendanaan hasil IPO. Dengan status sebagai perusahaan terbuka, emiten juga bisa mendapatkan akses long term financing facilities serta benefit lainnya. Antara lain, meningkatkan citra perusahaan dan kemampuan mempertahankan usaha. Equity Analyst Kanaka Hita Solvera Raditya Pradana menimpali, valuasi saham JATI paling menarik. "JATI memiliki price earning to ratio (PER) di bawah satu kali. Tiga emiten lain punya PER di atas satu kali," katanya. Sementara itu, Research Analyst Infovesta Kapital Adivisori Arjun Ajwani menilai, dari empat emiten pendatang baru, saham emiten produsen ban King Tyre paling menarik dilirik. Hal ini seiring prospek bisnis yang digeluti TYRE.

Bank Jadi Penopang Emiten Grup Pelat Merah

HR1 09 May 2023 Kontan (H)

Emiten saham konstruksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sedang babak belur. Beban utang dan kasus korupsi menyebabkan kinerja mereka merah. Bahkan mulai Senin (8/5), otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara atau mensuspensi perdagangan saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Ini adalah imbas dari penundanan pembayaran bunga ke-11 Obligasi Berkelanjutan IV Waskita Karya Tahap I Tahun 2020 yang jatuh tempo Mei ini. Dari sisi kinerja keuangan, WSKT merugi Rp 374,93 miliar pada kuartal I-2023. Catatan tersebut sebenarnya lebih baik dari kuartal I-2022 saat WSKT mencatatkan rugi bersih Rp 830,64 miliar. Sejawat WSKT sesama BUMN karya, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), juga mencetak rugi bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk senilai Rp 521,26 miliar di periode yang sama. Di periode sama tahun lalu, WIKA mendulang laba Rp 1,33 miliar. Salah satu penyebab memburuknya kinerja emiten saham BUMN karya adalah minimnya keberhasilan mereka dalam meraih kontrak baru. WIKA, misalnya, mengantongi kontrak baru Rp 6,1 triliun pada kuartal I-2023 atau 17,94% dari target minimal WIKA tahun ini yang di kisaran Rp 34 triliun-Rp 36 triliun. 

Nah, secara umum, BUMN perbankan yang masih membukukan kinerja memukau. Kinerja bank pelat merah juga menjadi penopang kinerja BUMN secara keseluruhan. Tak heran bila emiten saham bank pemerintah juga mendominasi bobot indeks emiten BUMN yang masuk daftar IDX BUMN20. Sampai akhir Maret 2023, Bank Mandiri (BMRI) menyumbang bobot 15,80%. Menyusul Telkom Indonesia (TLKM) sebesar 15,70%, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 15,40%, Bank BNI (BBNI) 15,30% dan Semen Indonesia (SMGR) 6,93%. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama mengemukakan, penundaan pembayaran bunga obligasi menjadi sentimen negatif bagi WSKT. Kasus korupsi yang menjerat sejumlah direksi WSKT juga turut menyeret saham ini lebih dalam ke zona merah. "Biasanya (sentimen negatif) sejalan dengan pelemahan harga saham," kata Nafan, kemarin, Pengamat Pasar Modal, Teguh Hidayat melihat sektor yang prospektif di tahun 2023 ini adalah saham bank. "Kalau dari kelompok BUMN saat ini hanya perbankan yang menarik," kata Teguh, Senin (8/5).

Pandemi Hilang, Risiko Global Menghadang

HR1 08 May 2023 Kontan (H)

Pasar keuangan mendapatkan satu kepastian baru. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mencabut status kedaruratan global pandemi Covid-19. Pencabutan status pandemi ini dapat berdampak ke pasar keuangan dalam negeri, meskipun sifatnya jangka pendek. Pelaku pasar dan industri memang sudah melakukan kegiatan seperti kondisi sebelum pandemi, terutama pencabutan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM)  akhir 2022 silam. Namun, investor harus mewaspadai ketidakpastian global. Dalam jumpa pers Jumat pekan lalu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar mewaspadai kondisi ketidakpastian global yang tinggi dan dampak rambatannya pada sektor jasa keuangan nasional. "Meski saat ini dampak rambatannya ke domestik relatif terbatas, tetap perlu langkah antisipatif  memitigasi dampaknya ke pertumbuhan ekonomi, intermediasi dan stabilitas sistem keuangan," terang Mahendra, Jumat (5/5). Di sinilah investor harus pintar-pintar melihat peluang. Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji mengatakan, investor bakal memanfaatkan momentum ini dengan melakukan pembelian di pasar modal. Dana asing juga akan masuk ke bursa. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, pencabutan status pandemi akan mengerek optimisme pasar jangka pendek. Prediksi Nico, IHSG pekan ini di kisaran 6.745-6.875.

Laba Tergerus, Emiten Sawit Masih Prospektif

KT1 08 May 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID - Pelemahan harga sawit turut menyeret penurunan kinerja emiten sawit pada kuartal I-2023. Alhasil, harga saham berbasis sawit pun ikut tergerus. Meski demikian, kalangan analis memproyeksikan prospek minyak sawit dan turunannya masih cerah. Berdasarkan data yang dihimpun Investor Daily dari Bursa Efek Indonesia (BEI), penurunan kinerja paling dalam dialami emiten sawit milik grup Astra, PT Astra Agro Lestari Tbk. Emiten yang melantai di BEI dengan sandi saham AALI ini membukukan laba bersih Rp 224,7 miliar pada kuartal I-2023, anjlok 53,5% dibandingkan periode sama tahun silam Rp 483,4 miliar. Laporan keuangan perseron menunjukkan, koreksi laba bersih itu terjadi sejalan dengan turunnya pendapatan sebesar 27,6% menjadi Rp 4,76 triliun dibandingkan kuartal I-2022 yang sebesar Rp 6,58 triliun. Segmen minyak sawit dan produk turunan Astra Agro menyumbang Rp 4,35 triliun, diikuti inti sawit dan turunannya Rp 399,5 miliar, dan produk lainnya Rp 4,3 miliar. Pada periode yang sama, PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) juga membukukan penurunan pendapatan sebesar 27,7% menjadi Rp 184,15 miliar dibanding periode sama tahun lalu. (Yetede)

Insentif Akan Dipangkas, Saham Nikel Amblas

HR1 06 May 2023 Kontan

Sentimen negatif membayangi emiten saham produsen nikel di Tanah Air. Pemerintah akan memangkas insentif pajak untuk membatasi investasi produk olahan bijih nikel kelas dua, seperti nickel pig iron (NPI). Artinya, pemerintah tidak akan lagi memberikan pembebasan pajak untuk investasi NPI. Kabar tak sedap ini diembuskan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia. Menurut Reuters, kemarin (5/5), Bahlil menyatakan pemerintah tidak akan lagi memberi tax holiday untuk investasi NPI. Tujuannya untuk membatasi investasi pada produk nikel berkualitas rendah. Sontak, rencana pemerintah tersebut berpotensi menjadi sentimen negatif bagi emiten nikel. Apalagi, sehari pasca Bahlil menyatakan rencananya tersebut, saham-saham emiten nikel kompak longsor pada perdagangan kemarin. Contohnya saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL). Kemarin, saham emiten pertambangan nikel yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia pada 12 April 2023 ini, tergerus 6,96% ke posisi Rp 1.270. Nasib serupa dialami saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), yang anjlok 6,96% ke level Rp 3.610. Tak berbeda dengan sang induk, saham anak usaha MDKA, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) turun 1,86% ke Rp 790. Equity Research Analyst Panin Sekuritas, Felix Darmawan melihat, rencana kebijakan pemerintah kerap menjadi katalis penting bagi pergerakan harga saham emiten komoditas. Tak terkecuali emiten nikel. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani sepakat, penurunan harga komoditas nikel global lebih dominan menjadi sentimen negatif emiten nikel. Selain itu, ada gejolak yang membayangi pasar.

INVESTASI SAHAM : Cerdas Emosi saat Pasar Bergejolak

HR1 06 May 2023 Bisnis Indonesia

Pada dasarnya pasar modal bukan sektor yang stabil. Sifat alami pasar modal memang selalu naik turun karena setiap pelaku pasar diberi kebebasan untuk menjual dan membeli aset tertentu sesuai dengan nilai yang dikehendaki. Terkadang, gelombang naik dan turunnya terasa kecil, tetapi pada periode tertentu bisa bergerak lebih besar. Investor tidak perlu panik dalam menghadapi situasi yang terus berfluktuasi tersebut. Menurut Perencana Keuangan sekaligus CEO JOOARA Gembong Suwito, nilai saham yang turun tidak perlu langsung dijual. Pada posisi ini, investor perlu berpikir tenang dan tidak panik. Sebab, kepanikan akan membuat keputusan investasi tidak berdasarkan rencana dan strategi yang matang. Langkah pertama ketika mengetahui nilai investasi turun adalah dengan evaluasi. Biasanya semua akan disandarkan kembali ke tujuan awal dan karakter investasi dari si investor tersebut. Tujuan investasi seseorang akan berpengaruh pada instrumen yang dipilih, strategi, dan karakter dari si investor. Misalnya, jika tujuannya adalah jangka panjang, tentunya investor tidak perlu panik dengan gejolak yang terjadi sekarang. Sebab, penurunan yang terjadi biasanya hanya sementara. Setelah terjadi fluktuasi, nilai saham justru akan kembali pulih dan berada di nilai yang relatif lebih baik. Artinya, ketika nilai saham sudah menyentuh batas bawah yang sudah ditentukan, investor perlu bertindak agar kerugian tidak bertambah banyak. Financial Planner dari Finansialku Rizqi Syam mengatakan kunci dari investasi adalah saham. Gejolak yang terjadi di pasar modal tidak selalu harus ditanggapi dengan kepanikan. Namun, bagi pemula di dunia saham, memang hal ini cukup sering terjadi. Investor baru di dunia saham sering panik saat saham turun karena tidak mempelajari instrumen investasinya secara menyeluruh. Mereka juga terkadang hanya mengandalkan asumsi tanpa didasari oleh data-data yang valid.

Saham-Saham Nikel Berguguran

KT1 06 May 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID - Harga sejumlah komoditas tambang seperti nikel dan batu bara terkoreksi pada Jumat (5/5/2023). Kondisi ini ikut menarik turun saham-saham berbasis industri komoditas seperti indeks saham. Menurut pantauan Investor Daily, sejumlah saham nikel terdampak di antaranya NCKL yang turun 6,96% menjadi Rp 1.270, INCO tergerus 0,36% menjadi Rp 7.000, MBMA anjlok 1,86% jadi Rp 790, hingga MDKA turun 06,96% menjadi Rp 3.610. Adapun kemarin, harga nikel turun 2,94% menjadi US$ 23.962 per ton sedangkan harga batu bara terkoreksi 5,51% menjadi US$ 171 per ton. “Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Jumat juga disebabkan oleh terkoreksinya beberapa harga komoditas. Merosotnya harga batu bara dan nikel karena menurunnya permintaan global akibat kekhawatiran perlambatan ekonomi,” kata Financial Expert Ajaib Sekuritas Chisty Maryani kepada Investor Daily. IHSG kemarin tercatat koreksi 0,82% dan di tutup di level 6.787. Menurut Chisty, katalis negatif tersebut diproyeksikan merupakan sentimen sesaat, dan bukan merupakan suatu konfirmasi fenomena “Sell in May and Go Away”  Go Away” benar akan terjadi. (Yetede)

Pilihan Editor