Obligasi
( 223 )Investor Melirik Obligasi
JAKARTA. ID – Mengincar return yang meningkat hingga menjadi 5-9%, tahun ini, para investor mengalihkan dana investasinya dari saham ke pasar obligasi, baik obligasi atau surat utang negara (SBN) maupun obligasi korporasi. Jika pada tahun 2022 lebih banyak pemodal yang membeli saham, tahun ini pembelian obligasi meningkat. Dalam dua pekan pertama 2023, beli bersih (net buy) asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) meningkat signifikan. Sebagaimana diberitakan, tahun ini ekonomi global terancam resesi, hiperinflasi, dan lonjakan suku bunga. Dalam situasi bunga tinggi, return surat utang cenderung meningkat. Surat Utang Negara (SUN) dan obligasi korporasi yang tahun lalu, masing- masing memberikan return hanya 2–4% dan 3–5%, tahun ini diprediksi meningkat menjadi 6–9% dan 5–7%. Sementara return saham yang sebelumnya 5–8%, tahun ini akan berada dalam rentang yang sangat lebar, yakni dari nol hingga 20%. Pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (11/01/2023), indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.584,4, turun 0,57% dari hari sebelumnya dan terhitung sejak awal tahun, IHSG merosot 4,89%. (Yetede)
SBN Ritel Perdana di 2023 Bisa Menawarkan Kupon Hingga 7%
Pekan depan, pemerintah akan mulai menawarkan surat berharga negara (SBN) ritel perdana tahun ini. Pemerintah akan menawarkan Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR012 mulai 19 Januari hingga 9 Februari.
Berbeda dari biasanya, pemerintah akan menawarkan dua seri. Yakni, SBR012 T-2 yang memiliki tenor dua tahun dan SBR012-T4 dengan tenor empat tahun.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Fajar Dwi Alfian, menilai, penawaran dua seri SBR dengan tenor berbeda ini akan meningkatkan keterlibatan investor domestik. Apalagi, SBN ritel belakangan kerap mengalami kelebihan permintaan.
Analis Fixed Income Sucorinvest Asset Management Alvaro Ihsan memprediksi, SBR dengan skema bunga floating with floor akan menawarkan imbal hasil yang kompetitif.
Di tenor dua tahun, ia memperkirakan, spread bunga terhadap bunga acuan BI akan di bawah 200 basis poin (bps).
Kemudian, untuk SBR012 dengan tenor empat tahun, imbal hasil diprediksi akan disesuaikan dengan yield obligasi negara bertenor empat tahun. Saat ini, yield obligasi negara dua tahun di 5,9%-6% dan yield obligasi negara tenor 4 tahun di 6,7%-6,9%.
Bila mengacu pada asumsi spread tersebut, maka SBR yang berjangka waktu dua tahun bisa memberikan kupon 6,5%-7,5%. Sementara itu, SBR tenor empat tahun di 7%-7,8%.
PROSPEK ASET KEUANGAN : SURAT UTANG UNGGULI SAHAM
Tren dana keluar asing selama 2 tahun terakhir di pasar surat utang diperkirakan berakhir dan menggeser saham sebagai aset keuangan berperforma prima pada 2023.
Pasar saham menutup tahun 2022 dengan dana asing sebesar Rp60 triliun, sedangkan pasar surat utang kehilangan dana asing sebesar Rp129,16 triliun. Namun, pada 2023 cerita menjadi berbeda. Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengemukakan pasar obligasi Indonesia cenderung memiliki daya tahan kuat pada 2022, terlepas dari tren kenaikan suku bunga agresif. Hal ini tecermin dari pertumbuhan pasar obligasi sebesar 3,5% secara tahunan.Pada 2023, Handy mengatakan pasar obligasi memiliki prospek positif karena tekanan dari risiko inflasi telah bergeser ke potensi perlambatan ekonomi dunia. Dalam hal perekonomian terkontraksi, Handy mengatakan investasi pada obligasi cenderung menunjukkan kinerja positif dengan asumsi imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) acuan tenor 10 tahun mencapai 6,8% pada 2023.
“Return investasi obligasi bisa mencapai 25% dalam dua tahun ke depan yang berasal dari pendapatan bunga dan capital gainnya. Kalau ternyata IHSG bisa tumbuh di atas itu, tentunya IHSG lebih bagus. Namun, jika tidak, obligasi lebih baik,” katanya.Ekspektasi inflasi pada 2023 bakal lebih rendah karena puncaknya telah tecapai yakni 5,51% secara tahunan pada Desember 2022.
Gerak Dana Investor Asing Bergantung Kebijakan Moneter AS
Volatilitas pasar surat utang dalam negeri mulai terkendali. Katalis positif ini berdampak pada kembali masuknya asing ke Surat Berharga Negara (SBN).
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per 30 Desember 2022 menunjukkan total kepemilikan investor asing di SBN sebesar Rp 762,19 triliun.
Jumlah tersebut terus bertambah sejak dua bulan terakhir. Posisi dana asing per 30 November sebesar Rp 736,93 triliun, sementara dana asing di SBN pada Oktober Rp 713,23 triliun. Per 3 Januari 2023, asing masuk Rp 2,55 triliun jadi Rp 764,74 triliun.
Presiden dan CEO PT Pinnacle Persada Investama Guntur Putra menilai, tren masuknya dana asing (capital inflow) masih akan terus berlanjut secara bertahap seiring tingkat inflasi yang terjaga.
Namun Senior Vice President Head of Retail Product Research & Distribution Division Henan Putihrai (HP) Asset Management Reza Fahmi pun bilang, jika The Fed masih hawkish maka tidak menutup kemungkinan dana asing berbondong keluar. Terlebih kemarin dalam notulensi FOMC The Fed menyebutkan jika kenaikan bunga akan berlanjut di tahun 2023 guna menurunkan inflasi.
Risiko Gagal Bayar Surat Utang Korporasi Diprediksi Lebih Mini
Risiko gagal bayar surat utang masih membayangi. Di 2022, ada empat perusahaan yang peringkatnya diturunkan oleh Pefindo.
Direktur PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Hendro Utomo mengungkapkan, satu emiten yang diperingkat Pefindo tidak mampu memenuhi kewajibannya selama tahun 2022 adalah PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP).
Obligasi berkelanjutan I Tahap II Tahun 2019 milik WSBP ini seharusnya jatuh tempo pada 31 Januari 2022.
Selain WSBP, ada satu lagi perusahaan sektor manufaktur yang namanya tak disebut Pefindo. Hendro bilang, perusahaan tersebut mengalami downgrade karena kinerja arus kas yang menurun akibat kenaikan harga bahan baku dan kurang fleksibel dalam menaikkan harga jual.
Selain itu, ada perusahaan asuransi yang di downgrade akibat kenaikan klaim dari produk asuransi kredit sehingga menyebabkan pelemahan hasil underwriting, laba bersih dan indikator permodalan. Terakhir kontraktor pertambangan PT Ricobana Abadi, anak usaha PT SMR Utama Tbk (SMRU).
Minat Investor Besar, Obligasi Ritel Masih Jadi Pilihan Investasi
Pemerintah akan meningkatkan alokasi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel pada tahun 2023 mendatang menjadi sekitar Rp 130 triliun. Angka ini naik 30% dari target 2022 sebesar Rp 100 triliun.
Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Deni Ridwan mengatakan, penambahan alokasi ini dilakukan seiring dengan semakin tingginya minat masyarakat untuk berinvestasi di SBN ritel. Menurut dia, pada tahun 2021 dan 2022, banyak masyarakat yang tidak berhasil investasi di SBN ritel karena kehabisan kuota.
Alhasil, Kemenkeu harus menutup masa penawaran lebih cepat dari waktu yang seharusnya.
Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro menilai, target alokasi penerbitan SBN ritel sebesar Rp 130 triliun tergolong realistis. Ia meyakini target tersebut akan tercapai di tahun depan.
SURAT UTANG KORPORASI : WASPADAI RISIKO SEKTORAL
Buntut kenaikan suku bunga acuan dan potensi resesi ekonomi global pada 2023 mengerek risiko sejumlah perusahaan penerbit surat utang korporasi seperti infrastruktur, komoditas, dan usaha berbasis ekspor.
Risiko kenaikan suku bunga acuan tak terelakkan karena misi Federal Reserve masih harus berlanjut karena bank sentral terkuat terjagat itu ingin membawa infl asi Negeri Paman Sam ke 2%. Sementara itu, infl asi tahunan pada November 2022 mencapai 7,1% sehingga selisih dengan target masih lebar. Dengan begitu, kondisi pasar surat utang masih merasakan dampaknya berlanjut pada 2023. Ekonom yang disurvei Bloomberg pun menyebut probabilitas resesi ekonomi di Amerika Serikat mencapai 70% atau yang tertinggi dibandingkan dengan survei yang digelar pada Juni 2022. Kepala Divisi Pemeringkatan Non Jasa Keuangan I PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefi ndo) Niken Indriarsih mengatakan beberapa sektor dibayangi oleh risiko yang lebih tinggi. Beberapa sektor seperti properti dan konstruksi masih memiliki risiko yang perlu diwaspadai. Belum lagi, selama pandemi sektor tersebut terkendala oleh pembatasan aktivitas.
“Bisnis di beberapa sektor seperti sektor properti dan konstruksi tumbuh lebih rendah daripada pertumbuhan PDB,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (25/12). Sektor yang juga perlu mendapat perhatian karena berpotensi menanggung risiko yang lebih tinggi yakni sektor berbasis komoditas karena terdapat potensi koreksi harga.
Niken berujar kenaikan suku bunga acuan bakal mengerek naik imbal hasil obligasi pemerintah yang menjadi acuan penetapan kupon obligasi korporasi. Tak heran bila instrumen obligasi korporasi masih menarik bagi investor karena menawarkan kupon tinggi. Niken memproyeksi bahwa kupon yang ditawarkan oleh instrumen berperingkat AAA tenor 5 tahun sebesar 7,73% hingga 8,12%. Kupon tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi pemerintah dengan tenor yang sama yakni 7,1% hingga 7,15%.
Yield Obligasi Korporasi Naik, Tren Penerbitan Bakal Menurun
Tren bunga tinggi mengerek yield atau imbal hasil obligasi korporasi. Kondisi ini membuat penerbit obligasi menahan pendanaan menggunakan surat utang.
Direktur PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Hendro Utomo bahkan memperkirakan, jumlah penerbitan obligasi korporasi tahun depan akan lebih rendah dari tahun ini. Suku bunga tinggi menyebabkan peningkatan leverage dan risiko keuangan, sehingga memaksa investor meminta premi yang lebih tinggi ketika membeli surat utang korporasi.
"Faktor tersebut mengakibatkan peningkatan biaya dana yang bisa menghambat penerbitan surat utang korporasi" ujar Hendro, kemarin. Dia mengharapkan, kenaikan premi tidak terlalu agresif, karena pertumbuhan ekonomi mulai bergerak naik di tahun depan.
Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro juga memperkirakan total penerbitan obligasi korporasi bakal menurun di tahun depan. Hitungan dia, potensi penerbitan Rp 120 triliun-Rp 150 triliun.
PESONA SURAT UTANG RI
Ekonomi Indonesia agaknya tak kekurangan katalis positif. Soal surat utang pemerintah misalnya, sejumlah kalangan justru meramal minat investor global bakal meningkat pada tahun depan. Padahal, ketidakpastian ekonomi global diramal tak lebih rendah ketimbang tahun ini. Demikian pula fakta bahwa kepemilikan investor asing di surat berharga negara (SBN) Indonesia tengah menurun. Menurut data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), penurunan porsi kepemilikan asing di SBN mulai terjadi sejak pandemi Covid-19. Hingga 16 Desember 2022, kepemilikan investor asing dalam SBN mencapai 14,66% atau lebih rendah ketimbang 2021 yakni 19,05%. Co-Head of Global Macro Strategy Manulife Investment Management Sue Trinh mengatakan kinerja obligasi Pemerintah Indonesia termasuk yang terbaik di kawasan. Hal itu dapat menjadi bantalan untuk menerobos risiko resesi global. Mengacu pada data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) per Jumat (16/12), indeks obligasi pemerintah Asean 3 sebesar 0,27% secara tahun berjalan. Kinerja indeks itu mendapat sokongan dari obligasi Indonesia yang tumbuh 0,83%, melampaui kinerja obligasi pemerintah Malaysia dan Thailand. “Ini semua diharapkan bertahan dengan normalisasi yang berlaku pada 2023,” ujar Sue Trinh dalam paparan Manulife Investment Management 2023 Investment Outlook, Senin (19/12). Direktur Surat Utang Negara Kementerian Keuangan Deni Ridwan sebelumnya mengatakan bahwa pemerintah menerapkan strategi pembiayaan yang disesuaikan dengan kondisi pasar dan prinsip kehati-hatian. Hal itu menjadi jalan tengah untuk memenuhi kebutuhan dana dengan biaya efisien dan risiko minimal.
PASAR SURAT UTANG : SUNTIKAN TENAGA DARI PAMAN SAM
Kinerja Surat Berharga Negara (SBN) Tanah Air kokoh akibat mendapatkan suntikan tenaga dari kinerja makro ekonomi Negeri Paman Sam.
Rilis inflasi Amerika Serikat periode November yang masih dalam tren melandai membawa suntikan tenaga terhadap aset di negara berkembang, termasuk Indonesia. Berdasarkan data Bloomberg, aset surat utang pemerintah tenor 10 tahun menghijau pada perdagangan kemarin. Ketangguhan aset negara berkembang di tengah bayang-bayang langkah agresif Federal Reserve tecermin pada kinerja pasar surat utang denominasi mata uang lokal secara tahun berjalan yang sepi koreksi. Dari 27 pasar negara berkembang, hanya 6 negara yang masih terkoreksi. Adapun, Indonesia menutup perdagangan pasar dengan imbal hasil sebesar 6,84%. Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan Indonesia mendapatkan suntikan tenaga dari melandainya inflasi Amerika Serikat dan Indonesia. Suntikan tenaga tersebut masuk ke pasar berupa aliran dana asing sehingga mengerek harga Surat Utang Negara (SUN) acuan tenor 10 tahun. Hal itulah yang membuat imbal hasil SUN acuan tenor 10 tahun menguat.
Senada, inflasi Indonesia mencapai 5,42% secara tahunan atau 2 bulan pasca pengumuman kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal itu memupuk ekspektasi inflasi yang lebih rendah yakni pada kisaran 5%—6% pada 2022 sehingga memoles daya tawar aset surat utang RI. “Jelas sekali ya sentimen ke pasar obligasi positif, sejak akhir November mereka [asing] net inflow,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Rabu (14/12). Berdasarkan catatan Bisnis, dana asing bulan berjalan pada Desember mencapai Rp20,54 triliun atau mendekati dana asing yang masuk pada bulan berjalan November Rp23,7 triliun. Aliran dana asing pada periode ini mengakhiri dana keluar dobel digit pada September dan Oktober.
Pilihan Editor
-
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Waspadai Sentimen Geopolitik
05 Aug 2022 -
BABAK BARU RELASI RI-JEPANG
28 Jul 2022









