Saham
( 1722 )Sinyal Time to Buy Mulai Menyala di Bursa Saham
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tersendat. IHSG kembali terperosok di awal pekan ini, Senin (27/3).
IHSG merosot 0,79% ke level 6.708,93, mengakumulasi pelemahan 2,07% secara
year to date. Posisi ini membawa valuasi IHSG semakin murah dibandingkan bursa saham lain di kawasan Asia, serta menyalakan sinyal
time to buy
untuk saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Equity Research Analyst
Kiwoom Sekuritas Indonesia Rizky Khaerunnisa mengatakan, valuasi IHSG masih tergolong murah jika dibandingkan rata-rata bursa saham Asia. Hitungan dia, PER IHSG saat ini sebesar 14,34 kali.
Secara eksternal, belakangan ini pasar saham juga terpapar oleh kekhawatiran makro ekonomi global dan sentimen suku bunga tinggi. "Investor juga masih khawatir terhadap krisis perbankan," kata Rizky, Senin (27/3).
Head of Research
Syailendra Capital Rizki Jauhari menyatakan, ketidakpastian yang ada di pasar sebagian telah terefleksi ke dalam volatilitas IHSG. Hitungan dia, rata-rata PER IHSG saat ini ada di kisaran 13 kali. Posisi ini berada di bawah rata-rata PER IHSG sejak tahun 2010, yaitu di kisaran 16 hingga 17 kali.
Rizki menerangkan, pergerakan naik-turun valuasi akan turut ditentukan oleh ekspektasi investor pada laju pertumbuhan laba emiten ke depannya. Menurut hitungan dia, saat ini ada penurunan ekspektasi terhadap laju pertumbuhan laba dari 30%-35% pada tahun 2022 menjadi hanya sebesar 5% di 2023.
Gelar IPO, Menn Teknologi Bidik Dana Rp 34,4 Miliar
Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal kedatangan emiten baru. PT Menn Teknologi Indonesia bersiap menggelar penawaran umum perdana saham atau
initial public offering
(IPO).
Menn Teknologi merupakan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi digital penyedia sistem informasi berbasis internet of things (IoT) untuk pengembangan smart transportasi dan logistik.
Mengutip prospektus perusahaan di laman e-IPO, Senin (27/3), calon emiten yang akan menggunakan kode saham MENN ini akan melepas sebanyaknya 430,20 juta saham biasa, dengan nominal Rp 10 setiap saham. Jumlah saham ini mewakili sebanyaknya 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Kemarin, Menn Teknologi mulai menggelar penawaran awal (bookbuilding). Dalam masa
bookbuilding
yang akan berakhir pada 31 Maret nanti, Menn Teknologi membanderol harga IPO antara Rp 75-Rp 80 per saham. Dus, dari IPO, MENN berpotensi meraup dana maksimal Rp 34,42 miliar.
Trimegah Bangun Persada Pertimbangkan Harga IPO Rp 1.250
JAKARTA, ID entitas nikel Harita Group, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau TBP mempertimbangkan penetapan harga penawaran umum perdana (initial publik Offering/IPO) di harga kisaran tertinggi) kisaran tertinggi Rp 1.250. Pertimbangannya, pemesanan IPO perseroan mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed). Dilansir dari Bloomberg, Trimegah Bangun Persada condong ke harga IPO Rp 1.250 per saham. Saat ini, diskusi masih terus berlangsung dan belum ada keputusan akhir yang dibuat. Perwakilan dari perusahaan menolak berkomentar sebagaimana diberitakan Bloomberg. Harita mengoperasikan pabrik peleburan asam bertekanan tinggi pertama di pulau Obi di Maluku Utara, menurut situs web-nya. Proses HPAL, mengubah bijih berkadar rendah lokal menjadi endapan hidroksida campuran, suatu bentuk nikel yang dapat diproses lebih lanjut untuk membuat baterai. Fasilitas HPAL memiliki kapasitas produksi 55.000 ton per tahun. Tahun depan, pabrik baru akan menggandakan produksinya menjadi 120.000 ton. (Yetede)
Pariwisata Pulih, Panorama Tambah Modal
Pandemi yang mereda membuat sektor pariwisata kembali bergairah. PT Panorama Sentrawisata Tbk bersiap menambah modal melalui penerbitan saham baru (right issue) seiring meredanya pandemi. Panorama akan menerbitkan 600 juta saham dengan nilai Rp 50 per saham. Selain itu, akan diterbitkan pula 200 juta waran. ”Rencana right issue ini untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan dan meringankan beban utang,” kata Direktur Utama Panorama Budijanto Tirtawisata, Selasa (21/3/2022). (Yoga)
Rugi Bersih GOTO Tembus Rp 40 Triliun
Kerugian yang ditanggung PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) membengkak. Rugi bersih GOTO sepanjang tahun 2022 mencapai Rp 40,4 triliun, naik hingga 55,98% dari tahun 2021 yang sebesar Rp 25,9 triliun.
Kendati begitu, pendapatan bersih GOTO mampu naik 120% secara tahunan menjadi Rp 11,3 triliun. Pada 2021, pendapatan bersih GOTO hanya Rp 5,2 triliun.Direktur Keuangan Grup GOTO Jacky Lo menjelaskan, bengkaknya rugi bersih GOTO salah satunya disebabkan oleh penurunan nilai
goodwill
sebesar Rp 11 triliun. Penurunan nilai ini terjadi dari penggabungan Gojek dan Tokopedia, investasi di JD.ID, serta peningkatan beban kompensasi berbasis saham.
Jika mengesampingkan beban tersebut, rugi bersih kuartal IV-2022 GOTO hanya sekitar Rp 6,5 triliun atau membaik 36% secara tahunan. Sementara kalau dibandingkan secara kuartalan, capaian itu masih tumbuh 3%.
Sementara itu, total EBITDA yang disesuaikan GOTO masih minus Rp 3,1 triliun. Namun, angka EBITDA ini naik 52% dibanding periode tahun sebelumnya. Sedang
gross transaction value
(GTV) GOTO di kuartal IV-2023 tumbuh 18% secara tahunan menjadi Rp 162 triliun.
Founder
Indonesia Superstock Community Edhi Pranasidhi mengatakan, investor masih akan mencermati fundamental GOTO. Terutama, setelah adanya krisis likuiditas perbankan di Amerika Serikat yang berimbas ke saham teknologi. Tapi untuk jangka panjang, Edhi melihat saham GOTO masih menarik.
Risiko utama GOTO adalah penurunan peringkat valuasi karena adanya risiko sistematis akibat krisis Sillicon Valley Bank (SVB). Andrew merekomendasikan beli GOTO dengan target harga Rp 168. Kemarin, saham GOTO anjlok 6,90% ke harga Rp 108.
Keputusan The Fed Jadi Sentimen IHSG
Pasar saham dalam negeri terus terombang-ambing sentimen eksternal. Sejumlah analis meramal, fluktuasi pasar saham masih akan berlanjut pada pekan ini.
Volatilitas pasar saham ini merespons kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed. Pada Selasa dan Rabu pekan ini, The Fed akan menggelar rapat
Federal Open Market Committe
(FOMC).
Financial Expert
Ajaib Sekuritas Asia Chisty Maryani memproyeksi, The Fed akan mengerek bunga acuan 25 basis points (bps) ke 4,75%-5%.
CEO Edvisor.id Praska Putrantyo sepakat, The Fed akan mendongkrak suku bunga acuan sebesar 25 bps. Sejumlah kondisi ekonomi di Negeri Paman Sam bakal menjadi pertimbangan The Fed.
Investment Specialist
Syailendra Capital Gelbi Amoretta mengestimasi, The Fed akan mengatrol bunga acuannya 25 bps ke level 5% pada 2023.Gelbi menilai, kebijakan The Fed akan jadi katalis yang diperhatikan pelaku pasar.
Diskon Harga BUMN Karya
Harga saham emiten-emiten badan usaha milik negara (BUMN) sektor konstruksi alias BUMN karya terus mengalami tekanan sejak awal 2023. Saham empat perusahaan pelat merah sektor konstruksi, yakni PT Waskita Karya Tbk (Persero), PT Wijaya Karya Tbk (Persero), PT PP (Persero) Tbk, dan PT Adhi Karya Tbk (Persero), turun 16,54-35,16 %. Tren pelemahan harga dialami pula oleh anak-anak usaha BUMN karya yang melantai di pasar modal. Sepekan terakhir, hanya Waskita Karya yang mencatatkan kenaikan harga Rp 6 atau 2,6 % menjadi Rp 236 per saham. Emiten yang memiliki banyak ruas jalan tol di Jawa dan Sumatera ini sedang mendapat perhatian investor setelah menunda pembayaran bunga obligasi. Akibatnya, perdagangan saham emiten tersebut disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia pada 16 Februari hingga 2 Maret lalu.
Pekan lalu, salah satu kreditor Waskita Karya, yakni PT Megah Baja Bangun Semesta, mencabut gugatan penundaan kewajiban pembayaran utang senilai Rp 2,9 miliar terhadap Waskita. Megah Baja merupakan vendor proyek pembangunan Terminal Bandara Minangkabau. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan masalah arus kas perusahaan menjadi faktor yang dilihat investor. Perusahaan-perusahaan konstruksi milik pemerintah itu tercatat memiliki utang yang lebih tinggi ketimbang ekuitasnya. Salah satu indikator yang menjadi acuan adalah rasio utang terhadap modal alias debt-to-equity ratio (DER) yang cukup tinggi. "Karena itu, selama ini kinerja harga sahamnya tertekan," ujar Nafan kepada Tempo, akhir pekan lalu. (Yoga)
Pasar Saham Sedang Lesu, Aksi Buyback Menyerbu
Ini namanya kesempatan dalam kesempitan. Di tengah meredupnya bursa saham, sejumlah emiten memanfaatkan momentum untuk menggelar aksi pembelian kembali alias
buyback
saham.
Dalam catatan KONTAN, sedikitnya ada empat emiten yang menggelar
buyback
saham hingga pertengahan Maret 2023 ini. Terbaru, aksi
buyback
saham PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN).
Emiten properti ini akan melakukan
buyback
saham dengan anggaran sebesar Rp 30 miliar. Aksi ini digelar TRIN selama periode 15 Maret hingga 15 Juni 2023.
Kamis ini (16/3), giliran PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang menyiapkan dana jumbo hingga Rp 905 miliar untuk membeli kembali saham BBNI.
Bukan hanya BBNI yang menyiapkan dana besar untuk
buyback
saham. Kolega BBNI sesama bank BUMN, yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kembali menggelontorkan dana hingga Rp 1,5 triliun untuk membiayai aksi
buyback.
Emiten pelat merah lainnya, yakni PT Dayamitra Telekomunikasi Tbbk alias Mitratel (MTEL) juga bakal merogoh kocek gede untuk
buyback
saham pada April mendatang.
Jika ditotal, sedikitnya ada sekitar 11 emiten yang akan menggelar aksi
buyback
pada tahun ini. Total nilai dana dari aksi korporasi ini sekitar Rp 6 triliun.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina menilai, aksi
buyback
belum signifikan mendongkrak likuiditas pasar saham. Selain itu, aksi
buyback
oleh emiten biasanya hanya memberi efek secara jangka pendek.
Asing Lepas Saham Empat Bank Besar
JAKARTA, ID – Kasus kebangkrutan Silicon Valley Bank, Signature Bank, dan Silverbank di Amerika Serikat (AS) serta krisis likuiditas bank investasi kakap Credit Suisse (CS) membuat pemodal asing melepas empat saham bank besar di Indonesia, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI/BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI/BBRI). Seiring dengan itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ambles 0,9% atau 62,4 poin ke level 6.565,72. Bahkan, indeks sempat menyentuh level 6.542 pada sesi II perdagangan, sebelum akhirnya ditutup di 6.565. Saat ini, empat bank besar itu masuk 10 besar market cap di BEI sekaligus memiliki bobot tinggi terhadap IHSG. Kejatuhan saham bank diperparah oleh koreksi besar saham-saham komoditas, yakni batu bara dan nikel. Ini tak lepas dari rontoknya harga dua komoditas andalan itu di pasar global. Saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) merosot 4% ke level Rp 2.640, sedangkan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) turun 3,5% ke level Rp 3.850.Kemarin, asing net sell saham BBCA Rp 290 miliar, BMRI Rp 174 miliar, MDKA Rp 79 miliar, BBNI Rp 63 miliar, BBRI Rp 59 miliar, dan ADRO Rp 57 miliar. Total net sell asing kemarin mencapai Rp 732 miliar. Namun, secara year to date (ytd), asing masih net buy Rp 2,5 triliun. (Yetede)
Pelemahan IHSG Hanya Sementara
JAKARTA, ID - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok 2,14% atau 145 poin ke level 6.641,81, Selasa (14/3/2023), dipicu mencuatnya kasus kebangkrutan Silicon Valley Bank (SVB) dan Signature Bank di Amerika Serikat (AS). Hal itu membuat pelaku pasar panik, sehingga melakukan aksi jual besar-besaran, terlihat pada net sell pemodal asing Rp 1,3 triliun. Akan tetapi, kalangan analis menilai pelemahan indeks hanya bersifat sementara. Alasannya, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) diprediksi tidak lagi agresif menaikkan suku bunga acuan demi menghindari penutupan bank lainnya. Selain itu, laju inflasi AS diprediksi melambat pada Februari 2023. Seiring dengan itu, investor bisa memanfaatkan momentum ini untuk mengakumulasi saham-saham prospektif. Strategi trading yang paling relevan saat ini adalah buy on weakness. Di sisi lain, koreksi indeks kemarin disebabkan tumbangnya tiga saham bank besar, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Hal ini diperburuk oleh amblesnya saham raksasa teknologi PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). (Yetede)









