Obligasi
( 223 )Inflasi Stabil, Imbal Hasil Obligasi Negara Menuju 6%
Pasar obligasi Indonesia memang memburuk tahun ini. Tapi para analis yakin, tahun depan pasar obligasi negara akan lebih baik.
Yield obligasi Indonesia seri benchmark tenor 10 tahun bertahan di bawah level 7% dalam tiga minggu terakhir. Kemarin (12/12), yield SUN seri FR0091 di 6,92%. Info saja, per 25 Oktober lalu, yield SUN acuan ini sempat mencapai 7,64%, tertinggi tahun ini. Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan, ada potensi inflasi Indonesia turun tahun depan. Alhasil, kenaikan suku bunga tidak akan setinggi tahun ini. Harga obligasi bisa kembali naik dan yield bisa terpangkas. Namun, dia menilai, ada risiko jika inflasi di tahun depan belum terkendali.
PENGGALANGAN DANA 2023 : GELOMBANG LANDAI EMISI OBLIGASI KORPORASI
Aksi korporasi penggalangan dana melalui emisi obligasi pada 2023 diperkirakan lebih moderat dibandingkan dengan aksi pada 2022. Korporasi diperkirakan lebih bersikap untuk wait and see menjelang Pemilu dan suku bunga acuan tinggi. Kepala Divisi Pemeringkatan Non Jasa Keuangan I PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Niken Indriarsih mengatakan aksi penggalangan dana kalangan korporasi pada 2023 tak terlalu menggebu. Menurutnya, energi yang mendorong penggalangan dana lewat penerbitan surat utang sudah tercurah pada 2022 ketika suku bunga acuan murah. Tak heran bila dia menilai penerbitan obligasi korporasi hingga pengujung 2022 bisa mencapai Rp161,32 triliun dengan Rp144,87 triliun di antaranya telah terbit dari Januari hingga Oktober. Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) memulai langkah normalisasi kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan pada Agustus. Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan potensi penerbitan obligasi korporasi pada 2023 didorong oleh kebutuhan ekspansi dan refinancing. “Kebutuhan ekspansi didorong oleh ekspektasi masih solidnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, meskipun ada ancaman dari risiko resesi global,” kata Handy kepada Bisnis, Minggu (4/12). Dia melanjutkan, aksi refinancing didukung oleh adanya obligasi korporasi yang jatuh tempo di tahun 2023 yang cukup tinggi sekitar Rp119 triliun dan relatif masih rendahnya cost of fund kupon obligasi korporasi.
Inflasi Mereda, Pasar Obligasi Bertenaga
Performa pasar obligasi dalam negeri masih kokoh di tengah tren kenaikan suku bunga. Hal ini terlihat dari indeks obligasi yang mencatatkan kenaikan. Tingkat inflasi yang dianggap sudah terkendali, menjadi sentimen pendorong pasar obligasi.
Indonesia Composite Bond Index (ICBI) besutan Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) menyentuh level tertingginya sepanjang tahun 2022 di 340,21. Jika dihitung sejak awal tahun, indeks ini sudah naik 2,27%.
PHEI juga mencatat, dari pergerakan indeks Indobex Government Total Return, investasi di obligasi negara menghasilkan return rata-rata 2,1% sejak awal tahun. Roby Rushandie, Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PHEI menjelaskan, penguatan ICBI disebabkan adanya ekspektasi kalau bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed akan memperlambat laju kenaikan suku bunga. Hal itu menyusul mulai melandainya inflasi AS.
Research & Consulting Manager
PT Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro menilai, kenaikan
return
obligasi sejalan dengan tren kenaikan harga yang mewarnai pasar obligasi domestik dalam beberapa hari terakhir.
"Meredanya persepsi risiko investor terhadap beberapa isu seperti penurunan inflasi, mendorong harapan pasar akan meredanya kenaikan tingkat suku bunga The Fed," papar Nicodimus.
Waskita Terbitkan Surat Utang Rp 3,9 Triliun
PT Waskita Karya (Persero) Tbk akan menerbitkan obligasi dan sukuk Rp 3,9 triliun. Surat utang itu untuk pembiayaan kembali obligasi yang sudah jatuh tempo dan modal kerja. ”Kami masih menunggu izin prinsip dari Kemenkeu. Kami butuh penjaminan karena di tengah kondisi makro yang menantang, peringkat utang Waskita masih BBB Stable,” kata Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Waskita Karya Wiwi Suprihatno, Senin (14/11). (Yoga)
Faktor Kupon dan Keamanan Menjadi Daya Pikat ST009
Peminat obligasi negara ritel diperkirakan masih besar. Seri terakhir obligasi ritel pemerintah yang ditawarkan tahun ini, sukuk tabungan seri ST009 dinilai akan banjir peminat. ST009 ini ditawarkan mulai Jumat (11/10) hingga 30 November.
Pemerintah mematok bunga ST009 6,15% per tahun dengan floating floor. Ini artinya bunga ini menjadi batas terendah imbal hasil yang diberikan kepada investor. Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Kementerian Keuangan Dwi Irianti Hadiningdyah optimistis, dengan imbal hasil ST009 yang diberikan, masyarakat akan meminati sukuk ini.
Senior Vice President Head of Retail Product Research & Distribution Division Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi juga yakin, peminat ST009 masih akan tinggi, lantaran kupon surat utang ini lebih tinggi dari seri yang ditawarkan sebelumnya.
Untuk ST009 ini early redemption ditetapkan 25 Oktober-3 November 2023. Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menambahkan, selain imbal hasil, faktor keamanan jadi salah satu daya tarik ST009. "Instrumen ini dijamin sepenuhnya oleh negara," kata dia.
PASAR SURAT UTANG : SUNTIKAN DANA MENGALIR KE SBN
Suntikan dana mengalir ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) sehingga menurunkan imbal hasil Surat Utang Negara acuan tenor 10 tahun di tengah selisih imbal hasil yang kian tipis dibandingkan dengan Tresuri AS. Kokohnya suntikan dana ke instrumen SBN berimbas pada imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) acuan tenor 10 tahun. Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (9/11), imbal hasil SUN acuan tenor 10 tahun mencapai 7,33%. Imbal hasil tertinggi terjadi pada 25 Oktober 2022, yakni 7,64% yang menandai koreksi harga yang dalam. Namun, kondisi membaik setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan. Seperti diketahui, Federal Reserve mengawali November dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps), sehingga suku bunga acuan menyentuh sebesar 3,75% hingga 4%. Dari data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) hingga 4 November 2022, dana investor asing mencapai Rp715,6 triliun, yang tertinggi sejak 24 Oktober 2022. Namun dibandingkan dengan porsi terhadap total SBN beredar, dana asing tersebut hanya berkontribusi sebesar 13,94%. Research & Consulting Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro mengatakan, pergerakan pasar surat utang saat ini didorong oleh persepsi investor terhadap ketangguhan kinerja fundamental ekonomi. Hal itu tercermin pada Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang menyentuh 120,3. Lalu, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,72% secara tahunan pada kuartal III/2022 turut memberikan suntikan tenaga terhadap pasar surat utang. Pertumbuhan ekonomi itu pun melampaui realisasi pada kuartal II/2022 sebesar 5,44% secara tahunan. Dia mencatat investor institusi masuk ke pasar SBN dengan akumulasi beli bersih Rp2,53 triliun dalam sepekan.
Potensi Asing Masuk Pasar SBN Terhambat Kenaikan Bunga FED
Dana investor asing tampak mulai masuk lagi ke pasar obligasi Tanah Air. Momentum tersebut menciptakan spekulasi pasar surat utang domestik bersinar lagi.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per 4 November, total kepemilikan investor asing di surat berharga negara (SBN) mencapai Rp 715,60 triliun. Jumlah tersebut bertambah Rp 2,37 triliun dari posisi akhir Oktober, sebesar Rp 713,23 triliun.
Tapi Senior Vice President Head of Retail Product Research & Distribution Division Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi mengatakan, yield SBN tenor 10 tahun di periode yang sama masih mengalami kenaikan, dari 7,44% menjadi 7,48%.
Apalagi, dalam kondisi suku bunga sedang naik seperti saat ini, investor hanya mendapatkan keuntungan dari kupon, sementara harga obligasi masih cenderung turun. Menilik data IBPA, per 7 November, investasi di obligasi pemerintah merugi 0,37% bila dihitung sejak awal tahun.
Tren Bunga Acuan Naik, Kupon ST009 Bakal Lebih Tinggi
Penggemar investasi surat utang pemerintah bisa mulai merapat kembali. Akhir pekan ini, pemerintah akan mulai melepas sukuk tabungan seri ST009.
Ini adalah surat berharga negara (SBN) ritel seri terakhir yang ditawarkan oleh pemerintah sebelum tutup tahun 2022. Rencananya, ST009 ditawarkan selama 20 hari, mulai 11 November hingga 30 November 2022.
Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro mengatakan, bagi investor SBN ritel, seri ST009 akan menguntungkan, terutama dari sisi tingkat imbal hasil yang ditawarkan. Dia bahkan yakin minat investor akan lebih tinggi dibandingkan saat penawaran ST007 dan ST008 yang masing-masing menawarkan bunga 5,5% dan 4,8%. Pasalnya, ST009 berpotensi memberi kupon lebih tinggi.
Nicodimus memperkirakan, bunga yang ditawarkan seri ST009 ini bisa lebih tinggi dari kupon seri ORI022, yang sebesar 5,95%. Ini karena bunga acuan Bank Indonesia BI 7-day-RR pada Oktober lalu naik 50 bps menjadi 4,75%.
Lelang Sukuk Negara Makin Sepi Peminat
Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk negara pada Selasa (1/11) mencatatkan nilai penawaran sebesar Rp 4,34 triliun. Nilai ini lebih rendah jika dibandingkan dengan lelang sebelumnya yang sebesar Rp 6,40 triliun.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, dari total nilai penawaran yang masuk dalam lelang kali ini, pemerintah hanya menyerap Rp 1,37 triliun.
Selisih Yield Kian Menipis, Investor Asing Pilih Keluar dari Obligasi Domestik
Tren kenaikan suku bunga tinggi mengangkat imbal hasil (yield) obligasi. Di akhir pekan lalu (28/10), yield SUN tenor 10 tahun ada di level 7,58%. Yield SUN tenor 10 tahun naik lantaran yield US Treasury tenor yang sama kembali ke level 4%.
Research & Consulting Manager
Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro mengatakan, agresifnya bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve mengerek Fed fund rate (FFR) telah mendorong peningkatan yield surat utang AS alias US Treasury. Kondisi tersebut juga mendorong kenaikan yield obligasi domestik.
Imbal hasil yang sedang tinggi-tingginya di obligasi Amerika mendorong investor asing keluar dari pasar SBN dalam negeri. Hingga 25 Oktober 2022, posisi asing di SBN tersisa Rp 714,21 triliun.
Adapun strategi investasi yang dipilih bisa "buy and hold" pada seri obligasi negara benchmark yang sudah terdiskon banyak. Selain itu, investor juga dapat mencoba obligasi korporasi dengan peringkat utang single A ke atas agar semakin kecil risiko gagal bayar. Di sepanjang tahun ini, yield obligasi korporasi tenor 10 tahun rating AAA naik 0,57%, rating AA naik 0,06%, rating A naik 0,16%, serta rating BBB naik 0,56%.
Senior Vice President Head of Retail Product Research & Distribution Division Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi menyarankan, investor bisa memilih obligasi korporasi karena kupon yang ditawarkan lebih menarik dan lebih besar dibandingkan obligasi pemerintah.
Pilihan Editor
-
Paradoks Ekonomi Biru
09 Aug 2022 -
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022








