Saham
( 1717 )Kinerja BUMN Farmasi Loyo
Dua emiten milik negara yang bergerak di bidang farmasi membukukan kinerja kurang baik sepanjang 2022. PT Indofarma Tbk membukukan penjualan bersih yang melorot hingga 60,5 %, sementara PT Kimia Farma Tbk merugi hingga Rp 170 miliar. Direktur Utama Kimia Farma David Utama, Selasa (4/4/2023), mengatakan, pandemi Covid-19 memberikan kesempatan sekaligus tantangan terhadap industri kesehatan, termasuk Kimia Farma. (Yoga)
107 Perusahaan Antre IPO Target Dana Rp 123 Triliun
JAKARTA, ID-Sebanyak 107 perusahaan menggelar penawaran umum perdana Initial Publik Offering/IPO saham tahun ini. Mereka mendidik dana segar Rp123 triliun dan IPO. Berdasarkan data Otoritas Jasa keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah kedatangan 24 emiten baru. Ke depan, ada dua pemain nikel besar yang berencana menggelar IPO, yakni PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nikel dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dengan target dana masing-masing Rp 10 triliun dan Rp9,6 triliun. Adapun total penghimpunan dana di pasar modal hingga 31 Maret 2023 mencapai RP 54 triliun. Namun, kedatangan emiten baru tidak mampu mengerek indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI. IHSG melemah 0,55% pada akhir Maret 2023, ditengah net inflow asing sebesar Rp4,12 triliun. "Adapun secara year to date (ytd), IHSG menyusut sebesar 0,66%, meski asing mencetak net inflow Rp6,62 trilun." Ujar Kepala Departemen Literasi. Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK Aman Sentosa dalam keterangan resmi, Senin (3/4/2023). (Yetede)
Minim Sentimen Penggerak Sektor Farmasi
JAKARTA — Kinerja saham emiten-emiten farmasi di bursa saham terpantau cenderung stagnan pada tahun ini. Setelah sempat meroket pada masa pandemi, saham sektor farmasi kini minim sentimen penggerak harga. Research and Consulting Manager Infovesta Utama, Nicodimus Kristiantoro, menuturkan sentimen negatif lebih banyak membayangi seiring dengan berakhirnya masa pandemi, yang secara drastis mengurangi kebutuhan layanan obat-obatan. “Persaingan antaremiten cukup ketat karena akan saling berkompetisi, bergerilya ekspansi, dan berinovasi agar tidak kehilangan pelanggannya,” ujar Nico kepada Tempo, kemarin, 4 April 2023. Emiten farmasi pelat merah yang sebelumnya perkasa dan mendulang keuntungan berlipat karena penjualan obat terkait dengan Covid-19 serta vaksinasi, kini kinerja sahamnya berbalik merosot dengan harga yang terus tergerus. PT Indofarma Tbk (INAF), misalnya, dalam setahun terakhir harga sahamnya turun 55,13 persen atau 860 poin ke level Rp 700 per lembar saham. Berikutnya, saham PT Kimia Farma Tbk (KAEF) anjlok 46,36 persen atau 795 poin ke level Rp 920 per lembar saham. Sedangkan anak usaha KAEF, PT Phapros Tbk (PEHA), melemah 35,71 persen atau 375 poin ke level Rp 675 per lembar saham. (Yetede)
Merger Telkomsel dan Indihome Kian Terang
Rencana PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) untuk menggabungkan entitas usahanya, yakni PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) dengan Indihome terus bergulir. Aksi korporasi ini diharapkan bisa tuntas pada Mei 2023 mendatang.
"Kami sedang negosiasi, mungkin minggu-minggu ini kami akan finalisasi bersama dengan Telkomsel dan Singtel," ujar Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo, usai Rapat Kerja dengan DPR Komisi VI, Senin (3/4).
Pria yang akrab dipanggil Tiko ini mengatakan, dalam merger kedua perusahaan tersebut, Indihome akan dikeluarkan dari bagian TLKM. Lalu, sahamnya akan di-
inbreng
ke Telkomsel. Aksi ini berpotensi menggerus porsi kepemilikan saham Singapore Telecom Mobile Pte Ltd atau Singtel di Telkomsel.
Namun, Tiko belum menyebutkan berapa besar saham Singtel yang akan terdilusi dalam aksi korporasi ini. Kementerian BUMN maupun TLKM belum mendapatkan kepastian terkait valuasi dan risiko pengurangan kepemilikan Singtel.
Di kesempatan yang sama, Direktur Utama TLKM Ririek Adriansyah mengatakan, dengan aksi
fixed mobile convergence
(FMC) ini, TLKM bisa mendorong efisiensi dan meningkatkan EBITDA.
"FMC ini dapat meningkatkan EBITDA sebesar Rp 5 triliun hingga Rp 6 triliun setiap tahun mulai dari 2027," ujarnya.
Sebelumnya, Staf Khusus Menteri BUMN III Arya Sinulingga mengatakan, FMC bakal meningkatkan pendapatan TLKM. Menurutnya, dengan penggabungan ini, biaya pemasaran bisa terpangkas ,sekaligus memberikan keuntungan bagi konsumen dan mendapatkan paket gabungan.
Pandemi Berakhir, BUMN Farmasi Loyo
Emiten farmasi BUMN telah merilis kinerja keuangan tahun 2022. Hasilnya, sejumlah emiten farmasi pelat merah belum bisa keluar dari kerugian. Terbaru, PT Indofarma Tbk (INAF) melaporkan kerugian tahun 2022 sebesar Rp 428,48 miliar.
Mengutip laporan keuangan Indofarma yang dirilis akhir pekan lalu, rugi bersih emiten farmasi ini melejit hingga lebih dari 1.000% secara tahunan dari tahun 2021 yang hanya sebesar Rp 37,57 miliar.
Membengkaknya kerugian INAF dipicu dari anjloknya pendapatan. Pada 2022, pendapatan INAF hanya mencapai Rp 1,1 triliun, melorot 60,5% secara tahunan yang masih Rp 2,9 triliun di 2021.
Kinerja PT Kimia Farma Tbk (KAEF) tahun 2022 tak kalah buruk. Pada 2022, KAEF merugi Rp 170,04 miliar. Angka rugi bersih KAEF ini memburuk dibanding tahun 2021 yang masih mencetak laba bersih Rp 302,27 miliar.
Penurunan pendapatan KAEF, antara lain, dipicu merosotnya penjualan obat generik KAEF pada 2022 menjadi 59,1% jadi Rp 864,52 miliar. Selain itu penjualan obat ethical amblas 4,2% secara tahunan jadi Rp 2,961 triliun.
Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto menilai, penyebab utama kenaikan rugi emiten farmasi BUMN adalah berakhirnya pandemi Covid-19.
Kotek Emiten Poultry Belum Nyaring
Saham-saham emiten sektor poultry memperlihatkan pergerakan yang cenderung negatif di sepanjang tahun ini. Belum ada katalis yang benar-benar kuat untuk mendorong harga saham poultry. Bahkan menjelang lebaran pun belum ada tanda perbaikan harga saham emiten poultry.
Analis Ciptadana Sekuritas Muhammad Gibran menjelaskan, permintaan akan ayam broiler dan telur selama Ramadan dan lebaran meningkat. Secara fundamental ini akan memperbaiki kinerja dan margin emiten poultry hingga semester satu nanti.
Harga ayam broiler dan telur akan meningkat hingga semester I-2023. Ini sejalan dengan instruksi Kementerian Pertanian yang berencana memusnahkan sekitar 14,9 juta day old chick (DOC) setiap minggu dari 23 Februari-15 April 2023. "Kami memperkirakan langkah ini dapat mengurangi 50% kelebihan pasokan pada semester I-2023," tulis Gibran dalam riset.
Tak hanya itu, Analis Sinarmas Sekuritas Michael Filbery mengatakan, pemerintah baru-baru ini menaikkan harga referensi broiler dari Rp 19.000-Rp 21.000 per kg jadi Rp 21.000-Rp 23.000 per kg. Langkah ini merupakan respons atas kenaikan harga bahan baku dan permintaan dari para pemangku kepentingan di sektor poultry.
Sementara itu, segmen pakan ternak diperkirakan masih menghadapi tantangan akibat tingginya harga bungkil kedelai alias soybean meal (SBM). Harga SBM mencapai US$ 480 per ton, meningkat 10% dari rata-rata tahun lalu.
Kinerja Kenceng, Dividen Konglomerat Cespleng
Musim bagi-bagi dividen sudah dimulai. Sejumlah emiten sudah mengumumkan pembagian dividen dengan nilai cukup jumbo dengan yield atraktif.
Ambil contoh PT Matahari Department Store Tbk (LPPF). Emiten ini mengumumkan akan membagikan dividen dengan nilai Rp 525 per saham. Bila dihitung berdasarkan harga penutupan saham ini Jumat lalu di Rp 4.930, maka yield dividen emiten ritel ini mencapai 10,65%.
Bukan cuma investor ritel yang bakal menikmati dividen dari para emiten tersebut. Bos-bos para pemilik emiten tersebut juga akan mencicip cuan manis dari dividen jumbo tahun ini.
Ambil contoh dividen LPPF tadi. Dari pembagian dividen tersebut, Auric Digital Retail. pemegang 38,40% saham LPPF, mengantongi Rp 476,62 miliar. Auric Digital masih merupakan perusahaan terafiliasi Grup Lippo. Salah satu pendirinya Stephen Riady.
Research & Consulting Manager Infovesta Kapital Advisori Nicodimus Kristiantoro mengatakan, secara historis, ada tiga konglomerat yang berpotensi dapat dividen besar dari emitennya.
11 Saham To The Moon Beri Gain 106-812% di Kuartal: 1-2023
Sebanyak 11 saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) membukukan lonjakan harga yang fantastis atau populer disebut “to the moon” selama kuartal I-2023. Dikatakan fantastis karena harga saham-saham tersebut terbang tinggi hingga di kisaran 106% sampai 812%. Berdasarkan data BEI yang di olah selama Januari-Maret 2023, saham PT Pelita Teknologi Global Tbk (CHIP) tercatat sebagai saham dengan kenaikan harga tertinggi yaitu sebesar 812,5%. Posisi kedua adalah saham PT Hatten Bali Tbk (WINE) dengan kenaikan harga 326,3%.
Kemudian, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dengan kenaikan harga 270,4%, PT Jasa Berdikari Logistics Tbk (LAJU) 226%, dan PT Indo Boga Sukses Tbk (IBOS) 224,7%. Selanjutnya, saham PT Saptausaha Gemilangindah Tbk (SAGE) 174%, PT Fortune Mate Indonesia Tbk (FMII) 172,7%, PT PAM Mineral Tbk (NICL) 128%, dan PT Haloni Jane Tbk (HALO) 112%. Tak ketinggalan, saham PT Eterindo Wahanatama Tbk (ETWA) naik 107,1% dan PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) sebesar 106,1%. (Yetede)
Sektor Perbankan LQ45 Lebih Diunggulkan
Investor merespons positif kinerja emiten LQ45. Jika dirata-rata, pertumbuhan laba bersih 33 emiten LQ45 yang sudah merilis mencapai 53,36% dengan pertumbuhan laba bersih rata-rata 26,84%.
Oleh karena itu, saham-saham LQ45 bergerak positif. Bila dihitung sejak awal tahun, indeks LQ45 masih naik tipis 0,05%, lebih baik dari performa IHSG yang turun 0,66%.
Emiten dengan kinerja laba bersih terbaik datang dari sektor perbankan dan energi. Emiten sektor bahan dasar yang mayoritas mencetak kinerja positif.
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, sektor perbankan punya peluang paling besar melanjutkan pertumbuhan kinerja
double digit
di tahun ini.
Research Analyst
Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani sepakat. Ia menilai empat saham bank besar, yaitu BBRI, BBCA, BMRI dan BBNI, punya potensi
upside
harga paling tinggi. Ini sejalan dengan kinerja emiten perbankan masih disokong pertumbuhan kredit yang kuat.
Relaksasi Transaksi Bursa Siap Dicabut
Para investor saham harap bersiap! Mulai pekan depan, waktu perdagangan akan lebih panjang. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencabut relaksasi perdagangan di bursa saham yang berlaku pada masa pandemi Covid-19, termasuk mengembalikan jam perdagangan mulai Senin, 3 April 2023.
Normalisasi ini menindaklanjuti Surat Otoritas Jasa Keuangan Nomor S-52/PM.01/2023 tanggal 29 Maret 2023, serta merujuk empat surat keputusan dari direksi BEI. Jam perdagangan pun kembali normal seperti sebelum pandemi Covid-19. Research & Education Coordinator
Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin menilai, normalisasi perdagangan bursa merupakan hal yang dinantikan pelaku pasar. Apalagi ketika performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada dalam fase
markdown, khususnya di bulan Ramadan, yang terdapat banyak hari libur bursa.
Research & Consulting Manager
Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro menimpali, normalisasi sudah selayaknya dilakukan menimbang kondisi secara umum yang sudah kembali normal. Rata-rata nilai transaksi harian pun berpotensi meningkat. "Investor punya waktu lebih panjang untuk bertransaksi, khususnya bagi
trader
yang biasa transaksi jual beli pada satu hari perdagangan," katanya, Jumat (31/3).









