Obligasi
( 223 )DAMPAK KEBIJAKAN MONETER : TANTANGAN PESONA SURAT UTANG
Keputusan Bank Indonesia mengerek suku bunga acuan ke level 6% membuat investor harap-harap cemas, karena berpotensi melemahkan pasar surat utang Tanah Air. Chief Investment Officer STAR Asset Management Susanto Chandra mengatakan, pasar obligasi Indonesia berisiko melemah terimbas kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI), seiring dengan dengan naiknya yield obligasi yang berpotensi menambah tinggi aksi jual surat utang oleh investor. “Dampak dari kenaikan suku bunga tersebut turut membuat yield pasar obligasi menyesuaikan ke atas, baik pada pasar obligasi pemerintah maupun korporasi,” ujar Susanto kepada Bisnis, Jumat (20/10). Menilik data Investing, yield SBN tenor 10 tahun naik tajam 2,74% ke level 7,2% pada Jumat, (20/10). Di lain sisi, US Treasury Yield 10 tahun juga naik ke posisi 4,99% atau level tertinggi sejak 2007.
Adapun, saat ini pemerintah juga tengah meluncurkan Obligasi Negara Ritel seri ORI024 dengan masa penawaran mulai 9 Oktober 2023 hingga 2 November 2023. Seri terbaru ORI terbaru ini juga ditawarkan dalam dua tenor yang berbeda, yaitu tenor 3 dan 6 tahun.
Terkait dengan prospek SBN Ritel seperti ORI024 dan ST011, CEO Pinnacle Persada Investama Guntur Putra mengatakan, bergantung kepada berbagai faktor, termasuk tingkat suku bunga atau kupon yang ditawarkan dan preferensi investor. “Jika tingkat kupon yang ditawarkan tetap kompetitif dan mengikuti tren pasar, maka SBN Ritel masih dapat diminati oleh investor yang mencari instrumen investasi yang relatif aman. Namun, pemerintah mungkin perlu memastikan tingkat suku bunga yang menarik untuk menjaga minat investor,” katanya kepada Bisnis.
Di lain sisi, pasar obligasi korporasi sepanjang tahun berjalan relatif masih landai dengan nilai outstanding atau jumlah seluruh obligasi yang beredar di pasar modal kurang dari 10% terhadap angka penyaluran kredit bank.Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pada pekan lalu, Jumat (13/10) total emisi obligasi dan sukuk sepanjang 2023 sebanyak 93 emisi dari 55 emiten senilai Rp98,2 triliun.
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David E. Sumual mengatakan, salah satu penyebab landainya pasar obligasi korporasi yaitu karena berbagai perusahaan lebih banyak yang mengandalkan perbankan untuk mencari dana, karena relatif lebih mudah dalam beberapa aspek.
Obligasi Sosial Pertama Segera Terbit
Menguji Aset Pendapatan Tetap
Sukuk Ritel Tenor Pendek Laris Manis
Sukuk ritel seri SR019 laris manis. Menurut laporan situs Investree, sebagai salah satu agen penjual SR019, Minggu (17/9) pukul 19.00 WIB, penjualan SR019 tenor tiga tahun sebesar Rp 14,83 triliun atau 87% dari kuota yang dikerek jadi Rp 17 triliun. Sedangkan tenor lima tahun sebesar Rp 6,76 triliun atau 84% dari kuota yang dipangkas jadi Rp 8 triliun.
Direktur Ritel Mandiri Sekuritas, Theodora Manik mengatakan, penjualan SR019 hingga pekan kedua penawaran telah mencapai 90% dari target yang diharapkan. Sekitar 70% pembeli SR019 memilih seri tenor tiga tahun.
Head of Investment Business Bank Commonwealth, Daniel Arifin menambahkan, tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI) yang relatif stabil karena inflasi dalam negeri terkendali akan memberikan sentimen positif di pasar Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) domestik. Terutama dalam penjualan SBSN Ritel di pasar perdana.
Daniel menyebutkan, penjualan SR019 di Bank Commonwealth sudah hampir mencapai target. Bank ini membidik penjualan SR019 lebih tinggi 50% daripada penjualan seri SR018.
Sekretaris Perusahaan Bank Rakyat Indonesia (BRI), Agustya Hendy Bernadi mengungkapkan, penjualan SR019 sebesar Rp 1,5 triliun hingga 13 September. Tenor tiga tahun Rp 1,07 triliun dan tenor lima tahun Rp 434,7 miliar.
MANFAAT OBLIGASI DAERAH : Pemda Lebih Transparan
Obligasi daerah dapat mempromosikan kehati-hatian fiskal, transparansi pelaporan keuangan, dan akuntabilitas pemerintah daerah kepada investor. Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) melihat hal itu sebagai salah satu aspek penting emisi obligasi daerah. Bank pembangunan multilateral ini melihat tidak semua pemda di Indonesia menerapkan kehati-hatian fiskal dan transparansi pelaporan keuangan. Elemen penting lain penerbitan municipal bond adalah membantu menggalang dana untuk infrastruktur dan belanja pembangunan lainnya. Selain itu, inisiatif obligasi daerah memfasilitasi masuknya pemda di Indonesia ke dalam pasar modal. Senior Financial Sector Specialist (Capital Markets) Asian Development Bank (ADB) Benita Ainabe mengatakan infrastruktur yang tidak memadai, yang sebagian besar disebabkan oleh kurangnya investasi Indonesia pada masa lalu, merupakan hambatan utama bagi pertumbuhan inklusif di Indonesia.
Salah satu prioritas pemerintah adalah meningkatkan opsi pembiayaan bagi pemerintah kota dan pemerintah kabupaten untuk mengatasi kesenjangan infrastruktur yang inovatif. Pemerintah telah bekerja untuk membentuk program penerbitan obligasi daerah di Indonesia.
Terlibat Utang Obligasi
JAKARTA - Tiga badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di bidang konstruksi menanggung utang obligasi yang jatuh tempo pada tahun ini. Salah satunya PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Sejak Senin lalu, perdagangan saham BUMN karya tersebut di Bursa Efek Indonesia disuspensi karena perseroan gagal membayar pokok dan bunga ke-12 Obligasi Berkelanjutan IV Tahap I Tahun 2020 (PUB IV Tahap I) yang jatuh tempo pada 6 Agustus 2023. Ini bukan pertama kali perseroan tidak dapat membayar kewajibannya sesuai dengan tenggat jatuh tempo. Pada Mei lalu, perseroan tidak dapat membayar bunga ke-11 PUB IV Tahap I Tahun 2020. Nilai Obligasi Berkelanjutan IV Tahap I itu mencapai Rp 135,5 miliar dengan bunga 10,75 persen dan tenor tiga tahun. Perseroan sebelumnya juga menunda pembayaran bunga dan pokok Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap II Tahun 2018 Seri B, yang awalnya pada 23 Februari 2023 menjadi 16 Juni 2023, setelah ada persetujuan dari pemilik obligasi. Obligasi bertenor lima tahun tersebut memiliki nilai Rp 2,28 triliun dengan tingkat bunga 8,25 persen. (Yetede)
KERONTANG EMISI SURAT UTANG
Kebijakan moneter ketat sejumlah negara yang mulai mengendur, membawa berkah ke aksi penggalangan dana berbasis surat utang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga 31 Juli 2023 mencatat bahwa penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp77,05 triliun. Sayangnya, pada paruh kedua, geliat penerbitan obligasi dan sukuk korporasi itu hanya memiliki sisa tenaga kurang dari setengah realisasi pada awal tahun. Dari data OJK, hanya terdapat rencana penerbitan surat utang senilai Rp29,64 triliun. Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto mengatakan musim semi penerbitan surat utang terjadi pada Juli dengan realisasi emisi bulanan mencapai Rp29,12 triliun atau melampaui nilai jatuh tempo pada periode yang sama yakni Rp14,91 triliun. Namun, realisasi penerbitan surat utang sepanjang tahun ini 20% lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama 2022.
Dia menilai pasar surat utang menjadi alternatif korporasi kala bunga kredit tinggi. Meski begitu, dia mengakui kalangan korporasi yang ingin mendapatkan dana segar tetap harus menghadapi risiko pasar akibat suku bunga mahal.
Analis Pendapatan Tetap Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan kendati pasar surat utang korporasi mendapat sentimen negatif dari gagal bayar sejumlah korporasi pelat merah, minat pasar terhadap instrumen obligasi dan sukuk korporasi masih ada. Dia berujar investor akan lebih hati-hati dan melaku-kan diversifi kasi daripada menghindari pasar surat utang korporasi karena imbal hasilnya yang tebal.
Dihubungi terpisah, Direktur Utama Pemeringkat Kredit Indonesia (PKRI) Eddy Handali mengatakan korporasi pencari dana harus melancarkan strategi jitu untuk menggalang dana. Menurutnya, pasar cenderung berhati-hati sehingga tak semua instrumen surat utang yang terbit mampu terserap. Artinya, kebutuhan dana korporasi bisa saja tak terpenuhi.
Seperti diketahui, gagal bayar surat utang PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) berujung pada suspensi perdagangan sahamnya. Perusahaan gagal membayar pokok instrumen senilai Rp135 miliar yang jatuh tempo Minggu (6/8) karena status standstill perusahaan untuk melakukan restrukturisasi utang.Lalu, PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP) tengah bergulat dengan tumpukan utang termasuk empat seri obligasi dan perusahaan telah mendapatkan restu pemegang obligasi atas permohonan financial covenant.
Bunga Obligasi Multifinance Terus Naik
Multifinance masih gencar menerbitkan obligasi. Bunga obligasi yang ditawarkan perusahaan pembiayaan pun mengalami kenaikan seiring tren kenaikan suku bunga acuan.
PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat, rata-rata kupon surat utang yang ditawarkan multifinance di tahun ini mengalami kenaikan. Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin menjelaskan, kenaikan terjadi terutama untuk obligasi yang memiliki tenor satu tahun dan tiga tahun.
"Obligasi korporasi multifinance berperingkat AAA dengan tenor 3 tahun rata-rata menawarkan kupon 6,40%," ujar Nasrudin kepada KONTAN, kemarin. Tentu saja, semakin rendah peringkat utang dari perusahaan multifinance, maka bunga yang ditawarkan ke investor juga akan lebih tinggi lagi.
Artinya, biaya dana yang harus dibayar perusahaan multifinance akan tetap tinggi. Toh, multifinance tetap gencar menerbitkan obligasi. Penerbitan obligasi multifinance per semester I-2023 mencapai Rp 15,11 triliun.
Direktur Keuangan WOM Finance Cincin Lisa menyampaikan, obligasi masih menarik karena sampai saat ini tingkat bunga pinjaman yang dikenakan perbankan masih lebih tinggni. "Akan tetapi melihat kondisi ekonomi saat ini, kami berharap bunga pinjaman bank akan turun menyamai bunga obligasi," kata dia, kemarin.
Direktur Utama Mandiri Utama Finance Stanley Setia Atmadja menyebut, bunga obligasi masih tak terlalu jauh dari bunga bank. Ia mencontohkan obligasi tenor tiga tahun bunganya bisa mencapai 7,3% per tahun.
Perbankan Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo
Sejumlah bank tengah bersiap-siap melunasi obligasi yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat. Tercatat, nilai obligasi jatuh tempo yang perlu dilunasi oleh bank beragam, mulai dari ratusan miliar hingga triliunan rupiah.
Pefindo mencatat ada empat bank yang memiliki obligasi jatuh tempo di Juli 2023, yakni Bank Panin, Maybank, BRI dan Bank Mandiri. Untuk Bank Panin, obligasinya telah jatuh tempo pada 3 Juli, dengan nilai Rp 100 miliar.
Kepala Divisi Pemeringkatan Jasa Keuangan Pefindo Danan Dito mengungkapkan, kesiapan bank yang memiliki obligasi jatuh tempo tersebut tergolong baik, karena posisi likuiditas mereka longgar. "Dana pihak ketiga maupun pinjaman antarbank masih bagus, likuiditas bagus tercermin dari rasio LDR di 80,5%," ujarnya, belum lama ini.
Presiden Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria mengungkapkan, pihaknya berencana menerbitkan long term notes untuk refinancing obligasi yang akan jatuh tempo ini. "Jumlahnya belum kami putuskan, tapi tak akan sebesar subdebt yang jatuh tempo," beber dia kepada KONTAN, Jumat (14/7)
Tower Bersama Rampungkan Emisi Obligasi Berkelanjutan Rp 20 Triliun
JAKARTA,ID-PT Tower bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menyelesaikan penerbitan Obligasi Berkelanjutan IV Tower bersama Infrastructure Tahap I Tahun 2023 dalam program obligasi baru senilai Rp 20 triliun. Obligasi TBIG VI tahap I dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 12 Juli 2023. "Total penerbitan Obligasi TBIG VI Tahap I sebesar Rp1,5 triliun terdiri atas Rp 1 triliun dengan tingkat bunga tetap 5,9% bertenor 370 hari Rp 500 miliar dengan tingkat bunga tetap 6,25% bertenor tiga tahun," tutur Chief Financial Officer (CFO) Tower bersama Infrastructure, Helmy Yusan Santoso dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (12/7/2023). Helmy menjelaskan, obligasi tersebut setara kewajiban senior tanpa jaminan khusus dari TBIG dan memiliki pembayaran bunga setiap kuartal. "Setelah dikurangi biaya penerbitan, dana dari penawaran itu akan digunakan untuk pembayaran sebagian kewajiban finansial dari entitas anak perseroan, khususnya fasilitas pinjaman revolving US$ 325 juta dari credit facilities yang ada," papar dia. Dia menambahkan, per 31 Maret 2023, total pinjaman dalam dolar AS yang telah dilindungi nilai diukur menggunakan kurs lindungi nilainya, adalah sebesar Rp 26,51 triliun. Sedangkan total pinjaman senior (gross senior debt) sebesar Rp3,33 triliun. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022









