Saham
( 1722 )Semester II Antam Serahkan Saham Anak Usaha ke LG dan CATL
JAKARTA, ID- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menargetkan penyerahan saham dua anak usaha, PT Sumber Daya Arindo (SDA) dan Nusa Karya Arindo (NKA), kepada dua mitra strategis, yakni Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) dan LG Energy Solution (LGES), rampung semester II-2023. Ini merupakan salah satu langkah perseroan untuk menggarap proyek baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dengan estimasi total investasi US$ 6 miliar. Sekretaris Perusahaan Antam Syarif Faisal Alkadrie mengungkapkan, kepemilikan saham minoritas SDA akan diserahkan anak usaha CATL, PT Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co, Ltd (CBL). Adapun sebagian saham NKA akan digenggam perusahaan baterai asal Korea Selatan LGES. Antam akan mempertahankan kepemilikan mayoritas di dua perusahaan itu maksimal 51%. “Tetapi, yang jelas, sampai saat ini, perseroan masih memegang 100% kepemilikan SDA dan NKA. Pengalihan sebagian saham ke mitra strategis rencananya dilaksanakan semester II tahun ini,” ujar Faisal kepada Investor Daily, akhir pekan lalu. (Yetede)
Waskita Raup Kontrak Baru Rp 20,2 Triliun
PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) membukukan Nilai Kontrak Baru (NKB) senilai Rp 20,23 triliun sampai dengan akhir tahun lalu. Nilai kontrak baru itu sudah mencakup proyek Ibu Kota Negara (IKN).
Ermy Puspa Yunita, SVP
Corporate Secretary
Waskita Karya membeberkan, total kontrak baru di sepanjang 2022, antara lain, bersumber dari proyek pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN.
Sumber kontrak baru lainnya berasal dari proyek pembangunan terminal kendaraan pelabuhan Patimban paket 5 di Subang, Jawa Barat dan pembangunan prasarana dan sarana Pelabuhan Perikanan Daeo Majiko SKPT Morotai.
Menurut Ermy, keberhasilan Waskita meraup kontrak baru didukung beberapa faktor. "Antara lain, peningkatan value engineering, pengembangan teknologi dan digitalisasi, serta key account khusus pada proyek IKN dengan hadirnya tim adhoc," terang Ermy dalam keterangannya, Jumat (27/1).
PAPAN PEMANTAUAN KHUSUS : ARB Saham Bisa Sentuh Rp1
Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana meluncurkan papan pemantauan khusus untuk saham-saham yang memenuhi kriteria pada peraturan No I-X. Dalam papan pemantauan khusus ini, nantinya batas bawah auto rejection (ARB) harga saham dapat menyentuh Rp1 per saham. Dalam presentasinya, BEI menyebut mekanisme perdagangan dalam papan pemantauan khusus ini awalnya akan diterapkan dengan hybrid call auction, dengan metode perdagangan continuous auction dan call auction. Nantinya, setelah hybrid call auction berjalan, maka full call auction dapat diterapkan pada tahap selanjutnya. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy mengatakan penerapan papan pemantauan khusus berada dalam tahap pembicaraan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Irvan melanjutkan, penerapan papan pemantauan khusus hybrid bertujuan untuk membiasakan pelaku pasar dengan metode call auction.
AS Lolos Resesi, IHSG Bakal Tembus 7.000
JAKARTA, ID - Pasar saham Indonesia, Jumat (27/1/2023), bergairah, seiring lolosnya Amerika Serikat (AS) dari resesi dan solidnya laporan keuangan emiten berkapitalisasi pasar besar (big cap). Sejalan dengan itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diprediksi mampu menembus 7.000 pada pekan depan. Kemarin, IHSG naik 0,5% ke level 6.898, tertinggi sepanjang Januari 2023, sedangkan indeks LQ45 naik 0,8% ke level 949. Nilai transaksi perdagangan saham mencapai Rp 11,8 triliun. Kuartal IV-2022, ekonomi AS tumbuh 2,9%, melampaui estimasi analis, sedangkan sepanjang tahun mencapai 2,1%. Hal ini diprediksi membuat The Federal Reserve (The Fed), bank sentral AS, hanya menaikkan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis points (bps) pada Februari 2023, lebih rendah dibandingkan kenaikan Desember sebesar 50 bps. Saat ini, FFR mencapai 4,25-4,5%. (Yetede)
Sinyal Positif Saham Teknologi
JAKARTA-Saham-saham sektor teknologi diperkirakan mulai bangkit seiring dengan proyeksi meredanya kebijakan kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, yang akan diikuti bank sentra berbagai negara. Disamping itu, kebijakan efisiensi besar-besar yang dilakukan perusahaan teknologi dalam beberapa waktu terakhir diprediksi membawa dampak positif bagi keuangan perseroan. Grafik Indeks Teknologi (IDXTekno) di Bursa Efek Indonesia di bursa efek Indonesia menujukkan adanya tren perbaikan sepanjang bulan ini. IDXTechno berada di level 5.539,02 pada penutupan perdagangan kemarin, atau naik 6,99% dibanding level 5.178,05 pada dua Januari lalu. Kendati demikian, yang berada di level 7.905,01, selisihnya 29,91%. (Yetede)
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
Proyek pembangunan ibukota negara (IKN) menggairahkan sektor konstruksi dan pendukungnya. Tak terkecuali sektor industri besi dan baja. Sejumlah emiten meyakini, proyek IKN bakal jadi katalis positif yang mendongkrak kinerja di 2023.
Fedaus, Direktur Corporate Affairs PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP), optimistis, industri baja pada tahun ini akan tumbuh dibandingkan tahun lalu. Ini seiring mulai menggeliatnya pengerjaan proyek pembangunan IKN.
Untuk kebutuhan proyek IKN, GGRP melihat potensi penggunaan baja sekitar 9,2 juta ton.
Johannes W. Edward, Chief Strategy, Corporate Secretary & Investor Relations PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP), mengatakan, ada sejumlah indikator pertumbuhan industri baja di 2023.Di antaranya, tren kenaikan harga baja sejak Oktober 2022 yang masih berlanjut.
Selain itu, komitmen pemerintah membangun infrastruktur.
ISSP menargetkan pertumbuhan penjualan 20% pada 2023. Selain dari proyek infrastruktur dan penjualan ekspor, produsen pipa baja yang dikenal dengan nama Spindo ini juga membidik proyek IKN. Saat ini sudah mulai ada pemesanan pipa spiral dan pipa konstruksi di proyek IKN.
Financial Expert Ajaib Sekuritas Asia Chisty Maryani menilai, permintaan besi dan baja berpeluang naik. Ini sejalan dengan proyeksi Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA), yang memperkirakan pertumbuhan industri baja dan besi tahun ini bisa mencapai 5%-6%, menjadi 17,3 juta ton.
Harga Jual Kuat, Margin Meningkat
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) bakal diuntungkan dari ekspansi margin. Harga jual produk ICBP berada di level yang tinggi di saat harga bahan baku mulai melandai.
Analis RHB Sekuritas Vanessa Karmajaya dalam risetnya menuliskan, prospek ICBP bakal lebih baik di 2023. Terdapat beberapa faktor pendukung margin ICBP, di antaranya penurunan harga komoditas bahan baku dan pangsa pasar ICBP yang kuat.
Kondisi tersebut bisa menghasilkan kekuatan harga yang solid.
Meski ASP naik signifikan, analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya meyakini mi instan ICBP mampu bersaing. Sejauh ini, pangsa pasar mi ICBP terjaga di kisaran 70%-75%. Sejak Januari hingga September 2022, ASP divisi mi naik 11% secara tahunan, tapi volume penjualan tetap naik sebesar 5%.
Analis Ciptadana Sekuritas Putu Chantika dalam riset 16 Januari 2023 menulis, emiten konsumer seperti ICBP juga akan terdorong aktivitas ekonomi masyarakat yang kembali dibuka usai pandemi. Kenaikan upah minimum pekerja di tahun 2023 juga akan menjadi sentimen positif.
Cicil Beli Saham Jelang Bulan Suci Ramadhan
Bulan Ramadan akan kembali tiba, yakni pada pekan terakhir Maret 2023. Momentum ini biasanya mengungkit kinerja beberapa sektor saham. Anda bisa mulai mencermati daftar saham pilihan yang bisa menghasilkan cuan di momentum Ramadan hingga Idul Fitri nanti.
Investment Analyst
Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian menyoroti, meski situasi pasar saham saat ini masih berfluktuasi kencang, tapi fundamental ekonomi Indonesia dalam kondisi solid. Kondisi ini terlihat dari tingkat konsumsi masyarakat yang masih terjaga.
Melihat sentimen positif tersebut, investor mulai bisa mengoleksi bertahap saham-saham unggulan di bulan Ramadan.
Selain ketiga sektor di atas, analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menambahkan dua sektor lain yang berpeluang membukukan kinerja cemerlang. Keduanya yakni sektor perunggasan atau
poultry
dan sektor transportasi.
Kedua sektor ini juga terdorong aktivitas masyarakat yang kembali normal.
Kepala Riset FAC Sekuritas Indonesia Wisnu Prambudi Wibowo sepakat, investor mulai bisa menyicil beli saham-saham yang berpotensi cuan pada periode Ramadan-Lebaran. Investor bisa memakai strategi
dollar cost averaging
supaya risiko dapat lebih terkontrol. Strategi ini adalah menempatkan investasi rutin secara berkala.
Layak Koleksi Meski Suku Bunga Tinggi
JAKARTA-Saham-saham sektor properti diyakini masih tetap menarik dikoleksi dengan orientasi investasi jangka panjang. Analisis dan Infovesta Kapotal Advisorim Fajar Dwi Alfian, menuturkan saat ini merupakan waktu yang tepat untuk membeli saham emiten properti yang tengah murah atau undervalue karena tekanan pasar. Sebagaimana diketahui, tekanan silih berganti menghampiri industri properti, khususnya yang berhubungan dengan tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia serta inflasi Bank Indonesia serta inflasi global. "Ada saham-saham emiten properti dengan nilai PER (price earning ratio) di bawah rata-rata sektor properti dan memiliki fundamental yang bagus," ujar Fajar, kemarin. Fundamental yang baik itu tercermin dari perolehan penjualan dan capaian laba bersih hingga kuartal III 2022 yang masih meningkat. (Yetede)
Saham Bank Besar jadi Korban Capital Out Flow
JAKARTA, ID – Saham-saham bank besar menjadi korban capital ouflow yang terjadi begitu masif di pasar saham Indonesia sepanjang tahun ini. Hal ini disebabkan migrasi dana asing ke pasar saham Asia Timur yang valuasinya lebih menarik dibandingkan Bursa Efek Indonesia (BEI). Akan tetapi, di tengah derasnya capital ouflow dan kejatuhan harga saham, analis menilai, prospek saham bank besar sangat menjanjikan, didorong solidnya kinerja fundamental. Itu artinya, koreksi harga yang dalam menjadi peluang untuk mengakumulasi saham-saham perbankan. Berdasarkan data BEI, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan nett foreign sell (NFS) sebesar Rp 2,1 triliun sejak awal tahun (year to date/ ytd), yang mendorong harga saham turun 2,63% menjadi Rp 8.325 per Kamis (19/1/2023). Selanjutnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan NFS Rp 1,2 triliun, sehingga turun 6,68% menjadi Rp 4.610. (Yetede)









