Obligasi
( 223 )Pertamina Geothermal Terbitkan Obligasi Hijau
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk akan menerbitkan obligasi hijau senilai sekitar Rp 5,9 triliun. Obligasi itu memiliki bunga 5,15 persen per tahun dan jatuh tempo pada 2028. Corporate Secretary Pertamina Geothermal Energy Muhammad Baron dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Jumat (21/4/2023), menyatakan, dana yang diperoleh akan digunakan untuk melunasi utang. (Yoga)
BERBURU CUAN OBLIGASI
Pasar surat utang di Indonesia sedang dapat momentum. Infl asi Amerika Serikat (AS) yang melandai pada Maret 2023, menyalakan lampu hijau bagi penguatan pasar obligasi di Tanah Air. Inflasi Negeri Paman Sam pada Maret 2023 tercatat sebesar 5%. Inflasi periode itu pun mampu melawan ekspektasi pasar yang meramalkan inflasi 5,2% secara tahunan.Situasi di AS yang lebih kondusif pun memberikan suntikan tenaga kepada pergerakan nilai tukar rupiah yang mampu menyentuh Rp14.700 per dolar AS atau level terendah tahun ini. Sejalan dengan penguatan rupiah, pasar surat utang pun ikut moncer karena transaksi semakin ramai yang turut mengerek harga. Hal itu bisa dimanfaatkan investor untuk meraup cuan.
Ekonom Senior Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan pasar mulai mengantisipasi langkah Federal Reserve menurunkan suku bunga acuan. Kala suku bunga acuan melandai, surat utang yang berasal dari negara berkembang makin menarik di mata pemodal.
Dukungan kinerja nilai tukar yang solid, katanya, akan mendongkrak daya tarik surat utang RI, khususnya, pada instrumen dengan tenor dua tahun dan 10 tahun. Namun, saat pasar menunjukkan lebih banyak data dan ekstra keyakinan, investor bakal memperlebar horizon investasinya ke surat utang bertenor lima tahun dan 10 tahun.
Dia menyarankan agar investor menempatkan 80% dana pada obligasi pemerintah, dan 20% pada obligasi korporasi. Menurutnya, investor perlu mengoleksi instrumen yang likuid karena jumlah penerbitan obligasi pemerintah lebih besar meskipun dari sisi imbal hasil, obligasi korporasi lebih menarik. Mengacu pada data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) hingga 12 April 2023, nilai Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp5.527,33 triliun dengan 14,86% di antaranya dikuasai oleh investor asing. Sementara itu, obligasi korporasi beredar mencapai Rp452,59 triliun atau kurang dari 10% total SBN beredar.
Obligasi Multifinance Semakin Semarak
Industri
multifinance
semakin gencar menerbitkan obligasi. Di tengah tren kenaikan suku bunga pinjaman di bank, obligasi menjadi salah satu pilihan pendanan yang menguntungkan.
Misalnya, PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) berencana penerbitan Obligasi sebesar Rp 1 triliun. Penerbitan ini merupakan Obligasi Berkelanjutan IV WOM Finance Tahap III Tahun 2023.
Direktur WOM Finance, Cincin Lisa Hadi mengatakan, perusahaan melakukan diversifikasi dalam mencari sumber pendanaan. Sumber pendanaan tersebut untuk merealisasikan target dari WOM Finance yang akan menyalurkan kredit di tahun ini mencapai sebesar Rp 5,4 triliun. Oleh karenanya, ada kebutuhan dana sekitar Rp 4 triliun.
Untuk penerbitan obligasi, Cncin bilang, bisa akan menerbitkan kembali obligasi di akhir tahun senilai Rp 1 triliun. Namun, hal tersebut masih akan melihat nilai bunganya dari masing-masing saluran.
BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) bakal menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V BFI Finance Indonesia Tahap IV Tahun 2023. Target nilainya mencapai Rp 1,6 triliun.
Lalu PT Adira Dinamika Multi Finance di tahun ini masih memantau pendanaan yang murah. "Yang jelas, untuk tenor jangka panjang, penerbitan obligasi lebih kompetitif," ujar I Dewa Made Susila, Direktur Utama Adira Finance.
Masa Penawaran Usai, SR018 Laku Terjual Rp 21,3 Triliun
Masa penawaran surat berharga syariah negara (SBSN) ritel seri SR018 telah berakhir kemarin (29/3). Berdasarkan data dari situs Investree kemarin, per pukul 11.00 WIB, total hasil penjualan SR018 yang terjual sebesar Rp 21,29 triliun.
Dari total penawaran tersebut, seri SR018-T3 lebih banyak diminati dengan jumlah total permintaan mencapai Rp 16,75 triliun. Sementara SR018-T5 secara keseluruhan terjual Rp 4,54 triliun.
Corporate Secretary Bank Rakyat Indonesia (BRI) Aestika Oryza Gunarto mengatakan, penjualan SR018 di BRI lebih ramai dibandingkan SR017. Sebab, imbal hasil yang ditawarkan SR018 lebih tinggi dan menarik.
Aestika memaparkan, penjualan SR018 sudah melampaui target. SR018 bertenor tiga tahun paling banyak diminati. Permintaannya setara 78% dari total penjualan. "Lebih banyak nasabah yang memilih SR018 tenor 3 tahun, karena mayoritas investor lebih fokus ke likuiditas, sehingga lebih menyukai instrumen jangka pendek," ujar Aestika. Dia melihat, investor masih antusias terhadap penawaran SR018. Padahal, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) di tengah penawaran SR018.
Head of Investment Business Bank Commonwealth Daniel Arifin mengatakan, nasabah Bank Commonwealth juga cenderung lebih tertarik pada SR018 dengan tenor lebih pendek. Dia bilang ini karena SR018-T3 memiliki risiko relatif lebih rendah.
SVB Kolaps, Harga Obligasi Lokal Meningkat
Harga obligasi dalam negeri naik pasca diumumkannya kebangkrutan Silicon Valley Bank (SVB). Investor dinilai masih percaya diri setelah otoritas keuangan negeri Paman Sam turun tangan membantu SVB.
Kemarin (13/3), harga surat utang negara (SUN) acuan tenor 10 tahun berada di 101,26%. Posisi ini naik dari hari sebelumnya, di 100,51%. Efeknya, imbal hasil SUN seri FR0096 ini turun menjadi 6,82% dari 6,93%.
Director & Chief Investment Officer Fixed Income
Manulife Aset Manajemen Ezra Nazula menilai, dalam jangka pendek, terlihat dukungan investor ke pasar obligasi Indonesia. Penyebabnya, imbal hasil US Treasury turun. Senin (13/3),
yield
US Treasury turun 0,27% ke level 3,42%.
Kurs dollar AS juga melemah, makin memberi kepercayaan bagi investor masuk ke pasar obligasi dalam negeri. Imbal hasil obligasi Indonesia pun turun.
Presiden dan CEO Pinnacle Persada Investama Guntur Putra sepakat, efek kolapsnya Silicon Valley Bank ke pasar obligasi dalam negeri tidak akan begitu besar. Kejadian ini tidak menciptakan kondisi pelarian likuiditas.
Dibayangi Bunga The Fed, Dana Asing Keluar dari SBN
Dana asing di pasar surat berharga negara (SBN) kembali berkurang. Per 8 Maret 2023, posisi asing di pasar SBN tersisa Rp 798,05 triliun dengan porsi 14,65%. Angka ini turun dari akhir Februari 2023 yang masih sebesar Rp 804 triliun atau setara dengan 14,79% dari total.
Analis
Fixed Income
Sucorinvest Asset Management Alvaro Ihsan mengatakan, penurunan kepemilikan asing di pasar SBN terjadi seiring kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang masih kuat serta tingkat inflasi yang di atas ekspektasi. Inflasi AS pada Januari 2023 mencapai 6,4% secara tahunan, lebih tinggi dari perkiraan yang sebesar 6,2%.
Selain itu, bank sentral AS The Fed juga berpotensi kembali menaikkan suku bunga acuan secara agresif.
Investment Analyst
Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian menambahkan, penurunan kepemilikan asing di pasar SBN merupakan efek dari sentimen global. Ini terkait dengan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang akan lebih agresif. Kondisi ini membuat
yield
obligasi AS naik dan nilai tukar rupiah kembali tertekan.
Fajar menilai, arus dana asing di pasar SBN akan sangat tergantung dengan prospek kebijakan moneter di AS. Jika The Fed menaikkan suku bunga secara agresif, maka dampaknya negatif terhadap arus dana asing di pasar SBN.
Tunggu Bunga The Fed, Peminat Lelang Sukuk Bunga Negara Menurun
Lelang surat berharga syariah negara (SBSN) atau sukuk negara, Selasa (7/3), lebih sepi dari lelang sebelumnya. Kemarin, total penawaran yang masuk cuma Rp 19,96 triliun, jauh lebih kecil dibanding penawaran yang masuk di lelang dua pekan sebelumnya, mencapai Rp 30,44 triliun.
Meski lebih rendah dari lelang sebelumnya, penyerapan pemerintah dari lelang pekan ini sesuai target indikatif yang ditetapkan, yaitu Rp 11 triliun. Cuma memang, angka penyerapan ini juga lebih rendah dibanding dua pekan lalu, sebesar Rp 12 triliun.
Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Kemenkeu Dwi Irianti Hadiningdyah menyebut, lelang pada pekan ini memang mengalami penurunan dibanding lelang sebelumnya, tetapi kualitasnya masih cukup baik. "Terbukti kami dapat memenangkan Rp 11 triliun sesuai target," kata dia, Selasa (7/3).
Pada lelang kali ini Dwi mengatakan, terjadi penurunan keikutsertaan investor asing yang masuk. Dalam lelang kemarin, penawaran dari asing cuma sebesar Rp 2,67 triliun dan dimenangkan sebesar Rp 795 miliar.
Head of Business Development Division
Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi menilai, penurunan penawaran masuk pada lelang kali ini diakibatkan pasar yang masih berhati-hati terhadap langkah The Fed. Ini seiring ekspektasi The Fed akan menaikkan suku bunga 25-50 bps pada rapat FOMC di pertengahan Maret ini.
SR018 Ditawarkan Dua Seri dengan Bunga 6,25%-6,4%
Sukuk ritel negara kembali ditawarkan pemerintah. Masa penawaran sukuk ritel seri terbaru, yaitu SR0018, akan berlangsung mulai 3 Maret hingga 29 Maret 2023.
Sukuk ritel seri SR018 ini memiliki dua seri. Tenor tiga tahun bernama SR018-T3 memberi bunga 6,25%, sedangkan tenor lima tahun, SR018-T5, menawarkan kupon 6,4% per tahun. Tingkat kupon tersebut dinilai mampu menarik perhatian investor.
Associate Director Fixed Income
Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menyebut, besaran kupon SR018 mencerminkan kondisi pasar obligasi saat ini. "Respons investor harusnya akan tetap baik," kata dia, Selasa (28/2).
Tapi menurut Ramdhan, SR018 dengan tenor tiga tahun akan lebih banyak dipilih investor dibandingkan tenor lima tahun. Sebab, kebiasaan investor memilih tenor lebih pendek, seperti SBR012 yang sebelumnya ditawarkan.
Ramdhan memprediksi penjualan SR018 untuk kedua seri setidaknya dapat menembus angka penjualan sebesar Rp 20 triliun. Untuk diketahui, seri sebelumnya, yakni SR017, terjual sebanyak Rp 27 triliun di tahun lalu.
Restrukturisasi Obligasi Waskita Karya Ditarget Tuntas April
JAKARTA, ID – Pemerintah menargetkan restrukturisasi obligasi PT Waskita Karya Tbk (WKST) tuntas pada April 2023, lebih cepat dibandingkan rencana awal Juli. Hal ini dilakukan agar Waskita dapat melanjutkan pengerjaan proyek strategis, seperti penyelesaian proyek tol senilai Rp 12 triliun. Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo menegaskan, kreditur Waskita baik dari perbankan, dana pensiun, hingga investor ritel harus legowo menerima restrukturisasi Waskita agar perusahaan ini bisa kembali pulih. “Dengan segala pertimbangan, kami lakukan restrukturisasi ulang, karena tidak ingin ada perlakuan berbeda antara bank dan pemegang obligasi. Jangan sampai bank sudah memberikan kelonggaran kepada Waskita, tetapi dananya dipakai untuk bayar obligasi,” terang pria yang akrab disapa Tiko dalam pertemuan dengan pemimpin redaksi media massa, Senin (20/2/2023). “Jadi, kami minta standstill enam bulan, karena ingin membahas ramai-ramai dengan para kreditur maupun bond holder. Jujur saja, bond holder ini kompleks, karena beragam, mulai dari dana pensiun (Dapen), fund manager, sama ritel. Ini restrukturisasi paling ruwet,” ucap dia. (Yetede)
Persepsi Risiko Naik, Asing Tarik Dana dari Pasar SBN
Kepemilikan investor asing di surat berharga negara (SBN) kembali turun. Berdasarkan data DJPPR Kementerian Keuangan, kepemilikan investor asing di SBN senilai Rp 809,19 triliun per 14 Februari 2023.
Jumlah tersebut lebih rendah dibanding kepemilikan investor asing di SBN per akhir Januari 2023 yang sebesar Rp 811,89 triliun. Jadi, porsi kepemilikan asing di SBN turun dari 15,1% jadi 14,97%.
Research & Consulting Manager
Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro mengatakan, investor asing belakangan ini memang terpantau getol melakukan aksi jual. Dalam sepekan terakhir, akumulasi
net sell
asing di SBN mencapai Rp 7,01 triliun.
Menurut Nicodimus, sebagian dana asing beralih ke pasar saham. Sepanjang Februari ini, investor asing mencetak
net buy
Rp 3,35 triliun di bursa saham dalam negeri.
Ke depan, aliran dana asing di pasar SBN Indonesia akan tergantung arah inflasi dan kebijakan suku bunga acuan. Jika kebijakan bank sentral
dovish, akan jadi katalis positif bagi pasar obligasi Indonesia.
Pilihan Editor
-
Upaya Menegakkan Jurnalisme Berkeadilan
01 Aug 2022 -
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kegagalan Sistem Pangan Indonesia
06 Aug 2022









