Saham
( 1722 )Pemerintah Tawarkan SBR012 dengan Bunga 6,15% dan 6,35%
Mulai hari ini (19/1), peminat obligasi negara ritel bisa mulai membeli
saving bond
ritel (SBR) seri SBR012. Penawaran SBR012 ini akan berlangsung sampai 9 Februari 2023.
Kali ini pemerintah menawarkan dua seri dengan tenor berbeda. Yakni SBR012-T2 berjangka waktu dua tahun dan SBR012-T4 untuk tenor empat tahun. Pada tahap awal, SBR012-T2 memberi kupon 6,15%, yang akan berubah jika bunga acuan Bank Indonesia (BI) naik dengan spread 65 bps.
Ini karena SBR menggunakan skema kupon
floating with the floor,
di mana kupon akan naik jika bunga acuan naik, namun tidak akan turun jika bunga turun. Sedangkan SBR012-T4 mematok kupon 6,35% dengan spread 85 bps.
Associate Director Fixed Income
Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menilai tawaran SBN ritel perdana tahun ini menarik.
Raih Dana Rp 5 Triliun dari Right Issue, EXCL Lunasi Utang
PT XL Axiata Tbk (EXCL) berhasil menghimpun dana segar Rp 5 triliun dari penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu III alias
rights issue.
Dana hasil
rights issue
ini akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan emiten ini. EXCL terutama akan membayar utang perusahaan. "Karena pembayaran utang lebih awal dapat mengurangi beban biaya bunga hingga Rp 300 miliar di tahun 2023 ini," jelas Budi Pramantika Direktur dan
Chief Finance Officer
EXCL, Rabu (18/1).
Analis Ciptadana Sekuritas Gani mengatakan, dana
rights issue
yang dipakai untuk mengurangi utang, akan menurunkan
net debt to
EBITDA EXCL menjadi 2,4 kali. Sebelumnya
net debt to
EBITDA EXCL mencapai 2,7 kali per September 2022.
Proyek IKN Berjalan, BUMN Karya Cuan
Pemerintah terus mempercepat pembangunan ibukota negara (IKN) Nusantara. Dalam Rapat Kerja bersama Komisi V DPR RI, Selasa (17/1), Menteri PUPR Basuki Hadimulyono menyebutkan, hingga kini ada 40 kegiatan konstruksi pembangunan infrastruktur di IKN yang sudah terkontrak, dengan nilai mencapai Rp 25,98 triliun,
Geliat pembangunan proyek IKN tersebut tentu menjadi angin segar bagi emiten konstruksi. Terutama bagi BUMN konstruksi yang diproyeksi paling banyak dapat porsi proyek. Salah satunya PT Adhi Karya Tbk (ADHI).
Farid Budiyanto, Sekretaris Perusahaan Adhi Karya, mengatakan, perolehan kontrak baru ADHI di tahun ini ditargetkan tumbuh 15%-20%, termasuk kontrak IKN. Hingga saat ini ADHI sudah mengerjakan beberapa proyek IKN. Di antaranya proyek gedung dan infrastruktur dengan total kontrak Rp 2,6 triliun.
Selain ADHI, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) juga akan gencar memburu proyek-proyek IKN. SVP Corporate Secretary Waskita Karya Novianto Ari Nugroho mengatakan, emiten ini telah memenangkan tender proyek IKN sebesar Rp 4,16 triliun.
Cuan Indika Energy Kesetrum Bisnis EV
Langkah PT Indika Energy Tbk (INDY) menjalin kerjasama distribusi sepeda motor listrik dengan Damon Motors dinilai bakal mengerek kinerja emiten batubara ini. Pasalnya, Damon Motors merupakan salah satu produsen kendaraan listrik atau
electrical vehicle
(EV) terbesar di Kanada.
Pada 12 Januari lalu, Damon Motors mengumumkan telah menjalin kemitraan dengan INDY. Emiten ini akan menjadi distributor sepeda motor listrik Damon di pasar Indonesia.
"Kami meyakini kemitraan ini akan mempercepat strategi kami masuk ke pasar kendaraan listrik," ungkap Azis Armand,
Vice President Director dan CEO Group Indika Energy.
Analis Henan Putihrai Sekuritas Ezaridho Ibunatama menilai, upaya INDY memperbesar diversifikasi bisnis ke segmen non batubara bakal berdampak positif bagi kinerja. Terlebih, pemerintah terus mengembangkan industri EV di Tanah Air.
Sepeda motor listrik tersebut merupakan produk generasi pertama INDY. "INDY juga membentuk usaha patungan lain di bisnis EV dengan menggandeng Foxconn untuk memproduksi bus listrik," kata Ezar, kemarin.
Investor Makin Rasional, Bursa Lebih Stabil
JAKARTA, ID— Kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah selama masa pandemi, 2020 hingga 2021, ikut mendongkrak jumlah investor di pasar modal. Namun, jumlah pemodal yang didominasi investor ritel membuat pasar pasar saham kurang stabil, diwarnai volatilitas yang cukup tinggi. Mulai tahun ini, pasar saham akan lebih stabil karena investor institusi akan lebih berperan. Lonjakan pemodal selama pandemi dipicu oleh penurunan suku bunga di berbagai negara. Untuk mengangkat daya beli masyarakat, bank sentral memangkas suku bunga dan pemerintah memberikan dana perlindungan sosial. Suku bunga rendah dan pembatasan kegiatan masyarakat selama pandemi mendorong investor individu ke pasar saham dan kripto. Namun, ketika suku bunga sudah menanjak tinggi, pemodal besar mengalihkan investasi portofolio ke obligasi, termasuk obligasi negara. (Yetede)
Genjot Pertumbuhan Kinerja, AMRT Siapkan Strategi Usaha
Kinerja emiten ritel diproyeksi masih moncer di sepanjang tahun ini. Selain karakternya bersifat defensif, emiten di sektor ini juga masih diselimuti katalis positif dari musim kampanye politik menjelang Pemilu 2024.
Dus, sejumlah emiten pengelola ritel telah bersiap mengail peluang untuk mendongkrak kinerja di tahun ini. Contoh, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Pengelola gerai ritel Alfamart ini telah menyiapkan sejumlah strategi.
Corporate Communications GM Alfamart Rani Wijaya menuturkan, tahun ini AMRT akan menerapkan strategi omnichannel dan penambahan jumlah gerai. Rani menjelaskan, strategi omnichannel akan dilakukan melalui aplikasi Alfagift.
Sementara itu, strategi penambahan gerai akan difokuskan ke luar Pulau Jawa. "Masyarakat masih membutuhkan kehadiran ritel modern. Seperti di kota atau kabupaten di Kalimantan, Nusa Tenggara hingga Papua," imbuh Rani.
Inflasi AS Turun, Pasar Saham Berpotensi Bangkit
JAKARTA, ID – Setelah turun 0,64% ke level 6.641 pada pekan lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan ini berpotensi bangkit, didorong penurunan inflasi di Amerika Serikat (AS).Support indeks berada di level 6.557-6.500 dan resistance 6.727-6.813. Penurunan inlfasi AS ke level 6,5% pada Desember 2022 akan memberikan kesempatan bagi bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), untuk menahan kenaikan suku bunga. Selain itu, kabar itu akan menentukan kebijakan Bank Indonesia dalam menetapkan suku bunga acuan. Sebenar nya, Direktur Equator Swarna Capital Hans Kwee menerangkan, penurunan inflasi AS sejatinya sudah terjadi sejak Desember 2022 dan diperkirakan terus berlanjut. Karena itu, The Fed diperkirakan tidak menaikan suku bunga dalam waktu dekat. “Kenaikan suku bunga diperkirakan baru terjadi pada Februari mendatang sebanyak 25 basis points (bps),” jelas Hans kepada Investor Daily, akhir pekan lalu. (Yetede)
IHSG Berlari Kencang Semester II
JAKARTA, ID – Tahun ini investor disarankan untuk rebalancing instrumen investasi dan refocusing pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang telah terdiskon. Kalangan analis optimistis bahwa indeks harga saham gabungan (IHSG) berlari kencang mulai semester II, karena kemungkinan penurunan suku bunga The Fed dan masifnya partai politik menggelontorkan dana kampanye. Pelemahan IHSG dan fenomena net sell yang melanda Bursa Efek Indonesia selama Januari ini hanya bersifat sementara, tergiur mencari pasar regional yang sedang murah. Pasar saham diprediksi mulai bergairah pada akhir kuartal I-2023, dengan IHSG diperkirakan menembus 7.300. Secara moderat, tahun ini indeks bisa mencapai 7.550, tapi bisa juga 8.400 jika resesi tidak seburuk yang diekspektasikan. Sementara itu, dari sisi fundamental makro ekonomi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hal itu tercermin pada neraca dagang yang konsisten surplus, fiskal solid dengan penerimaan pajak melampaui target, serta inflasi relatif terkendali. Jadi fenomena pasar saat ini lebih dipengaruhi oleh sentimen dan psikologis, ketimbang data fundamental. (Yetede)
Alibaba Jual 3,1% Saham Paytm Senilai US$ 125 Juta
Alibaba menjual 3,1% kepemilikan saham di perusahaan pembayaran digital India, Paytm senilai US$ 125 juta pada Kamis (12/1).
Seperti dilansir dari
Reuters, kemarin (13/1), Alibaba sebelumnya memegang 6,26% saham di Paytm pada akhir September 2022. Perusahaan ini menjual 3,1% saham di Paytm di harga INR 536,95 per saham, menurut sumber yang tidak mau disebutkan namanya.
Paytm yang sebelumnya bernama One97 Communications mencatatkan saham di bursa India pada tahun 2021 dengan nilai
initial public offering
(IPO) senilai US$ 2,5 miliar.
Anak Usaha PALM Beli Saham MMLP
PT Suwarna Arta Mandiri, anak usaha PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) merogoh kocek Rp 620 miliar untuk mencaplok saham PT Mega Manunggal Property Tbk (MMLP).
Sekretaris Perusahaan Provident Investasi Bersama, Lim Na Lie bilang, Suwarna Arta Mandiri membeli 1,25 miliar saham MMLP di harga Rp 495 per saham. Transaksi ini dilakukan pada 5 Januari 2023.
Transaksi ini setara 18,18% kepemilikan saham MMLP. Per 31 Desember 2022, pemegang saham MMLP, antara lain, Mega Mandiri 16,91%, UOB Kay Hian 32,79%, West Bridge 16,89%, publik 33,39%.
Sekadar informasi, PT Suwarna Arta Mandiri merupakan entitas usaha Provident Agro di bawah kendali Saratoga Group, dan Winato Kartono melalui Provident Capital Indonesia dengan kepemilikan 50,85% dari seluruh saham.









