Saham
( 1717 )PASAR SAHAM, Pertamina Geothermal Targetkan 600 Megawatt
Pada Jumat (24/2) PT Pertamina Geothermal Energy Tbk secara resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia atau BEI dengan kode saham PGEO. Pelepasan saham perdana anak usaha milik PT Pertamina (Persero) ini ditujukan untuk mengembangkan kapasitas terpasang tenaga panas bumi perseroan sebesar 600 megawatt hingga 2027. Pertamina Geothermal Energy menawarkan 10,35 miliar sahamnya ke publik yang mewakili 25 % modal yang ditempatkan. Adapun harga penawaran adalah Rp 875 per lembar. Sejak penawaran umum saham pada periode 20-22 Februari 2023, perseroan berhasil meraih dana Rp 9,056 triliun.
”Pelepasan saham perdana ini untuk mengembangkan kapasitas terpasang tenaga panas bumi perseroan sebesar 600 megawatt (MW) hingga 2027 nanti,” ujar Dirut Pertamina Geothermal Energy Ahmad Yuniarto lewat siaran pers. Dengan demikian, ujar Yuniarto, diharapkan kapasitas terpasang tenaga panas bumi yang dikelola Pertamina Geo thermal Energy bisa menjadi 1.272 MW pada 2027. Saat ini kapasitas terpasang tenaga panas bumi yang dikelola sendiri sebesar 672 MW. Dalam peresmian pencatatan perdana saham Pertamina Geothermal Energy di BEI, Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan, pemerintah terus mendorong pemanfaatan energi panas bumi ini untuk bisa mendukung ketersediaan energi bersih di Indonesia agar dapat bersaing di pasar internasional. Untuk itu, Pertamina Geothermal Energy tidak hanya melirik panas bumi, tapi juga memanfaatkan sumber energi terbarukan lainnya. (Yoga)
Prospek IPO Saham Emiten Pelat Merah Tak Meriah
Debut perdana saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) kurang menggigit. Alih-alih menguat, saham anak usaha PT Pertamina ini malah ditutup stagnan di harga
initial public offering
(IPO), yakni di Rp 875 per saham.
Saham PGEO sebenarnya mengalami kelebihan permintaan alias
oversubscribed
hingga 3,81 kali dari porsi
pooling. Namun, pada debut kemarin, saham PGEO hanya menguat di menit awal lalu bergerak di zona merah sepanjang perdagangan. Saham PGEO bahkan melemah sampai menyentuh Rp 815.
Ahmad Yuniarto, Direktur Utama PGEO mengatakan, investor institusi dan asing berpartisipasi dalam IPO PGEO. Salah satunya, Indonesia Investment Authority (INA) dan Masdar, perusahaan energi hijau asal United Arab Emirates (UAE). Sayang, masuknya investor asing dalam IPO PGEO belum berhasil mengangkat harga saham emiten ini.
Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat mencermati, dalam beberapa tahun ini, saham BUMN dan anak usahanya yang melakukan IPO memang kurang berkinerja baik. Kalaupun tidak langsung jeblok di hari pertama, pada akhirnya saham-saham pelat merah ini menukik di bawah harga perdananya.
Di sisi lain, valuasi saham IPO BUMN cenderung premium. Sehingga, pasar melakukan penyesuaian yang membuat harganya melemah.
Raup Dana IPO Rp 9 T, Pertamina Geothermal Menambah Kapasitas
JAKARTA, ID – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dengan mengantongi dana segar hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham Rp 9,05 triliun. Salah satu perusahaan geotermal terbesar di dunia ini berencana mengembangkan kapasitas terpasang pembangkit listrik sebesar 600 MW hingga 2027, menjadi 1.272 MW. Anak usaha PT Pertamina (Persero) ini menawarkan sebanyak 10,3 miliar saham, atau sebesar 25% dari modal ditempatkan dan disetor penuh, dengan harga Rp 875 per saham, sejak 20-22 Februari 2023. Dalam aksi korporasi itu, perusahaan pelat merah ini juga menawarkan 630 juta saham atau sebanding 1,50% melalui Program Opsi Pembelian Saham kepada Manajemen dan Karyawan Perseroan (Management and Employee Stock Option Program/MESOP). (Yetede)
Asing Semakin Mencengkeram Bisnis Broker Saham
Perusahaan jasa broker saham atau sekuritas asing terus merangsek pasar bisnis sekuritas dalam negeri. Mereka berbondong-bondong masuk Indonesia dan meramaikan peta persaingan bisnis broker saham di Tanah Air yang kian bergairah seirama tumbuh suburnya masyarakat investor di dalam negeri.
Kabar terbaru, Webull Securities Limited (Webull Securities) asal Hong Kong masuk ke Indonesia dengan mencaplok PT Mahastra Andalan Sekuritas (Mahastra). Kini, Mahastra berganti nama menjadi PT Webull Sekuritas Indonesia (Webull Sekuritas). Webull Sekuritas memiliki modal kerja besih disesuaikan sebesar Rp 31,21 miliar dengan izin usaha perantara perdagangan efek. Sejauh ini tidak banyak informasi mengenai Webull Securities.
Masuknya Webull ini semakin menambah dominasi asing di industri sekuritas, terutama bisnis broker saham Tanah Air. Dari sisi nilai transaksi, volume transaksi dan frekuensi dikuasai asing. Berdasarkan daftar 10 pemain broker terbesar dari sisi nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) misalnya, tujuh perusahaan sekuritas merupakan entitas asing.
Toh, pemain lokal tak gentar, Mereka masih mencatatkan pertumbuhan di tahun lalu. Tengok saja PT BRI Danareksa Sekuritas, anak usaha Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk itu mencatatkan pertumbuhan agresif di lini bisnis brokerage di tahun 2022, melampaui pertumbuhan transaksi
brokerage
di pasar modal di tahun yang sama.
Sepanjang tahun lalu, kinerja equity brokerage BRI Danareksa Sekuritas melesat 55%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan equity brokerage secara industri.
Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas, Laksono Widodo mengatakan, kenaikan kinerja bisnis perusahaan tersebut didukung oleh peningkatan kinerja bisnis institusional.
Jaring Cuan Saat Emiten Gelar Buyback
Pembelian kembali (
buyback
) saham masih semarak digelar oleh emiten berkapitalisasi pasar besar (
big caps
). Aksi korporasi ini diguyur dengan dana jumbo, nilainya ratusan miliar hingga triliunan rupiah. Deretan emiten
big caps
yang bakal menggelar
buyback
saham di antaranya ada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Usai menuntaskan
buyback
saham senilai Rp 3 triliun pada akhir Januari 2023, BBRI akan menggelar aksi serupa dengan menggelontorkan dana hingga Rp 1,5 triliun.
Bank pelat merah lainnya, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), juga akan membeli kembali sahamnya.
Buyback
BBNI akan direalisasikan dengan menyiapkan dana Rp 905 miliar. Di sektor tambang, ada PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang akan menggelar
buyback
dengan nilai maksimal Rp 4 triliun. Sementara itu, emiten ritel PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) juga akan kembali membeli sahamnya dengan menyiapkan dana maksimal sebesar Rp 1 triliun. Emiten lainnya pun telah memulai dan merealisasikan
saham sejak tahun lalu hingga awal tahun ini. Antara lain PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), hingga PT Temas Tbk (TMAS). Pengamat Pasar Modal Fendi Susiyanto menilai, aksi
buyback
dilakukan untuk mengirimkan sinyal kepada pasar bahwa emiten punya prospek kinerja bisnis dan pergerakan saham yang cemerlang. Selain itu, keuangan atau kas emiten juga dalam kondisi sehat.
Head of Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Roger MM menambahkan, pertimbangan
buyback
juga karena valuasi emiten dinilai masih murah. Aksi
buyback
pun pada umumnya dilakukan ketika harga saham mulai terkoreksi atau sudah dalam fase
bearish
EXCL Cetak Laba Rp 1,1 Triliun
PT XL Axiata Tbk (EXCL) masih menghadapi persaingan yang ketat di industri telekomunikasi. Sepanjang tahun 2022, EXCL meraup pendapatan sebesar Rp 29,2 triliun, tumbuh 8,93% secara tahunan. Pendapatan EXCL ditopang oleh pendapatan data dan layanan digital yang mencapai Rp 26,54 triliun, naik 8,32% secara tahunan. Segmen ini berkontribusi 91,09% terhadap seluruh pendapatan.
Sayangnya, laba yang diatribusikan kepada entitas induk EXCL melorot 13,85% secara tahunan jadi Rp 1,1 triliun. Ini karena EXCL menanggung kenaikan beban. Di antaranya, beban penyusutan, beban infrastruktur, dan beban interkoneksi.
Presiden Direktur EXCL Dian Siswarini mengatakan, persaingan industri telekomunikasi di 2022 cukup ketat, terutama di periode kuartal empat. "Konsumsi data EXCL tetap kuat, terutama didorong oleh
streaming
video, yang kami perkirakan akan terus berlanjut di 2023," kata Dian, Senin (20/2).
Laju Bursa Saham Lokal Mulai Tertinggal dari Regional
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak lunglai di tengah musim laporan keuangan emiten. Padahal emiten yang sudah merilis laporan keuangan tahun 2022 menunjukkan hasil kinerja cukup positif. Sepanjang bulan ini, IHSG tak banyak bergerak dari kisaran 6.800-6.900. Pada perdagangan Senin (20/2), IHSG juga turun tipis 0,01% ke level 6.894,72. Alhasil, sepanjang tahun berjalan 2023, indeks saham hanya menguat 0,64%, masih jauh tertinggal dari bursa regional lainnya yang rata-rata menguat 4%-10%.
Jalan IHSG kembali ke level 7.000 nampaknya masih terjal. Pasalnya, pergerakan IHSG kali ini cukup sensitif terhadap kebijakan bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed).
Head of Research
Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan mengatakan, arah suku bunga The Fed pada
Federal Open Market Committee
(FOMC) mendatang masih akan menjadi fokus utama perhatian pasar. Selain itu, IHSG masih dibayangi oleh pelemahan harga komoditas energi.
Tapi
Deputy Head of Research
Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati menilai, pelemahan IHSG hanya bersifat jangka pendek. Jika kekhawatiran mengenai suku bunga The Fed mereda, IHSG akan kembali disetir oleh sentimen domestik yang positif. Apalagi, data inflasi hingga cadangan devisa menunjukkan angka yang solid.
Pasar Saham Cemaskan Suku Bunga Naik Lebih Lama
NEW YORK, ID – Para investor di pasar saham global sekarang mengantisipasi kemungkinan siklus penaikan suku bunga acuan akan lebih lama. Data inflasi terbaru telah meningkatkan kekhawatiran bahwa pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral akan berlanjut. Pasar saham global sebagian besar jatuh pada akhir perdagangan pekan lalu karena kekhawatiran tersebut. Setelah bursa saham di Eropa dan Asia ditutup melemah, pasar saham AS ditutup bervariasi setelah komentar bernada hawkish dari beberapa pejabat The Federal Reserve (The Fed). Setelah keluar data bahwa imbal hasil obligasi 10 tahun AS sedikit lebih rendah, penurunan di indeks Nasdaq berkurang dan Dow naik secara moderat sampai ditutup naik 100 poin lebih. Kalangan analis mencatat bahwa volume transaksi tipis di AS menjelang liburan pada Senin (20/02/2023) untuk memperingati Hari Presiden. “Bukan hanya ekspektasi terhadap The Fed yang meningkat, para pialang juga memperkirakan (Bank Sentral Eropa) menaikkan suku bunga jauh lebih tinggi,” kata Edward Moya dari Oanda. (Yetede)
AKSI KORPORASI : BUYBACK SAHAM JADI AMUNISI EMITEN
Emiten berkocek tebal mulai menggulirkan aksi pembelian kembali saham atau buyback di tengah penurunan valuasi pada awal tahun ini. Strategi itu diharapkan dapat menopang pergerakan saham dan memberikan sinyal positif tentang fundamental emiten. Terbaru, emiten Garibaldi Thohir PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) mengumumkan buyback saham di tengah harga yang volatil dengan target maksimal Rp4 triliun. Buyback saham tersebut dilaksanakan sesuai ketentuan dalam POJK No. 2/2013 dan SEOJK No. 3/2020 yang menyebutkan bahwa saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 20% dari modal disetor dan ketentuan paling sedikit saham yang beredar adalah 7,5% dari modal disetor perseroan. Aksi korporasi itu dilakukan saat harga saham ADRO merosot 23,4% year-to-date ke level Rp2.950 pada perdagangan kemarin. Untuk menopang buyback bernilai triliunan rupiah itu, ADRO ditopang oleh kas dan setara kas yang mencapai US$3,35 miliar per 30 September 2022. Manajemen ADRO menambahkan buyback saham akan menggunakan dana dari kas internal ADRO karena saat ini perseroan memiliki permodalan dan arus kas yang baik dan cukup untuk membiayai seluruh kegiatan usaha dan operasional, belanja modal serta buyback saham. “Kami mengharapkan buyback memberikan tingkat pengembalian yang baik bagi pemegang saham sehingga harga saham ADRO dapat mencerminkan fundamental perusahaan,” kata Head of Corporate Communication Adaro Energy Febriati Nadira, Rabu (15/2). Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) juga mengumumkan akan menggelar pembelian saham publik. BBNI yang menargetkan buyback sebanyak-banyaknya Rp905 miliar mengemukakan aksi korporasi ini dilakukan untuk mengimbangi tekanan jual di pasar saham. Research and Consulting Manager Infovesta Kapital Advisori Nicodimus Kristiantoro mengatakan valuasi yang rendah memang menjadi salah satu pertimbangan utama yang melandasi aksi buyback emiten. Sebagai contoh, valuasi ADRO terbilang rendah jika dibandingkan dengan rata-rata emiten energi lainnya.
Adaro Beli Balik Saham Rp 4 Triliun
PT Adaro Energy Indonesia Tbk berencana membeli kembali sahamnya (buy back) dengan anggaran yang disiapkan sebesar Rp 4 triliun. Manajemen Adaro, dalam keterbukaan informasi, Rabu (15/2) mengatakan, saham yang dibeli balik tidak akan melebihi 20 persen dari modal disetor dengan ketentuan saham beredar paling sedikit adalah 7,5 % dari modal disetor perusahaan. (Yoga)









