Saham
( 1722 )Masih Ada Katalis Untuk Pembeban IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak beranjak jauh dari posisinya di awal tahun ini.
Pergerakan indeks tertahan oleh saham-saham dengan nilai kapitalisasi pasar yang besar alias
big caps.
Daftar saham
laggard
sejak awal tahun didominasi oleh saham-saham emiten di sektor pertambangan dan energi. Ambil contoh, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA).
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, sentimen kelesuan permintaan global mengakibatkan saham-saham sektor energi lesu.
Equity Research
Phintraco Sekuritas Rio Febrian menambahkan, penurunan harga batubara hingga 52,06% sejak awal tahun, turut menjadi alasan saham energi kurang diminati.
Dari sisi pasokan, Indeks PMI Manufaktur Indonesia juga naik ke level 51,9 per Maret 2023. Level tersebut ada di atas level ekspansif yakni 50.
Investment Analyst
Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian sepakat, pergerakan IHSG di kuartal kedua ini seharusnya agak lebih stabil. Apalagi, dana asing mulai mengalir masuk. Menilik data
Bloomberg, dalam sepekan terakhir asing tercatat melakukan
net buy
di seluruh pasar senilai Rp 2,64 triliun.
Harga Minyak Licin, Emiten Makin Cuan
Harga minyak mentah dunia kembali mendidih. Setelah sempat anjlok pada perdagangan Senin lalu, pada Selasa (11/4) pukul 20.45 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sudah naik 0,53% ke level US$ 80,16 per barel.
Di waktu yang sama, penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah Brent berjangka yang naik 0,37% menjadi US$ 84,49 per barel. Langkah negara-negara produsen minyak OPEC+ memangkas produksi jadi katalis pendorong harga minyak mentah.
Pada pekan lalu, Arab Saudi dan produsen minyak OPEC+ lainnya mengumumkan pengurangan produksi minyak sekitar 1,16 juta barel per hari. Keputusan ini membuat total volume pemotongan produksi minyak oleh OPEC+ jadi 3,66 juta barel per hari.
Analis Panin Sekuritas Felix Darmawan menilai, pemotongan produksi minyak oleh OPEC+ menjadi pemicu kenaikan harga minyak mentah. "Kami melihat upaya OPEC+ itu untuk menjaga harga minyak di level tertentu," kata Felix, kemarin.
Kepala Riset RHB Sekuritas Andrey Wijaya sepakat. Dia melihat, kenaikan harga minyak mentah berasal dari kebijakan OPEC+ yang secara agresif mengurangi produksi dan permintaan minyak global yang lebih tinggi dari perkiraan.
Usai IPO, PIPA Bidik Kenaikan Laba
PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (10/4). PIPA menjadi emiten ke-30 yang melantai di BEI tahun ini.
Dalam penawaran umum perdana saham alias
initial public offering
(IPO), PIPA melepas 925 juta saham ke publik. Jumlah itu setara 27,01% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan pasca IPO.
Di masa penawaran umum, PIPA menetapkan harga IPO Rp 105 per saham. Dus, dari aksi korporasi ini, PIPA berhasil meraih dana segar sebesar Rp 97,13 miliar. Dana hasil IPO akan digunakan PIPA untuk beberapa keperluan.
Junaedi, Direktur Utama Multi Makmur Lemindo, mengklaim, selama masa penawaran umum, saham PIPA mencatatkan kelebihan permintaan atawa
oversubscribed
sekitar 109 kali dari penjatahan terpusat. "Total ada 23.314 investor, 69 investor berasal dari luar negeri," kata Junaidi di BEI, kemarin.
Junaedi mengatakan, dana hasil IPO akan digunakan PIPA untuk memperluas jaringan distribusi material dan bahan bangunan, terutama di area Kalimantan. Ini seiring geliat proyek pembangunan ibukota negara (IKN) baru, yang diperkirakan akan mendongkrak permintaan bahan material. Karena itu, PIPA membidik pendapatan dari proyek IKN berkisar Rp 200 miliar-Rp 300 miliar.
Usai IPO, PIPA menargetkan pendapatan bisa tumbuh sekitar 25%-30% tahun ini, dengan pertumbuhan laba bersih 50%. Selain itu, PIPA berharap bisa masuk jajaran 10 besar di industri pipa
polymer vinyl chloride
(PVC) dalam negeri.
9.549 Lot Saham Telah Diwakafkan
Wakaf saham bisa menjadi pilihan bagi para investor di bursa efek untuk berinvestasi sekaligus bersedekah untuk masyarakat luas. Program ini bisa menjadi alternatif pembiayaan program sosial dan ekonomi lewat pasar modal, tetapi tetap berpegang pada prinsip syariah. Perwakilan Divisi Pasar Modal Syariah Bursa Efek Indonesia (BEI) Aldiansah Akbar menyatakan, pewakafan saham bisa menjadi cara bagi para investor di bursa untuk mendapatkan keuntungan investasi dan juga membantu masyarakat luas. Sejak diluncurkan tahun 2019, ada 9.549 lot saham yang diwakafkan dengan total nilai wakaf saham sebesar Rp 285.900.654.
Jumlah ini relatif kecil jika dibandingkan total transaksi harian di bursa. Hingga kini ada tujuh sekuritas yang memenuhi syarat menjadi penyalur saham yang diwakafkan. Wakaf saham dianggap dapat menjadi salah satu metode penyaluran ataupun pembiayaan program sosial. ”Wakaf saham bisa menjadi salah satu pilar pembangunan yang bertujuan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Investasi di dunia dan akhirat,” ujar Aldiansah di Jakarta, Sabtu (8/4). Secara aturan, saham yang diwakafkan haruslah saham syariah yang masuk dalam indeks syariah, seperti Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) atau Jakarta Islamic Index (JII). Kini sudah ada 118.000 investor syariah yang mendaftar di BEI. (Yoga)
Kuartal IV, Jasa Marga Rampungkan Penawaran 35% Saham Transjawa
PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) menargetkan aksi penggalangan dana (equity fundraising) untuk anak usaha, PT Jasamarga Transjawa Tollroad (JTT), tuntas pada kuartal IV-2023. Saham JTT dieksekusi melalui penawaran umum terbatas (private placement) kepada mitra-mitra strategis. Dirut Jasa Marga Subakti Syukur menjelaskan bahwa saat ini prosesnya sedang dalam tahap non-deal roadshow kepada para investor. “Kita targetkan selesai di kuartal IV tahun ini,” jawab Subakti kepada media di Kementerian BUMN, Kamis (6/4).
Total saham yang akan dilepas dalam aksi penawaran ini sebanyak 35% yang terdiri dari 25% kepemilikan Jasa Marga di JTT dan 10% saham milik JTT. “Jadi Jasa Marga punya saham di JTT, kita akan lepas sebanyak 25% dan JTT lepas 10%,” imbuh dia. Dengan target penyelesaian pada kuartal IV, Subakti memastikan, prosesnya tidak akan terganggu meskipun berhadapan dengan pemilu. Sebab bagaimanapun, proyek tetap harus terus berlangsung. (Yetede)
JPFA Tebar Dividen dan Buyback Saham
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) akan melakukan dua aksi korporasi. JPFA berencana membagikan dividen kepada pemegang sahamnya dan melakukan pembelian kembali atau
buyback
saham.
Dua rencana itu telah mendapat persetujuan rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) pada Rabu (5/4). Meski laba bersihnya merosot, JPFA akan tetap menebar dividen tunai sebesar Rp 50 per saham dari laba bersih tahun buku 2022. Kepala Divisi Pengawasan Keuangan JPFA Erwin Djohan mengatakan, total nilai dividen yang akan dibagikan kali ini mencapai Rp 581 miliar. "Nilai dividen ini setara dengan 41% dari total laba bersih JPFA tahun 2022 sebesar Rp 1,42 triliun," katanya dalam paparan publik di Jakarta, Rabu (5/4). JPFA juga telah mengantongi izin dari para pemegang saham untuk menggelar
buyback
saham dengan nilai Rp 350 miliar. JPFA akan
buyback
saham sebanyak-banyaknya 1,5% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor perseroan.
Buyback
saham ini dapat dilaksanakan mulai 6 April 2023 hingga 31 Maret 2024.
Analis MNC Sekuritas Raka Junico W memperkirakan EBITDA JPFA dapat meningkat paling banyak 8,4% tahun ini, dibandingkan 7,7% dari tahun lalu. Raka merekomendasikan beli JPFA dengan target harga Rp 1.500 per saham.
Kinerja BUMN Farmasi Loyo
Dua emiten milik negara yang bergerak di bidang farmasi membukukan kinerja kurang baik sepanjang 2022. PT Indofarma Tbk membukukan penjualan bersih yang melorot hingga 60,5 %, sementara PT Kimia Farma Tbk merugi hingga Rp 170 miliar. Direktur Utama Kimia Farma David Utama, Selasa (4/4/2023), mengatakan, pandemi Covid-19 memberikan kesempatan sekaligus tantangan terhadap industri kesehatan, termasuk Kimia Farma. (Yoga)
107 Perusahaan Antre IPO Target Dana Rp 123 Triliun
JAKARTA, ID-Sebanyak 107 perusahaan menggelar penawaran umum perdana Initial Publik Offering/IPO saham tahun ini. Mereka mendidik dana segar Rp123 triliun dan IPO. Berdasarkan data Otoritas Jasa keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah kedatangan 24 emiten baru. Ke depan, ada dua pemain nikel besar yang berencana menggelar IPO, yakni PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nikel dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dengan target dana masing-masing Rp 10 triliun dan Rp9,6 triliun. Adapun total penghimpunan dana di pasar modal hingga 31 Maret 2023 mencapai RP 54 triliun. Namun, kedatangan emiten baru tidak mampu mengerek indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI. IHSG melemah 0,55% pada akhir Maret 2023, ditengah net inflow asing sebesar Rp4,12 triliun. "Adapun secara year to date (ytd), IHSG menyusut sebesar 0,66%, meski asing mencetak net inflow Rp6,62 trilun." Ujar Kepala Departemen Literasi. Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK Aman Sentosa dalam keterangan resmi, Senin (3/4/2023). (Yetede)
Minim Sentimen Penggerak Sektor Farmasi
JAKARTA — Kinerja saham emiten-emiten farmasi di bursa saham terpantau cenderung stagnan pada tahun ini. Setelah sempat meroket pada masa pandemi, saham sektor farmasi kini minim sentimen penggerak harga. Research and Consulting Manager Infovesta Utama, Nicodimus Kristiantoro, menuturkan sentimen negatif lebih banyak membayangi seiring dengan berakhirnya masa pandemi, yang secara drastis mengurangi kebutuhan layanan obat-obatan. “Persaingan antaremiten cukup ketat karena akan saling berkompetisi, bergerilya ekspansi, dan berinovasi agar tidak kehilangan pelanggannya,” ujar Nico kepada Tempo, kemarin, 4 April 2023. Emiten farmasi pelat merah yang sebelumnya perkasa dan mendulang keuntungan berlipat karena penjualan obat terkait dengan Covid-19 serta vaksinasi, kini kinerja sahamnya berbalik merosot dengan harga yang terus tergerus. PT Indofarma Tbk (INAF), misalnya, dalam setahun terakhir harga sahamnya turun 55,13 persen atau 860 poin ke level Rp 700 per lembar saham. Berikutnya, saham PT Kimia Farma Tbk (KAEF) anjlok 46,36 persen atau 795 poin ke level Rp 920 per lembar saham. Sedangkan anak usaha KAEF, PT Phapros Tbk (PEHA), melemah 35,71 persen atau 375 poin ke level Rp 675 per lembar saham. (Yetede)
Merger Telkomsel dan Indihome Kian Terang
Rencana PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) untuk menggabungkan entitas usahanya, yakni PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) dengan Indihome terus bergulir. Aksi korporasi ini diharapkan bisa tuntas pada Mei 2023 mendatang.
"Kami sedang negosiasi, mungkin minggu-minggu ini kami akan finalisasi bersama dengan Telkomsel dan Singtel," ujar Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo, usai Rapat Kerja dengan DPR Komisi VI, Senin (3/4).
Pria yang akrab dipanggil Tiko ini mengatakan, dalam merger kedua perusahaan tersebut, Indihome akan dikeluarkan dari bagian TLKM. Lalu, sahamnya akan di-
inbreng
ke Telkomsel. Aksi ini berpotensi menggerus porsi kepemilikan saham Singapore Telecom Mobile Pte Ltd atau Singtel di Telkomsel.
Namun, Tiko belum menyebutkan berapa besar saham Singtel yang akan terdilusi dalam aksi korporasi ini. Kementerian BUMN maupun TLKM belum mendapatkan kepastian terkait valuasi dan risiko pengurangan kepemilikan Singtel.
Di kesempatan yang sama, Direktur Utama TLKM Ririek Adriansyah mengatakan, dengan aksi
fixed mobile convergence
(FMC) ini, TLKM bisa mendorong efisiensi dan meningkatkan EBITDA.
"FMC ini dapat meningkatkan EBITDA sebesar Rp 5 triliun hingga Rp 6 triliun setiap tahun mulai dari 2027," ujarnya.
Sebelumnya, Staf Khusus Menteri BUMN III Arya Sinulingga mengatakan, FMC bakal meningkatkan pendapatan TLKM. Menurutnya, dengan penggabungan ini, biaya pemasaran bisa terpangkas ,sekaligus memberikan keuntungan bagi konsumen dan mendapatkan paket gabungan.









