Kebangkrutan SVB Alarm bagi Investor Saham
Pasar global diguncang berita kebangkrutan salah satu bank besar di Amerika Serikat (AS), Silicon Valley Bank (SVB). SVB kolaps karena gagal mendapatkan permodalan, yang berujung pada anjloknya harga saham SVB hingga lebih dari 60%.
Kejadian ini membuat SVB ditutup otoritas berwenang di California, Amerika Serikat (AS). Mayoritas nasabah SVB adalah perusahaan teknologi dann
startupn
yang terpukul kenaikan suku bunga The Fed. Suku bunga tinggi membuat perusahaan-perusahaan ini sulit mencari dana, sehingga menarik simpanan di SVB untuk kebutuhan operasional.
Research & Consulting
Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro mengatakan, kebangkrutan SVB jadi alarm bagi investor bahwa efek negatif kenaikan suku bunga The Fed di AS semakin nyata. Dia menilai, jatuhnya SVB bakal meningkatkan risiko ke pasar saham. "Terbukti Jumat (10/3), Wall Street turun dalam, dan kemungkinan berlanjut Senin (13/3) ," ujarnya, kemarin. Sebagai informasi, akhir pekan lalu indeks Dow Jones anjlok 1,07%.
Nico menilai masih ada potensi terjadi
panic selling. Berita SVB bakal membuat IHSG turun pada awal pekan ini. Hitungan dia, penurunannya diprediksi hanya menyesuaikan penurunan Wall Street sekitar 0,5% sampai 1%.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023