;
Tags

Obligasi

( 223 )

DAYA PIKAT OBLIGASI NEGARA

HR1 12 Jul 2023 Bisnis Indonesia

Musim semi obligasi negara diramal terjadi hingga pengujung tahun ini, seiring perburuan instrumen investasi ini oleh investor asing. Dus, dana asing pun berpotensi mengalir deras, mengompensasi eksodus dari Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp129 triliun pada tahun lalu. Faktanya hingga 7 Juli lalu, dana asing yang masuk ke Indonesia telah mencapai Rp80,9 triliun. Masuknya dana asing yang lebih besar bakal turut memicu penurunan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN), karena penguatan harga. Artinya, biaya dana emisi surat utang baik pemerintah maupun korporasi di Tanah Air pun bakal lebih murah.Sejumlah kalangan menilai kebijakan moneter yang lebih longgar pada tahun ini memang memantik pencarian aset menguntungkan di negara berkembang meskipun bayang-bayang resesi Amerika Serikat muncul. Risiko resesi Negeri Paman Sam menguat di tengah agresivitas kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve alias The Fed, guna menjinakkan inflasi. Sebaliknya, sikap lunak Bank Indonesia seiring inflasi yang terkendali, memberikan stimulus terhadap penguatan surat utang dalam negeri. Hal itu tercermin pada pergerakan imbal hasil SUN acuan tenor 10 tahun yang mendekati 6%. Chief Investment Officer Manulife Aset Manajemen Ezra Nazula mengatakan imbal hasil obligasi 10 tahun dapat mengarah turun menuju 6%. Ezra mengatakan, aliran dana asing diperkirakan akan masuk seiring dengan puncak siklus suku bunga The Fed pada semester II/2023. “Aliran dana akan terus mengalir ke negara berkembang yang memiliki kondisi makro ekonomi stabil seperti Indonesia,” katanya.Senada, Managing Director Global Country Risk BMI Cedric Chehab mengatakan kinerja ekonomi negara berkembang di kawasan Asia lebih tangguh dibandingkan dengan negara maju. Dalam kesempatan yang sama, Senior Asia Country Risk Analyst BMI Darren Aw mengatakan bahwa Indonesia memiliki daya tawar dari sisi kinerja pertumbuhan ekonomi pada kisaran 4% dengan satu-satunya sentimen pemberat dari kinerja ekspor. Kinerja fiskal pun andal sehingga defisit anggaran tetap terjaga sesuai target. Secara jangka pendek, pasar keuangan khususnya surat utang memperhatikan kandidat presiden dan wakil presiden pada Pemilu.

Cuan Bisa Lebih Tebal di Aset Berbasis Surat Utang

HR1 04 Jul 2023 Kontan (H)

Aset kripto menjadi yang paling moncer di sepanjang semester I tahun 2023. Meski demikian, tidak berarti kripto menjadi aset yang paling bagus untuk dijadikan portofolio investasi di paruh kedua 2023. Hingga semester I-2023, harga bitcoin dan ethereum masing-masing naik 83,75% dan 60,89%. Sementara aset terbaik selanjutnya adalah obligasi pemerintah dan obligasi korporasi yang naik 6,61% dan 4,64% dalam enam bulan. Trader External Tokocrypto, Fyqieh Fachrur mengatakan, kenaikan harga bitcoin dan ethereum lantaran sejumlah sentimen positif seperti HSBC yang telah memungkinkan nasabahnya untuk menjual dan membeli Bitcoin ETF dan Ethereum ETF yang terdaftar di Bursa Efek Hong Kong. Selain itu BlackRock tengah mengajukan berkas perdagangan Bitcoin ETF Spot ke Securities Exchange Commision (SEC). Segendang sepenarian, Investment Specialist Sucor Asset Management Toufan Yamin menilai pasar obligasi justru akan menjadi aset investasi yang menarik di semester II. Pasalnya, ada potensi penurunan suku bunga serta inflasi Indonesia relatif rendah dan stabil. Senada, Senior Vice President Head of Retail Product Research & Distribution Division Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi mengamini, pelaku pasar masih cenderung overweight di kelas aset pendapatan tetap. Pasalnya, investor meyakini yield yang tinggi ini merupakan kesempatan terakhir sebelum bank sentral di dunia kembali mengerek suku bunga. Research Analyst PT Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani berpendapat, saham kurang diunggulkan karena ketidakpastian di pasar global. Walhasil, aset berbasis obligasi seperti surat berharga negara bisa jadi pilihan. Dia menyebut, yield surat berharga negara (SBN) dengan tenor 10 tahun memiliki ruang untuk turun ke 6,18%-6,27%. Senin (3/7), yield SUN acuan tenor 10 tahun di 6,2%.

Saat Tepat Masuk Pendapatan Tetap

HR1 01 Jul 2023 Kontan (H)

Produk obligasi bisa menjadi pertimbangan sebagai bagian penting dalam portofolio investasi Anda. Instrumen investasi berbasis obligasi diyakini masih menawarkan tingkat pengembalian ( return ) yang lumayan. Produk investasi pendapatan tetap atau fixed income yang bisa dipilih juga beragam. Terbaru, ada Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI023 yang memberi kupon 5,9% untuk tenor 3 tahun, dan 6,1% untuk tenor 6 tahun, tengah dijajakan pemerintah. Perencana Keuangan Finansia Consulting, Eko Endarto mengatakan, produk fixed income seharusnya ada dalam portofolio jangka waktu pendek dan menengah pendek. Apalagi saat kondisi ekonomi belum stabil dan tidak bisa diprediksi. Saat kondisi tidak terlalu baik, komposisi investasi di instrumen lain, seperti pasar saham sebaiknya dikurangi. Namun instrumen investasi saham atau obligasi disarankan harus tetap ada di dalam portofolio setiap investor. Head of Fixed Income Trimegah Asset Management, Darma Yudha mengamati, instrumen obligasi masih bisa menawarkan potensi upside . Penguatan pasar obligasi nampak masih akan berlanjut seperti yang terjadi selama semester I-2023. Namun, reli selanjutnya bakal terjadi secara bertahap. Maklum, inflasi Indonesia relatif terjaga, sementara likuiditas perbankan cukup berlimpah. Momentum ini dianggap sangat baik untuk berinvestasi di instrumen investasi berbasis obligasi. Menurut Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), kinerja obligasi yang tercermin dari Indonesia Composite Bond Index(ICBI) menyentuh area 359,50 per 27 Juni 2023. Posisi ini naik 6,59% secara tahunan atau year to date (ytd) dan naik 11,53% year on year (yoy). Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Maruto menilai, ORI023 masih kompetitif, jika dibandingkan instrumen investasi dengan karakteristik serupa yakni deposito. Dari sisi imbal hasil, ORI023 memiliki kupon lebih tinggi karena rata-rata bunga deposito sekitar 4%-5%.

Siap-Siap, ORI023 Dijual Pekan Ini

HR1 26 Jun 2023 Kontan

Penggemar obligasi negara ritel bisa mulai bersiap lagi. Sebab pemerintah akan mulai menawarkan obligasi negara ritel seri ORI023 pada 30 Juni. Penawaran tersebut mundur dari jadwal sebelumnya 28 Juni 2023. Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kemenkeu Deni Ridwan mengatakan, penetapan jadwal pemasaran SBN ritel mempertimbangkan waktu yang tepat seperti hari-hari besar, tanggal gajian, dan SBN ritel yang jatuh tempo. Sehingga ada kesempatan re-investasi bagi investor. "Selain itu, kondisi pasar keuangan dan kebutuhan pembiayaan juga akan menjadi dasar pertimbangan kami," ujar dia kepada KONTAN, Jumat (23/6). Pemerintah menawarkan dua seri (dual tranches). Yakni, ORI023-T3 dengan tenor tiga tahun dan ORI023-T6 tenor enam tahun. ORI023T6 akan menjadi tenor terpanjang produk SBN ritel. "Ini memberikan lebih banyak pilihan bagi masyarakat dalam berinvestasi sesuai dengan preferensi dan tujuan investasinya," jelas Deni. Dalam menetapkan kupon pemerintah akan mempertimbangkan beberapa hal. Antara lain, tingkat suku bunga yang berlaku di pasar (yield SBN tenor bersesuaian), tingkat suku bunga deposito bank BUMN, BI rate hingga inflasi. Pada lelang ORI023, Deni menyebut, pemerintah menetapkan kuota pembelian per orang WNI atau single investor identification (SID) untuk ORI023-T3 adalah Rp 5 miliar dan ORI023-T6 adalah Rp10 miliar. Kalau hitungan Analis Fixed Income Sucorinvest Asset Management Alvaro Ihsan, kupon yang ditawarkan dalam ORI023 bisa di atas inflasi yang saat ini pada 4%. Apalagi, jika melihat dari fair yield ORI yang saat ini tradeable rata-rata di atas 5,5%. Sehingga ia memperkirakan minimal kupon akan di level 5,5%.

PROSPEK SURAT UTANG : PELUANG DI BAWAH PENGARUH FED

HR1 16 Jun 2023 Bisnis Indonesia

Langkah Federal Reserve—bank sentral Amerika Serikat menahan suku bunga acuan membawa peluang bagi investor di Tanah Air meskipun masih membawa kekhawatiran terhadap resesi ekonomi di Negeri Paman Sam. Dikutip dari Bloomberg, Kamis (15/6), 56% responden dalam survei Bloomberg memproyeksi pemangkasan suku bunga oleh Fed pada paruh kedua 2024 dan 35% berekspektasi penurunan suku bunga pada kuartal I/2024. Lalu, 10% menilai pemangkasan pada kuartal terakhir tahun ini. Sebagai imbas pandangan itu, 61% responden juga melihat resesi ekonomi akibat langkah agresif Federal Reserve. Terkait dengan kebijakan teranyar Federal Reserve, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mencatat kinerja pasar keuangan yang positif terlihat pada arus modal di pasar surat berharga negara (SBN) sepanjang Juni 2023. Arus modal asing tercatat naik sekitar US$496,8 juta ketika performa indeks dolar Amerika Serikat melemah sekitar 1,3% sepanjang Juni 2023. Di sisi lain, pasar saham memperlihatkan aksi jual bersih US$113,3 juta.Suku bunga The Fed yang tetap di level 5,25% juga berdampak pada yield Surat Utang Negara (SUN). Josua mengatakan real policy rate dari Bank Indonesia saat ini di sekitar 1,75%, angka ini cenderung lebih tinggi jika dibandingkan dengan real policy rate dari Fed. Josua memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan bergerak di rentang Rp14.850—Rp15.000, sementara yield SUN 10 tahun bakal berkisar di 6,2% hingga 6,4% dalam jangka pendek. Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengemukakan peluang investasi akan sangat tergantung pada jangka waktu dan profil risiko setiap investor. Di sisi lain, instrumen aman seperti emas merespons langkah The Fed dengan koreksi. Berdasarkan data Bloomberg, harga emas spothingga pukul 11.14 WIB turun 0,44% ke level US$1.934 per troy ounce. Sementara itu, harga emas Comex untuk kontrak Agustus 2023 terkoreksi 1,18% US$1.945,60 per troy ounce. Analis Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong memperkirakan perkembangan kebijakan The Fed terbaru bakal mengantarkan harga emas ke zona koreksi di kisaran US$1.850—US$1.860 per troy ounce. Meski demikian, peluang kenaikan jangka panjang tetap terbuka karena permintaan bank sentral.

Imbal Hasil SUN Catat Level Terendah

HR1 08 Jun 2023 Kontan

Imbal hasil (yield) obligasi dalam negeri terus turun. Faktor internal dan eksternal menjadi penyebab penurunan yield Surat utang negara (SUN) Indonesia. Berdasarkan data Bloomberg kemarin, yield SUN acuan tenor 10 tahun yakni FR0096 berada di 3,1%. Ini adalah level terendah yield SUN sejak terbit yakni pada 22 Agustus 2022. Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto mengatakan, tren kenaikan suku bunga yang semakin terbatas menyebabkan yield SUN ikut terpangkas. Secara fundamental, kondisi dalam negeri, menurut Handy cukup solid. Hal ini ditandai dengan inflasi yang turun. Kebijakan fiskal juga berjalan positif tercermin dari neraca transaksi berjalan (current account) yang surplus. Pada triwulan I-2023, transaksi berjalan membukukan surplus US$ 3,0 miliar atau 0,9% dari produk domestik bruto (PDB). Direktur dan Chief Investment Officer Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Ezra Nazula mengatakan, harga surat berharga negara (SBN) makin kuat karena kondisi domestik yang lebih kondusif. Faktor lain yang mempengaruhi adalah, penerbitan SBN rendah padahal permintaan terus tinggi. Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi pun menyebut, jika sikap The Fed terhadap kebijakan tingkat suku bunganya akan menjadi salah satu katalis yang menggerakkan yield obligasi.

Penerbitan Obligasi Hijau Marak

KT3 24 May 2023 Kompas

Penerbitan obligasi untuk bisnis berkelanjutan atau green bond dan pembiayaan perbankan ke sektor ekonomi hijau kian marak. Selain sejalan dengan rencana pemerintah mengurangi emisi, perbankan dan korporasi juga melihat potensi yang besar dari sektor ekonomi berkelanjutan. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk pada Selasa (23/5) menerbitkan Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi Berwawasan Lingkungan Berkelanjutan Bank Mandiri Tahap I Tahun 2023 dengan target indikatif Rp 5 triliun. Penerbitan green bond ini adalah bagian dari PUB Green Bond Bank Mandiri dengan total Rp 10 triliun. Dana yang terkumpul melalui penerbitan green bond ini akan digunakan untuk membiayai atau membiayai kembali kegiatan-kegiatan yang termasuk kategori Kegiatan Usaha Berwawasan Lingkungan (KUBL). KUBL diatur dalam Peraturan OJK (POJK) No 60/POJK.04/2017 tentang Penerbitan dan Persyaratan Efek Bersifat Utang Berwawasan Lingkungan.

”Penerbitan green bond merupakan salah satu inisiatif mendukung pencapaian target net zero emission (NZE) Indonesia pada 2060,” ujar Dirut Bank Mandiri Darmawan Junaidi. Ia menambahkan, dalam dokumen komitmen NZE itu disebutkan bahwa dibutuhkan dana 281 miliar USD sampai tahun 2030 untuk membiayai berbagai proyek dan inisiatif untuk pengurangan emisi. Sementara itu, green bond yang diterbitkan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 8,25 kali lipat. Pada akhir April 2023, penerbitan green bond PGE membukukan dana 400 juta USD. ”Sentimen positif yang kami dapatkan menunjukkan kepercayaan investor terhadap potensi investasi di sektor geotermal dan energi terbarukan diIndonesia,” kata Direktur Keuangan PGE Nelwin Aldriansyah dalam keterangan pers, Senin (22/5). (Yoga)


Obligasi Negara, Penghasil Cuan Reksadana Pendapatan Tetap

HR1 19 May 2023 Kontan

Reksadana pendapatan menjadi reksadana dengan kinerja terbaik sepanjang tahun ini. Berdasarkan data Infovesta Kapital Advisori, performa reksadana pendapatan tetap menghasilkan return 1,95% year to date (ytd) hingga 28 April 2023. Sedangkan, rata-rata kinerja reksadana pendapatan tetap selama April 2023 tercermin dari Infovesta 90 Fixed Income Fund Index mencatat return 0,59% secara bulanan. Di sepanjang 2023, reksadana PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) yaitu Manulife Dana Tetap Utama termasuk reksadana dengan return di atas rata-rata acuan. Manulife Dana Tetap Utama mencatat return 3,93% ytd. Direktur dan Chief Investment Officer Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Ezra Nazula menjelaskan, reksadana pendapatan tetap Manulife menerapkan strategi aktif. Produk Manulife Dana Tetap Utama ini difokuskan pada Surat Utang Negara (SUN). Reksadana lain yang menghasilkan return besar adalah PT Star Asset Management (STAR AM). Manajer investasi ini memiliki STAR Obligasi Negara Prima mencetak return 2,04% secara bulanan. Ini menjadi reksadana pendapatan tetap berkinerja terbaik ketiga di April 2023. Head of Fixed Income STAR Asset Management, Henry Buntoro mengungkapkan, saat memilih aset investasi menggunakan strategi pengelolaan aktif terhadap durasi obligasi pemerintah dan likuiditas instrumen obligasi. Ke depan ia yakin, aset investasi berbasis obligasi masih menguntungkan.

Inflasi Menurun, Investor Membanjiri Lelang SUN

HR1 17 May 2023 Kontan

Peminat lelang surat utang negara (SUN) pada Selasa (16/5) masih tinggi. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) total penawaran yang masuk mencapai Rp 65,45 triliun. Angka ini lebih tinggi dibanding lelang sebelumnya yang sebesar Rp 44,99 triliun. Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kemenkeu, Deni Ridwan mengatakan, minat investor lebih tinggi dalam lelang SUN kali ini berkat kondisi pasar global yang cenderung stabil. Hal ini dipengaruhi rilis inflasi Amerika Serikat (AS) bulan April 2023 yang cenderung menurun. "Data inflasi tersebut meningkatkan ekspektasi investor bank sentral AS The Fed akan mulai dovish pada akhir triwulan III tahun 2023," kata Deni ke KONTAN, kemarin. Selain itu, kondisi perekonomian domestik cukup positif. Salah satunya neraca perdagangan Indonesia bulan April 2023 yang mencatat surplus US$ 3,94 miliar. Angka tersebut lebih tinggi dari surplus bulan Maret 2023 sebesar US$ 2,83 miliar dan ekspektasi pasar US$ 3,38 miliar. Mayoritas permintaan investor dalam lelang kali ini tertuju pada seri SUN dengan tenor yang lebih panjang, yakni 10 tahun dan 15 tahun. Penawaran untuk dua tenor tersebut mencapai Rp 38,93 triliun atau 59,48% dari total. Sementara itu, berdasarkan nominal yang dimenangkan, nilainya sebesar Rp 7,45 triliun atau 49,67% dari total nominal dimenangkan. Total penawaran investor asing pada lelang SUN kali ini juga naik menjadi sebesar Rp 14,1 triliun, dari Rp 9,66 triliun pada lelang sebelumnya. Penawaran investor asing paling banyak masuk untuk seri SUN tenor 15 tahun. Secara keseluruhan lelang kemarin, mayoritas permintaan investor tertuju pada seri SUN dengan tenor 10 tahun, yakni seri FR0096. Jumlah penawarannya mencapai Rp 23,52 triliun atau 35,9% dari total penawaran yang masuk. Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Fajar Dwi Alfian menganalisis, SUN tenor 10 tahun paling banyak diburu karena menawarkan yield menarik. Berbeda dengan obligasi tenor pendek yang mencatatkan penurunan yield signifikan, meski tingkat likuiditasnya tinggi.

Penyaluran Kredit dan Obligasi Dorong Laba Bersih Perbankan

KT3 28 Apr 2023 Kompas

Perbankan besar mencatat pertumbuhan laba bersih hingga dua digit pada triwulan I-2023. Kinerja perbankan yang positif ini ditopang pertumbuhan kinerja penyaluran kredit, imbal hasil dari penempatan dana di obligasi, serta pendapatan biaya atau fee dan komisi. Bank swasta terbesar di Tanah Air, PT Bank Central Asia Tbk, pada triwulan I-2023 mencatat laba bersih Rp 11,5 triliun, bertumbuh 43 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menjelaskan, pertumbuhan ini didorong ekspansi volume kredit, perbaikan kualitas pinjaman, imbal hasil yang lebih tinggi dari penempatan dana pada obligasi negara, serta kenaikan pendapatan fee dan komisi yang selaras dengan peningkatan jumlah transaksi.

”Secara umum, kami belum menaikkan suku bunga kredit untuk senantiasa menyediakan suku bunga yang kompetitif di pasar dan mendorong pemulihan perekonomian. Di sisi lain kebutuhan kredit konsumsi juga meningkat seiring periode Lebaran pada triwulan pertama,” ujar Jahja pada paparan kinerja keuangan triwulan I-2023 BCA secara daring, Kamis (27/4). Pada triwulan I-2023, penyaluran kredit BCA mencapai Rp 713,8 triliun, bertumbuh 12,0 % secara tahunan, ditopang berbagai segmen, seperti kredit korporasi yang naik 11,7 % secara tahunan, kredit komersial dan UKM bertumbuh 11,8 % secara tahunan, dan kredit konsumer bertumbuh 12,7 % secara tahunan menjadi Rp 174,5 triliun. (Yoga)