Saham
( 1717 )Harga Jual Kuat, Margin Meningkat
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) bakal diuntungkan dari ekspansi margin. Harga jual produk ICBP berada di level yang tinggi di saat harga bahan baku mulai melandai.
Analis RHB Sekuritas Vanessa Karmajaya dalam risetnya menuliskan, prospek ICBP bakal lebih baik di 2023. Terdapat beberapa faktor pendukung margin ICBP, di antaranya penurunan harga komoditas bahan baku dan pangsa pasar ICBP yang kuat.
Kondisi tersebut bisa menghasilkan kekuatan harga yang solid.
Meski ASP naik signifikan, analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya meyakini mi instan ICBP mampu bersaing. Sejauh ini, pangsa pasar mi ICBP terjaga di kisaran 70%-75%. Sejak Januari hingga September 2022, ASP divisi mi naik 11% secara tahunan, tapi volume penjualan tetap naik sebesar 5%.
Analis Ciptadana Sekuritas Putu Chantika dalam riset 16 Januari 2023 menulis, emiten konsumer seperti ICBP juga akan terdorong aktivitas ekonomi masyarakat yang kembali dibuka usai pandemi. Kenaikan upah minimum pekerja di tahun 2023 juga akan menjadi sentimen positif.
Cicil Beli Saham Jelang Bulan Suci Ramadhan
Bulan Ramadan akan kembali tiba, yakni pada pekan terakhir Maret 2023. Momentum ini biasanya mengungkit kinerja beberapa sektor saham. Anda bisa mulai mencermati daftar saham pilihan yang bisa menghasilkan cuan di momentum Ramadan hingga Idul Fitri nanti.
Investment Analyst
Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian menyoroti, meski situasi pasar saham saat ini masih berfluktuasi kencang, tapi fundamental ekonomi Indonesia dalam kondisi solid. Kondisi ini terlihat dari tingkat konsumsi masyarakat yang masih terjaga.
Melihat sentimen positif tersebut, investor mulai bisa mengoleksi bertahap saham-saham unggulan di bulan Ramadan.
Selain ketiga sektor di atas, analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menambahkan dua sektor lain yang berpeluang membukukan kinerja cemerlang. Keduanya yakni sektor perunggasan atau
poultry
dan sektor transportasi.
Kedua sektor ini juga terdorong aktivitas masyarakat yang kembali normal.
Kepala Riset FAC Sekuritas Indonesia Wisnu Prambudi Wibowo sepakat, investor mulai bisa menyicil beli saham-saham yang berpotensi cuan pada periode Ramadan-Lebaran. Investor bisa memakai strategi
dollar cost averaging
supaya risiko dapat lebih terkontrol. Strategi ini adalah menempatkan investasi rutin secara berkala.
Layak Koleksi Meski Suku Bunga Tinggi
JAKARTA-Saham-saham sektor properti diyakini masih tetap menarik dikoleksi dengan orientasi investasi jangka panjang. Analisis dan Infovesta Kapotal Advisorim Fajar Dwi Alfian, menuturkan saat ini merupakan waktu yang tepat untuk membeli saham emiten properti yang tengah murah atau undervalue karena tekanan pasar. Sebagaimana diketahui, tekanan silih berganti menghampiri industri properti, khususnya yang berhubungan dengan tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia serta inflasi Bank Indonesia serta inflasi global. "Ada saham-saham emiten properti dengan nilai PER (price earning ratio) di bawah rata-rata sektor properti dan memiliki fundamental yang bagus," ujar Fajar, kemarin. Fundamental yang baik itu tercermin dari perolehan penjualan dan capaian laba bersih hingga kuartal III 2022 yang masih meningkat. (Yetede)
Saham Bank Besar jadi Korban Capital Out Flow
JAKARTA, ID – Saham-saham bank besar menjadi korban capital ouflow yang terjadi begitu masif di pasar saham Indonesia sepanjang tahun ini. Hal ini disebabkan migrasi dana asing ke pasar saham Asia Timur yang valuasinya lebih menarik dibandingkan Bursa Efek Indonesia (BEI). Akan tetapi, di tengah derasnya capital ouflow dan kejatuhan harga saham, analis menilai, prospek saham bank besar sangat menjanjikan, didorong solidnya kinerja fundamental. Itu artinya, koreksi harga yang dalam menjadi peluang untuk mengakumulasi saham-saham perbankan. Berdasarkan data BEI, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan nett foreign sell (NFS) sebesar Rp 2,1 triliun sejak awal tahun (year to date/ ytd), yang mendorong harga saham turun 2,63% menjadi Rp 8.325 per Kamis (19/1/2023). Selanjutnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan NFS Rp 1,2 triliun, sehingga turun 6,68% menjadi Rp 4.610. (Yetede)
Pemerintah Tawarkan SBR012 dengan Bunga 6,15% dan 6,35%
Mulai hari ini (19/1), peminat obligasi negara ritel bisa mulai membeli
saving bond
ritel (SBR) seri SBR012. Penawaran SBR012 ini akan berlangsung sampai 9 Februari 2023.
Kali ini pemerintah menawarkan dua seri dengan tenor berbeda. Yakni SBR012-T2 berjangka waktu dua tahun dan SBR012-T4 untuk tenor empat tahun. Pada tahap awal, SBR012-T2 memberi kupon 6,15%, yang akan berubah jika bunga acuan Bank Indonesia (BI) naik dengan spread 65 bps.
Ini karena SBR menggunakan skema kupon
floating with the floor,
di mana kupon akan naik jika bunga acuan naik, namun tidak akan turun jika bunga turun. Sedangkan SBR012-T4 mematok kupon 6,35% dengan spread 85 bps.
Associate Director Fixed Income
Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menilai tawaran SBN ritel perdana tahun ini menarik.
Raih Dana Rp 5 Triliun dari Right Issue, EXCL Lunasi Utang
PT XL Axiata Tbk (EXCL) berhasil menghimpun dana segar Rp 5 triliun dari penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu III alias
rights issue.
Dana hasil
rights issue
ini akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan emiten ini. EXCL terutama akan membayar utang perusahaan. "Karena pembayaran utang lebih awal dapat mengurangi beban biaya bunga hingga Rp 300 miliar di tahun 2023 ini," jelas Budi Pramantika Direktur dan
Chief Finance Officer
EXCL, Rabu (18/1).
Analis Ciptadana Sekuritas Gani mengatakan, dana
rights issue
yang dipakai untuk mengurangi utang, akan menurunkan
net debt to
EBITDA EXCL menjadi 2,4 kali. Sebelumnya
net debt to
EBITDA EXCL mencapai 2,7 kali per September 2022.
Proyek IKN Berjalan, BUMN Karya Cuan
Pemerintah terus mempercepat pembangunan ibukota negara (IKN) Nusantara. Dalam Rapat Kerja bersama Komisi V DPR RI, Selasa (17/1), Menteri PUPR Basuki Hadimulyono menyebutkan, hingga kini ada 40 kegiatan konstruksi pembangunan infrastruktur di IKN yang sudah terkontrak, dengan nilai mencapai Rp 25,98 triliun,
Geliat pembangunan proyek IKN tersebut tentu menjadi angin segar bagi emiten konstruksi. Terutama bagi BUMN konstruksi yang diproyeksi paling banyak dapat porsi proyek. Salah satunya PT Adhi Karya Tbk (ADHI).
Farid Budiyanto, Sekretaris Perusahaan Adhi Karya, mengatakan, perolehan kontrak baru ADHI di tahun ini ditargetkan tumbuh 15%-20%, termasuk kontrak IKN. Hingga saat ini ADHI sudah mengerjakan beberapa proyek IKN. Di antaranya proyek gedung dan infrastruktur dengan total kontrak Rp 2,6 triliun.
Selain ADHI, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) juga akan gencar memburu proyek-proyek IKN. SVP Corporate Secretary Waskita Karya Novianto Ari Nugroho mengatakan, emiten ini telah memenangkan tender proyek IKN sebesar Rp 4,16 triliun.
Cuan Indika Energy Kesetrum Bisnis EV
Langkah PT Indika Energy Tbk (INDY) menjalin kerjasama distribusi sepeda motor listrik dengan Damon Motors dinilai bakal mengerek kinerja emiten batubara ini. Pasalnya, Damon Motors merupakan salah satu produsen kendaraan listrik atau
electrical vehicle
(EV) terbesar di Kanada.
Pada 12 Januari lalu, Damon Motors mengumumkan telah menjalin kemitraan dengan INDY. Emiten ini akan menjadi distributor sepeda motor listrik Damon di pasar Indonesia.
"Kami meyakini kemitraan ini akan mempercepat strategi kami masuk ke pasar kendaraan listrik," ungkap Azis Armand,
Vice President Director dan CEO Group Indika Energy.
Analis Henan Putihrai Sekuritas Ezaridho Ibunatama menilai, upaya INDY memperbesar diversifikasi bisnis ke segmen non batubara bakal berdampak positif bagi kinerja. Terlebih, pemerintah terus mengembangkan industri EV di Tanah Air.
Sepeda motor listrik tersebut merupakan produk generasi pertama INDY. "INDY juga membentuk usaha patungan lain di bisnis EV dengan menggandeng Foxconn untuk memproduksi bus listrik," kata Ezar, kemarin.
Investor Makin Rasional, Bursa Lebih Stabil
JAKARTA, ID— Kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah selama masa pandemi, 2020 hingga 2021, ikut mendongkrak jumlah investor di pasar modal. Namun, jumlah pemodal yang didominasi investor ritel membuat pasar pasar saham kurang stabil, diwarnai volatilitas yang cukup tinggi. Mulai tahun ini, pasar saham akan lebih stabil karena investor institusi akan lebih berperan. Lonjakan pemodal selama pandemi dipicu oleh penurunan suku bunga di berbagai negara. Untuk mengangkat daya beli masyarakat, bank sentral memangkas suku bunga dan pemerintah memberikan dana perlindungan sosial. Suku bunga rendah dan pembatasan kegiatan masyarakat selama pandemi mendorong investor individu ke pasar saham dan kripto. Namun, ketika suku bunga sudah menanjak tinggi, pemodal besar mengalihkan investasi portofolio ke obligasi, termasuk obligasi negara. (Yetede)
Genjot Pertumbuhan Kinerja, AMRT Siapkan Strategi Usaha
Kinerja emiten ritel diproyeksi masih moncer di sepanjang tahun ini. Selain karakternya bersifat defensif, emiten di sektor ini juga masih diselimuti katalis positif dari musim kampanye politik menjelang Pemilu 2024.
Dus, sejumlah emiten pengelola ritel telah bersiap mengail peluang untuk mendongkrak kinerja di tahun ini. Contoh, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Pengelola gerai ritel Alfamart ini telah menyiapkan sejumlah strategi.
Corporate Communications GM Alfamart Rani Wijaya menuturkan, tahun ini AMRT akan menerapkan strategi omnichannel dan penambahan jumlah gerai. Rani menjelaskan, strategi omnichannel akan dilakukan melalui aplikasi Alfagift.
Sementara itu, strategi penambahan gerai akan difokuskan ke luar Pulau Jawa. "Masyarakat masih membutuhkan kehadiran ritel modern. Seperti di kota atau kabupaten di Kalimantan, Nusa Tenggara hingga Papua," imbuh Rani.









