;
Tags

Obligasi

( 223 )

Masyarakat Gandrungi Obligasi Negara pada 2023

KT3 23 Dec 2023 Kompas

Masyarakat pada 2023 semakin berminat berinvestasi di obligasi pemerintah. Peminat obligasi ini mengalami kenaikan paling tinggi dibandingkan investasi aset keuangan lainnya. Kebanyakan investor adalah kelompok tabungan menengah. Pertumbuhan dana simpanan nasabah bank yang terbaca dalam data dana pihak ketiga (DPK) dalam dua bulan terakhir terus menurun. BI mencatat, total dana masyarakat di bank hanya naik 3,04 % secara tahunan pada November, turun dari 3,9 % pada Oktober 2023. Pertumbuhan itu hampir hanya sepertiga dibandingkan dengan 8,08 % pada November 2022 dan 9,01 % pada Desember 2022. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, pada acara Outlook Perekonomian Indonesia 2024 oleh Kemenko Perekonomian di Jakarta, Jumat (22/12) mengatakan, lonjakan kenaikan DPK pada tahun lalu adalah anomali karena kebangkitan ekonomi pascapandemi. Angka DPK tahun ini justru disebut mendekati tren sebelum pandemi.

Meski demikian, ia melihat, saat ini masyarakat cenderung lebih berminat menyimpan uangnya di instrumen keuangan lain yang lebih bervariasi. ”Termasuk dengan kemungkinan investasi di SBN atau juga di pasar modal, atau berkaitan dengan deposito,” ujarnya dalam acara yang disiarkan secara daring. Gubernur BI Perry Warjiyo pada konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, Kamis (21/12), juga menyebut rendahnya pertumbuhan penyimpanan uang nasabah di perbankan dipengaruhi pergeseran ke investasi berupa pembelian obligasi pemerintah. Pergeseran initerjadi terutama pada kelompok tabungan menengah. ”Ada alternatif investasi lain, yang dulunya DPK di tabungan perbankan, sekarang bisa beli SBN, ritel, ataupun investasi-investasi yang lain. Jadi, komponennya di dalam neraca bank bukan lagi DPK, melainkan ke net claim to government, itu ada perpindahan-perpindahan,” kata Perry. (Yoga)

Pergi dari Tabungan, Mengalir ke Surat Utang

HR1 20 Dec 2023 Kontan (H)
Dana masyarakat di Indonesia makin deras mengalir ke surat berharga negara (SBN) sepanjang tahun ini. Gejala tersebut tercermin dari outstanding obligasi negara yang tumbuh melampaui pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan. Jumlah investor surat utang negara juga tercatat naik tertinggi sepanjang sebelas bulan pertama tahun ini dibanding instrumen investasi lainnya, meski trennya melambat dari tahun sebelumnya. Berdasarkan data KSEI, rekening investor SBN per November 2023 mencapai 992.787, tumbuh 19,4% secara tahunan. Jumlah investor reksadana naik 17,4% serta saham dan surat berharga lainnya naik 16,5%. Sedangkan rekening di bank hanya naik 8,3%. Head of Macroeconomic Outlook & Financial Market Research Bank Mandiri Dian Ayu Yustina mengakui, penghimpunan DPK cukup menantang tahun ini. Sebaliknya dengan pasar obligasi. "Tren pertumbuhan di obligasi untuk tahun ini masih cukup baik," kata dia, Selasa (19/12). Direktur Distribution & Funding Bank BTN Jasmin mengatakan, penempatan dana nasabah melalui deposito masih di atas instrumen investasi non bank. Ini karena suku bunga masih cukup tinggi. "Penempatan dana nasabah BTN pada produk non-banking seperti reksadana, SBN, obligasi dan lain-lain hanya sekitar 27%-30% dari total Rp 47 triliun dana kelolaan BTN Prioritas saat ini," kata Jasmin, Senin (18/12). Direktur Bisnis Konsumer BRI Handayani mengatakan, dana kelolaan atau asset under management (AUM) wealth management BRI hingga 11 Desember 2023 sekitar Rp 205 triliun. AUM ini didominasi DPK, diikuti obligasi, saham dan reksadana. Menurut Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, perlambatan pertumbuhan DPK perbankan lebih disebabkan oleh simpanan nasabah kecil. Banyak nasabah kecil sudah mulai makan tabungan karena terdampak perlambatan ekonomi dan inflasi.

MENGIMBANGI LENGGANG THE FED

HR1 15 Dec 2023 Bisnis Indonesia (H)

Kabar gembira datang dari Amerika Serikat (AS) setelah Federal Reserve (The Fed) menyuarakan komitmen yang kuat untuk memangkas acuan suku bunga hingga 75 basis poin (bps) pada tahun depan. Apalagi pada pertemuan kemarin, Kamis (14/12), The Fed sesuai ekspektasi kembali menahan suku bunga acuan di level 5,25%—5,5%. Artinya, sepanjang paruh kedua tahun ini tak ada perubahan di bank sentral yang paling berpengaruh sedunia itu. Kabar ini tentu memberikan energi baru bagi perekonomian negara berkembang termasuk Indonesia, yang sejak tahun lalu kelabakan menangkal efek dari pengetatan moneter AS. Sinyal bersahabat tersebut perlu diimbangi dengan kebijakan serupa dari Bank Indonesia (BI) sehingga manuver moneter memiliki daya dorong yang kuat untuk mendorong perekonomian dan menciptakan stabilitas pasar keuangan. Arah kebijakan BI selama ini yang bersifat preemptive dan forwardlooking, melahirkan ekspektasi bahwa bank sentral akan menurunkan acuan suku bunga lebih awal dibandingkan The Fed. Kalangan pebisnis dan pelaku pasar pun berharap BI menyiapkan respon ramah. Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chandra Wahjudi, sinyal perlindungan agresivitas The Fed menggambarkan bahwa pemanasan global mereda. Oleh karena itu, kalangan pengusaha berharap BI juga memangkas suku bunga acuan. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, memandang meski memberikan angin segar realisasi komitmen The Fed itu bergantung pada dinamika global 3—6 bulan mendatang. Sembari menunggu kepastian The Fed, Shinta mengusulkan pemerintah agar fokus menjaga stabilitas ekonomi makro terutama terkait dengan kecukupan devisa, stabilitas rupiah, dan pengendalian inflasi. Oleh karena itu, kalangan analis dan ekonom menyarankan BI untuk mulai memasang kuda-kuda pelonggaran kebijakan suku bunga acuan yang saat ini di level 6%. Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual, melihat kabar dari AS memberikan sinyal kepada BI untuk ikut memperlonggar suku bunga acuan. Ahli Strategi Makro Samuel Sekuritas Lionel Priyadi, mengatakan harapan pasar soal pelonggaran moneter di AS dan dalam negeri terlalu spekulatif. Menurutnya, penurunan suku bunga AS mengakibatkan indeks obligasi emerging market naik 0,7% dan imbal hasil 10Y UST dan Bund masing-masing turun 18 bps dan 5 bps menjadi 4,02% dan 2,17%. 

Obligasi Jadi Sumber Dana Multifinance

HR1 05 Dec 2023 Kontan
Multifinance masih menggunakan obligasi sebagai sumber pendanaan di tahun ini. Pada tahun depan, multifinance juga masih menjadikan obligasi sebagai opsi utama pilihan pendanaan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), surat berharga yang diterbitkan industri multifinance mencapai Rp 60 triliun pada periode Agustus 2023. Angka tersebut meningkat dibandingkan surat berharga yang dirilis multifinance pada Agustus 2022, sebesar Rp 53 triliun. PT BFI Finance Indonesia Tbk termasuk salah satu multifinance yang berniat menerbitkan obligasi tahun depan. Rencananya, perusahaan ini merilsi obligasi senilai Rp 3 triliun, sebagai bagian Obligasi Berkelanjutan VI, yang masih menyisakan Rp 6 triliun. "Hingga 30 September 2023, kami telah menerbitkan surat berharga senilai Rp 4,7 triliun. Sedangkan per 31 Desember 2022 senilai Rp1,6 triliun," ujar Dian Ariffahmi, Corporate Communication Head BFI Finance, kemarin. PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) telah menerbitkan obligasi Rp 1 triliun hingga Oktober 2023. Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman mengatakan, terakhir telah merilis sukuk wakalah Bi Al Ististmar di Februari 2023, dengan nilai Rp 1 triliun. CNAF akan menerbitan surat utang berkelanjutan Wakalah Bi Al Ististmar tahap I pada kuartal I-2024. "CNAF akan diversifikasi produk agar tidak tergantung di salah satu sumber pendanaan saja," jelas Ristiawan. Anak usaha Grup Astra, PT Federal International Finance (FIF) juga memilih diversifikasi pendanaan di 2024. Chief Marketing Officer FIF Group Daniel Hartono menyebut, cara ini agar bisa memilih sumber pendanaan dengan bunga kompetitif, sehingga bisa menekan biaya dana.

Investor Obligasi Tunggu Hasil Pemilu

HR1 02 Dec 2023 Kontan
Suku bunga acuan berpotensi dipangkas setidaknya pada kuartal I tahun 2024. Pasar menilai peluang The Federal Reserve (The Fed) menurunkan suku bunga acuan pada Maret 2024 sebesar 46%, naik dibandingkan dengan peluang sebesar 27% pada minggu lalu. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang ditunggu-tunggu naik 3% secara tahunan pada Oktober 2023. Hasil moderat dari angka 3,4% dalam tiga bulan meskipun masih di atas target The Fed yakni 2%. "Meskipun tingkat 3% masih terlalu tinggi, hal ini menandai tingkat terendah baru," kata Ryan Brandham, kepala pasar modal global, North Amerika, di Validus Risk Management seperti dikutip Reuters, kemarin. Analis Fixed Income Sucorinvest Asset Management Alvaro Ihsan menilai, perusahaan akan lebih tertarik menerbitkan obligasi korporasi karena penurunan cost of fund serta iklim ekonomi yang lebih jelas untuk ekspansi usaha. Meski begitu Alvaro melihat, langkah investor saat ini cenderung lebih menghindari risiko. Investor juga menunggu hasil Pemilu 2024 sebagai salah satu pertimbangan investasi agar mendapat kejelasan mengenai arah kebijakan ekonomi. Apabila hasil Pemilu sudah diumumkan, investor diharapkan akan lebih agresif dalam menyalurkan investasi, termasuk di obligasi korporasi. Sucorinvest Asset Management memprediksi, yield SBN dengan tenor 10 tahun pada 2024 akan berada di kisaran 6,2%-6,4%. Obligasi korporasi akan tergantung pada spread rating dan tenor. Macro Strategist Samuel Sekuritas Lionel Priyadi memprediksi, penerbitan obligasi korporasi baru akan ramai di semester kedua 2024 pasca keputusan pemangkasan suku bunga BI maupun The Fed.  

Utang Waskita Menjalar Kemana-mana

KT1 27 Nov 2023 Tempo (H)
JAKARTA,Sengkarut masalah keuangan yang membelit PT Waskita Karya (Persero) Tbk memasuki babak baru. Gagal bayar bunga sekaligus pelunasan obligasi perseroan yang jatuh tempo pada Mei 2023 dan 6 Agustus 2023 berisiko menyeret banyak perusahaan asuransi atau dana pensiun swasta dan BUMN. Mereka diketahui sudah lama mengoleksi obligasi Waskita. Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan perusahaan asuransi serta dana pensiun domestik menjadi investor terbesar dalam sepuluh seri obligasi Waskita Karya Beton Precast, sejak 2018. Secara total, nilai sepuluh seri obligasi emiten berkode WSKT dan WSBP ini mencapai Rp 8,942 triliun. (Yetede)

Barito Pacific Terbitkan Obligasi Rp 1 Triliun

KT1 10 Nov 2023 Investor Daily
JAKARTA,ID-PT Barito Pacific Tbk (BRPT) akan menerbitkan obligasi berkelanjutan III tahap II tahun 2023 senilai Rp 1 triliun untuk pembiayaan kembali (refinancing) utang perseroan. Obliasi tersebut merupakan bagian dari penawaran  umum berkelanjutan (PUB) obligasi berkelanjutan III Barito Pacific dengan target dana Rp 3 triliun. Manajemen Barito Pacific dalam prospektus yang diterbitkan Kamis (9/11/2023) mengungkapkan, obligasi senilai Rp 1 triliun akan ditawarkan dalam dua seri, yakni Seri A sebesar Rp 700 triliun dengan tingkat bunga tetap 8,5% per tahun dan berjangka waktu tiga tahun sejak tanggal emisi. Sementara Seri B senilai Rp 300 triliun ditawarkan dengan tingkat bunga tetap 9,5% per tahun, berjangka dalam waktu lima tahun. Emiten petrokimia dan energi milik konglomerat Prajogo Pangestu ini akan memulai penawaran umum obligasi berkelanjutan III tahap II tahun 2023 pada 21-23 November 2023, disusul tanggal penjatahan pada 24 November  2023, tanggal pengembalian uang pemesanan dan tanggal distribusi obligasi secara elektronik pada 28 November 2023, serta pencatatan obligasi di Bursa Efek Indonesia pada 29 November 2023. (Yetede)

Buyback Obligasi Senior, BSD City Gelontorkan Dan Rp3,28 Triliun.

KT1 07 Nov 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) menggelontorkan dana sebesar US$ 211,08 juta atau setara Rp 3,28 triliun untuk membeli kembali (buyback) obligasi senior (senior notes) berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) Tahun 2025. Pembelian kembali senior notes tersebut dilakukan BSDE melalui anak usaha yang dimiliki sepenuhnya, yakni Global Prime Capital Pte Ltd (GPC). "Pada tanggal 3 November 2023, perseroan melalui GPC telah menyelesaikan penawaran tender (tender off) atas surat utang 2025," kata Direktur BSD City hermawan Wijaya dalam keterangan resminya, Senin (6/11/2023) Hermawan mengungkapkan, perseroan melalui GPC sebelumnya telah menyampaikan rencana untuk melakukan pembelian kembali atas sebagian  dan/atau seluruh obligasi senior berdenominasi dolar AS sebesar US$ 300 juta. Obligasi dengan bunga 5,95% yang jatuh tempo pada 2025 tersebut, diterbitkan oleh GPC serta dijamin perseroan dan beberapa entitas anak BSD City. (Yetede)

Prospek Keuangan Berkelanjutan

HR1 07 Nov 2023 Bisnis Indonesia

Lima tahun pasca di terbitkannya POJK No.51/POJK.03/2017 tentang Ke uangan Berkelanjutan, terdapat 9 seri obligasi korporasi jenis green bond dan sustainability bondtelah diterbitkan oleh tiga Bank BUMN. PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) telah menerbitkan 2 seri green bond senilai Rp5,00 triliun pada 2022. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) sebagai pionir penerbitan sustainability bondtelah menerbitkan senilai US$500,00 juta pada 2019 dan 3 seri green bond senilai Rp5,00 triliun. Selanjutnya, PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) telah menerbitkan sustainability bond senilai US$300,00 juta pada 2021 yang dilanjutkan dengan penerbitan 2 seri green bond senilai Rp5,00 triliun pada 2023. Secara kumulatif, terdapat 9 seri obligasi korporasi jenis green bond dan sustainability bondyang telah diterbitkan oleh ketiga Bank BUMN. Penerbitan sustainability bond tersebut mengacu kepada Sustainability Bond Framework kedua bank tersebut yang berpedoman kepada market standards yakni Sustainability Bond Guideline dan Asean Sustainability Bond Standards.  Di sisi lain, kategori Clean Transportation meliputi pembangunan rel sepanjang 45 km, jumlah penumpang per tahun mencapai 84,5 juta, dan pengurangan jumlah karbon per tahun sekitar 8.590 tCO212.Sementara itu, realisasi sustainability bond BMRI senilai US$132 juta atau 44,00% dari total penerbitan untuk kategori renewable energy berupa pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi, pembangkit listrik tenaga air I dan II. Secara kumulatif, terdapat 696 MW kapasitas terpasang yang mampu menghasilkan energi per tahun sekitar 4,83 juta MWh, penurunan emisi rumah kaca sebesar 3,63 juta tCO2e dengan jumlah rumah tangga yang dilayani mencapai 783.611 unit. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit sebesar 11,35% YoY. Hal ini menunjukkan partisipasi aktif ketiga Bank BUMN tersebut dalam pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Sejalan dengan kenaikan tersebut, porsi pembiayaan KUBL terhadap total kredit bank meningkat. Pada 2022, kontribusi pembiayaan ini mencapai 17,23% dibandingkan 2021 sebesar 17,19%, dan pada 2020 sebesar 15,70%. Kenaikan pembiayaan KUBL tersebut mampu diimbangi dengan pengelolaan aset produktif dengan baik ditandai dengan perbaikan rasio Non Performing Loan (NPL) gross. Rasio NPL gross BMRI sebesar 1,88% di tahun 2022 atau lebih baik dibandingkan BBNI (2,81%) dan BBRI (2,82%) serta rata-rata industri perbankan (2,44%). Penerbitan sustainability bond BMRI mengalami oversubscribed lebih dari 8,3x dibandingkan rencana penerbitan senilai US$300 juta. Selain itu, penerbitan green bond BBNI, BBRI dan BMRI masing-masing mengalami oversubscribed sebesar 4x, 4,4 kali, dan 3,74x dibandingkan rencana penerbitan yang sama sebesar Rp5,00 triliun. Sejalan dengan target porsi kredit UMKM sebesar 30% dari total kredit bank pada 2024 yang ditetapkan oleh Pemerintah, Bank Indonesia telah menyempurnakan ketentuan insentif Giro Wajib Minimum kepada bank penyalur KUR dan kredit/pembiayaan hijau yang berlaku sejak 1 April 2023 dan diatur dalam Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 1 Tahun 2023.

SUKU BUNGA ACUAN NAIK : EFEK KEJUT OBLIGASI NEGARA

HR1 02 Nov 2023 Bisnis Indonesia

Lesu pasar surat utang merambat ke penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel, terlihat pada penawaran Obligasi Negara Ritel seri ORI024 yang terpaut jauh lebih rendah dibandingkan dengan penawaran seri sebelumnya menjelang masa penutupan penawaran. Berdasarkan data realisasi penjualan pada platform Investree, Rabu (1/11) pukul 20:41, realisasi penjualan ORI024 tenor 3 tahun atau ORI024 T3 mencapai Rp11,65 triliun dari kuota Rp15 triliun. Sementara itu, seri tenor yang lebih panjang yakni 6 tahun atau ORI024 T6 mencapai Rp2,56 triliun dari kuota Rp3,5 triliun. Secara total, realisasi penjualan instrumen tersebut belum mampu menyaingi realisasi penjualan ORI023 yang melampaui Rp20 triliun. Kepala Ekonom BCA David E. Sumual mengatakan bahwa lesunya penawaran ORI024 ini menunjukkan bahwa efek kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia yang tidak terduga turut terasa. Terlebih, instrumen tersebut ditawarkan mulai 9 Oktober hingga 2 November. Waktu penawaran panjang itu tak mampu mengangkat penjualan instrumen buatan pemerintah itu. Di sisi lain, dia menuturkan bisa saja investor memiliki likuiditas yang lebih terbatas pada sisa tahun karena pembelian SBN ritel tergolong agresif sejak awal tahun. Oleh karena itu, dia berpendapat bahwa imbal hasil pada SBN ritel berikutnya, yakni Sukuk Tabungan seri ST011 akan sangat menentukan minat investor. Secara umum, dia menyebut respons investor tahun ini positif terhadap instrumen yang ditawarkan pemerintah. Senada, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan permintaan SBN ritel yang tecermin pada penawaran ORI024 lesu akibat sentimen global selama Oktober. Dia menuturkan kondisi pasar tersebut mendorong ekspektasi penurunan lanjutan harga ORI yang merupakan instrumen yang dapat diperdagangkan atau tradable.