;
Tags

Obligasi

( 223 )

Hasil Penjualan ORI022 Diproyeksi Sesuai Target Mitra

HR1 20 Oct 2022 Kontan

Penjualan obligasi ritel negara seri ORI022 hingga Rabu (19/10) memang masih lebih kecil dari hasil penerbitan seri sebelumnya. Namun, mitra distribusi menyebut, hasil penawaran ORI022 sudah sesuai target yang mereka tetapkan. Hingga Rabu (19/10), berdasarkan data salah satu agen penjual, Investree ORI022 telah laku terjual Rp 12,59 triliun. Dari situs Investree, angka tersebut masih di bawah target pemerintah Rp 14 triliun. ORI022 akan selesai ditawarkan pada hari ini (20/10) dan menawarkan bunga tetap 5,95%. Salah satu mitra distribusi Bank Rakyat Indonesia (BRI) menyebut telah menjual Rp 1,01 triliun. Aestika Oryza Gunarto, Corporate Secretary BRI menjelaskan, angka tersebut lebih tinggi dari target awal BRI Rp 750 miliar. Bank Negara Indonesia (BNI) juga mengaku mendapatkan hasil penjualan ORI022 sesuai ekspektasi. General Manager Divisi Wealth Management BNI Henny Eugenia mengatakan, per 19 Oktober 2022 tercatat pemesanan sebesar Rp 1,14 triliun atau 114% dari target Rp 1 triliun yang disampaikan ke Kementerian Keuangan.

Yield US Treasury Rekor, Pasar Obligasi Negara Tertekan

HR1 13 Oct 2022 Kontan

Sempat melandai di awal Oktober, yield US Treasury kembali melesat memasuki pertengahan bulan ini. Per pukul 20.52 WIB, Rabu (12/10), yield US Treasury acuan tenor 10 tahun berada di level 3,939%. Perlu dicatat juga, yield US Treasury kemarin di level 3,947% tersebut merupakan rekor tertinggi yield US Treasury sepanjang sejarah. Kondisi ini tentu menekan pasar obligasi negara lain, termasuk pasar obligasi Indonesia. Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Division Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi Riawan mengatakan, yield US Treasury masih berpotensi naik. Analis menilai strategi ini cukup efektif menjaga harga SUN. Apalagi, porsi investor asing di SUN tidak lagi besar. "Tekanan jual terhadap obligasi secara umum sebenarnya sudah terus menurun seiring kuatnya fundamental serta kecilnya porsi kepemilikan asing," jelas Dimas Yusuf,

PENDANAAN KORPORASI : AMBIL MOMENTUM EMISI SURAT UTANG

HR1 13 Oct 2022 Bisnis Indonesia

Sejumlah korporasi mengeksekusi rencana penggalangan dana dengan menerbitkan surat utang baru pada kuartal IV/2022. Momentum itu dipilih sebelum suku bunga naik dengan lebih agresif pada 2023.n Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penerbitan efek bersifat utang dan sukuk korporasi pada Januari—September 2022 mencapai 102 emisi dengan total penghimpunan dana Rp130,26 triliun. Nilai itu telah melampaui realisasi sepanjang 2021 yang tercatat sebanyak 96 emisi dengan nilai akumulasi Rp104,36 triliun. Tingginya minat korporasi menerbitkan surat utang berlanjut pada Oktober 2022. Pada awal bulan ini, Bursa Efek Indonesia mencatat penerbitan obligasi oleh tiga korporasi. Pertama, Obligasi Berkelanjutan II Sinar Mas Multiartha Tahap III Tahun 2022 yang diterbitkan oleh PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) senilai Rp1,66 triliun. Kedua, Obligasi I Sejahteraraya Anugrahjaya Tahun 2022 yang diterbitkan oleh PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk. (SRAJ) senilai Rp950 miliar pada 10 Oktober 2022. SRAJ membagikan kupon 9,75% untuk tenor 3 tahun dan 10,5% untuk tenor 5 tahun. Ketiga, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) menggalang dana Rp3,81 triliun dari penerbitan obligasi dan sukuk. Emiten kertas Grup Sinar Mas itu membanderol kupon obligasi sebesar 6% untuk tenor 370 hari, 9,75% tenor 3 tahun, dan 10,25% tenor 5 tahun.


Investor Kurangi Investasi pada Obligasi

KT3 07 Oct 2022 Kompas

Akibat kenaikan suku bunga di sejumlah negara, daya tarik investasi pada obligasi berkurang, sehingga para investor global mengurangi dana-dana investasi pada pasar obligasi. Pengurangan ini terjadi di semua kawasan. Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan, penarikan dana investasi berpotensi mengganggu sistem keuangan global. Kantor berita Reuters, Rabu  (5/10), memberitakan, dana-dana investasi global di pasar obligasi menurun drastis selama tiga kuartal I-2022. Ini penurunan terbesar dalam dua dekade terakhir. Penyebabnya adalah rentetan kenaikan suku bunga di banyak negara yang berpotensi mendorong resesi. Hal itu menurunkan kepercayaan investor pada kemampuan bayar para penerbit obligasi. 

Menurut data Refinitiv Lipper, dana-dana investasi pada pasar obligasi turun 175,5 miliar USD selama tiga kuartal I-2022, terbesar sejak 2002. Nilai bersih aset obligasi global juga turun 10,2 %, terbesar sejak 1990. Kenaikan suku bunga menurunkan nilai bersih aset obligasi. Sejumlah pemerintah dan korporasi penerbit obligasi dalam beberapa tahun terakhir gencar memanfaatkan rendahnya suku bunga. Kini para penerbit obligasi tersebut ketiban beban bunga lebih besar. ”Kombinasi tingkat utang yang tinggi dan kenaikan suku bunga telah menurunkan kepercayaan para investor terhadap kemampuan bayar para penerbit obligasi. Ini sekaligus menjadi penyebab penurunan investasi pada pasar obligasi,” kata Jacob Sansbury, CEO Pluto Investing. (Yoga)

Lelang Sukuk Negara Tambahan Menerima Penawaran Rp 2,7 Triliun

HR1 07 Oct 2022 Kontan

Hasil lelang surat berharga syariah negara (SBSN) tambahan pada Rabu (5/10) jauh lebih tinggi daripada hasil lelang SBSN yang dilaksanakan di hari sebelumnya. Padahal, yield yang ditawarkan masih sama seperti lelang sebelumnya. Berdasarkan data DJPPR Kementerian Keuangan, lelang sukuk negara tambahan alias greenshoe option menerima penawaran Rp 2,67 triliun. Ada lima seri sukuk negara yang ditawarkan, yakni PBS036, PBS003, PBS029, PBS034 dan PBS033. Dari lima seri tersebut, seri PBS036 menerima paling banyak permintaan, mencapai Rp 1,07 triliun. Sementara pada lelang sukuk negara di hari Selasa (4/10), permintaan pada seri dengan tenor tiga tahun ini mencapai Rp 2,19 triliun. Pemerintah hanya menyerap Rp 45 miliar.

Inflasi Tinggi, Lelang Sukuk Hanya Raup Rp 755 Miliar

HR1 05 Oct 2022 Kontan

Investor tampak berhati-hati untuk kembali masuk ke pasar perdana surat berharga negara syariah (SBSN). Ini terbukti dari hasil lelang sukuk negara Selasa (4/10) yang lebih rendah. Total penawaran yang masuk dalam lelang sukuk negara kemarin sebesar Rp 7,05 triliun. Jumlah itu lebih rendah daripada penawaran yang masuk di lelang SBSN terdahulu, yaitu Rp 17,11 triliun. Pemerintah juga hanya menyerap Rp 755 miliar dari hasil lelang sukuk negara. Info saja, di lelang sebelumnya penyerapan pemerintah mencapai Rp 6,27 triliun. Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Kementerian Keuangan Dwi Irianti Hadiningdyah mengatakan, penawaran masuk rendah karena tren kenaikan bunga, inflasi tinggi dan pergerakan dollar AS yang fluktuatif. Investor pun cenderung wait and see masuk di pasar perdana.

Selama September, Dana Asing di SBN Keluar Rp 23,59 Triliun

HR1 04 Oct 2022 Kontan

Nilai dana asing di surat berharga negara (SBN) masih terus menyusut. Per 28 September, total kepemilikan investor asing di SBN mencapai Rp 735,92 triliun. Angka tersebut menyusut sebesar Rp 23,59 triliun jika dibanding posisi per akhir Agustus 2022 sebesar Rp 759,51 triliun. Porsi asing dari total outstanding SBN pun turun dari akhir Agustus 2022 sebesar 15,24% menjadi 14,46% per 28 September 2022. Direktur & Chief Investment Officer Fixed Income Manulife Asset Management Indonesia Ezra Nazula mengatakan, dana asing di pasar obligasi dalam negeri menyusut karena asing beralih ke obligasi di negara maju yang dianggap lebih menguntungkan.

Bunga Obligasi Naik, Kredit Bank Bisa Dilirik

HR1 03 Oct 2022 Kontan

Para bankir optimistis, penyaluran kredit korporasi semakin deras menjelang akhir tahun. Sebab, kenaikan suku bunga acuan membuat penerbitan obligasi lebih mahal dibandingkan bunga kredit perbankan yang belum naik saat ini. Berdasarkan Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) suku bunga dasar kredit (SBDK) korporasi di beberapa bank besar berkisar 4,36% hingga 14,2%, tergantung tipe bank penyalur. Namun, bank besar, rata-rata SBDK korporasi di rentang 7% hingga 8%. Sedangkan Outlook Economy Update dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) yield obligasi korporasi mayoritas naik dengan tendensi mengikuti kenaikan yield obligasi pemerintah. Tenor jangka pendek naik lebih moderat dibandingkan tenor jangka lebih panjang.

Efek Suku Bunga Lebih Mini, Obligasi Korporasi Lebih Atraktif

HR1 30 Sep 2022 Kontan

Pasar obligasi dalam negeri goyang diguncang kenaikan tingkat suku bunga acuan, baik yang dilakukan Bank Indonesia (BI) maupun bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed). Tengok saja, yield obligasi negara kembali naik menembus 7,3%. Kemarin, yield obligasi negara acuan tenor 10 tahun berada di level 7,39%, sementara harganya ada di bawah par, tepatnya 93,13%. Sebelum pengumuman kenaikan suku bunga, yield SUN tersebut masih ada di 7,09% dengan harga 95,06% (13/9).Pasar obligasi korporasi juga terpengaruh sentimen kenaikan suku bunga tersebut. Harga obligasi korporasi di pasar sekunder cenderung turun. Kendati begitu, penurunan di obligasi korporasi tidak parah-parah amat.

Seret Investor Surat Utang

KT1 27 Sep 2022 Tempo (H)

JAKARTA-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan terjadi penurunan minat investor asing terhadap surat utang negara (SBN). Hal ini tercermin dari derasnya aliran keluar modal dari pasar obligasi partai besar tersebut. Kondisi itu, menurut Sri Mulyani, terjadi akibat sikap bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, yang kian ketat menaikkan suku bunga acuan. "Bond holder asing terhadap surat berharga Indonesia mengalami penurunan," kata Sri Mulyani saat konferensi pers secara virtual, Senin, 26 September 2022. Berdasar catatan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan kepemilikan di SBN senilai total Rp161,75 triliun. Angka ini telah melampaui total pelepasan kepemilikan asing SBN sepanjang tahun lalu, yang hanya Rp143,69 triliun. Kinerja surat utang berharga tersebut turun dibanding kinerja tahun lalu. Rata-rata penawaran  yang masuk dalam lelang SBN sepanjang 2021 mencapai Rp 56,77 triliun. Pemerintah memenangkan rata-rata Rp18,97 triliun dalam setiap lelang. (Yetede)