Saham
( 1717 )Ada January Effect, IHSG Bakal Menguat
Investor gagal meraup cuan besar dari window dressing di pengujung tahun 2022 lalu. Di bulan Desember yang biasanya menjadi momen terjadinya window dressing, performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ternyata justru loyo.
Hingga penutupan bursa tahun 2022 pada Jumat pekan lalu (30/12), IHSG masih berkubang di zona merah. Saat itu, IHSG melemah 0,14% atau 9,46 poin ke 6.850,12. Penurunan IHSG diiringi oleh net sell atau jual bersih investor asing Rp 768,32 miliar di seluruh pasar saham.
Penguatan indeks saham bursa nasional ini tentu membuka optimisme pelaku pasar yang menantikan fenomena January effect. Tren January effect
menjadi momentum yang ditunggu investor pasar saham tiap awal tahun, lantaran memiliki peluang mengangkat IHSG.
Harapannya, fenomena tersebut akan membantu mendongkrak harga saham yang dikoleksi investor. Head of Research Jasa Utama Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya meyakini, momentum January effect berpeluang terjadi dan akan membawa posisi IHSG kembali menguat.
Pendapat Cheril diamini Arjun Ajwani, Research Analyst Infovesta Kapital Advisori. Dia bilang, di sepanjang Desember berjalan atau month to date, IHSG sudah terkoreksi lebih dari 2%.
Penurunan IHSG ini dipicu anjloknya beberapa saham big cap. Ini terutama saham emiten bank dan energi yang mengalami koreksi harga secara bulanan.
Saham Tetap Pilihan Investasi Primadona
JAKARTA, ID – Setelah sebulan terakhir dana investasi lebih banyak mengalir ke surat berharga negara (SBN) senilai Rp 25,4 triliun, pada paruh pertama 2023, peta investasi diperkirakan bergeser kembali ke investasi saham. Total investasi yang dikelola perusahaan asuransi komersial, BPJS Ketenagakerjaan, dana pensiun, dan reksa dana yang pada September lalu Rp 2.243 triliun, tahun ini akan menembus Rp 2.500 triliun. Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2023 yang diprediksi di atas 5,3% memberikan optimisme pada manajer investasi yang mengincar saham. Kinerja saham tahun 2023 diyakini akan jauh lebih baik dibanding tahun 2022. Indeks harga saham gabungan (IHSG) yang pada tahun 2022 hanya naik 4,09%, tahun ini akan meningkat di atas 8%. Selain masuknya sejumlah calon emiten jumbo, saham sektor perbankan, energi, dan infrastruktur akan menguat. Sejarah pasar modal menunjukkan, kinerja saham justru bagus setahun menjelang pemilu. “Pertumbuhan ekonomi tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2022. Dengan perkiraan ini, pasar saham seharusnya membaik. (Yetede)
Meski Loyo di Desember, IHSG Juara Ketiga di Asia
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) resmi menutup tahun 2022 dengan melemah tipis 0,14% ke 6.850,62, Jumat (30/12). Dus, sepanjang 2022, IHSG hanya naik 4,09%.
Nilai ini lebih rendah dari kinerja IHSG di tahun 2021 yang berhasil menguat 10,08%. Prestasi IHSG yang selalu sukses menghijau di bulan Desember, pada tahun 2022 ini juga terpatahkan.
Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani mengakui pada 2022 pasar modal menghadapi ujian luar biasa. Negara maju mengalami pelemahan ekonomi dan ada konflik geopolitik, membuat distribusi terkunci. "Kompleksitas ini menimbulkan dampak di pasar modal Indonesia secara langsung. Sementara sejumlah bank sentral justru memilih menaikkan suku bunga untuk tidak memperparah inflasi," ucap dia, Jumat (30/12).
Jika dibandingkan dengan bursa Asia lainnya pun performa IHSG juga tidak terlalu buruk. IHSG masih menjadi bursa dengan kinerja terbaik ketiga setelah indeks saham India, BSE Sensex, yang naik 4,82% dan indeks saham Singapura, Straits Times, yang naik 4,29%. Sri Mulyani juga sangat mengapresiasi IHSG yang sukses menghijau di akhir perdagangan tahun ini.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rachman berpendapat, kinerja IHSG di tahun depan masih bakal penuh tantangan. "Walaupun dunia akan menghadapi perfect storm di 2023, tapi saya akan tetap optimistis dan waspada," kata Iman.
SKRN Bakal Melakukan Stock Split 1:5
Rencana PT Superkrane Mitra Utama Tbk (SKRN) untuk melakukan pemecahan nilai saham alias
stock split
terus bergulir. Emiten yang bergerak di bidang penyewaan
crane
dan alat berat ini telah menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Jumat, 16 Desember 2022.
Melalui RUPSLB tersebut, para pemegang saham telah menyetujui pemecahan nilai nominal saham (
stock split
) dengan rasio 1:5. Jadi nanti jika semula nominal saham SKRN di Rp 100 maka akan menjadi Rp 20 per saham.
Dengan aksi korporasi ini, jumlah saham SKRN bertambah, dari semula 1,5 miliar sebelum
stock split
menjadi 7,50 miliar setelah
stock split.
Aksi korporasi ini akan dilakukan dengan masa akhir perdagangan saham nilai nominal lama di pasar reguler dan pasar negosiasi pada 5 Januari 2023.
Tahun Menantang Bursa Saham
Prospek pasar modal pada 2023 diproyeksikan semakin menguat. Rapor hijau bursa saham pada 2022 menjadi pijakan investor dalam mengatur portofolionya. Apalagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2023 diproyeksikan dapat menembus level 8.000. Sinarmas Sekuritas, misalnya, memproyeksikan IHSG pada 2023 bergerak di kisaran 6.250—8.000. Adapun, Mirae Asset Sekuritas memproyeksi IHSG dapat menembus level 7.880 pada 2023. Meski demikian, investor perlu tetap waspada mengingat sejumlah tantangan a.l. peningkatan resesi global yang terjadi di Amerika Serikat (AS) dan China, ditambah dengan konflik politik Rusia dan Ukraina, serta dinamika politik menjelang Pesta Demokrasi 2024 yang berisiko menggoyang pergerakan saham. Deputi Head of Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati menyatakan pelaku pasar perlu memperhatikan risiko dari naiknya probabilitas resesi di AS dan China yang dapat mengganggu aktivitas dagang dengan Indonesia. Selain itu, proyeksi harga komoditas 2023 yang lebih landai dikhawatirkan bakal mengurangi optimisme pasar. Sejumlah emiten komoditas itu, sahamnya juga sempat menyentuh all time high pada tahun ini, a.l. ITMG, ADRO, dan BYAN. Di sektor perbankan, saham BBCA dan BBRI juga sempat menyentuh level tertingginya. Kendati demikian, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama optimistis sektor perbankan dan consumer goods dapat menjadi pilihan investor untuk berinvestasi saham 2023.
Saham BIYAN Motor Penggerak IHSG, ADMR Top Gainer
JAKARTA, ID – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup di level 6.850,2, Jumat (30/12/2022), turun 0,14% dibandingkan sehari sebelumnya. Sepanjang 2022, IHSG tumbuh 4,09%, lebih rendah dari 2021 sebesar 10,06%, dengan market cap Rp 9.499 triliun. Berdasarkan data BEI, saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi penggerak (mover) terbesar IHSG, dengan kenaikan 677% menjadi Rp 21 ribu dan berkontribusi 357 poin. Adapun kenaikan harga tertinggi (top gainer) dipegang perusahaan batu bara kokas dan aluminium nasional, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), sebesar 1.595% menjadi Rp 1.695 Saham BYAN terkerek lonjakan harga batu bara sebesar 149% menjadi US$ 404 per ton sepanjang 2022 dari US$ 162 per ton. Berkat lonjakan harga saham yang fantastis, sang pemilik Bayan, Low Tuck Kwong menjadi orang terkaya di Indonesia, mengalahkan duo Hartono, pemilik Grup Djarum, yang mengendalikan saham PT Bank Central Asia Tbk (BCA/BBCA). (Yetede)
MAGNET KUAT SAHAM BARU
Mayoritas saham emiten-emiten anyar masih menjadi instrumen investasi yang memberi cuan tebal pada tahun ini. Di tengah tren menghijaunya saham pendatang baru, investor perlu mencermati faktor tujuan go public, valuasi, kondisi keuangan, hingga prospek emiten sebelum berpartisipasi dalam IPO. Bursa Efek Indonesia kedatangan 59 emiten baru sepanjang tahun berjalan 2022. Jumlah emiten baru pada 2022 itu melampaui realisasi dalam 5 tahun sebelumnya yang tercatat 37 emiten baru pada 2017, 57 emiten baru pada 2018, 55 emiten baru pada 2019, 51 emiten baru pada 2020, dan 54 emiten baru pada 2021. Secara akumulasi, total penggalangan dana dari IPO pada tahun ini mencapai Rp33,03 triliun atau lebih rendah dari rekor pada 2021 yang menembus Rp62,61 triliun. Sektor konsumer mendominasi aksi initial public offering (IPO) pada tahun ini dengan total emiten baru sebanyak 26 perusahaan. Selain itu, IPO juga diramaikan oleh emiten dari sektor kesehatan, teknologi, dan infrastruktur. Saham emiten-emiten baru bergerak kembang kempis sejak debut di lantai bursa. Meski begitu, mayoritas melaju di teritori hijau hingga menjelang akhir tahun ini. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani mengatakan beberapa sektor di pasar modal masih mempunyai potensi baik seperti sektor konsumen primer dan energi. Menurut Arjun, di tengah risiko resesi dan ketidakpastian geopolitik, sektor konsumen primer memiliki resiliensi terhadap risiko ini. “Sektor energi masih kondusif karena terdapat potensi kenaikan harga minyak, batu bara, dan gas alam,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (27/12).
SWI OJK Ciduk Sembilan Investasi Ilegal
Ibarat rumput ilalang, pelaku penawaran investasi ilegal di Indonesia terus tumbuh. Kendati saban bulan Satgas Waspada Investasi (SWI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) rutin menutup kegiatan investasi ilegal, aksi ini masih tetap marak.
Terbaru, di periode Desember 2022, SWI OJK kembali menciduk sembilan entitas usaha yang melakukan penawaran investasi tanpa izin. Dari sembilan entitas itu, empat entitas melakukan penawaran investasi tanpa izin.
Lalu, dua entitas melakukan pembiayaan dan pendanaan tanpa izin. Selain itu, masing-masing satu entitas melakukan kegiatan agen properti tanpa izin, kegiatan aset kripto tanpa izin dan perdagangan aset digital tanpa izin.
Tongam L. Tobing, Ketua Satgas Waspada Investasi menegaskan, penanganan entitas investasi ilegal dilakukan SWI sebagai langkah antisipatif.
GOTO Anjlok, Langkah IHSG Makin Ringan
Saham PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) resmi terdepak dari jajaran saham dengan dengan kapitalisasi pasar terbesar (big caps). Ini karena harga saham GOTO yang terus terjun bebas.
Penurunan harga saham GOTO terus terjadi sejak masa lock up period berakhir pada 30 November 2022. Sejak saat itu, saham GOTO selalu mengalami auto reject bawah (ARB). Senin (26/12), saham GOTO ditutup melemah 4,65% di Rp 82 per saham.
Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji menegaskan, penurunan kapitalisasi pasar saham GOTO ini terjadi seiringan dengan aksi jual yang dilakukan oleh para investor.
Lantaran saham GOTO memiliki kapitalisasi pasar yang sangat besar di BEI, alhasil setiap pergerakan saham emiten ini sangat mempengaruhi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro menyebut, pelemahan GOTO menjadi pemberat kinerja IHSG selama ini. Efeknya dalam IHSG hanya mampu menguat 3,86% sepanjang tahun ini menjadi 6.835,81 hingga Senin (26/12).
Saham Emiten Konglomerat Masih Prospektif
Daftar orang terkaya di Indonesia berubah. Terbaru, Low Tuck Kwong, taipan sekaligus pendiri perusahaan tambang batubara PT Bayan Resources Tbk (BYAN), sukses menggusur duo bos Grup Djarum, Hartono bersaudara, sebagai orang paling tajir di Indonesia. Kekayaan Low terus melesat seiring dengan kenaikan harga saham BYAN. Kemarin, harga saham BYAN ditutup di level Rp 20.575 per saham.
Tentu saja, bukan cuma Low Tuck Kwong yang menikmati kenaikan harga saham BYAN ini. Investor yang menyimpan saham BYAN sejak awal tahun ini juga ikut mendulang cuan. Saham BYAN juga termasuk saham grup konglomerat yang memberikan cuan besar pada tahun ini.
Sebagai gambaran, apabila dihitung sejak awal tahun ini, harga saham BYAN sudah melesat 662,04%. BYAN merupakan saham energi dengan kenaikan harga tertinggi kedua, hanya kalah oleh kenaikan harga PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), anak usaha PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), perusahaan milik pengusaha Garibaldi Thohir dan Grup Saratoga.Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani menilai, aksi pemecahan nilai saham atau stock split yang dilakukan oleh emiten ini ikut menambah daya tarik saham BYAN.
Dia melihat, harga saham BYAN sebelum
stock split
yang menyentuh harga sekitar level Rp 94.000 per saham kurang diminati oleh investor.









