;
Tags

Saham

( 1722 )

MEMITIGASI GEJOLAK PASAR SAHAM

HR1 15 Mar 2023 Bisnis Indonesia (H)

Pelaku pasar modal mesti waspada. Sentimen eksternal yang dipicu oleh penutupan Sillicon Valley Bank dan Signature Bank di Amerika Serikat kembali menimbulkan volatilitas tinggi di pasar saham global, termasuk Indonesia. Tekanan yang menyelimuti saham-saham sektor teknologi dan perbankan diproyeksi berlangsung dalam jangka pendek. Pasar saham global merah merona pada perdagangan Selasa (14/3). Indeks harga saham gabungan (IHSG) terperosok 2,14% ke level 6.641,81 bersama dengan bursa lain di regional. Akibat koreksi itu, indeks komposit melemah 3,05% sepanjang tahun berjalan 2023. Pelemahan indeks komposit sejalan dengan aksi jual bersih investor asing sebesar Rp1,33 triliun pada perdagangan kemarin. Sejalan dengan itu, sejumlah saham emiten berkapitalisasi pasar besar berguguran. Di sektor finansial, koreksi a.l. dialami oleh saham BMRI yang tercatat turun 4,1%, BBCA -2,6%, BBRI -2,5%, dan BBNI melemah 3,5% pada Senin (14/3). Beberapa saham emiten bank digital juga terpukul dalam hingga menyentuh level auto rejection bawah (ARB), seperti saham ARTO yang anjlok 6,64% dan BBYB turun 6,84%. Sektor teknologi juga menghadapi gelombang tinggi akibat bangkrutnya SVB yang dikenal sebagai bank yang fokus pada pembiayaan startup. Beberapa saham yang merosot dalam, a.l. GOTO yang turun 3,97%, BUKA terkoreksi 3,88%, serta EMTK dan NFCX yang masing-masing anjlok 6,29% dan 6,87%. Research and Consulting Infovesta Utama Nicodemus Anggi mengatakan pengaruh dari runtuhnya SVB ke IHSG hanya panic selling sesaat ke pasar saham domestik. Dihubungi terpisah, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina memperkirakan pasar saham global dan Indonesia dapat pulih dengan cepat, sepanjang kejatuhan SVB dan Signature Bank tidak menular ke bank lainnya dan bisa dikendalikan oleh regulator AS. Mirae Asset Sekuritas tetap merekomendasikan saham perbankan dalam pilihan utama lantaran krisis SVB diperkirakan berdampak minim ke bank-bank nasional.

Kasus SVB Tekan Pasar Saham dan SUN

KT1 13 Mar 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID – Kebangkrutan Silicon Valley Bank (SVB) diprediksi menekan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan harga surat utang negara (SUN) pekan ini. Sebelum kasus ini mencuat, pasar saham dan SUN sudah terlebih dahulu tertekan oleh sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed). Pekan lalu, indeks saham turun 7% ke level 6.765. Adapun pekan ini, IHSG diprediksi bergerak di level 6.720-6.830 sebagai support dan resistance. Dari sentimen global, pergerakan IHSG masih berkaitan dengan kondisi ekonomi AS, sedangkan dari domestik, ada angin segar berupa keputusan pembagian dividen bankbank besar. “Jika data tenaga kerja dan ini asi AS bagus, ini akan positif untuk pasar ekuitas, meskipun secara keseluruhan tone cenderung melemah, karena FOMC bulan ini diproyeksikan    menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis points (bps)” ujar Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih, akhir pekan lalu. Selain itu, dia menuturkan, perhatian pelaku pasar pekan ini akan tertuju pada hasil rapat umum pemegang saham (RUPS) tahunan bank-bank besar, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), terutama terkait kebijakan dividen tahun buku 2022. (Yetede)

Kebangkrutan SVB Alarm bagi Investor Saham

HR1 13 Mar 2023 Kontan (H)

Pasar global diguncang berita kebangkrutan salah satu bank besar di Amerika Serikat (AS), Silicon Valley Bank (SVB). SVB kolaps karena gagal mendapatkan permodalan, yang berujung pada anjloknya harga saham SVB hingga lebih dari 60%. Kejadian ini membuat SVB ditutup otoritas berwenang di California, Amerika Serikat (AS). Mayoritas nasabah SVB adalah perusahaan teknologi dann startupn yang terpukul kenaikan suku bunga The Fed. Suku bunga tinggi membuat perusahaan-perusahaan ini sulit mencari dana, sehingga menarik simpanan di SVB untuk kebutuhan operasional. Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro mengatakan, kebangkrutan SVB jadi alarm bagi investor bahwa efek negatif kenaikan suku bunga The Fed di AS semakin nyata. Dia menilai, jatuhnya SVB bakal meningkatkan risiko ke pasar saham. "Terbukti Jumat (10/3), Wall Street turun dalam, dan kemungkinan berlanjut Senin (13/3) ," ujarnya, kemarin. Sebagai informasi, akhir pekan lalu indeks Dow Jones anjlok 1,07%. Nico menilai masih ada potensi terjadi panic selling. Berita SVB bakal membuat IHSG turun pada awal pekan ini. Hitungan dia, penurunannya diprediksi hanya menyesuaikan penurunan Wall Street sekitar 0,5% sampai 1%.

KINERJA EMITEN : Laba Tebal BYAN & BSDE

HR1 11 Mar 2023 Bisnis Indonesia

Emiten batu bara PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) mengantongi laba bersih tebal yakni US$2,17 miliar atau setara Rp33,16 triliun, melesat 79,63% secara tahunan. Kendati berbeda sektor, emiten properti grup Sinarmas yakni PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) mengumpulkan laba bersih Rp2,4 triliun atau terkerek 80,42% sepanjang 2022. Dikutip dari laporan keuangannya, Jumat (10/3), laba tebal BYAN berasal dari pendapatan sebesar US$4,7 miliar atau setara Rp72,6 triliun. Pendapatan ini meningkat 64,91% secara tahunan dari US$2,85 miliar. Pendorong pendapatan ini berasal dari batu bara pihak ketiga sebesar US$4,39 miliar, dan pihak berelasi sebesar US$300,3 juta. Sementara pendapatan dari non-batu bara sebesar US$10,8 juta. BSDE mengumpulkan laba tebal akibat pendapatan yang mencapai Rp10,2 triliun atau terkerek 33,71% secara tahunan. Pendapatan BSDE ini sebagian besar disumbang oleh segmen real estate sebesar Rp9,06 triliun. Menyusul di belakangnya, pendapatan properti Rp175 miliar, jalan tol Rp992,15 miliar, dan pendapatan lain-lain Rp3 miliar.Naiknya pendapatan BSDE turut meningkatkan beban pokok pendapatan BSDE menjadi Rp3,4 triliun atau naik 16,97%, dari Rp2,91 triliun pada 2021.

Nusantara Sawit Lepas 3,5 Miliar Saham

KT3 11 Mar 2023 Kompas

PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Dari hasil penjualan saham ke publik ini, Nusantara Sawit akan menambah modal pada anak usahanya. Nusantara Sawit melepas 3,5 miliar saham setara 15 % dari modal disetor. ”Dana yang kami himpun Rp 453,165 miliar,” kata Direktur Utama Nusantara Sawit Sejahtera Teguh Patriawan, Jumat  (10/3/2023). (Yoga)

Demi Efisiensi, GOTO PHK 600 Karyawan

HR1 11 Mar 2023 Kontan

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) melangsungkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 600 karyawannya. Ini adalah kali kedua GOTO melakukan PHK. Pada 18 November 2022 lalu, GOTO merumahkan 1.300 karyawan atau sekitar 12% dari total karyawan tetap perusahaan. Sekretaris Perusahaan GoTo Koesoemohadiani menjelaskan, langkah ini merupakan bagian dari strategi GOTO untuk membangun perusahaan yang berkelanjutan, menguntungkan, dan dapat terus memberikan dampak positif.

IPO Kuartal II, Merdeka Battery Berpotensi Raih Dana US$ 5,3 Miliar

KT1 11 Mar 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID - PT Merdeka Battery Materials (MBM), anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), berencana menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada kuartal II-2023. Analis memperkirakan, nilai raihan dana IPO MBM mencapai US$ 5,3 miliar. Saat ini, proses IPO tersebut masih menunggu persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). “IPO MBM kemungkinan setelah Lebaran 2023. Pertengahan April mungkin ada kepastiannya,” kata Corporate Communication Manager Merdeka Copper Gold Dinia Widodo saat melakukan kunjungan media ke B-Universe, Jakarta, Jumat (10/03/2023). Namun, produsen emas, perak, tembaga, dan mineral lainnya tersebut masih enggan menginformasikan tanggal persis yang merekatargetkan untuk IPO. Dinia mengatakan, proses IPO sudah sampai tahap pengajuan di OJK, artinya dokumen pernyataan pendaftaran penawaran umum perdana saham sudah dilayangkan kepada OJK. “Menurut corporate secretary kami, sudah ada di OJK. Sedang proses register di OJK, kami dengarnya tinggal menunggu persetujuan,” sambung dia. (Yetede)

Arwana Citramulia Bagi Dividen Rp 403 Miliar

KT1 10 Mar 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID - Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 403 miliar atau Rp 55 per saham untuk tahun buku 2022. Dengan demikian, rasio dividen Arwana tahun buku 2022 mencapai 70%. RUPST juga menyetujui pengangkatan kembali seluruh komisaris dan direksi Arwana, dengan tambahan penunjukan satu orang direktur independen baru. Tahun lalu, perseroan membukukan penjualan bersih sebesar Rp 2,58 triliun, meningkat 1,24% dibandingkan 2021 sebesar Rp 2,55 triliun. Adapun laba bersih naik 22% menjadi Rp 576,2 miliar. “Hasil laba bersih ini dapat dicapai berkat margin yang meningkat dari 18% pada 2021 menjadi 22% pada 2022,” jelas Chief (CFO) Arwana Citramulia Rudy Sujanto dalam acara paparan publik tahun buku 2022 di Puri Indah Financial Tower, Kembangan, Jakar ta Barat, Kamis (9/3/2023). (Yetede)

Tiga Emiten Baru Masuk Bursa

KT3 09 Mar 2023 Kompas

Tiga emiten baru yang masuk Bursa Efek Indonesia pada hari Rabu (8/3/2023), membukukan kenaikan harga signifikan. Ketiga emiten itu adalah PT Teknologi Karya Digital Nusa Tbk yang menyediakan solusi informasi berbasis telematika dan internet of things, PT Saptausaha Gemilangindah Tbk yang bergerak di sektor properti, serta perusahaan pertambangan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. Dengan ketiga emiten baru itu, hingga Rabu sudah ada 26 emiten baru di bursa. (Yoga)

Debut di BI, Saham CAGE, CUAN dan TRON Melesat Hingga Sentuh ARA

KT1 09 Mar 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID – Bank Indonesia (BI) diminta untuk tidak agresif menaikkan suku bunga acuan meski fed fund rate (FFR), suku bunga acuan Bank Sentral AS, dinaikkan hingga 125 basis poin ke level 6%. Selama inflasi dalam negeri dapat dikendalikan pada level 3,3%-3,6%, suku bunga acuan BI sebesar 6,25%-6,50% cukup memadai. Saat ini, BI-7 day reverse repo rate (BI-7DRRR) 5,75%. Dalam pidato di hadapan Komite Urusan Perbankan, Perumahan, dan Perkotaan Senat AS tentang “Laporan Kebijakan Moneter” di Capitol Hill, Washington, Selasa (07/03/2023), Gubernur Federal Reverse (The Fed) Jerome Powell memberikan sinyal untuk menaikkan suku bunga acuan lebih cepat dan tinggi dari sinyal sebelumnya. FFR akan terus dinaikkan hingga inflasi menyentuh 2% meski keputusan itu bakal menyeret perekonomian AS ke jurang resesi. Suku bunga acuan pada level yang pas sangat penting agar Indonesia tidak kehilangan momentum untuk mengakselerasi laju pertumbuhan ekonomi yang telah berlangsung sejak kuartal II-2021. Selain itu, masyarakat Indonesia harus berusaha menjaga pola konsumsi agar laju inflasi tahun ini tidak liar menjadi stagflasi, yakni stagflasi ekonomi disertai inflasi tinggi. Sejumlah faktor domestik seperti inflasi yang berada dalam tren menurun, neraca perdagangan yang masih surplus, cadangan devisa (cadev) yang meningkat, serta kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) dapat mengurangi dampak tekanan global. Kalau pun diperlukan, kenaikan BI-7DRRR tidak harus seagresif penaikan FFR. (Yetede)

Pilihan Editor